SPELL

SPELL
SPELL-09


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


...ROFHTEN MEDICAL...


Suara pintu diketuk dan Verrel menjulurkan kepala ke dalam ruang kerja ayahnya. Memastikan bahwa ia tidak sedang mengganggu pekerjaan sang dokter.


"Papa sibuk?" Verrel tersenyum, saat mendapati ruangan itu kosong. Sementara sang ayah menyambutnya dengan senyuman yang sama, hangat. "Masuklah son. Tumben sekali kau datang ke sini. Ada apa?" Rofhten memandangi wajah putranya.


"Hanya berkunjung. Apa hari ini tidak banyak pasien yang datang?" Verrel memperhatikan sekitar. "Tidak juga. Seperti biasa, hari rabu bukanlah hari sibuk klinik ini." karena klinik milik Rofhten selalu sibuk diakhir pekan.


Rofhten duduk di sebelah Verrel dan keduanya mulai bercakap-cakap.. "Kapan papa pulang? Mama menyuruhku untuk memastikan jika papa tetap sehat meskipun sedang sibuk." kedua pria itu tersenyum penuh arti.


"Papa memang berniat pulang setelah ini Son, pekerjaan papa juga sudah selesai. Dan papa cukup merindukan rumah."


"Merindukan mom.." ralat Verrel, "Ya. Itu sudah pasti."


"Son.. apa kau masih ingat dengan putri uncle Jhon? gadis kecil yang dulu selalu pergi bersama mu?" Verrel menautkan kedua tangannya. Mengingat kembali setiap kenangan yang membuat Verrel selama ini memilih untuk tetap sendiri..


"Maksud papa Estelle?" bagaimana Verrel bisa lupa, sejak kecil, Verrel begitu menyukai putri uncle Jhon. "Ya gadis itu." Rofhten tersenyum.


"Kenapa papa tiba-tiba membicarakan Estelle?" Sejak mereka pindah ke Arendelle, Verrel tak pernah berhubungan lagi dengan putri uncle Jhon, dan dulu Verrel sangat yakin, bahwa ia sempat melakukan mogok makan karena kepindahan mereka yang tiba-tiba.


Verrel merasa sedih harus berpisah dari Estelle. Gadis pendiam namun begitu manis saat mereka menghabiskan waktu bersama.


"Papa bertemu dengan uncle Jhon beberapa hari yang lalu. Gadis itu juga ada di sini." cerita Rofhten mengejutkan Verrel. "Estelle di sini? Di Arendelle, papa yakin?" wajah Verrel berubah antusias.


"Ya. Tapi mungkin kau tak akan mengenali nya lagi. Kalian sudah dewasa sekarang." Rofhten masih ingat bagaimana putranya menyukai gadis itu dulu.. bahkan Verrel pernah mengatakan akan menikahi putri Jhon saat mereka sudah sama-sama dewasa.


"Papa serius? uncle Jhon dan Estelle ada di sini kan? di kota Arendelle?" Verrel tak bisa menutupi kebahagiaannya. Rasa bergemuruh dihatinya pun mulai bergejolak..


"Ya.. sebentar.." Rofhten bangun dari duduknya menuju ke meja kerja. "Uncle Jhon bekerja di sini. Bisnis baru mereka sudah mulai berkembang sejak beberapa bulan lalu. Tapi uncle Jhon dan putrinya baru menetap sekitar dua minggu lalu."


"Ini alamat rumah mereka, uncle Jhon memberikannya pada papa semalam." Dengan senang hati Verrel menerima kartu tersebut dan membacanya.


Rumah gadis itu berada di bagian perbukitan di balik pantai, dan Verrel cukup mengenal daerah itu.


"Terimakasih papa.. " ucap Verrel tersenyum penuh arti. "Kalau begitu aku akan pergi sekarang." Verrel ingin segera mengunjungi alamat yang tertera di kartu nama itu. Verrel sungguh tak sabar lagi.


Rofhten hanya tersenyum melihat antusias putranya. "Papa dengar putri uncle Jhon juga masuk ke kampus yang sama dengan mu." tambahnya, membuat wajah Verrel semakin tersenyum lebar..


"Waw.. sungguh?" Rofhten mengangguk. "Aku jadi tak sabar ingin melihat bagaimana Ella sekarang.." mengingat waktu kecil Seir yang dikenalnya begitu manis, Verrel hampir bisa membayangkan bagaimana gadis itu saat ini.


Gadis baru di kampusnya? tapi kenapa Verrel bahkan tak tau akan hal itu..


"Pa, sampai nanti dirumah. Aku harus pergi, dan terimakasih untuk ini." Verrel melambaikan kartu ditangannya. "Hati-hati Son.. sampai nanti."

__ADS_1


...❄️...


Verrel yang begitu bersemangat ingin bertemu Seir, tak bisa menghilangkan senyum bahagia di wajahnya.


Bahkan saat ini Verrel merasa berdebar. Apa Seir akan mengingat dirinya? Verrel sudah sangat berubah. Meskipun bentuk wajah dan yang lain tetap sama, ia tak yakin apakah gadis itu masih memikirkan dirinya.


Verrel ingin melihat sendiri bagaimana reaksi Seir saat melihat perubahan yang terjadi padanya.. apa gadis itu akan menyukainya seperti dulu?


Verrel sungguh tak sabar..


Setelah menemukan alamat yang dicarinya, kini Verrel berdiri di depan pagar yang menjulang tinggi menunggu gerbang itu dibuka setelah beberapa kali menekan bell.


"Siapa di sana?" suara seorang gadis menyapa pendengar Verrel melalui monitor di depannya. Verrel yakin itu suara Ella, teman masa kecilnya.


Ya Tuhan.. jantung Verrel semakin berdebar, "Ella.. kau kah itu?" Verrel menyebutkan nama Seir seperti waktu mereka kecil dulu.


Tak ada jawaban dari monitor, "Ini aku.." belum lagi Verrel menyelesaikan kalimatnya, pagar di depannya terbuka, seorang gadis sudah berdiri didepan Verrel.


Mata bulat sebiru safir dan rambut yang hitam segelap malam.. Verrel sangat mengenalnya..


"Ella.." Gadis itu sedikit mengernyit.. tapi setelahnya tersenyum lebar.. "Verrel..itu kau?" Seir mengingat senyum khas Verrel. Dan meskipun saat ini anak laki-laki yang dikenalnya dulu sudah berubah menjadi pria yang tampan, ingatan tentang pria itu tak akan hilang.


Verrel mengangguk dengan wajah merona disertai rasa haru.. Ahh... Verrel sangat merindukan Ella, dan gadis itu mengingatnya. Mereka tak saling melupakan.


Tanpa menunggu lagi, Verrel menghampiri Seir dan memeluknya erat.. "Senang melihat mu di sini gadis kecil.. kau sudah tumbuh besar." Verrel memeluk Seir, meluapkan kerinduannya setelah sekian lama.


"Hei.. lihat dirimu nona.. kau cantik sekali.. aku pasti tak akan mengenali mu jika saja papa tak menceritakan padaku bahwa orang tua kita saling bertemu."


"Benarkah? jadi yang ditemui papa selama ini adalah ayahmu..?" Seir tersenyum. "Itu melegakan." Seir senang karena papanya bisa bertemu dengan orang yang benar-benar mereka kenal.


Saat Verrel masih mematung dengan senyuman yang khas, Seir memegang tangan Verrel dan membawa pria itu masuk ke dalam rumahnya.. "Kau ingin bertemu papa? kebetulan papa ada di rumah."


Baru kali ini Seir merasa senang setelah tiba di Arendelle, dan itu karena bertemu lagi dengan teman masa kecilnya..


"Papa.. coba lihat siapa yang datang?" Seir bersuara cukup nyaring membuat Jhon mengalihkan perhatiannya. Tapi tiba-tiba saja pria itu berwajah masam saat melihat tangan putrinya bertaut dengan tangan seorang pemuda asing..


"Apa ini kekasihmu sayang? kau sudah punya pacar, secepat ini?" Jhon tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Putri kecilnya..


"Papa.. " Seir dan Verrel sama-sama tersenyum. "Senang bertemu dengan anda lagi uncle.." sapa Verrel. "Uncle..?" bukan sir, tapi uncle.. lancang sekali..


"Papa masih ingat Verrel, putra uncle Rofhten." Jelas Seir.. saat itu juga Jhon menyadari kemiripan antara sahabatnya dengan pemuda yang ada di depannya ini..


"Ah... putra Rofhten," Jhon menyambut Verrel, hampir saja ia memarahi pemuda itu karena berani menggandeng tangan putrinya.


"Maafkan uncle karena tak mengenali mu Son." keduanya berpelukan singkat. "Bagaimana kabar ibu mu, apa ibumu masih cerewet seperti dulu?" Jhon menggoda Verrel, karena sosok ibunya memang seperti itu.


"Itu sudah mendarah daging uncle.." Verrel tersenyum menanggapi.


"Masuklah.. kalian pasti perlu waktu untuk bicara setelah sekian lama." Jhon mengedipkan matanya. "Senang melihat mu lagi Son." Jhon merasa senang karena putrinya bisa bertemu lagi dengan teman masa kecilnya dulu.

__ADS_1


Seir terlihat bahagia, dan itu hal yang baik bagi Jhon..


Jhon sendiri benar-benar lupa jika sahabatnya itu memiliki putra yang seumuran dengan putrinya.


"Baiklah papa, aku dan Verrel akan naik ke atas. Kami akan bicara di sana." Seir kembali menarik tangan Verrel seperti sebelumnya, dan hal itu tak luput dari perhatian Jhon.


"Ya.. baiklah sayang.. jika butuh sesuatu katakan pada papa. Papa akan pergi ke supermarket terdekat, kalian bersantai lah.."


Setelah putrinya menghilang di balik tangga, Jhon menyunggingkan seulas senyum, lalu mengambil ponselnya..


"Hei.. sialan.. kau tidak mengatakan jika putra mu juga ada di sini. Sekarang dia bertamu dan langsung memonopoli putri kecilku." kesal Jhon saat menghubungi sahabatnya.. Rofhten.


...❄️...


...Dilantai dua.....


"Bagaimana kabarmu selama ini Ella, aku ingin mendengarnya." Verrel duduk di depan Seir sambil menatap dalam wajah gadis itu..


"Tidak ada yang menarik. Setelah kau pergi, aku dan mom sama-sama mengurung diri. Aku tidak ingin bermain dengan orang lain seperti biasanya.." gadis itu tersenyum.


"Satu tahun yang lalu, mom juga pergi meninggalkan aku dan papa. Dan akhirnya, kami memilih untuk pindah ke sini. Itu saja, tidak ada yang menarik, membosankan bukan?"


Meskipun wajahnya tersenyum, Verrel dapat merasakan ada luka dibalik kata-kata Seir. Waktu kecil gadis itu sangat dekat dengan ibunya, dan Verrel hanya bisa bermain dengan Seir hanya jika ibu gadis itu sedang bekerja.


Verrel seperti seorang pengisi di tengah-tengah kesendirian Seir.. itulah yang sama-sama mereka ingat..


"Bagaimana dengan pacar, kau punya?"


Seir diam dan membalas tatapan Verrel, lalu menggeleng.. "Rasanya tak akan ada orang yang menyukai gadis seperti diriku." Seir tersenyum samar.


Ia bahkan tak pernah memikirkan hal seperti itu.. Seir terlalu sibuk dengan dunianya, hingga ia tak merasa penting memiliki hubungan dengan seorang pria..


"Seperti apa maksud mu?" Verrel bersuara dalam. "Kau gadis yang luar biasa Ella. Sungguh. Jangan memandang rendah dirimu seperti itu."


"Kau selalu saja berlebihan Verrel. Sama seperti dulu.." Seir tersenyum. Begitu juga dengan Verrel. Tak terasa Waktu yang mereka lewatkan untuk bicara ternyata sudah cukup lama, bahkan matahari sudah mulai terbenam..


"Mau pergi ke kampus bersama besok?" Verrel mengajukan diri untuk menjemput Seir. "Kita kuliah ditempat yang sama?" Seir nampak terkejut. Verrel mengangguk dengan wajah tersenyum.


"Ini benar-benar sebuah keajaiban." gumam Seir tak percaya. "Aku pun memikirkan hal yang sama Ella. Bertemu dengan mu lagi, adalah sebuah keberuntungan bagiku, Dan aku menyukai semua keberuntungan ini.."


"Aku juga. Sepertinya pulau ini tak benar-benar membenci ku." Seir balas tersenyum.


"Kau ada-ada saja. Aku sungguh-sungguh senang bisa bertemu dengan mu lagi, Ell.."


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2