SPELL

SPELL
SPELL 41


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


"Pertemukan aku dengan walikota." pinta Jhon berdiri di depan meja sekertaris dengan sorot mata yang tajam.


"Tapi tuan, anda belum membuat janji. Pak walikota juga sedang sibuk dan.. "


"Katakan Jhon Deep ingin bertemu." Jhon tak ingin berbasa-basi dan menunda hal yang dianggapnya cukup serius untuk di tangani. "Sekarang.." suara Jhon meninggi.


"Baiklah. Silahkan lewat sini tuan."


"Well.. tuan Deep, selamat datang." Walikota tersenyum saat Jhon masuk ke dalam ruangan nya.


"Ah, aku pikir anda benar-benar sibuk, tapi syukurlah sepertinya tidak begitu." Jhon tersenyum samar namun nada suaranya terdengar sinis.


"Silahkan duduk. Ada apa sampai-sampai orang sibuk seperti anda datang mencari ku tuan?" Walikota terlihat tenang tanpa menyadari ketidaksenangan Jhon dari tatapan tajamnya.


Bukan kali ini saja Jhon bertemu dengan walikota. Jhon cukup mengenal pria yang ada di depannya itu.


Bahkan jauh sebelum Jhon dan putrinya pindah ke pulau dan juga menanamkan saham miliknya di Arendelle, Jhon sudah mengenal bagaimana cara pria yang cukup ambisius itu bekerja.


Meskipun tak di pungkiri, cara kerja walikota memang sangat profesional jika menyangkut bisnis mereka, tapi tetap saja, Jhon tidak akan mengorbankan putrinya hanya karena relasi yang mereka miliki.


"Aku tidak akan berbasa-basi lagi." Jhon langsung pada inti dari kedatangan. "Tolong tangani putri anda, atau aku akan menarik semua saham yang ku berikan pada bisnis yang anda kerjakan di pulau ini." ucap Jhon langsung pada intinya.


Wajah walikota langsung terlihat gusar mendengar permintaan yang lebih mirip seperti ancaman tersebut..


Dengan senyum canggung, walikota kembali bersuara, "Tenang dulu tuan Deep, sepertinya aku belum mengerti tentang hal apa ini. Apa maksud anda dengan menarik semua saham?"


Bukan rahasia umum lagi bagi para pebisnis di pulau Arendelle bahwa Jhon adalah salah satu orang berpengaruh yang menyokong walikota untuk membangun bisnisnya di pulau tersebut.


Bahkan Walikota dapat bertahan di posisinya dengan aset dan perusahaan yang selalu berkembang salah satunya berkat dukungan dari saham yang Jhon miliki.


Bisa di katakan, Jhon adalah orang ketiga yang memiliki saham besar dalam bisnis yang dimiliki walikota.


"Sepertinya karena terlalu sibuk kau tak memperhatikan apa yang telah di lakukan putrimu saat ini Walikota." Jhon memutar-mutar bolpoin miliknya.


Tatapan dan suaranya benar-benar menyiratkan kekesalan. Setelah Jhon ikut menyelidiki apa yang dialami putri di De Lune Exas, semua masalah itu terjadi karena keterlibatan dari putri sang walikota.


"Sebagai orang tua, bukankah kita perlu tahu apa saja yang dilakukan oleh anak-anak kita? setidaknya kita harus memastikan jika mereka hidup dengan benar dan tidak akan merugikan orang lain."


"Atau mereka akan menerima konsekuensi yang tak akan pernah mereka bayangkan sebelumnya."


"Maksud anda putri saya Yukkie? anda mengenal putri saya tuan?"


"Well, tanyakan saja pada putri anda apa yang dilakukannya pada putriku, dan ingat," Jhon merendahkan suaranya, "Aku tidak akan mengulang perkataan ku. Jadi tangani dengan baik!"


Setelah menyampaikan semua yang ingin dikatakannya, Jhon langsung pergi meninggalkan ruangan walikota.


Ia berharap, setelah ini putrinya tak akan lagi mengalami hal-hal seperti sebelumnya. Jhon akan melakukan apa saja untuk melindungi Seir. Bahkan jika ia harus memusnahkan si sumber masalah.


Jhon tidak takut pada apapun, yang ia takutkan hanya putri nya tak bahagia. Itu saja.


"Papa sudah selesai?" Seir tersenyum saat Jhon masuk ke dalam mobil.


Sebelumnya, Jhon memang pergi bersama Seir karena tak ingin meninggalkan putrinya itu sendirian dirumah.

__ADS_1


Sudah satu minggu berlalu sejak Seir menjalani hukumannya, dan sejak saat itu pula, Jhon selalu menyertakan Seir kemanapun ia pergi.


Terlalu banyak hal yang terjadi dan membuat hatinya tak tenang. Mulai dari teror bangkai binatang, hingga paket yang berisikan pesan-pesan tak senonoh.


Dan semua itu di tujukan pada putri nya. Jhon sudah cukup bersabar selama ini karena permintaan Seir.


Karena itu dia diam saja saat putri nya di perlakukan tidak baik seperti itu. Tapi sekarang, ia tidak akan mentolerir siapapun yang ingin mengganggu putri kesayangan nya.


Hanya karena perbuatan seseorang yang kekanakan, putrinya harus mengalami semua hal buruk itu.


Jhon tidak akan membiarkan semua itu berlanjut lebih lama lagi dan membuat putrinya bersedih.


Meskipun Seir selalu mengatakan bahwa ia baik-baik saja dengan semua itu, hati kecil Jhon yang merasa terluka karenanya.


"Urusan papa sudah selesai sayang. Sekarang kita mau kemana? makan siang?"


"Boleh juga. Aku sedikit lapar."


"Baiklah. Kita harus makan makanan yang enak."


...❄️...


...DE LUNE EXAS...


"Bawa gadis itu kemari!"


Rain, Verrel dan juga Bruro menunggu di ruangan Viloen bersama dengan Wilona.


Ketiganya sudah menemukan siapa dalang di balik Photo-photo Seir yang tersebar di situs De Lune Exas.


Meskipun sudah menghapus situs dan unggahan-unggahan tersebut, karena masalahnya terlalu cepat menyebar, yang seharusnya mudah untuk ditangani menjadi kian tak terkendali.


Rumor tentang Seir semakin bertambah buruk meskipun gadis itu tak melakukan apapun. Dan semua itu, tentu saja karena seseorang..


"Tuan, nona Febby sudah ada di sini." ujar asisten Viloen.


Saat Febby masuk ke dalam ruangan Viloen, Febby merasakan tekanan yang luar biasa hingga tubuhnya secara otomatis menjadi gemetar.


Semua mata yang berkumpul di dalam ruangan itu sedang menatap tajam pada dirinya.


Semua tatapan yang ditujukan padanya itu seolah mengatakan jika mereka akan menelan Febby hidup-hidup, saat ini juga.


"Pak rektor.. ada apa,"


"Berhentilah berpura-pura." Suara Rain meninggi.


"Rain, biar aku saja." Sela Viloen. Ia tahu jika adiknya itu sudah cukup menahan diri.


Hanya dengan Rain mau mendengarkan nasehatnya untuk tidak menyelesaikan semuanya seorang diri saja, sudah membuat Viloen merasa lega.


Viloen tak ingin Rain hilang kendali karena telah mengetahui biang kerok dari rumor yang menyebabkan nama baik dari kekasihnya rusak.


"Jangan takut nona Febby. Aku tidak akan mengeluarkan mu dari kampus ini jika kau mengatakan yang sebenarnya." ujar Viloen memberikan kesempatan pada Febby untuk mengakui perbuatannya.


Verrel yang juga ada di ruangan itu kini tengah menatap Febby dengan rasa kecewa.


Selama ini Verrel tahu jika Febby dan Seir berteman cukup dekat, dan Verrel tak pernah menyangka jika dalang di balik rumor yang dialami oleh sahabatnya adalah gadis yang selama ini mereka anggap sebagai gadis yang baik.


"Aku..." Febby mulai menangis. Ia tahu jika perbuatan nya pasti akan di ketahui, hanya saja ia tak menyangka jika akan terbongkar secepat ini. Febby mengangkat wajahnya untuk mencari sosok Verrel.

__ADS_1


Febby berharap jika Verrel mau membelanya meskipun hanya sedikit. Dengan begitu, meskipun ia salah, ia akan bisa mengungkapkan perasaannya dengan jujur. Mengingat selama ini hubungan mereka sudah mulai dekat.


Tapi saat bertatapan langsung dengan Verrel, hati Febby terasa di hantam, dan organ tubuhnya terasa terkoyak.


Ini tak seperti yang ia harapkan. Febby mulai menangis dengan keras karena merasa kecewa. Bagaimana bisa Verrel memberikan tatapan seperti itu?


Apakah itu tatapan menjijikan? kecewa? atau marah?


Apakah salah yang dilakukannya? padahal yang ia lakukan hanyalah untuk membalaskan sakit hati Verrel karena telah di campakkan oleh Seir.


Tidak. Aku harus mengatakan semuanya. Verrel pasti akan mengerti dan pasti akan membela ku. Aku tak bisa kehilangan Verrel.


"Aku tak bersalah. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan." Febby menatap nanar pada semua yang ada di depannya.


Ia menegakkan badannya dan menghapus air matanya yang mengalir karena rasa takut yang ia rasakan.


Ia masih waras untuk tidak berurusan dengan keluarga De Lune, tapi bagaimana lagi.. ia sudah terlanjur melakukan semua itu. Dan semuanya hanya demi pria yang Febby cintai.


"Seir memang pantas mendapatkan semua itu. Dia gadis murahan yang merayu pria dimana saja dan mencampakkan mereka tanpa bergeming sedikitpun." katanya dengan suara marah.


"Benarkan Rell? aku tidak melakukan kesalahan bukan? aku melakukan semua ini untuk mu. Seir tak bisa di maafkan begitu saja.. benar kan? dia sudah melukai mu, bahkan kau sampai.."


"Apa yang sebenarnya kau lakukan?" suara Verrel tertahan. Verrel tak habis pikir dengan apa yang di dengarnya. Apakah kali ini karena dirinya..?


"Aku melakukan ini demi dirimu Rell, kau tau kalau aku menyukai mu bukan? bahkan jauh sebelum Seir muncul yang entah bagaimana gadis itu tiba-tiba menjadi sahabat masa kecilmu."


"Aku tak salah. Aku memang harus menghukum gadis itu." Febby tak akan menyesali perbuatannya.


"Tapi Seir teman mu.."


"Aku kira dia tak sama seperti gadis-gadis lain. Tapi ternyata dia sama saja. Dia mempermainkan mu dan lebih memilih Rain dari pada kau yang begitu menyukainya.Tidak hanya kalian berdua, bahkan kalian semua! Kenapa kalian masih membelanya!" Teriak gadis itu.


"Dasar gadis gila!" kini Rain kembali menyela. "Bagaimana kau bisa melakukan itu pada Seir. Kau benar-benar gila. Apa kau tidak tahu akibat dari semua yang telah kau perbuat ini?"


"Apa kau pikir kau tidak bersalah dalam semua ini Rain?" Febby kini menatap Rain dengan mata yang masih basah.


"Tanyakan pada Yukkie kenapa semuanya bisa begini! Kau dan gadis itu sama saja. Kalian hanya orang-orang kaya yang egois.. kalian bahkan tak peduli sedikitpun pada apa yang kami rasakan!"


Rain menghampiri Febby dan menatap marah pada gadis itu, "Apa kau bilang? Yukkie? Sial! Jadi kalian bersekongkol? katakan yang sebenarnya!"


Rain mulai kehilangan kesabarannya. Karena perbuatan gadis-gadis itulah saat ini kekasihnya dianggap sebagai wanita murahan yang menjual diri demi uang dan popularitas.


"Kau juga harus bertanggung jawab atas semua ini Rain." Febby balas menatap Rain seraya tersenyum meremehkan, "Bahkan kalian semua." Senyum yang sarat akan kepuasan menghiasi wajah gadis itu.


"Kau harus menanggung akibat dari perbuatan mu! aku tidak akan memaafkan kalian. Tidak akan!"


Sampai di sini Viloen sudah bisa mengerti akar dari permasalahan yang menghebohkan kampusnya dua minggu terakhir. Semua ini tidak lain karena cinta tak berbalas diantara muda-mudi tersebut.


"Rain. Tolong hentikan!" Viloen menyela. "Biarkan aku yang memutuskan hukuman apa yang pantas untuk diterima oleh nona Febby. Tapi sebelum itu, bukankah kita harus memanggil nona Deep?"


"Sialan." Rain benar-benar merasa kesal. Tanpa berkata-kata lagi Rain keluar dari ruangan Viloen setelah membanting pintu dengan cukup keras. Kemudian Verrel dan Bruro juga menyusul setelahnya.


"Nona Febby, kami akan memanggil mu lagi nanti. Silahkan kalian semuanya kembali."


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2