SPELL

SPELL
SPELL-18


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Seir berlari menuruni tangga saat mendengar suara bell yang tak kunjung berhenti di bunyikan di depan rumahnya.


"Sebentar..!" serunya. Baru saja Seir menyelesaikan pekerjaannya di gudang belakang, dan berharap setelah ini ia bisa menikmati waktu istirahat dengan tenang.


Tapi lihatlah, baru saja ia berpikir begitu, seorang tamu tak diundang sudah mengancam kedamaian yang begitu Seir inginkan.


Apa itu Verrel? sahabatnya itu hampir tak pernah absen mengunjungi rumah Seir kecuali di hari Rabu dan Jumat. Saat Verrel harus pergi menggantikan uncle Rofhten ke kota lain diluar pulau Arendelle.


"Ya.. Ya.. sebentar, kau benar-benar tak punya pekerjaan..?" kesal Seir yang mengira jika tamu tak diundang dibalik pagar rumahnya adalah Verrel.


Saat pintu dibuka, sekali lagi Seir dibuat terkejut karena melihat Rain lah yang berdiri di sana. Bukan Verrel.. bukan juga Febby. Tapi Rain.


What the.. Ah... ****!


Seir sungguh ingin mengumpat di depan pria itu seandainya tak memikirkan apa yang sedang ia pakai saat ini. Seir hanya mengenakan kaos bertali satu dengan jin berpotongan rendah.


"Hai.." Rain tersenyum canggung saat melihat wajah terkejut Seir saat melihat dirinya. Seir terlihat sedikit kacau, tapi manis. Apa dia sedang bekerja? apa aku mengganggu?


"Kau, ada apa? kenapa kau datang?" Seir bergerak canggung karena menyadari betapa tak pantas penampilannya saat ini.


Kenapa juga ia harus mengenakan pakaian setengah terbuka hanya untuk membersihkan gudang? Ah, kenapa rasanya aku harus selalu berhati-hati bahkan di dalam rumah ku sendiri!


"Boleh aku masuk?"


"Untuk apa? maksud ku tuan tidak ada dirumah jadi.. "


"Aku ingin bicara.." Rain bersikeras. "Bicara? bagaimana jika besok saja. Di kampus, kau datang tiba-tiba, dan aku masih.."


"Aku sudah mengirim pesan. Sepertinya kau tidak mengecek ponselmu." Rain tersenyum. Tapi Seir semakin merasa tak nyaman dengan sikap ramah pria itu.


Kenapa Rain tidak bersikap seperti biasanya saja? dengan muka menyebalkan pria itu terlihat jauh lebih baik, tersenyum sedikit tak cocok untuknya.


"Benarkah? kalau begitu masuklah." Seir tak punya alasan lagi untuk mengusir Rain. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah memperbaiki cara berpakaiannya sesegera mungkin. Sebelum pria itu salah paham dengan cara berpakaian Seir.


"Duduklah di mana saja kau mau, aku akan mengganti.." Seir menghela nafasnya, tak ingin menyelesaikan kata-katanya hanya untuk menyadarkan bahwa pakaiannya sungguh tak pantas untuk dilihat seorang, tamu.


Sejujurnya Rain tak memperhatikan sampai sedetail itu sebelum Seir menyadarkan dirinya.. "Ah, baiklah. Maaf jika membuat mu tak nyaman."


Bagus jika kau menyadarinya. Seharusnya itu yang Seir katakan. Tapi tidak sekarang. Seir akan mengatakan nya nanti, saat ia sudah berpakaian dengan pantas.

__ADS_1


...❄️...


Setelah berganti pakaian dengan cepat, Seir kembali turun untuk mendatangi Rain. Pria itu duduk dengan tenang di ruang tamu. Benar-benar seperti tamu sungguhan. Tapi dia memang tamu bukan? ah, masa bodoh!


"Katakan tujuan mu!" Seir duduk berseberangan dengan Rain. Saat ini Seir tak ingin repot-repot bersikap sopan karena status yang di sematkan pria itu pada dirinya.


Persetan dengan status asisten rumah tangga itu!


"Kau dekat dengan Verrel?" Rain bergerak gelisah, tapi dari sorot matanya, ia terlihat serius saat menanyakan hal itu pada Seir.


Verrel. Jadi pria ini datang karena penasaran tentang hubungannya dengan Verrel?


Dan sesungguhnya, Seir sudah siap jika pertanyaan seperti ini akan ditanyakan pada dirinya, terlebih lagi oleh Rain.


Hubungannya dengan Verrel memang tak bisa di sembunyikan lagi semenjak Verrel secara terang-terangan terus mendatangi kelas yang Seir ikuti.


"Kenapa kau bertanya?"


"Hanya ingin tahu saja. Aku harus memastikan bahwa calon kekasih ku tak memiliki hubungan dengan pria lain."


Apa katanya? calon kekasih?


Seir sedikit terkejut, tapi ini bukanlah hal tergila yang pernah ia dengar dari Rain.. "Kau datang kerumah ku hanya untuk menanyakan itu?" dasar pria gila.


Rain kembali tersenyum. Menyenderkan tubuhnya ke bantalan sofa, dan menatap yakin pada Seir. "Taruhan itu. Aku pasti akan menang." katanya penuh percaya diri.


Bagaimana Rain adalah seseorang yang tak terbaca.


"Tidak. Tapi aku yakin." Rain tak pernah sedikitpun meragukan kemampuan dirinya. Suka tak suka, ia pasti akan menduduki peringkat teratas. Dan itu sudah menjadi takdirnya..


Dan kali inipun, Rain tak berniat mengalah. Rencananya harus berjalan dengan mulus. Baik Verrel atau siapapun itu, Rain tak ingin ada pengganggu.


"Kau pasti akan jadi kekasihku. Atau lebih tepatnya, kekasih dengan sebuah status yang akan di akui di depan semua orang."


Seir mendengus tak suka, tapi juga sedikit geli melihat keyakinan seorang Rain. "Jangan terlalu percaya diri." mengingatkan pria itu agar tak berkhayal bukanlah dosa. Dan Seir tak ingin Rain kecewa jika nantinya akan kalah dalam taruhan mereka.


Lagi pula seseorang harus sadar dengan apa yang dilakukannya. Dan jangan pernah menganggap remeh seorang lawan. Setidaknya, itulah yang Seir pelajari selama ini.


"Aku yakin sepenuhnya."


"Katakan padaku yang sebenarnya Rain. Aku masih tak mengerti satu hal.." Seir terlihat serius dengan perkataannya.


"Apa?"


"Kenapa harus aku? bukankah ada gadis lain, Yukkie maybe.. Kau tak perlu memenangkan apapun, dengan satu kata darimu, ku rasa seluruh manusia di pulau ini akan tahu jika kalian berpacaran. Jadi, kenapa harus aku?"

__ADS_1


"Sama seperti yang kau tahu. Status ku tak sebanding dengan dirimu. Dan ku rasa, mau menang ataupun kalau, kau akan sama-sama rugi. Sedangkan aku?" Seir tersenyum sinis, "Satu-satunya yang ku inginkan hanyalah menyadarkan dirimu!"


Pertanyaan Seir adalah pertanyaan yang sama yang beberapa waktu ini selalu Rain tanyakan pada dirinya. Kenapa harus Seir? padahal ada banyak gadis diluar sana yang mengantri untuk mendapatkan perhatian darinya, tapi kenapa harus Seir?


Mereka berbeda. Sangat jauh berbeda. Dan perkataan Seir benar adanya. Menang sekalipun, ia tak akan mendapatkan apapun kecuali gadis arogan dan status sebagai pria yang sudah memiliki kekasih. Hanya itu.


Tapi kenapa?


Rain pun ingin tahu. Kenapa ia harus mengatakan untuk menjadikan Seir kekasihnya, apa karena Mera? karena Mera menatapnya seperti itu?


"Entahlah.. yang aku tahu. Aku tak menginginkan salah satu dari mereka. Terlalu merepotkan." mungkin terdengar seperti lelucon, tapi bagi Rain itulah kebenarannya.


"What? jadi menurut mu aku mudah di atur dibandingkan mereka, begitu?"


"Bukan begitu, hanya saja, ku pikir kau berbeda dengan gadis diluar sana."


"Maksud mu?" Bagaimanapun Seir memikirkannya, ia benar-benar tak bisa mengerti bagaimana cara berpikir Rain, dan apa sebenarnya tujuan pria itu.


Rain mendekati Seir dan menatap Seir dengan rasa ingin tahu yang lebih, tapi juga ada kecemasan dimata itu,


"Kau tidak menyukaiku bukan?" Rain ingin memastikan, bahwa pilihannya tak salah. Seir adalah satu-satunya orang yang bisa membantu Rain membalaskan sakit hatinya.


"Kenapa kau bertanya?"


"Hanya feeling. Karena itulah aku memilih mu."


"Karena aku tak mungkin menyukai mu dan tak mungkin mengejar-ngejar mu seperti gadis-gadis diluar sana?"


"Yup."


"Tapi untuk apa? bukankah sendiri lebih baik. Untuk apa repot-repot harus memiliki kekasih jika kau tak mau memiliki hubungan."


"Untuk memastikan sesuatu.." Rain tersenyum misterius, dan jelas, semua itu membuat kepala Seir berdenyut. Bicara dengan Rain hanya membuat hidupnya dipenuhi ribuan tanda tanya..


"Kau benar-benar tak masuk akal." Seir mendengus kesal karena Rain terlihat menikmati perannya untuk mempermainkan Seir.


"Aku akan memberitahu mu saat kau menjadi pacar ku nanti."


"Siapa yang akan jadi pacar siapa..?"


"Papa..?"


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2