SPELL

SPELL
SPELL 26


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


"Ya ampun Rain, kemana saja kamu. Kami sudah menunggu mu sejak tadi. Kau tidak lihat, Dad cemas menunggu mu." Viloen merasa lega sekaligus sedikit kesal pada adiknya.


Sudah sejak satu jam lalu mereka berada di studio photo itu untuk melakukan sesi pemotretan keluarga. Tapi Rain yang sejak awal sudah mengetahui jadwal pemotretan tersebut sepertinya sengaja untuk datang terlambat.


"Maaf kak. Aku tertidur." Meskipun mengatakan hal tersebut, sedikitpun Rain tak menunjukkan rasa bersalah.


Sejak awal Rain memang tak berniat untuk mengikuti sesi pemotretan yang dimana mengharuskan dirinya untuk bertemu Mera.


Melihat Mera yang begitu cantik, dan juga tersenyum mesra saat memandang Daddy nya, masih menimbulkan rasa sakit di hati Rain.


"Viloen, Rain, sudah lah.. ayo, kita harus menyelesaikan pemotretan ini." Tegur Travis. Pria itu enggan meributkan perihal tingkah putra bungsunya yang masih belum bisa menerima Mera sebagai calon istrinya.


"Baik Dad."


Di samping Travis, Mera tak berkata satu patah katapun. Ia tahu Rain enggan melakukan hal tersebut bersama dirinya. Jadi Mera tak ingin menuntut banyak hal pada Rain.


Rain mau datang saja, itu sudah cukup baginya, dari pada pria itu harus menolak dengan terang-terangan. Mera tak berani mengharapkan lebih setelah apa yang terjadi pada hubungan mereka.


Ini memang salahnya karena tak mempertimbangkan perasaan Rain. Mera pikir Rain akan mengerti dan menerima hubungan baru mereka setelah beberapa waktu berlalu, tapi sepertinya, Mera harus bisa menerima jika Rain memilih untuk bersikap acuh seolah mereka adalah dua insan yang tak pernah saling mengenal.


"Kau lihat Rain, Daddy sangat bahagia." Celetuk Viloen yang sejak tadi memperhatikan sesi pemotretan mesra antara ayah mereka dan juga Mera.


Viloen juga tersenyum hangat karena baginya, salah satu kebahagiaan dalam hidupnya adalah melihat Daddy mereka bahagia. Tapi bagi Rain, kebahagiaan Daddy nya merupakan racun yang menggerogoti hatinya..


Rain diam tak menanggapi, meskipun sesekali ia mencuri pandang, tapi Rain tak ingin secara terang-terangan menampakkan bahwa ia sedang memperhatikan keduanya dengan perasaan cemburu.


"Aku berharap, suatu hari nanti aku juga bisa menikahi wanita yang sangat ku cintai." Viloen membayangkan bagaimana jika nantinya ia melamar Wilona dan mereka menikah, bukankah itu sebuah kebahagiaan yang luar biasa?


Huh. Untuk apa aku berada di sini..? Semua orang hanya memikirkan kebahagiaan mereka sendiri. Bagaimana dengan aku, apa tak ada yang peduli pada perasaan ku?


Rain melepaskan dasinya dan melemparkannya ke sembarang tempat kemudian meninggalkan studio itu tanpa sepatah katapun, "Rain, kau mau kemana?" Seru Viloen yang menyadari kepergian Rain.


"Pulang. Aku lelah." Rain tak berniat tinggal lebih lama di tempat itu hanya untuk memperhatikan sepasang kekasih yang sedang memamerkan kemesraan mereka.


Rain muak menjadi seorang penonton. Untuk apa ia berada di tempat yang hanya akan membuat perasaannya tak nyaman.


"Tapi Rain, bagaimana kamu bisa pergi begitu saja? Kalau Daddy mencari mu bagaimana?" Cegah Viloen.


Rain tersenyum sinis, "Bukankah kakak bisa menyelesaikan semuanya? Kakak ahlinya bukan, membereskan semua kekacauan yang ku buat!"

__ADS_1


Viloen hanya bisa mengelus dada pasrah melihat sikap Rain. Sejak malam itu, Rain seolah mengasingkan diri dari hubungan kekeluargaan mereka.


Rain menjadi lebih diam. Bicara juga seperlunya saja, dan lebih sering menghabiskan waktu diluar rumah. Kini Viloen merasa seperti kehilangan adik kecilnya.


"Apa yang sebenarnya harus ku lakukan padamu Rain..?"


Tak berselang lama, semua sesi pemotretan itupun telah selesai. Sementara Mera berganti busana, Travis menghampiri putra sulungnya.


"Dad..?"


"Dimana adikmu?" Tanya Travis yang tak melihat keberadaan Rain di studio tersebut.


"Rain sudah pulang Dad. Harus mengerjakan tugas." Viloen tersenyum canggung. Kini ia terpaksa harus berbohong.


Viloen tahu jika Rain enggan berada lebih lama bersama-sama dengan mereka, tapi di satu sisi Viloen juga tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Daddy nya.


"Baiklah. Ayo, kita makan siang bersama, tapi kita harus menunggu Mera sebentar." Ajak Travis.


"Sepertinya aku juga tidak bisa Dad. Masih ada pekerjaan yang harus ku selesaikan di kampus." Viloen juga kehilangan seleranya karena mencemaskan Rain.


"Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan saat kau Son."


...❄️...


"Rain, kau ada di dalam?" Viloen menyambangi studio milik Rain. Sebelumnya Viloen sudah menelepon orang dirumahnya, dan Rain tidak kembali ke sana.


Saat mendapati pintu depan tidak terkunci, Viloen masuk begitu saja ke dalam studio. Setelah memeriksa lantai satu dan tidak mendapati keberadaan Rain, Viloen pun memutuskan untuk naik ke lantai dua.


Viloen menyusuri ruangan dan meletakkan makanan yang di bawanya ke atas meja. Dari dalam kamar, Viloen mendengar suara air yang mengguyur, yang artinya Rain ada didalam sana.


"Anak ini, bagaimana dia bisa hidup ditempat yang berantakan seperti ini." Viloen membereskan barang-barang Rain yang berantakan seraya menunggu adik kecilnya selesai membersihkan diri.


Viloen merapikan tempat tidur, meletakkan beberapa alat musik ke tempatnya, bahkan Viloen juga membersihkan sofa, dan juga meja belajar milik Rain..


Tapi di sela-sela pekerjaannya, Viloen mengerutkan kening saat mendapati beberapa photo yang jatuh berserakan di bawah meja.


Wajah Viloen terlihat kaku saat menatap Photo-photo tersebut..


"Kak.. kenapa kakak ada di sini?" Tanya Rain yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Rain, apa ini?" Tanya Viloen dengan suara asing..


Deg..


Rain menyadari apa yang saat ini sedang dipertanyakan oleh kakaknya..


"Bukankah ini Mera, dan kamu..?"

__ADS_1


Viloen masih belum bisa mencerna semuanya dengan baik. Ia tak mengerti mengapa ada photo Rain dan juga kekasih Daddy nya di tempat itu.


Photo yang memperlihatkan kedekatan diantara keduanya, dan mereka bukan seperti orang asing.. keduanya terlihat saling..


"Bukan apa-apa kak. Jangan ikut campur urusan ku." Rain mengambil Photo-photo tersebut dari tangan Viloen dan membuangnya ke bak sampah.


"Rain, kau harus menjelaskan semuanya pada kakak. Kenapa ada Photo-photo itu disini. Apa sebelumnya kau dan Mera..?" Viloen menatap Rain dengan perasaan bercampur aduk.


Melihat Rain yang diam seribu bahasa membuat Viloen menyadari sesuatu..


Jika inilah permasalahan, maka Viloen bisa mengerti mengapa selama ini Rain tak pernah menerima ataupun menyambut baik kedatangan Mera ke dalam keluarga mereka.


Bukan karena Rain tak menerima Mera sebagai kekasih Daddy nya, tapi karena ada sesuatu diantara mereka.


"Rain..?"


"Apa yang ingin kakak ketahui? Bahwa wanita itu mencampakkan aku demi Daddy?" Rain menepis tangan Viloen.


"Apa kakak ingin mendengar bagaimana terkejut dan terlukanya aku saat mengetahui wanita yang begitu ku cintai selama bertahun-tahun justru berbalik dan menolak ku karena Daddy? Begitu..?"


"Atau kakak ingin tahu bagaimana perasaan ku saat melihat wanita yang Daddy perkenalkan sebagai kekasihnya adalah wanita yang juga ku inginkan untuk menjadi kekasihku?"


"Rain..." Viloen menghela nafas berat. Ia tahu semua ini tak akan mudah bagi Rain. Dan Viloen juga merasa bersalah karena membiarkan Rain menanggung semuanya seorang diri.


"Kemari lah bodoh." Viloen menarik Rain dan memeluknya erat. Viloen ingin memberikan sedikit penghiburan pada adik kecilnya.


"Maafkan kakak karena membuat mu merasakan luka itu lagi. Maaf Rain."


Rain terluka sekali lagi. Tapi kali ini ia merasa tak begitu berat, karena Viloen memeluknya. Ada sebuah tangan yang Rain tahu akan selalu menepuk bahunya saat ia merasa terpuruk.


"Maaf karena tak bisa mengatakan kebenarannya kak. Aku tak ingin membuat Daddy kecewa. Aku juga ingin Daddy bahagia.. tapi saat ini, hatiku masih belum bisa menerimanya."


Rain juga tahu betul, bahwa Daddy nya benar-benar bahagia saat bersama Mera. Rain dapat melihat binar yang sudah lama padam dan kini mulai bersinar kembali, dan semua itu karena Mera.


Tapi kenapa harus wanita itu? kenapa mereka harus menyukai wanita yang sama?


Sekarang bagaimana Rain akan membalas Mera? jika dengan melukai Mera, maka Rain juga akan melukai Daddy nya.


Apa sebaiknya ia menyerah saja, dan membiarkan semua rasa sakit hatinya hilang dengan sendirinya?


Tapi rasanya begitu sakit..


"Baiklah. Baiklah. Kakak tahu maksudmu Rain.. kakak mengerti. Kakak akan selalu mendukungmu. Maafkan kakak."


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


...❄️...


__ADS_2