SPELL

SPELL
SPELL-25


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


"Bukan kah itu Rain?" Verrel mendengus tak suka saat ingin menepikan mobilnya dan melihat Rain yang sudah menunggu kedatangan mereka.


"Kalian punya janji?" tanya Verrel dengan nada kesal. "Tidak. Kami tidak memiliki janji. Dan Rain juga tidak bilang kalau dia akan datang kerumah ku." sahut Seir dengan sebenarnya.


"Sialan. Padahal aku sudah memperingatinya." Verrel menepikan mobilnya lalu keluar dengan terburu-buru. "Rell..!" Seir hanya bisa menghela nafas panjang saat Verrel menunjukkan kekesalannya secara terang-terangan pada Rain.


Sejak mereka meninggalkan kampus, salah satu sumber kemarahan dari sahabatnya itu adalah Rain. Dan sekarang pria itu dengan senang hati menampakan batang hidungnya di sini. Dirumah Seir.


Ya Tuhan. Apalagi sekarang..


"Apa yang kau lakukan di sini? bukankah tadi.." Rain melewati Verrel begitu saja dan langsung menghampiri Seir saat melihat gadis itu keluar dari dalam mobil.


"Ya Tuhan, syukurlah. Kau baik-baik saja..?" Rain memandang wajah Seir cemas. Tangan Rain juga terasa dingin.


Dari tatapannya Seir bisa merasakan kekhawatiran yang tulus dari Rain. Tapi kenapa? kenapa pria ini harus mengkhawatirkan dirinya sampai seperti ini?


"Lepaskan tanganmu sialan." Verrel menarik bahu Rain dan menjauhkan keduanya hingga Seir berpindah posisi dan berlindung dibalik tubuh Verrel yang sudah siap menjadi tameng.


"Rell, apa yang kau lakukan?" Seru Seir yang sedikit terkejut dengan sikap emosional yang Verrel tunjukkan terhadap Rain.


"Rain, kau tidak apa-apa?"


"Menjauh darinya Ella. Kau lupa apa yang dilakukan Yukkie padamu karena dirinya." Suara Verrel meninggi karena kesal Melihat Seir yang bukannya menjauh dari Rain, tapi justru menghampiri pria itu.


Verrel tak ingin Seir berpihak pada Rain.


"Rell.. tenanglah..tidak seperti itu.."


"Apa urusannya dengan mu?" sela Rain dengan suara dan tatapan yang tajam.


"Apa aku melakukan kesalahan? aku hanya mengkhawatirkan calon pacar ku, kenapa kau marah seperti ini? siapa kau sampai berani ikut campur dalam urusan kami..?" Rain pun ikut tersulut emosi karena perlakuan Verrel pada dirinya.


Mereka sudah bersahabat sejak lama, tapi Rain tak tahu jika Varrel akan semarah ini padanya karena sesuatu yang tidak Rain lakukan. Meskipun sebenarnya hal ini memang berkaitan dengan Rain sendiri.


Tapi apakah ia melakukan kesalahan karena khawatir pada Seir?

__ADS_1


"Apa..? calon pacar?" Verrel mengulang kata-kata Rain sarat akan kemarahan dan juga kecemburuan. Bagaimana bisa Seir menjadi calon pacar pria itu?


"Verrel, Rain.. sudah lah.. jangan bertengkar di sini. Ku mohon." Seir mencoba menengahi keduanya. Tapi sepertinya situasi diantara ketiganya sedang tidak baik-baik saja.


"Rain, bisakah kau pulang sekarang? aku tidak apa-apa. Aku akan menghubungi mu nanti." pinta Seir. Ia tak ingin kedua pria itu saling adu jotos di depannya dan membuat mereka menjadi tontonan.


"Rain, ku mohon." ulang Seir lagi.


Rain menghela nafasnya seraya menetralkan perasaannya yang sempat panas.


"Baiklah." Rain juga tak ingin melakukan hal-hal yang nantinya akan ia sesali, terlebih lagi Verrel adalah sahabatnya.


"Pastikan kau mengangkat ponselmu, kumohon." pinta Rain dengan sungguh-sungguh. "Hem. Baiklah."


Setelah Rain pergi, ketegangan di wajah Verrel masih juga tak mereda. Verrel tak lagi memiliki keyakinan bahwa diantara kedua sahabatnya itu tak terjadi apa-apa.


Verrel bahkan masih tak mengerti bagaimana Seir bisa memiliki kedekatan seperti itu terhadap Rain. Haruskah ia masih mempercayai bahwa tak ada apapun diantara mereka? Sialan.. Sialan!


"Verrel, ayo masuklah." Seir bersuara lembut karena tak ingin Verrel mendapati kekesalan dalam dirinya. Seharusnya Seir marah pada Verrel karena memperlakukan Rain seperti tadi.


Yah, meskipun sebagai seorang sahabat, Seir pun akan melakukan hal yang sama pada sahabatnya jika Verrel mengalami hal serupa. Hanya saja, bagi Seir, tak adil rasanya jika Rain yang menerima kemarahan mereka.


"Ell, seharusnya kau tidak perlu menghalangi kami. Aku memang harus memberi pelajaran pada Rain, jika bukan karena dirinya Yukkie pasti.."


Satu-satunya yang bersalah dalam hal ini adalah Yukkie, bukan orang lain. Dan seandainya Seir harus marah sekalipun, ia akan melakukannya pada orang yang tepat.


"Aku sungguh tidak apa-apa. Kau dan Rain adalah bersahabat, aku tidak ingin karena hal ini hubungan kalian jadi rusak. Aku tidak ingin hal seperti itu terjadi."


Seir sungguh berharap, dirinya bukanlah alasan untuk merusak hubungan persahabatan antara Rain dan Verrel.


Rain mungkin egois dan kekanak-kanakan, tapi Verrel tidak seperti itu. Seir masih berharap agar hubungan diantara keduanya baik-baik saja setelah hari ini.


"Aku bisa mengurus diriku sendiri. Dan Yukkie, aku bisa menangani gadis itu. Percaya saja padaku, Hem?"


"Kau benar-benar membuatku cemas Ella. Bagaimana kau bisa melakukan hal seperti ini padaku. Kau tahu aku begitu mencemaskan dirimu." Verrel tak tahu lagi bagaimana harus menjelaskan perasaannya pada Seir.


Verrel benar-benar akan membuat perhitungan jika Yukkie tak mengindahkan peringatannya hari ini..


"Aku tahu kau sangat mengkhawatirkan aku, dan aku sungguh berterimakasih untuk itu. Sungguh, kau sahabat ku yang sangat berharga Rell. Dan aku yakin, Rain juga sama berharganya untuk mu. Aku sungguh merasa berterimakasih padamu."


...❄️...

__ADS_1


"Rain, kemarilah sebentar..!" seru Travis saat menyadari kedatangan putra bungsunya. Di dekat Travis, ada Mera.


Rain juga baru menyadari jika wanita itu ada di sana saat ia menaikkan pandangannya. Semakin hari, sepertinya Rain semakin sering melihat Mera berkeliaran dirumahnya. Meskipun selama ini Rain ingin bersikap tak peduli pada wanita itu.


"Rain..?" Mera tersenyum ramah, tapi Rain tak menggubrisnya. "Ada apa dad, jika tak ada hal yang penting aku ingin kembali ke kamarku." ujar Rain.


Sejak hari dimana Mera menyakiti hatinya, Rain berniat membuat wanita itu menyadari kesalahannya. Rain ingin Mera merasakan sakit yang sama seperti yang ia rasakan. Tak peduli apa yang akan wanita itu lakukan, Rain akan mengabaikan Mera sepenuhnya.


"Dad memanggil mu untuk memberitahukan bahwa besok kita akan melakukan pemotretan keluarga. Selain itu, Mera juga ingin mengadakan pesta kecil di taman rumahnya sebelum hari pernikahan kami, jadi.."


"Terserah kalian saja. Katakan saja kapan aku harus bersiap.." Rain tak ingin pusing-pusing memikirkan hubungan Mera dan juga Daddy nya.


Saat ini yang Rain butuhkan hanyalah pesan ataupun panggilan dari Seir. Karena itulah sejak tadi Rain lebih tertarik pada ponselnya dibanding rencana Daddy nya ataupun Mera..


"Rain.. Daddy sedang bicara padamu. Bisakah kau.."


"Aku akan datang Dad. Sekarang aku akan pergi ke kamarku. Selamat malam."


Mera hanya menghela nafas saat melihat kepergian Rain yang mengacuhkan dirinya. Bahkan Rain tak ingin repot-repot untuk melihat padanya. Mereka benar-benar seperti orang asing.


Apakah Rain masih tak bisa memaafkan aku?


"Maafkan putra ku sayang. Rain memang seperti itu.." ujar Travis yang bisa menangkap kesedihan di wajah calon istrinya.


"Aku baik-baik saja. Aku bisa mengerti Trav, jangan khawatir." Mera tersenyum samar, meskipun hatinya merasa tak nyaman.


"Syukurlah. Rain pasti akan menerima mu suatu saat nanti sayang. Kita hanya butuh waktu untuk mengembalikan semuanya seperti dulu."


"Hem.. aku tau." sahut Mera. Sudah cukup lama ia dan Rain tak bicara. Dan sepertinya, sekarang bahkan tak ada harapan untuk memperbaiki hubungan di antara mereka.


Seandainya saja waktu bisa diulang, Mera sungguh tak ingin membuat Rain terluka, tapi bagaimana lagi..


Meskipun tak berniat melukai Rain, tapi sepertinya ia tak bisa mengelak, jika dirinya memang telah melukai Rain. Ia adalah seorang wanita yang jahat..


"Maafkan aku Rain." Lirih Mera, melihat Rain yang menghilang di balik anak tangga.


"Apa sayang? kau mengatakan sesuatu?" tanya Travis yang hanya mendengarkan Mera samar-samar.


"Apa, aku? tidak.."


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2