SPELL

SPELL
SPELL-32


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Mendengar semua penuturan Bruro dan Verrel sebelumnya, entah mengapa membuat hati Seir terusik.


Ternyata benar bahwa Rain sudah memiliki seseorang dalam hatinya. Wanita yang selama ini Rain cintai dan juga Rain perjuangkan. Ada di sini. Berdiri di tengah banyak orang sambil memamerkan senyum penuh kebahagiaan.


Sayangnya, senyuman bahkan cerita cinta yang seharusnya berakhir indah itu tak menjadi bagian Rain, melainkan menjadi milik pria lain. Dan pria itu adalah Daddy Rain sendiri.


Sekarang semuanya menjadi lebih jelas bagi Seir. Pantas saja saat pertemuan pertama ketiganya malam itu Rain langsung bersikap seolah-olah mereka berdua adalah sepasang kekasih dihadapan Mera.


Tidak cukup dengan sandiwara pertamanya, tanpa pikir panjang Rain langsung ingin menjadikan Seir sebagai kekasih yang bisa diakui.


Jelas sudah bahkan semua itu bukan karena Rain memiliki perasaan ataupun menyukai dirinya sebagai seorang Seir Estelle, melainkan karena pria itu membutuhkan seseorang yang bisa ia gunakan untuk membalas rasa sakit hatinya.


Entah wanita itu juga mencintai Rain atau tidak, Seir tidak tahu, hanya saja, malam itu Seir bisa merasakan ada atmosfer aneh diantara mereka.


"Aku memilih mu karena aku tahu kau tidak akan memiliki perasaan padaku."


Kini barulah Seir memahami arti yang sebenarnya dari pernyataan Rain saat itu..


Rain tidak membutuhkan Seir sebagai seorang kekasih, melainkan seseorang yang bisa di gunakan sebagai alat untuk membalas sakit hatinya pada Mera. Lalu.. Rain akan membuang Seir begitu tujuan pria itu tercapai.


Rain hanya butuh orang yang bisa dijadikan sekutu untuk menunjukkan pada Mera jika tanpa wanita itupun Rain bisa melanjutkan hidupnya.. bahkan dalam waktu yang singkat.


Rain tak butuh cinta ataupun perhatian tulus dari seseorang, karena pada kenyataannya Rain tidak sedang mencari seorang pasangan.


Yang sangat Rain inginkan hanyalah pengakuan dan juga rasa penyesalan dari Mera karena telah menghancurkan hati dan cinta Rain sebelumnya.


"Bodohnya. Hampir saja aku benar-benar terjebak dalam permainan sialan ini." Seir mengatupkan rahangnya menahan kemarahan.


Sorot matanya menyiratkan perasaan terluka atas kenyataan yang baru saja ia ketahui.


Baru saja Seir berpikir bahwa menjadikan pria itu sebagai kekasih mungkin bukanlah sesuatu yang buruk.


Bahkan ia berpikir, bisa saja hubungan mereka justru berjalan dengan baik dan tak akan merugikan siapapun, meskipun Seir sangat tahu akan banyak orang yang menentang hubungan mereka.


Tapi setidaknya, mereka bisa saling melindungi. Itulah yang tadinya Seir pikirkan. Tapi kini, semua itu bagaikan mimpi buruk bagi Seir..


Seir benar-benar menyesal karena hatinya telah tergerak oleh Rain. Seir juga mulai menyesali keputusannya karena membiarkan dirinya jatuh hati pada pria itu.


Bahkan ciuman serta debaran jantungnya.. Seir mulai menyesali semuanya..


"Ella.." Verrel menyentuh tangan Seir dan membuat gadis itu sedikit tersentak, "Ya?" Seir benar-benar gila karena baru menyadari permainan Rain.


"Ayo kita berikan selamat pada mereka.." ajak Verrel.


Dari tempatnya saat ini, Seir bertekad untuk mengabaikan tatapan tajam nan mencekam dari Rain. Karena Seir tahu bahwa semua yang ditunjukkan pria itu hanyalah sebuah kebohongan. Rain hanya sedang bersandiwara..


Rain telah membohongi Seir, Rain hanya ingin memanfaatkan hubungan mereka sebagai alat untuk balas dendam pada Mera.

__ADS_1


"Mera, Uncle.." Verrel tersenyum lembut menyembunyikan perasaan bingung sekaligus terkejutnya setelah mengetahui kebenaran tentang hubungan dari pasangan baru tersebut.


"Selamat, aku membawakan hadiah kecil untuk mu." Verrel tak tahu ingin mengatakan apa lagi di saat seperti ini.


Selain terkejut, Verrel juga merasa kasihan pada Rain. Verrel sangat tahu bagaimana perasaan tulus Rain saat mengejar Mera. Rain begitu menyukai Mera.. dan Verrel juga selalu mendukung hubungan keduanya. Tapi sekarang..


"Sepertinya kalian sudah saling mengenal sebelumnya?" Travis merasa sedikit heran karena pria yang seharusnya seumuran dengan putranya itu memanggil calon istrinya dengan sapaan yang cukup akrab.


"Aku sangat mengenal keluarga Rofhten sayang. Dan Verrel sering berkunjung saat masih di bangku sekolah. Ibunya adalah pelanggan tetap di tokoku." jelas Mera sambil tersenyum.


Secara garis besar apa yang dikatakan Mera memang benar adanya. Terutama karena toko bunga Mera adalah tempat favorit dari ibu Verrel.


"Benarkah? sungguh sebuah kebetulan. Karena Verrel juga sahabat Rain. Benarkan nak Verrel?" Travis tersenyum hangat. Dan tentu saja Mera sangat tahu akan fakta tersebut.


Verrel hanya tersenyum..


"Dan gadis ini..?" Travis beralih pada Seir. Mera pun begitu.. "Kau..?" Mera yang juga menyadari keberadaan Seir merasa tak asing dengan gadis itu.


"Kita pernah bertemu sebelumnya, di restoran." Seir kembali mengingatkan Mera. Gadis itu adalah kekasih Rain. "Ah.. Benar. Aku ingat, terimakasih sudah datang. Rain juga ada di sini." ujar Mera.


Mera merasa lega karena setidaknya sekarang Rain sudah memiliki seseorang dalam hatinya. Pria itu ternyata tak terlalu terpuruk seperti yang Mera takutkan.


"Rain?" Travis mengerutkan keningnya. "Iya sayang, gadis ini adalah.."


"Kami teman satu kampus uncle. Ella adalah mahasiswi baru dan juga sahabat masa kecilku." sela verrel. Apapun yang ingin Mera katakan, Verrel tak ingin jika Seir disangkutpautkan dengan Rain.


"Benarkah? baguslah kalau begitu. Semoga kalian menikmati pestanya." kata Travis lagi.


"Terimakasih uncle."


...❄️...


Pria itu di pojok sana, sementara Seir memilih untuk berada ditengah-tengah keramaian.


"Apa saja.. terimakasih." Seir tersenyum kecil pada Verrel. Dalam hatinya, Seir sungguh ingin menghilang saat ini juga.


Seir tak tahu harus bersikap bagaimana jika Rain menghampiri dirinya. Seir bahkan berharap Rain tidak akan melakukan itu, karena mungkin saja Seir akan benar-benar membenci pria yang sudah membodohi dirinya itu..


Tapi pikiran Seir langsung lenyap begitu saja ketika Rain sudah berdiri di hadapan Seir. Bahkan Seir sendiri tak menyadari kapan Rain berjalan kearahnya..


"Kenapa kau ada di sini?" bukan itu sebenarnya pertanyaan Rain. Yang ingin Rain tanyakan mengapa Seir selalu mengikuti Verrel.


Jika Seir ingin pergi mengapa tak minta pada dirinya untuk membawa gadis itu.. kenapa harus Verrel.


"Apa keberadaan ku membuatmu tak nyaman. Kalau begitu aku minta maaf." Seir tersenyum sinis pada Rain.


Dasar pria sialan. Apa sekarang aku harus menunggu ijin darimu untuk pergi kemanapun yang aku mau? Seir berdecak dalam hati.


"Seir, kau tau bukan itu maksud ku." Rain melembutkan tatapannya. "Pergilah. Aku tak ingin bicara denganmu Rain." Seir tak bisa bersandiwara seolah-olah semuanya baik-baik saja setelah tau apa yang Rain lakukan terhadap dirinya.


Jika memang pria itu ingin mengajaknya untuk bekerja sama mengapa tak jujur saja sejak awal, setidaknya Seir tidak akan mengharapkan sesuatu yang tak mungkin terjadi.


Mengapa Rain harus membuat Seir berdebar..? mengapa Rain harus memperlakukan dirinya berbeda, dan mengapa Rain harus menciumnya seolah-olah pria itu benar-benar ingin..

__ADS_1


"Seir, ada apa dengan mu, apa aku.."


"Ada apa ini?" sela Verrel yang baru saja kembali setelah mengambil minuman. Tapi keduanya kompak tak mengatakan apapun.


"Rain, aku sudah mendengar ceritanya dari Bruro." Seir memalingkan wajahnya karena kembali terusik. "Aku tak mengira jika.."


"Itu bukan urusan mu. Jangan ikut campur." sahut Rain yang tak mengalihkan sedikitpun tatapannya dari Seir.


Untuk kali ini Verrel bisa memahami sikap Rain yang tak ingin membahas Mera karena ia tahu bagaimana perasaan Rain sebelumnya terhadap wanita itu.


Hanya saja yang tak bisa Verrel maklumi saat ini adalah bagaimana cara Rain menatap Seir. Apa yang dipikirkan pria itu sebenarnya..


"Ella.." Verrel mengambil tempat dan duduk di samping Seir serta memberikan minuman ditangan Seir "Minuman mu." katanya sambil tersenyum lembut. Verrel berharap Rain segera menyingkir dari hadapan mereka, saat ini juga.


"Terimakasih." ucap Seir yang sedang berusaha mengabaikan keberadaan Rain. Sebelumnya Seir tak pernah mengharapkan siapapun untuk menyukai dirinya, termasuk Rain.


Hanya saja, Seir juga tak rela jika keberadaannya dimanfaatkan oleh seseorang, sama seperti yang Rain lakukan.


Alih-alih pergi seperti yang diharapkan keduanya, Rain justru mengambil salah satu kursi dan meletakkannya tepat di depan Seir. Benar-benar di hadapan gadis itu.


"Kau..?" Seir memberengut dan marah melihat Rain yang bertingkah seenaknya. "Apa? kau ingin mengusir ku? tidak akan. Aku tidak akan pergi kemanapun Seir." katanya sambil tersenyum manis.


Rain tidak tahu apa yang membuat Seir marah pada dirinya, meskipun sejujurnya sedikit banyak Rain bisa menebak jika Seir sudah mendengar cerita tentang dirinya dari Bruro ataupun Verrel. Sahabat-sahabat sialan nya itu.


Tapi tetap saja hal itu tak akan membuat Rain menyerah atas Seir. Rain bisa menjelaskan semuanya, jika Seir bersedia untuk mendengarkan cerita Rain, dan ia sangat yakin bahwa Seir mampu memahami dirinya.


Entah kenapa, hati Rain memiliki keyakinan seperti itu terhadap Seir.


"Rain, apa yang sebenarnya kamu inginkan? Menyingkir lah dari hadapan Ella. Kau membuatnya merasa tak nyaman." kini Verrel benar-benar dibuat geram oleh sikap Rain.


Ah, lihatlah bajingan ini. Bagaimana ia bisa dengan tidak tahu malunya duduk di sana?


Beginilah jika saingan cintamu adalah sahabat sendiri.. jangan berharap mereka akan bersikap ramah apalagi menyembunyikan rahasia mu.. Rain mendesis.


Benar-benar brengsek!


"Diam lah Rell..urus saja urusan mu sendiri. Lagipula aku tak merugikan siapapun. Benarkan Seir..? Aku hanya ingin menatap wanita yang sebentar lagi akan menjadi milikku." Rain kembali menunjukkan senyuman manisnya. Hanya saja Seir masih tak bergeming.


"Apa...?" kekasih? lagi-lagi Rain mengatakan hal itu. Padahal Rain tahu bagaimana perasaan Verrel untuk Seir. Bajingan!


"Kalau kau tidak mau menyingkir, biar aku saja yang akan menyingkir." Seir melayangkan tatapan tak setuju pada apa yang Rain katakan.


Tidak. Mulai saat ini Seir memang bertekad untuk menolak semua gagasan pria itu tentang dirinya dan juga hubungan mereka. Seir tak Sudi dijadikan sarana balas dendam.


Sadar jika saat ini mereka tengah menjadi pusat perhatian, Rain langsung memegang tangan Seir dan berniat membawa gadis itu pergi bersamanya.


"Rain, lepaskan tanganku!" Ujar Seir sedikit memberontak.


Tapi baru saja Rain ingin melangkahkan kakinya, Mera sudah berdiri tepat dihadapan Rain..


"Ada apa ini Rain?"


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2