
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Karena belum bisa menangani perasaan kesal, marah sekaligus kecewa didalam hatinya, Rain memutuskan untuk tidak kembali kerumah.
Alih-alih berdiam diri ditepi pantai seperti sebelumnya, Rain lebih memilih untuk menyembunyikan diri di studio kecil miliknya.
Tempat dimana Rain biasanya menikmati kesendirian dan juga mengenang masa-masa indah bersama Mera. Dulu, sebelum dunianya diporak-porandakan karena kebenaran tentang wanita itu.
Rain tahu jika melarikan diri bukanlah penyelesaian atas masalah yang dialaminya, tapi tetap saja Rain butuh waktu untuk menata ulang hatinya.
Rain belum pernah jatuh cinta selain pada Mera. Rain juga belum pernah merasakan patah hati yang seperti ini. Karena itulah, Rain perlu waktu.
Ia tak ingin mengacaukan hubungan diantara mereka, meskipun dunia milik Rain sudah dihancurkan.
Dan sekarang, Rain tak ingin cepat-cepat bertemu dengan Daddy nya. Melihat Daddy nya akan membuat Rain memikirkan tentang Mera, tentang kebersamaan mereka, tentang hal-hal yang tak ingin Rain akui.
Membayangkannya saja sudah membuat dada Rain sesak..
Rain tahu jika Daddy nya tak bersalah, karena Rain yakin jika Daddy nya pun tak pernah tahu jika dirinya dan Mera saling mengenal. Bahkan Daddy nya tak tahu, jika Mera adalah wanita yang Rain cinta.
Meskipun begitu, sulit rasanya bagi Rain untuk mengakui kenyataan jika saingan cinta terberatnya adalah Daddy nya sendiri.
Bagaimana bisa Mera menyembunyikan hubungan mereka selama ini. Bagaimana bisa Mera Setega ini menipu dirinya.
Setidaknya Rain harus diberikan peringatan. Dengan begitu Rain akan memiliki sedikit persiapan. Dan hatinya tak akan merasa sesakit ini.
Kebenaran yang datang padanya telah menghantam Rain dengan telak. Membuatnya jatuh dan enggan untuk bangkit kembali.
Terlalu sakit rasanya pengkhianatan yang Rain rasakan.
...❄️...
"Wanita jahat!" Rain bergumam sendiri di tengah-tengah cahaya remang yang berasal dari luar studio miliknya.
Saat pikiran Rain dipenuhi tentang Mera dan Daddy nya, mata Rain teralihkan pada layar ponsel yang tergeletak diatas meja, "Brother Calling" tulisan yang tertera dilayar.
Rain menghela nafas. Saat ini pastilah Viloen tengah sibuk mencari dirinya. Bahkan, bisa saja Viloen sedang menahan murka atas sikap Rain yang pergi begitu saja.
Ditambah lagi, Rain selalu mengabaikan panggilan ataupun pesan yang masuk di ponselnya. Rain hanya ingin bersembunyi. Tak bisakah ia dibiarkan sendiri?
"Halo kak?" Rain menjawab seperti biasanya. Berpura-pura jika semuanya sedang baik-baik saja.
"Dimana kau?" Suara Viloen langsung meninggi. "Sadarkah kau apa yang kau lakukan tadi Rain? dimana sopan santun mu, bagaimana bisa kau pergi begitu saja meninggalkan Daddy dan juga.."
"Maafkan aku kak." Rain menyela, setelahnya hening. Rain bahkan bisa mendengar Viloen yang sedang menghela nafas beratnya. "Rain, dengarkan kakak, aku tahu ini berat untuk mu. Tapi bukan seperti ini caranya."
__ADS_1
"Kau lupa bagaimana seharusnya kita bertindak? kita harus selalu berdiskusi Rain. Kita bisa bertukar pikiran. Tapi tidak dengan menunjukkan sikap seperti tadi."
Rain tahu jika Viloen tak akan bisa benar-benar marah pada dirinya. Viloen sama seperti Daddy, mereka sangat mencintai dan sangat memanjakan Rain, karena itulah.. Rain semakin tak ingin berada di dekat mereka. Atau ia tak akan bisa mengontrol dirinya..
"Kau tau kemana harus mencari ku jika kau sudah siap untuk bicara Rain."
Menerima kenyataan bahwa orang yang sangat kau cintai ternyata adalah lawan, merupakan sesuatu yang menyakitkan bagi Rain.
"Aku baik-baik saja kak. Dan maaf atas sikap ku tadi. Aku akan bicara dan minta maaf secara langsung pada Daddy, tapi bukan sekarang. Berikan aku waktu." Pada akhirnya, Viloen akan selalu luluh. Dan Rain tahu betul akan hal itu.
"Baiklah Rain, tapi jika kau perlu teman bicara, kau tau kemana harus mencari ku bukan?" Bagi Viloen, adik kecilnya hanya sedang merajuk. Mungkin saja Rain juga mengalami keterkejutan saat bertemu dengan wanita pilihan Daddy nya, sama seperti yang Viloen rasakan.
Hanya saja, Viloen tak pernah menyangka jika reaksi yang Rain timbulkan akan sebesar ini.
"Terima kasih kak."
Setelah menutup panggilannya, Rain kembali duduk merenung diatas sofa. Kali ini ia bersembunyi lebih dalam bahkan tanpa diterangi seberkas cahaya pun.
Karena hatinya sedang tak baik-baik saja. Rain tak membutuhkan apapun. Ia telah kehilangan sumber cahaya itu.. dan sekarang, yang tersisa hanyalah kegelapan..
...ANOTHER PLACE...
Viloen juga merasa tak nyaman dengan apa yang terjadi dirumah mereka. Karena itu, ia juga merasa enggan untuk kembali ke sana.
Karena itu, alih-alih kembali ke mension megah milik keluarganya, Viloen justru membelokkan mobilnya menuju ke De Lune Exas. Tapi bukan kantornya yang ia tuju, melainkan bangunan yang ada di sisi lain De Lune Exas.
Tempat dimana Viloen bisa mencurahkan isi hatinya.
Viloen tersenyum samar saat mendengar namanya disebutkan. Hanya di saat seperti inilah Wilona mau memanggil namanya.
Pada saat bekerja, Wilona hanya akan memanggil dirinya dengan sebutan, Sir. Wanita yang terlalu patuh pada aturan, sampai-sampai Viloen pun tak berani mengomentari prinsip seorang Wilona.
"Apa aku mengganggu mu?" Wilona bersedekap, dengan alis terangkat. Seolah-olah ia tahu apa dan mengapa Viloen ada di depan pintunya apartment nya.
"Apa kali ini tentang adikmu lagi?" katanya menebak. Viloen tersenyum namun berusaha tak memperlihatkan kegundahannya. "Masuklah." Wilona bergeser agar Viloen bisa masuk ke dalam.
Rumah Wilona memang tak besar, karena ia hanya tinggal di apartemen milik universitas tempatnya bekerja.
Yah, itu pun karena kebaikan Viloen. Pria itu terus memaksanya untuk mengisi apartment yang kosong. Dan Wilona merasa sedikit bersyukur atas bantuan pria itu.
Setidaknya, Wilona tak perlu membuang uang untuk membayar tempat tinggal, karena tempat yang Viloen sediakan diberikan secara cuma-cuma selama ia bekerja di De Lune Exas. "Mau minum sesuatu?"
"Tidak. Aku hanya ingin mampir sebentar. Tolong bersabar sedikit padaku." Seperti biasa, Viloen hanya akan duduk di balkon kecil di sudut kamar Wilona, menatap jauh ke depan, menikmati kesunyian, lalu... entahlah..
Terkadang, Wilona bahkan tak menyadari kapan pria itu meninggalkan apartemennya. Karena biasanya Wilona tak akan ambil pusing dengan apa yang Viloen lakukan di sana.
"Hari ini Daddy membawa seorang wanita." Wilona sedikit terkejut mendengar Viloen yang mulai bercerita bahkan tanpa diminta.
"Wanita itu adalah kekasih Daddy." Viloen melanjutkan. Wajahnya dingin tak berekspresi. "Wanita itu terlihat sangat muda. Rasanya aku akan lebih percaya jika Daddy mengatakan jika wanita itu adalah saudara perempuan kami dibandingkan dengan mengatakan jika wanita itu adalah calon istri Daddy."
__ADS_1
Wilona masih mendengarkan dengan tenang. "Kalau aku saja dibuat terkejut, bisa kau bayangkan apa yang terjadi pada Rain saat pertemuan mereka tadi? Meskipun sebenarnya aku juga tak menyaksikannya secara langsung, tapi aku yakin hal itu pasti mengguncang Rain."
"Apa kali ini lebih parah dari sebelumnya?" Wilona ingat, jika ini bukan kali pertama Rain melarikan diri. Tapi meskipun begitu, setahu Wilona, Rain akan kembali tiga atau empat jam setelahnya.
"Hem. Bahkan tanpa sepatah katapun. Dan sekarang Rain memilih untuk berada diluar alih-alih kembali kerumah." Viloen menunduk dengan tatapan sayu.
"Kau tau betapa aku menyayangi anak itu. Rain adalah saudaraku satu-satunya. Dan aku tak ingin sesuatu terjadi pada Rain. Tapi di sisi lain, aku juga sangat menghormati pilihan Daddy."
"Aku turut bahagia melihat Daddy yang akhirnya mau membuka hati lagi setelah sekian lama. Awalnya Rain juga begitu.. tapi entah mengapa.." Viloen kembali terdiam. Ia memilih kata-kata yang tepat untuk mengeluarkan kegelisahan dihatinya.
"Bagiku..keluarga yang harmonis adalah segalanya. Kami hanya memiliki satu sama lain. Jika hubungan diantara kami berubah seperti ini karena bertemu dengan wanita itu, aku tak bisa membayangkan bagaimana keluarga kami akan berakhir nantinya."
Wilona menghela nafas sejenak lalu ikut memberikan komentar, "Aku rasa Rain hanya perlu waktu. Berikan dia ruang. Rain juga sangat menyayangi ayah kalian, dan kau, tentu saja."
"Anak itu tak akan membuat masalah yang besar, percaya saja padanya. Rain hanya perlu waktu, begitu juga dirimu. Tidakkah kau berpikir begitu?" Wilona tersenyum samar.
Mendengar kata-kata penyemangat dari orang yang spesial baginya membuat Viloen tersenyum penuh arti. Bicara dengan Wilona selalu menjadi pilihan terbaik bagi Viloen.
"Kau benar. Seperti biasa, aku hanya perlu bersabar." katanya. "Semua pasti akan baik-baik saja. Terimakasih untuk nasehatmu nona, dan tentu saja untuk pintu rumah ini yang selalu terbuka untuk ku."
Kini Viloen dapat merasakan sedikit kelegaan dalam hatinya. Tak ingin berlama-lama menganggu jam istirahat Wilona, Viloen akan pergi sekarang juga..
Ia tahu wanita itu sudah lelah sepanjang hari karena pekerjaan, Viloen tak ingin menunda lebih lama waktu istirahat Wilona yang berharga.
Viloen masih tersenyum penuh arti seraya menatap Wilona, begitu juga sebaliknya, namun mungkin, Wilona tak merasakan perasaan seperti yang Viloen rasakan saat ini. Berdebar.
"Kalau begitu aku akan kembali sekarang." Viloen beranjak dengan gerakan yang sedikit canggung.
"Apa kau tidak ingin tinggal lebih lama?" tanya Wilona lagi. Viloen tau jika wanita itu tak memiliki maksud lain dibalik kata-katanya, hanya saja, apa wanita itu tak memikirkan kemungkinan yang bisa terjadi diantara mereka jika Viloen terlalu lama berada di sana?
Cih. Memangnya apa yang akan terjadi? bukankah kau hanya seorang pengecut Viloen?
Viloen menyipitkan matanya, lalu tersenyum samar, "Apa kau sedang menggodaku?" ujarnya, dengan tangan yang sudah bersandar diatas meja. Viloen sengaja mendekatkan wajahnya untuk menggoda Wilona.
Tapi reaksi wanita itu memang tak pernah mengecewakan Viloen. Seakan ia bisa menebaknya hanya dengan melihat sorot mata Wilona. "Baguslah kalau kau cepat pulang. Aku juga harus tidur." Nah.. inilah Wilona yang Viloen kenal.
"Kau tidak tahu betapa berbahayanya undangan mu tadi. Maaf karena aku harus menolaknya, untuk saat ini. Lain kali.. kau harus.."
Mata Wilona berkedip-kedip saat memperhatikan Viloen yang dengan sengaja ingin menggoda dirinya, tapi hal itu justru menggelitik hati Viloen.
Membuang niat awalnya, Viloen justru menyentil pelan kening Wilona, "Aww.." gadis itu memegang dahinya. "Sebaiknya aku pulang. Terimakasih karena mau mendengarkan ceritaku Wil. Sampai bertemu besok pagi."
"Rasanya aku akan terlambat.." Wilona bersuara tenang.
"Kau punya hak istimewa untuk itu nona.." Viloen tersenyum samar lalu menghilang dibalik pintu..
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...