SPELL

SPELL
SPELL-16


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


"Kamu dari mana saja Ell? kami menunggumu sejak tadi." Jhon bergerak gusar.


Tatapan khawatir terlihat jelas dari tiga pria yang saat ini menatap sama penasarannya pada Seir. Dan tentu saja hal itu membuatnya merasa tak enak hati.


"Ada orang gila. Aku mengusirnya dulu baru kembali papa." sahut Seir dengan santainya. Sementara itu..


"Verrel..? Uncle Rofhten..?' Rain menghampiri meja Seir. Dan tentu saja hal itu membuat Seir hampir saja mengumpat secara terang-terangan.


"Rain? kau di sini juga?" Verrel memeluk Rain dan melihat sekitar. "Meja kami di sana." ujar Rain.


"Oh.. tentu. Maaf karena tak memperhatikan." Verrel tersenyum ramah seperti biasanya. Tak memperhatikan ketegangan dan juga tatapan penuh tanya dari Rain.


Rain meneliti sosok lain yang ada mengisi kursi di lingkaran meja itu. Ada sosok yang sebelumnya tak pernah Rain lihat.


"Uncle. Ini sahabatku, Rain." Verrel memperkenalkan Rain. Sedangkan Jhon menautkan alisnya karena mengingat jelas siapa pemuda yang berdiri di antara Verrel dan putrinya.


"Senang melihat mu baik-baik saja anak muda." Jhon menganggukkan kepalanya, dan tentu saja kata-kata Jhon membuat Seir sedikit terkejut. Papanya mengingat siapa Rain.


Rain yang begitu cepat memahami situasi pun jelas bisa menebak mengapa pria yang tak dikenalnya itu bicara seperti itu.


Meskipun ingatan Rain hanya samar-samar, tapi siapa lagi jika bukan pemilik mobil mahal itu. Terlebih lagi Seir ada di sini bersama-sama dengan mereka.


"Sir. Maaf atas kesalahan ku di masa lalu, dan juga kesalahanku karena tidak datang berkunjung untuk permintaan maaf dan juga rasa terimakasih ku." Rain menundukkan kepalanya sejenak pada Jhon.


"Jhon Deep. Panggil saja Jhon. Atau kau bisa memanggilku Uncle seperti Verrel." Jhon tersenyum samar. Sementara Rofhten juga terlihat santai menanggapi sikap Rain. Karena orang pertama yang mengetahui cerita malam itu adalah Rofhten.


"Baiklah Uncle. Aku sungguh minta maaf atas kejadian malam itu, dan terimakasih juga untuk kebaikan uncle mau merawat ku." Rain sungguh-sungguh dengan kata-katanya.


Jika bukan karena kejadian itu, mungkin saja ia tak akan mengenal sosok Seir seperti sekarang. Ah, sepertinya Rain juga harus minta pada Seir.


Verrel yang tak mengerti dengan kata-kata Rain memberikan isyarat pada Seir namun gadis itu hanya mengedikkan bahu. Bukan tak tahu, tapi tepatnya tak ingin terlibat.


"Lupakan saja. Lagipula kau sudah bertanggung jawab pada mobil itu. Itu saja cukup." Jhon kembali bersuara.


Rain tersenyum lega karena mengetahui bahwa kejadian di masa lalu bisa ia selesaikan dengan baik. Syukurlah. Padahal selama ini ia masih merasa tak enak hati.


"Rain, kenalkan. Ini Seir. Mahasiswi baru di kampus kita." Verrel memperkenalkan keduanya. "Tentu saja aku tau siapa dia." Ujar Rain tersenyum penuh arti saat menatap Seir. Sedangkan Seir melayangkan tatapan peringatan pada Rain.

__ADS_1


"Kami pernah berada di kelas yang sama." Seir memberikan klarifikasi atas jawaban Rain. Dan tentu saja Rain sangat tau jika saat ini Seir sedang tak ingin terlihat akrab dengan dirinya.


Baiklah. Setidaknya Rain akan mengikuti keinginan Seir untuk kali ini..


"Baiklah. Sepertinya aku harus kembali ke mejaku." Rain tak ingin bersikap tak sopan dengan merusak makan malam orang lain, meskipun sejujurnya ia begitu penasaran mengapa keluarga sahabatnya itu sepertinya begitu dekat dengan keluarga Deep.


"Sampaikan salam ku pada uncle dan kak Viloen." ujar Verrel sebelum membiarkan Rain kembali ke mejanya.


Ya Tuhan, akhirnya..


"Kau mau tambah lagi?"


"Tidak ini saja sudah cukup."


Seir benar-benar dibuat tak nyaman sekarang. Meskipun Rain sudah kembali ke mejanya, tapi pria itu terus menatap kearah dirinya.


Mata Rain seperti elang. Tajam dan misterius. Seir benar-benar tak suka ditatap seperti ini.


"Jika sudah selesai, bisa kami pulang sekarang papa?" Seir berucap pelan pada Jhon. "Ada tugas yang harus segera ku selesaikan." Seir menatap Verrel meminta pria itu untuk mendukung kata-katanya.


"Benar uncle, Dad. Aku juga harus mengerjakan beberapa essay. Aku akan mengantar Ella, dan aku harus merepotkan uncle untuk mengantar Daddy pulang." tambah Verrel lagi.


"Baiklah sayang. Kalian bisa pulang duluan, dan pastikan untuk tidak pergi kemanapun selain rumah. Aku mengawasi mu son, jaga putriku baik-baik." Jhon tersenyum samar pada Verrel.


"Baiklah uncle. Terimakasih untuk makan malamnya."


"Papa, uncle kami pulang duluan." Seir juga berpamitan. Dan sialnya, kenapa juga ia harus melirik kearah Rain, dan membuat mereka saling bertatap untuk sesaat.


"Hati-hati di jalan." Jhon dan Rofhten sama-sama tersenyum.


"Lihatlah bocah itu.. terlalu mirip denganmu." Jhon memberikan pujian karena mulai menyukai Verrel.


"Aku memberikan gen terbaikku padanya. Putraku adalah pria baik-baik kawan." Rofhten juga bersuara seraya menuangkan wine pada gelas masing-masing.


Cheers!


...❄️❄️...


"Kau terlihat tak nyaman. Apa ada sesuatu yang mengganggumu Ella?" sejak meninggalkan restoran, Verrel selalu memperhatikan Seir. Ada sesuatu yang membuat gadis itu kehilangan fokusnya.


"Tidak. Tidak ada." Sahut Seir singkat. "Ngomong-ngomong apa kau tau tentang kompetisi apa saja yang akan di adakan untuk perayaan kampus dalam waktu dekat?" tanya Seir.


"Kau sudah tahu tentang itu? Mengesankan. Padahal beritanya belum diumumkan. Kenapa, kau tertarik untuk berpartisipasi Ell?" tanya Verrel seraya mengulum senyum.

__ADS_1


"Aku tak yakin. Tapi sepertinya ya." jawaban tak yakin Seir sekali lagi membuat dirinya merasa terusik.


"Ku sarankan sebaiknya kau membulatkan tekadmu untuk berpartisipasi. Kau sangat berbakat Ella. Dan itu bagus untukmu. Karena akan ada juri-juri internasional yang akan turut serta menilai untuk setiap kategori. Senang mendengar kau ingin terlibat. Sungguh." Verrel kembali tersenyum.


"Kau ingin mengikuti yang mana?"


"Entahlah, sejujurnya aku tak yakin. Tapi aku harus memenangkan salah satunya." Seir terdengar yakin dengan tujuannya, tapi juga ragu atas pilihannya.


"Waw.. aku baru tahu jika di dalam dirimu ada seorang Seir yang begitu kompetitif."


"Aku juga baru mengetahuinya hari ini." jika bukan karena tantangan bodoh Rain, mungkin dirinya akan punya banyak waktu untuk bersantai dan membersihkan lukisan mommy nya.


Arrrgghhh... benar-benar sial.


...❄️❄️...


Setelah tiba dirumah, Seir memikirkan semua keputusannya dengan begitu hati-hati. Sebenarnya belum terlambat untuk menolak tantangan Rain. Hanya saja, Seir belum yakin mengapa ia harus melakukan itu.


Seir hanya berharap jika masa kuliahnya berjalan dengan baik. Pindah ke tempat ini pun merupakan keputusan yang besar bagi dirinya. Seir tak ingin membuat kesalahan.


Bertemu dengan Verrel, memiliki teman lain, dan juga terlibat dengan Rain, memang bukanlah tujuan Seir. Itu seperti sebuah kejutan. Tapi setidaknya, Seir ingin melakukan yang terbaik untuk apa saja yang sedang ia jalani sekarang.


Melihat gadis seusianya yang bisa melakukan apa saja tanpa memikirkan sebuah konsekuensi terkadang membuat Seir iri, tapi meskipun begitu, Seir ingin agar kehidupannya tetap berada di jalur yang seharusnya.


Seir tak ingin melewati batas sedikitpun. Meskipun ia ingin tahu bagaimana rasanya berada diluar batas-batas itu.


...Massage mode On...


Rain : Kau sudah tidur?


Seir : Ada apa?


Rain : Hanya bertanya..


...Massage mode off...


"Ada-ada saja!"


Lihatlah. Pria itu benar-benar jagonya membuat Seir mengelus dada.


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2