
...❄️...
...❄️...
...❄️...
"Aku melihat mu datang bersama Verrel, apa sekarang kalian sudah resmi menjadi sepasang kekasih?" Febby berjalan di samping Seir seraya ingin menginterogasi hubungan diantara keduanya.
Febby adalah salah satu dari sekian banyak gadis yang mengidolakan Verrel. Lihatlah, meskipun terkesan santai, namun Seir dapat melihat kekecewaan di balik wajah Febby.
Seir tahu jika akhirnya akan seperti itu. Menerima tawaran Verrel untuk pergi ke kampus bersama memang akan membuat dirinya dipertanyakan.
"Aku dan Verrel?" Seir bahkan tak terpikirkan akan melakukan hal seperti itu? hello.. bisa kau bayangkan bagaimana jika rasanya jatuh cinta pada sahabat yang sudah kau anggap seperti saudara sendiri? rasanya itu tidak mungkin.
Seir bahkan tak ingin repot-repot untuk memikirkan hal konyol seperti itu. "Ya. Siapa lagi." tegas Febby. "Aku dan Verrel." Seir tersenyum sambil menggeleng kepalanya samar.
Benar-benar konyol. Apa kedekatan diantara mereka memang terlihat seperti itu di mata para gadis ini? Seir bahkan tak habis pikir apa yang membuat orang-orang bisa berasumsi seperti itu.
"Semakin hari kalian terlihat semakin dekat, ditambah lagi kalian juga sering bersama. Jadi ku pikir.."
"Kau bercanda? kau sangat tau jika kami sahabat sejak kecil. Bukankah sudah ku ceritakan dengan lengkap, dan kami tidak mungkin.."
"Itu benar. Seir tidak akan pernah mungkin berhubungan dengan pria lain." sela Rain yang langsung menggenggam tangan Seir dan menariknya di depan banyak orang meninggalkan Febby yang masih mematung seorang diri.
"Rain, lepaskan tanganku." Seir mencoba untuk memberontak dan ingin segera melepaskan tangannya tapi Rain benar-benar tak memberi celah sedikitpun. Seir tak bisa lepas dari Rain seperti yang dipikirkannya.
"Kenapa Seir? bukankah sebentar lagi kita akan menjadi sepasang kekasih. Kita harus sering-sering terlihat bersama." Rain tersenyum tipis pada Seir tapi kemudian menatap kesal pada orang-orang yang secara terang-terangan melihat pada keduanya.
"Rain dengar dulu..." Seir tak habis pikir dengan apa yang Rain lakukan. Jika begini, maka Rain benar-benar akan menjadikan dirinya musuh semua gadis-gadis yang mengidolakan pria itu di kampus ini.
Menjadi musuh Yukkie saja sudah cukup merepotkan bagi Seir, apalagi jika ditambah dengan jumlah gadis-gadis yang begitu banyak mengidolakan Rain. Sepertinya aku harus mengubur diriku sendiri.
"Tidak Seir." Tepis Rain yang menolak untuk melepaskan tangan Seir. "Kau harus ikut dengan ku. Selama beberapa hari ini aku sudah cukup bersabar dan menahan semuanya." peringat Rain.
Rain tak ingin mendengar omong kosong tentang Seir dan Verrel, atau pria manapun.
"Kau tau bagaimana perasaanku saat memikirkan semua itu? Aku cemburu Seir. Aku merasa kesal karena kau menghabiskan begitu banyak waktu mu bersama Verrel."
Rain marah. Jelas ia merasakan sesuatu yang aneh di dadanya setiap kali membayangkan bagaimana Seir menghabiskan waktunya bersama Verrel.
Mereka duduk bersama, makan bersama, saling bertatap, bertukar cerita.. bahkan Rain yakin Verrel tak akan melewatkan waktu sedikitpun tanpa menggoda Seir dengan mengucapkan "Mimpi indah" dan semacamnya. Cih!
"Rasanya semua ini mencekik ku. Dan aku tidak suka semua perasaan ini. Mengerti!"
Terlihat jelas dari tatapannya, Rain sedang mengatakan yang sesungguhnya pada Seir, jika pria itu sedang cemburu.
__ADS_1
"Kau apa..?" ulang Seir yang merasa terkejut dengan pengakuan tiba-tiba yang ia dengarkan. Terlebih lagi Rain mengatakan semua itu dihadapan beberapa mahasiswa yang sedang menunggu jam kuliah berganti.
Tapi alih-alih menjawab, Rain bahkan tidak ingin mengulangi kata-katanya. Sepanjang perjalanan Rain tidak bicara sepatah katapun pada Seir, begitu juga sebaliknya.
Seir hanya mengikuti Rain dalam diam dan tak lagi ingin bertanya kemana pria itu akan membawa dirinya.
Seir benar-benar patuh kali ini. Bahkan tak terdengar sedikitpun argumen seperti biasanya. Jantung Seir berdegup cepat. Genggaman tangan Rain begitu hangat, dan benar-benar merusak konsentrasi Seir.
Dan sekarang di sinilah mereka berada, Rain membawa Seir ke ruang pribadi miliknya. Ruang yang hanya diketahui oleh Rain dan Seir saja. Perpustakaan pribadi milik Rain. Dimana rahasia mereka berdua tersimpan dengan rapat.
Setelah keduanya masuk Rain langsung mengunci pintu dan menarik Seir dalam pelukannya. Seir sedikit tersentak namun tetap membiarkan Rain mencium bibirnya hingga punggung keduanya bersandar diantar rak-rak buku.
Ciuman Rain terasa berbeda dari sebelumnya. Sedikit tergesa-gesa namun tetap berhati-hati. Seir bisa merasakan perasaan frustasi dan ketidakberdayaan dalam setiap sentuhan Rain.
Pria itu seperti tengah bergumul dengan dirinya sendiri. Dan Seir bisa merasakan hal itu dari sentuhan Rain yang begitu jujur mengisyaratkan seluruh perasaannya saat ini.
"Kau benar-benar membuatku bingung Seir." bisik Rain diantara pipi dan daun telinga Seir. Sementara jantung keduanya sama-sama tengah berdegup cepat.
"Kenapa?" tanya Seir dengan suara yang sedikit tercekat. Seir ingin menetralisir kan perasaannya saat ini. Rain benar-benar membuat Seir tak bisa berkata-kata. Wajah Seir merona.
Dan bibirnya terasa berdenyut. Seir sedikit merasa kehilangan karena Rain melepaskan ciumannya, tapi saat ini Seir harus mendengarkan jawaban Rain.. kenapa pria itu terlihat begitu marah.
"Karena, ku rasa aku menyukai mu Seir." Rain tak ingin menyembunyikan perasaannya lagi. Semakin lama ia mengenal Seir, semakin buruk perasaan Rain saat melihat Seir bersama pria lain. Terutama Verrel.
Kisah diantara keduanya selalu membuat Rain merasa tak nyaman..itu seperti kutukan yang selalu menghantui Rain..
"Aku suka melihat mu seperti sekarang.." sebelum melepaskan Seir, Rain sempat memberikan kecupan ringan di dahi Seir.
Sekarang, Seir lah yang merasa kebingungan dengan semua sikap dan perbuatan yang Rain tunjukkan..
Mempercayai ucapan Rain yang mengatakan jika pria itu benar-benar menyukai dirinya adalah hal tergila bagi Seir. Terutama jika mengingat pengalaman pertama saat keduanya bertemu.
"Kau tidak memiliki perasaan apapun pada Verrel bukan?" tanya Rain saat memeluk erat tubuh Seir. "Ternyata kau tidak bisa mempercayai ku." ucap Seir merasa kecewa untuk sesaat.
"Kemari lah." Rain kembali menggenggam tangan Seir dan membawa Seir untuk duduk di sofa seperti biasanya.
"Rain, kita tak bisa berada di sini." tolak Seir.
"Kenapa? kau tak suka bersamaku? atau..?"
"Aku.." entah kenapa pikiran Seir sepertinya berjalan tak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Seharusnya Seir tak bersama Rain saat ini. Tapi lihatlah, tubuhnya bahkan tak rela jika harus menjauh dari Rain.
"Kamu memiliki jam kuliah pagi kan? aku sudah menyiapkan semua ini untuk mu." Rain tersenyum hangat pada Seir dan saat itu juga kepala Seir terasa berdengung. Tak biasanya Rain bersikap manis seperti ini.
Seir mengangguk. Ia bingung sekaligus takjub karena Rain dapat mengetahui jadwal kuliahnya. Padahal hanya beberapa mata kuliah yang mereka ikuti bersama.
__ADS_1
"Duduk lah di sini Seir. Kau bisa belajar seperti biasanya. Dan aku akan berada di dekatmu." kata Rain dengan sigap mempersiapkan semua yang Seir perlukan.
Sementara Seir mengikuti mata kuliahnya di dalam ruangan itu, dengan nyamannya Rain justru meletakan kepalanya dan berbaring diatas pangkuan Seir.
"Rain.." ucap Seir yang sedikit terkejut dengan apa yang Rain lakukan.
Ssssttt.. "Suara mu akan terdengar dari mikrofon itu." tegur Rain memperingatkan Seir, kemudian tersenyum.
Meskipun Rain hanya berbaring, tapi pria itu benar-benar membuat Seir tak bisa berkata-kata. Ada-ada saja tingkah Rain yang membuat Seir salah tingkah.
"Aku suka mendengar tarikan nafasmu, dan juga kedekatan kita yang seperti ini." kata Rain dengan suara berbisik. "Tapi aku juga merasa kesal."
"Kau kesal padaku?" Seir menunjuk dirinya sendiri.
"Hmm.. kau tidak bersikap waspada saat bersama ku, apa kau tidak menganggap aku sebagai laki-laki?" protes Rain yang melihat sikap tenang Seir, padahal mereka sedang di ruangan pribadi milik Rain.
Seir tersenyum sebelum menjawab pertanyaan konyol yang Rain ucapkan.
"Karena aku yakin kau tidak akan berbuat macam-macam padaku." Seir yakin pada Rain. Entah kenapa hatinya selalu mengatakan bahwa Rain tak akan berlaku tak baik atas dirinya. Rain tidak terlihat seperti pria brengsek.
"Macam-macam seperti apa?" ulang Rain menatap wajah terkejut Seir. Dan tiba-tiba saja Rain mendekatkan wajahnya pada Seir, "Seperti.."
Dan sama seperti ciuman mereka sebelumnya, Rain tak mengatakan apapun saat mencium lembut bibir Seir,
"Mencuri ciuman mu seperti ini?" Rain tersenyum, beruntunglah Seir bisa cepat-cepat menyembunyikan wajahnya yang memerah. "Hemm.."
Mendengar jawaban Seir benar-benar menggelitik perasaan Rain, tanpa sadar Rain tertawa lepas di depan Seir..
"Kau benar. Meskipun aku sangat suka bersama mu, tapi aku tak akan melakukan sesuatu yang tak kau inginkan. Ah... bagaimana ini? rasanya mau gila."
Rain ingin menjadi pria yang baik bagi Seir. Ia tak ingin Seir merasa kecewa terhadap dirinya. Dan Rain yakin bisa menjadikan Seir sebagai kekasihnya.
Mendengar kesungguhan Rain membuat Seir tersenyum senang. "Sekarang boleh aku kembali fokus pada pelajaran ku?"
"Sejujurnya aku hanya ingin kau fokus padaku." sahut Rain mengerahkan kemampuannya untuk menggoda Seir.
"Lalu kau akan membuatku lulus tanpa melewati tahap ujian dengan kekuasaan yang kau miliki." Nah, gadis itu mulai lagi dengan kata-kata sarkas yang selalu menjadi ciri khas seorang Seir.
"Ah, sepertinya aku keliru.. mungkin kau akan merengek pada rektor kita dan membuat aku di luluskan karena kesalahan mu." Seir bersuara tanpa berekspresi. Rain tersenyum samar.
"Yah, mungkin kita bisa mencobanya." Rain akan melakukan itu jika memang itulah yang Seir inginkan juga.
"Lupakan saja."
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...