
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Suara ketukan pintu yang tak henti-hentinya membuat Wilona beranjak dari posisi nyamannya, berbaring dengan mengunyah camilan di akhir pekan.
"Ya.. ya.. sebentar..." Meskipun tahu satu-satunya orang yang akan mengunjungi apartment nya hanyalah kekasihnya Viloen, tapi tetap saja Wilona harus bergerak keluar untuk membukakan pintu.
Sejak mereka resmi menjadi kekasih, Viloen tak pernah ingin menganggap apartment itu adalah miliknya, bahkan sebelum itupun Viloen tak pernah melakukan hal tersebut, Viloen selalu menghargai privasi Wilona.
"Sudah ku bilang kau bisa.." kata-kata Wilona menguap begitu saja saat melihat raut wajah kekasihnya, "Apa terjadi sesuatu? masuklah."
Wilona menggenggam tangan Viloen dan membawa Viloen masuk ke dalam apartemen kemudian menempatkan kekasihnya itu diruang tamu minimalis miliknya.
"Beri aku pelukan." Viloen merentangkan kedua tangannya dengan tatapan yang sarat akan kesedihan. Tanpa banyak bicara, Wilona langsung memeluk Viloen dalam diam.
Untuk sejenak, tubuh Viloen yang tegang menjadi lebih rileks. Meskipun tak tahu apa yang terjadi, tapi Wilona selalu bersedia menjadi tempat bersandar bagi Viloen.
Kehangatan yang Wilona rasakan dan juga kenyamanan yang Viloen dapatkan sudah menjadikan hubungan keduanya terasa istimewa.
Terkadang sebuah pelukan saja sudah cukup untuk menghibur seseorang, dan saat ini memang hanya pelukan Wilona lah yang sangat Viloen butuhkan.
"Semuanya baik-baik saja kan?" ucap Wilona dengan suara setengah berbisik.
Viloen bukanlah seorang pria yang mudah membuka diri, meskipun terlihat bersahabat dengan siapa saja, tapi Viloen hanya menunjukkan keramahan di luarnya saja, pria itu tak benar-benar membuka hatinya pada siapapun.
Dan Wilona menyadari hal itu saat hubungan mereka menjadi dekat, dan saat ini Wilona lah satu-satunya tempat bagi Viloen untuk mencurahkan seluruh perasaannya.
Wilona selalu menjadi tempat ternyaman bagi Viloen untuk mengungkapkan pikiran dan juga isi hatinya. Saat Viloen merasa senang, marah, bahkan tak berdaya, hanya Wilona lah satu-satunya tempat bagi Viloen.
Begitupun sebaliknya, bagi Wilona Viloen lebih dari sekedar kekasih. Di pulau terpencil itu, hanya Viloen sajalah yang Wilona miliki, dan sekarang, sepertinya Viloen sedang mengalami sesuatu yang cukup berat untuk ditanggungnya seorang diri.
"Hem, Everything's oke. Hanya saja, aku merasa kasihan pada Rain." Viloen belum bisa melepaskan kesedihannya. Sebagai seorang kakak, Viloen sangat menyayangi Rain.
Lebih dari kebahagiaannya sendiri, Viloen ingin Rain lah yang lebih berbahagia. Tapi sekarang hatinya juga turut merasakan kesakitan yang adiknya rasakan.
__ADS_1
Rain baru saja menceritakan yang sebenarnya tentang hubungannya dengan Mera. Bagaimana Rain terluka karena kenyataan yang harus diterimanya dari keputusan wanita itu.
Dan Viloen mulai menyadari.. bahwa hal itu jugalah yang membuat hubungan persaudaraan diantara mereka akhir-akhir ini memburuk.
Viloen bisa mengerti bagaimana perasaan Rain, hal seperti ini tentu saja tak akan mudah dilewati seorang diri. Dan apa yang Viloen lakukan saat adiknya diam-diam menanggung semua rasa sakitnya?
Viloen hanya berpikir bahwa Rain hanya sedang menunjukkan pemberontakan kecil karena sifat manja adik kecilnya itu, tapi kenyataannya, sungguh membuat Viloen tercengang..
"Apa ini tentang Rain dan orang tua kalian?" Wilona mengelus pelan punggung Viloen untuk menenangkan kekasihnya.
"Hem. Ini tentang keluarga kami." Viloen menghela nafasnya berat.
Viloen melepaskan pelukan Wilona dan bersander pada bantalan sofa. Viloen tak bisa menyimpan semuanya seorang diri.
Ia ingin mengatakan semua yang dirasakan nya pada Wilona. Saat ini, Viloen butuh sandaran. "Kau tau sayang, ternyata alasan dibalik pemberontakan Rain selama ini adalah karena wanita yang akan Daddy nikahi itu, Mera."
Wilona diam mendengarkan, "Wanita itu adalah cinta pertama Rain, dan hubungan mereka baik-baik saja sebelum malam itu." ingatan tentang malam dimana Rain pergi kembali menyeruak dalam kepala Viloen.
Malam yang seharusnya berakhir dengan bahagia, justru menjadi awal mula kerenggangan hubungan kekeluargaan mereka, dan semua itu terjadi karena satu alasan, wanita yang dicintai oleh Rain juga Daddy nya.
"Seharusnya malam itu aku tak membiarkan Rain seorang diri. Aku begitu egois karena menyalahkan Rain atas apa yang terjadi pada keluarga kami."
Hanya saja, Viloen benar-benar merasa kasihan untuk adik yang begitu ia sayangi.
"Aku tak tahu jika ceritanya akan serumit itu sayang. Aku pikir semua sikap Rain selama ini adalah bentuk dari pemberontak kecilnya saja, siapa yang tahu ternyata kisahnya akan jadi seperti ini."
Wilona juga cukup mengenal bagaimana Rain, meskipun terkadang Rain menunjukkan sikap pemberontak nya di kampus dan selalu terlibat masalah, tapi pria itu memiliki sikap yang baik dan juga menghormati orang lain.
Rain tak akan melukai siapapun, karena pria itu seperti kakaknya, seorang pria yang baik.
"Kau benar, karena itulah, sekarang rasanya cukup sulit bagiku untuk melihat kebahagiaan Daddy jika mengingat bagaimana luka yang Rain terima dari hubungan yang mereka jalani. Malang sekali pria kecil itu.."
Viloen mendesah pasrah. Perasaannya saat ini hanyalah mengkhawatirkan adik kecilnya, Rain adalah satu-satunya saudara yang Viloen miliki. Orang yang berharga baginya.
"Rain pasti akan menemukan jalannya sendiri. Percayalah, kebahagiaan Rain pasti akan datang pada akhirnya. Rain hanya perlu melewati semua ini dengan baik. Aku yakin, adik kecilmu pasti akan baik-baik saja Vil."
Mendengar setiap perkataan positif yang keluar dari mulut Wilona benar-benar menenangkan hati Viloen. Ia juga menginginkan hal yang sama bagi Rain. "Aku harap juga begitu."
__ADS_1
...❄️...
Pukul tujuh malam, Seir mengunjungi studio milik Rain. Biasanya Seir tak akan keluar pada jam seperti ini, tapi sekarang lihatlah, hanya karena satu pesan Rain, ia melangkahkan kakinya ke tempat ini.
"Aku membutuhkanmu" pesan itu membuat hati Seir merasa tak tenang.
"Rain kau ada di dalam?" Seir mengetuk pintu masuk yang ternyata tidak terkunci. "Rain?"
Seir langsung naik ke lantai atas tempat dimana biasanya Rain menghabiskan waktunya. Dan benar saja, pria itu sedang berbaring di atas sofa seraya menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya.
"Rain, apa kau baik-baik saja?" Seir mendekat dan menyentuh pelan tangan Rain yang menjuntai. Pria itu terbangun saat menyadari keberadaan Seir.
"Kau di sini, Hem, aku baik-baik saja. Hanya sedang lelah, dan aku ingin melihat mu." suara Rain terdengar serak dan berat. Pria itu sepertinya benar-benar tertidur sebelumnya.
Seir merasa lega karena Rain terlihat baik-baik saja. Sebelumnya Seir sempat merasa khawatir, tapi sepertinya itu hanya kekhawatiran Seir saja. "Sepertinya kau sedang membual, kau membuang-buang waktu ku saja."
Seir berniat ingin beranjak pergi, tapi baru saja ia bergerak, Rain sudah menahan tangannya. "Tidak Seir. Jangan pergi, tolong temani aku disini, ku mohon." Rain memelas sambil memeluk tangan Seir, benar-benar seperti anak manja.
Seir hanya bisa menghela nafasnya, meskipun bertingkah manja tapi Rain terlihat cukup manis bagi Seir. "Baiklah. Aku akan berada di sini. Tapi tidak lama." turut Seir.
"Hem, terimakasih. Aku senang sekali kau ada disini. Aku akan tidur sebentar." ucap Rain dengan mata yang terasa berat.
"Kau tau Rain, kau memang menyebalkan." ketus Seir, Rain tersenyum samar seraya menutup matanya, "Aku tau. Maafkan aku."
Sementara Rain tertidur, Seir hanya menatap Rain yang terus memegang tangannya. Seir ingin melepaskan cengkraman Rain, tapi ia tak ingin membangunkan pria itu.
Tentu saja jika di lihat seperti ini, Rain memang jauh lebih manis saat tidur di bandingkan saat pria itu bangun dan mengatakan hal-hal tak masuk akal.
"Rain, kau masih tidur?"
Seir memperhatikan jam di tangannya yang sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Tapi Rain masih terlihat begitu pulas..
"Apa aku harus meninggalkan nya sendiri? benar-benar membuat khawatir."
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...