
...❄️...
...❄️...
...❄️...
"Siapa yang menjadi pacar siapa Ella?" Jhon memasang wajah serius saat menanyakan hal itu pada putrinya.
Terlebih lagi karena dirumahnya ada seorang pria asing yang saat ini sedang berkunjung tanpa sepengetahuan Jhon.
"Uncle.." Rain berdiri sedikit gugup saat melihat kehadiran Jhon yang terlihat sedikit menakutkan. Pria itu datang tanpa suara sedikitpun.
Dan rasanya mereka seperti sedang tertangkap basah melakukan sesuatu yang buruk. Tatapan pria itu membuat Rain merasa demikian.
"Maaf jika aku berkunjung diwaktu seperti ini." Rain kembali bersuara, tapi kali ini disertai sedikit senyuman.
"Kami hanya berdiskusi papa. Rain sedang menceritakan tentang salah satu teman kami di kampus." Seir segera mengambil alih percakapan karena tahu bagaimana sikap papanya jika Rain sampai salah bicara.
"Benarkan Rain..?" Seir tersenyum canggung saat meminta Rain mendukung ceritanya. Tapi pria itu justru terlihat memiliki rencananya sendiri.
"Ah.. sepertinya begitu.." Rain menimpali ucapan Seir. Meskipun sebenarnya, Rain sangat ingin mengatakan bahwa ia sedang meminta Seir untuk menjadi kekasihnya.
Haruskah ia melakukan itu sekarang?
Jhon mengernyit ragu atas ucapan putrinya dan juga Rain. "Sepertinya?" Jhon mulai mencium sesuatu yang tidak biasa. Putrinya terlihat gugup. Tak biasanya Seir menunjukkan ekspresi seperti sekarang.
Putrinya yang setenang malam dan selalu percaya diri dengan setiap kata-katanya kini sedang terlihat gelisah.
"Tidak perlu di pikirkan papa. Bukan apa-apa." Seir kembali mengalihkan pembicaraan. Konyol rasanya jika harus menceritakan permintaan Rain pada dirinya, terutama tentang taruhan itu. Seir saja sudah merasa konyol apalagi papanya.
"Papa datang sendiri?" Seir mengambil tas kerja Jhon dan meletakkannya di atas meja.
"Ya. Kelihatannya begitu, apa papa perlu membawa orang lain sayang?" Goda Jhon. Dan Seir tahu kearah mana pembicaraan itu.
Karena itulah Jhon hanya mendapatkan tatapan penuh keberatan dari putrinya. Seir tak ingin ada orang lain masuk ke dalam keluarga mereka, setidaknya untuk saat ini. Mereka masih harus membenahi semuanya dari awal, dan orang baru tak akan membantu.
"Papa tahu sayang. Papa hanya bercanda." Jhon memeluk singkat putrinya dan mencium kening Seir. Jhon tak ingin putrinya berpikir macam-macam. Ia hanya berniat menggoda, hanya itu.
Melihat bagaimana perlakuan Jhon pada Seir Rain hanya bisa diam dan ada sedikit rasa iri dalam hatinya. Perlahan-lahan Rain mulai menyadari sesuatu. Hubungan Seir dan Jhon tidaklah seperti yang Rain pikirkan.
Bodoh jika ia masih berpikir Seir adalah asisten rumah tangga dirumah besar ini setelah melihat semuanya.
Meskipun kenyataannya Seir memang melakukan semuanya seorang diri, dan bahkan sampai sekarang pun tak ada orang lain dirumah itu selain mereka bertiga. Meskipun begitu, Rain yakin bahwa Seir adalah putri pemilik rumah.
__ADS_1
Ah, memalukan. Bagaimana bisa ia melakukan kesalahan seperti ini..? bodohnya dirimu Rain! Kau memang selalu mengacau. Lihat apa yang sudah kau lakukan selama ini? asisten rumah tangga? hah, yang benar saja! konyol.
Ya Tuhan, apa Seir akan memaafkan aku? aku sudah merendahkan harga dirinya. Bagaimana ini?
Cukup lama Rain terlarut dengan pikirannya yang mulai kacau. Selain merasa malu, Rain juga merasa bersalah. Sampai-sampai ia tak menyadari Seir sudah berpindah tempat dan berdiri di sampingnya.
"Papa pasti lelah, masuklah, akan ku siapkan makan malam. Lagipula Rain juga sudah mau pulang." ujar Seir menyentuh pelan tangan Rain membuat Rain sedikit tersentak. Kini pikiran Rain mulai kembali ketempat yang seharusnya.
"Aku?" sekali lagi Seir melayangkan tatapan perintah pada Rain, yang mengisyaratkan dengan jelas bahwa Rain harus menuruti apa saja yang Seir katakan.
Rain sampai dibuat takjub dengan kenyataan yang diterimanya. Seir adalah satu-satunya gadis yang Berani melakukan hal seperti ini pada dirinya.
"Rain..?" Seir sedikit menajamkan suaranya saat Rain tak menanggapi perkataannya. Tatapan Seir kali ini benar-benar seperti perintah yang tak terbantahkan.
"Ah.. iya Uncle. Sepertinya sudah terlalu sore. Aku harus pulang sekarang." Rain tersenyum, dan menangkap sedikit kelegaan di wajah Seir. Apakah hal seperti ini sudah membuat Seir tenang? Rain kembali memikirkan tentang Seir.
"Makan malam saja di sini Rain. Lagipula sebentar lagi Verrel akan datang." Jhon kembali bersuara. Dan sekali lagi menangkap reaksi yang aneh dari putrinya.
"Verrel?" ulang Rain.
"Ya. Bukankah kalian teman? Verrel juga teman masa kecil Ella.." Jhon tersenyum kemudian mengambil kembali tas kerja miliknya. Sementara Seir justru sebaliknya, ia hanya bisa menutup rapat mulutnya sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Papa akan naik dan berganti baju, kalian bersantai lah." Jhon mengedipkan mata sambil tersenyum kecil.
"Kalian berteman?" ulang Rain setelah Jhon menghilang di balik tangga. Seir tak mengira jika papa nya akan mengatakan hal seperti itu pada Rain.
Padahal biasanya papa Seir adalah orang yang tak banyak bicara apalagi pada orang asing seperti Rain, tapi kenapa sekarang papa nya melakukan hal seperti ini.
"Yah.. begitulah." Seir tak ingin terlalu memikirkan semuanya secara berlebihan. Apapun yang Rain pikirkan terserah dirinya, Seir tak ingin memusingkan hal tersebut.
"Seir, maafkan aku." Rain menahan tangan Seir saat gadis itu ingin pergi ke arah pantry. Seir bergeming, tapi wajahnya sudah menunjukkan apa saja yang ia pikirkan terhadap Rain.
"Tentang aku yang menyebutmu seorang asisten rumah tangga waktu itu. Ah, mungkin saja sampai tadi sebelum aku menyaksikan interaksi diantara kau dan uncle." jelas Rain.
Ia harus meluruskan semuanya sebelum kesalahpahaman diantara mereka semakin berlarut-larut.
Rain juga tidak ingin, jika Seir menganggap dirinya tak tau malu, dan suka berpikir seenaknya. Ah, apakah kini Seir memang sudah berpikir demikian?
"Ah, tentang itu. Lupakan saja." lagi pula Seir tak ingin memusingkan kesalahpahaman yang tak ia mulai. Seir bahkan tak merasa berkewajiban untuk menceritakan tentang dirinya pada siapa saja yang ia temui, termasuk Rain.
Orang lain boleh berpendapat apa saja tentang dirinya, dan itu tidak masalah. Seir hanya ingin memiliki hidup tenang.
Rain tersenyum lega saat Seir tak mempermasalahkan sikap buruknya di masalalu. Ternyata Seir hanyalah gadis arogan yang keras kepala. Pendendam bukanlah sifat gadis itu. Syukurlah.
__ADS_1
"Sekarang, ceritakan padaku." Kini Rain justru merasa tertarik dengan cerita masa kecil Seir dan juga sahabatnya Verrel.
Sebelumnya Rain ingat bahwa Verrel juga sering menceritakan tentang sahabat masa kecilnya saat mereka berada di private room. Bahkan Bruro juga sangat mengingat cerita itu.
Mengingat bagaimana bersemangatnya Verrel setiap kali menceritakan kisah masa kecilnya, membuat Rain menghafal alur cerita tersebut.
Bahkan sampai sekarang pun, Verrel masih menceritakan tentang hal itu; tentang sahabat masa kecilnya yang sangat pendiam dan tak bisa bergaul dengan orang lain, tapi selalu bersikap manis saat bersama Verrel.
Rain juga ingat bahwa Verrel sering mengatakan jika sahabatnya itu merupakan cinta pertamanya..
Cinta pertama? Apakah Seir orangnya? gadis kecil yang selalu Verrel ceritakan. Cinta pertama yang masih Verrel harapkan sampai saat ini?
****!
Menyadari tentang semua itu membuat Rain bergerak gelisah. Perasaannya berubah tak nyaman. Ada sesuatu dalam dirinya yang mulai membuat Rain terusik. Apakah benar semua cerita itu? Seir dan Verrel?
Apakah Seir juga menganggap Verrel sebagai cinta pertamanya? tapi apa salahnya? toh itu hanya cerita di masalalu. Cih.
"Kau tidak perlu tahu cerita itu. Kami memang berteman, dan Verrel adalah satu-satunya teman yang ku miliki." ucap Seir berbalik meninggalkan Rain.
"Apakah Verrel cinta pertama mu?" Rain tak bisa menahan mulutnya untuk tidak bertanya. Ia harus tahu bagaimana gadis itu menganggap Verrel selama ini. Bagaimana jika semua itu benar.. ?
Bagaimana jika keduanya pernah saling memiliki perasaan untuk satu sama lain? dan mungkin saja masih ada sampai sekarang.. bagaimana jika..
"Kenapa kau bertanya hal konyol seperti itu?" Rain terpaku. Matanya menyipit mulai mencerna makna dibalik kata-kata Seir.
Konyol? bukan rahasia tapi konyol? di saat seperti ini, bukankah lebih tepat jika Seir tak ingin menceritakannya karena itu merupakan rahasia diantara dirinya dan Verrel saja?
Tapi sepertinya Seir tak menganggapnya begitu. Ah.. sialan. Apakah ini akibat dari patah hati di masalalu? Rain sangat cepat mengerti arti dibalik kata-kata Seir. Verrel tidak lebih dari sekedar teman masa kecilnya saja. Rain tersenyum senang saat menatap wajah serius Seir.
"Bukan?" Rain ingin memastikan sekali lagi agar ia tak salah paham seperti sebelumnya..
"Aku tak memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaan aneh itu bukan? kami berteman.. dan selamanya akan tetap seperti itu." tegas Seir.
Baginya, Verrel adalah sahabat yang berharga. Seir bahkan tak pernah memikirkan tentang cinta saat bersama Verrel, karena bagi Seir, Verrel adalah orang istimewa yang dianugerahkan Tuhan seperti papa dan mamanya.
"Apa kau tau Seir?" Rain menghampiri Seir dan menggeser sejumput rambut yang tergerai indah di pipi Seir..
"Itu merupakan salah satu berita terbaik yang ku dengarkan hari ini. Terimakasih."
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...