SPELL

SPELL
SPELL 42


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Seir sudah menerima telepon dari Viloen beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa Rain akan datang untuk menjemputnya;


Dan itu artinya, mungkin saja pihak kampus sudah menyelesaikan penyelidikan atas kasus pencemaran nama baik yang Seir alami.


Tidak hanya itu, Seir juga berharap semoga saja dalang di balik semua rumor jahat itu juga sudah tertangkap.


Seir sangat berharap kali ini. Ia merasa lelah melihat semua orang mengkhawatirkan dirinya.


Terutama papa nya dan juga Rain. Seir hampir merasa jika perhatian dan kekhawatiran keduanya mulai berlebihan, meskipun begitu; syukurlah jika semuanya akan cepat selesai.


Bell dirumah Seir berbunyi, tanpa melihat interkom pun Seir tahu bahwa itu adalah kekasihnya. Rain.


Seharusnya Seir merasa senang saat melihat wajah Rain, karena dengan begitu mereka bisa segera pergi dan membersihkan semua masalah dan memulihkan citranya yang telah dirusak.


Tapi saat melihat wajah Rain, wajah yang saat ini menatap Seir dengan perasaan bersalah, perasaannya berubah gelisah.


Bukan kali ini saja Rain menatap Seir seperti itu, dan ia tau apa maksudnya. Rain mulai menyalahkan dirinya lagi atas apa yang menimpa Seir.


"Hei, ada apa?" Seir menghampiri Rain.


"Bae.. maafkan aku. Maafkan aku." Rain tertunduk, menyesali atas apa yang terjadi beberapa waktu terakhir.


"Apa ini tentang itu?" Rain mengangguk lalu memeluk Seir dengan erat.


"Tidak apa-apa Rain. Ini bukan salahmu. Ini salah mereka. Kau tidak melakukan apa-apa." Seir balas memeluk Rain dengan perasaan yang turut bercampur aduk.


Seir mulai khawatir saat Rain bersikap seperti ini.


"Maafkan aku Bae. Ternyata semua ini karena aku. Kalau bukan karena aku, kau tidak akan mengalami semua hal buruk ini. Aku sungguh minta maaf."


Sepanjang jalan Rain sudah memikirkan semuanya; apa yang dikatakan Febby benar. Rain juga harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada kekasihnya.


Jika bukan karena dirinya yang jatuh cinta pada Seir, dan mengejar gadis itu, mungkin saja Seir tak akan mengalami semua perlakuan buruk ini.


Seharusnya ia tahu sejak awal, bahwa keputusannya dapat menyebabkan masalah bagi Seir.


Tapi karena ia egois, dan terlalu menyukai gadis itu, Rain mengabaikan semua kemungkinan yang bisa saja terjadi.


Rain benar-benar tak bisa memaafkan dirinya, jika saja sesuatu yang lebih buruk terjadi pada Seir.


"Rain, yang jahat itu mereka. Kau tidak bersalah. Kau hanya mencintai ku, cinta bukanlah suatu kejahatan."


Seir percaya akan hal itu. Selama ini Rain sudah menunjukkan kesungguhan hatinya. Bahkan sejak Seir menjalani skorsing nya, hampir setiap hari Rain datang dan meluangkan waktu untuk menemani dirinya.


Meskipun Rain juga harus mengikuti jadwal miliknya, dan juga menyelesaikan semua rumor yang yang terus beredar, pria itu tak mengeluh sedikitpun.


Seir sangat tahu betapa lelah kekasihnya beberapa waktu terakhir ini, Seir bisa merasakan itu. Tapi kini, saat Rain mulai menyalahkan dirinya sendiri, Seir tak bisa menerima hal itu.

__ADS_1


"Kalau kau bersalah karena mencintai ku, maka aku juga bersalah karena menerima cinta mu dan karena aku juga merasakan hal yang sama seperti mu Rain."


"Itu artinya, kita sama-sama bersalah. Dan aku tak keberatan menghadapi semua ini karena bersama mu."


Seir tak ingin Rain menanggung semua rasa bersalah yang tidak seharusnya kekasihnya itu rasakan.


Bukan salah Rain jika semua ini terjadi pada dirinya. Sejak awal, Seir sudah tahu jika hubungan mereka tak akan berjalan dengan mulus seperti pasangan pada umumnya.


Dengan berada di sisi Rain saja, Seir sangat tahu bahwa akan banyak orang yang membenci dirinya.


Dan hal seperti kemarin juga salah satu konsekuensi dari hubungan mereka. Seir tak akan menyerah hanya karena perbuatan kekanak-kanakan seperti itu.


"Kau benar-benar gadis yang baik Bae." Rain tersenyum. "Sekarang, ayo kita temui kak Viloen untuk mencabut skors mu."


"Hem. Ayo."


...❄️...


Di ruangan Viloen, Seir sedikit terkejut karena melihat salah satu temannya, Febby ada di dalam ruangan itu. Tidak hanya Febby, tapi juga ada Yukkie di sana.


Insting Seir benar, jika semua kejadian yang ia alami pasti ada hubungannya dengan gadis itu. Gadis yang cintanya tak terbalaskan oleh Rain.


Rupanya Yukkie begitu membenci dirinya. Seir bisa merasakan itu. Terutama saat gadis itu menatapnya dengan penuh kemarahan.


Terutama saat ini, saat melihat kehadiran Rain yang menggenggam tangannya, semua itu semakin membuat Yukkie menatap kesal pada Seir.


Meskipun begitu, Seir tak menggubris Yukkie sedikit pun. Seir hanya diam seraya mengamati. "Nona Deep, silahkan masuk." Viloen mempersilahkan Seir dan sebisa mungkin bersikap tenang seperti biasanya.


Saat mata Seir dan Febby bertemu, ada sesuatu dalam hati Seir yang membuat perasaannya berubah tak nyaman.


Seir memang tak menanyakan apapun pada Rain sebelumnya, tapi sepertinya saat ini Seir bisa sedikit mengerti arti dari kehadiran gadis-gadis itu di sini.


Hanya saja yang Seir tak habis pikir, kenapa harus Febby? apa selama ini gadis itu juga membenci dirinya meskipun selama ini Seir sudah merasa jika mereka sudah cukup dekat sebagai teman, semoga saja tidak begitu.


Seir berharap, jika Febby tak terlibat dalam kasusnya seperti yang ia pikirkan. Selama ini Seir cukup menyukai Febby sebagai salah satu dari orang yang dekat dengan dirinya. Teman. Itulah yang sering Febby ucapkan pada Seir.


"Nona Deep, kami sudah selesai melakukan penyelidikan. Dan seperti yang kau lihat, mereka adalah orang-orang yang harus bertanggung jawab atas apa yang kau alami selama ini." ujar Viloen.


Ulu hati Seir seperti di hantam tinju yang cukup keras. Kenyataan yang harus ia dengar bukanlah seperti yang ia harapkan.


Bagaimana bisa Febby melakukan ini pada dirinya? Apa Febby mengancam dan menghasutnya? Tapi kenapa?


Atau, apakah ini karena Verrel? Ya Tuhan. Kepala Seir mulai berdenyut. Ia benar-benar tak habis pikir saat mendengar penjelasan Viloen.


Apa semua orang bisa melakukan hal seperti ini? melakukan apa saja karena cinta?


Seir kembali menatap Febby, gadis yang saat ini tengah menundukkan kepalanya sambil terisak.


"Mereka akan di keluarkan jika kau menginginkan itu Bae." Rain menggenggam tangan Seir sebagai bukti bahwa ia akan mendukung kekasihnya apapun keputusan Seir.


Rain akan sangat senang jika Seir memutuskan seperti yang Rain pikirkan. Keberadaan orang-orang seperti itu akan membuat masalah yang lebih banyak nantinya.


"Lakukan apa yang kau mau Bae. Kau berhak meminta pada kak Viloen karena mereka telah merusak nama mu."

__ADS_1


"Apa?" Yukkie bersuara tak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Rain.


"Kalian tidak bisa melakukan itu padaku." maksud Yukkie adalah, ia tak seharusnya mendapatkan hukuman meskipun ia sudah berbuat kejahatan.


Gadis itu berpikir demikian karena pengaruh ayahnya yang cukup besar di pulau Arendelle, tapi sayangnya; diatas langit masih ada langit..


"Kami bisa melakukan itu nona." Viloen menyela. "Kami sudah menghubungi walikota sebelumnya, dan Beliau mengatakan, kami bisa memberikan hukuman apa saja jika anda memang terbukti bersalah."


"Dan kenyataannya, anda benar bersalah karena sudah membuat rumor yang tidak benar dan mencemarkan nama baik nona Deep secara sengaja." Tegas Viloen. "Bukan begitu nona Febby?"


Febby tak bersuara, gadis itu masih tertunduk malu seraya merasa bersalah.


"Papa tidak mungkin melakukan itu. Kalian tidak bisa melakukan ini padaku. Kalian akan menyesal jika melakukannya. Akan ku pastikan itu."


Setelah melampiaskan kemarahannya Yukkie keluar begitu saja meninggalkan Febby bersama dengan yang lain.


Bukankah seharusnya aku yang marah? Seir menarik nafasnya berat. Dasar gadis manja!


"Pak, saya sudah memutuskan." ujar Seir. Kini matanya menatap langsung pada Febby yang juga tengah berbalik menatap dirinya.


Mungkin gadis itu sedang memikirkan bahwa Seir akan memutuskan hukuman atas dirinya seperti permintaan Rain. Febby kembali menundukkan kepalanya.


Tangannya di kepal erat seraya menunggu Seir melanjutkan kata-katanya.


"Aku akan membiarkan mereka kali ini." putus Seir. Viloen mengernyit, begitu juga dengan Rain.


"Bae..."


"Cukup berikan hukuman seperti yang telah ku jalani. Dua minggu. Rasanya itu cukup." Tambah Seir.


Meskipun perlakuan yang ia terima selama ini cukup sebagai alasan untuk membuat kedua gadis itu di keluarkan dari kampus, namun Seir tak akan melakukan hal itu.


Kali ini Seir akan menghadapi siapapun yang membenci dirinya secara langsung. Ia tak akan tinggal diam lagi.


Dan rasanya, memberikan kedua gadis itu waktu bukanlah keputusan yang merugikan dirinya.


Bukan karena Seir ingin terlihat baik atau karena ia mengasihani Febby dan Yukkie, hanya saja, Seir ingin memberikan satu kesempatan untuk membuktikan kata-katanya; terutama pada Febby.


Cinta dan perasaan, adalah dua hal yang tidak bisa di paksakan pada siapapun. Gadis-gadis itu harus mengerti akan hal itu.


Dalam kasusnya, Seir juga bukannya tidak bersalah, tapi seperti yang ia katakan sebelumnya;


Jika karena mencintai seseorang membuat kita melakukan sesuatu yang salah, maka rasanya cukup adil jika ia memberikan kesempatan pada Febby dan Yukkie untuk memperbaiki kesalahan mereka, itupun jika kedua gadis itu bersedia.


"Aku tak akan mempermasalahkan hal ini lagi. Cukup bersihkan saja namaku, dan biarkan mereka yang melakukannya. Atau mereka memilih yang sebaliknya. Itu pilihan mereka."


Ini adalah kesempatan pertama dan terakhir yang bisa Seir berikan pada gadis yang selama ini sudah ia anggap sebagai teman..


"Baiklah jika itu yang anda inginkan nona Deep." Seir sudah merasa puas jika kedua gadis itu mengakui sendiri perbuatan mereka atau mereka memilih untuk pergi dari kampus ini begitu saja. Semua itu, kembali lagi pada pilihan yang akan mereka buat.


"Rain, ayo kita pergi."


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2