SPELL

SPELL
SPELL-07


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


"Selamat pagi papa." Seir tersenyum lembut saat melihat Jhon yang baru saja menuruni tangga. "Selamat pagi sayang ku." Jhon menghampiri putrinya dan mengecup singkat pipi Seir.


"Sarapan..?" Seir menyeduh secangkir kopi klasik kesukaan Jhon dan menyiapkan sepiring roti bersama dengan telur dan sosis panggang.


"Terima kasih sayang." Jhon duduk ditempatnya lalu menyeruput sedikit kopi dari gelasnya.


Wangi dan hangat.. benar-benar pas untuk meredakan sisa mabuknya semalam.


Jhon melihat sekeliling namun suasana rumah mereka hening seperti biasanya. "Dimana pemuda itu sayang, masih belum sadar?"


Seir mengangkat kedua bahunya tak peduli, "Entahlah papa, semalam ku tempatkan dikamar tamu."


"Kau melakukannya sendiri?"


"Tidak. Ku paksa ia berjalan dengan kedua kakinya. Dan itu sungguh membutuhkan usaha yang besar." Keluh Seir mengingat betapa sulitnya ia memindahkan si pria mabuk agar bisa tidur lebih baik.


Jhon hanya mengangguk. Karena sejujurnya, ia tak perlu khawatir dengan putrinya. Seir bisa melakukan apa saja, dan Jhon selalu bisa mengandalkan gadis itu.


Selain piawai memainkan alat musik, Seir juga mahir bela diri. Kelas yang dulu sempat membuat Jhon khawatir bisa membuat putrinya terluka, tapi sekarang Jhon merasa bersyukur, karena Seir bisa melindungi dirinya sendiri.


"Mungkin sebentar lagi akan sadar." tambah Seir yang juga sedang menikmati sarapannya.


"Baguslah. Dan maaf karena sudah merepotkan mu semalam sayang." Jhon tersenyum menyesal. "O,ya kau belum menceritakan tentang dirimu pada papa." Seir mendengarkan. "Bagaimana dengan sekolah baru mu sayang, apa semuanya berjalan lancar?" ujar Jhon.


Ah... Seir kembali teringat pengalaman pertamanya. Benar-benar berkesan. Seir bahkan belum bisa melupakan perasaan kesalnya.


"Kampusnya bagus. Dan semuanya berjalan dengan lancar pa." Seir menjawab seadanya. Karena sejujurnya ia tidak terlalu memikirkan semua itu. Kecuali pengalaman pertamanya yang sangat menyebalkan.


"Bagiamana dengan teman? Papa yakin pasti banyak teman-teman baru yang mengantri untuk berkenalan dengan mu."


Mendengar perkataan papanya Seir hanya mengulas senyum samar, "Papa, kau tau bagaimana aku. Aku tidak suka hubungan rumit seperti itu. Tapi ku yakinkan, tidak ada yang perlu papa khawatirkan."


Setelah menghabiskan isi piringnya, Seir mengumpulkan semua piring-piring kotor untuk mencucinya. Jhon diam sambil memandangi punggung putrinya sejenak.


Punggung yang terlihat kokoh, meskipun itu milik seorang gadis muda..


"Apa kau benar-benar tak membutuhkan seorang asisten sayang? setidaknya untuk membantumu membersihkan rumah ini. Papa merasa khawatir karena kau selalu melakukan semuanya seorang diri." Selain itu, Jhon juga merasa cemas karena sedikit banyak putrinya mewarisi sifat dari istrinya.


Ibu Seir adalah seorang seniman. Seorang wanita yang begitu menawan dan juga rupawan. Entah karena profesinya atau memang kepribadiannya, ibu Seir sangat menyukai ketenangan.

__ADS_1


Saat masih hidup, keluarga yang mengunjungi rumah mereka pun bahkan tak sampai lima orang. Sepanjang hari, rumah mereka selalu seperti sekarang. Jauh dari kebisingan dan juga orang asing.


Jhon tak ingin putrinya seperti itu. Jhon ingin agar Sier sering keluar rumah dan bergaul dengan teman-teman sebayanya. Mendengar dan melihat betapa ramai dan indahnya dunia luar..


"Tidak masalah papa. Aku bisa melakukan semuanya seorang diri. Pekerjaan rumah bukanlah sesuatu besar. Anggap saja pengganti olah raga." Seir kembali pada papa nya. "Aku juga tidak suka jika ada orang asing dirumah kita." gadis itu tersenyum.


Itulah yang sebenarnya Jhon khawatirkan. Seir membuat batas-batas yang tak kasat mata dari orang-orang disekitarnya, persis seperti wanita yang sangat Jhon cintai.


"Baiklah sayang. Papa akan menurutimu. Papa tau kau akan memilih yang terbaik untuk keluarga ini." Jhon memegang tangan Seir untuk menepuknya pelan.


"Jika kau merasa lelah, beritahu papa. Jangan berusaha menanggungnya seorang diri. Dan jangan mengurung dirimu seperti mama sayang, kau tau bagaimana perasaan papa bukan?"


Seir tahu betul apa yang dimaksud papanya, dan meskipun menyukai kesunyian dan ketenangan seperti sekarang, Seir juga tak berniat mengabaikan orang lain seperti yang dilakukan mama nya dulu. "Baik papa." Keduanya tersenyum.


Jhon sangat mencintai putrinya melebihi apapun. Setelah kepergian istrinya, Jhon hanya bisa mengandalkan Seir sebagai sumber kekuatannya. Jika tidak ada Seir, mungkin Jhon tak akan bisa melanjutkan hidupnya lagi..


"Papa sudah selesai sayang. Dan sekarang papa akan pergi. Apa kau mau ke kampus bersama papa?" Jhon mengambil tas dan bersiap di ruang tamu.


"Hari ini aku tidak ada jadwal papa. Aku ingin membersihkan gudang dan juga beberapa tempat yang belum sempat selesai sebelumnya. Ah.. dan juga mengurus pemuda mabuk itu." tambah Seir seraya memegang keningnya singkat.


Jhon hanya bisa tersenyum melihat putrinya, "Baiklah nona besar.. pastikan tamu kita bisa bangun, dan jangan lupa katakan padanya untuk memperbaiki mobil papa." Pesan Jhon sebelum meninggalkan rumah. "Baik papa. Akan ku pastikan pria itu melakukannya."


Pria mabuk itu memang tak bisa pergi begitu saja. Awas saja kalau dia berani kabur!


Sebelum melakukan pekerjaan rumah yang berhubungan dengan kebersihan, Seir berbelok untuk memeriksa keadaan tamu tak diundang yang sampai saat ini belum juga terlihat batang hidungnya. Seir hanya ingin memastikan jika pria itu masih bernafas atau tidak..


Tak ingin Rain mengganggu semua jadwalnya, Seir membiarkan si pemuda mabuk tetap tertidur sementara ia mulai membersihkan rumah seperti rencana awal.


...❄️...


"Ugghh.. " Rain menghela nafas berat, selain itu ia juga merasakan sakit yang masih terus menghantam kepalanya. Sesekali bahkan Rain merasakan perutnya yang bergejolak. "Dimana ini?" Rain mengerjap lalu melihat ke sekitar.


Meskipun semalam ia mabuk berat, tapi Rain masih mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Dengan tubuh yang masih sempoyongan, Rain berjalan keluar dari kamar.


Rumah yang unik. Pikir Rain saat memperhatikan isi rumah tersebut. Rain menuruni tangga untuk mencari si pemilik rumah.


Namun sepertinya Rain tersesat. Tidak hanya unik, rumah yang Rain lihat saat ini seperti sebuah labirin. Dan semua perabotan belum dibongkar sepenuhnya.


Apa pemiliknya baru saja pindah?


Rain tidak menemukan siapapun di sana. "Apa tidak ada orang dirumah sebesar ini?" Rain kembali melangkahkan kakinya. Dan samar-samar ia mendengar suara yang berasal dari lantai atas..


Saat tiba di sumber suara, Rain hanya memperhatikan dalam diam. Di ruangan yang cukup luas itu, ada begitu banyak lukisan yang sudah dipajang dan sebagian masih tertutup oleh kain..


"Hei kau..?" Rain memanggil wanita yang sedang sibuk membersihkan semua lukisan. Mendengar ada suara yang memanggil dirinya, Seir pun berbalik dengan cepat. Tatapan keduanya bertemu.

__ADS_1


Tapi hanya Rain yang terlihat terkejut, pasalnya, karena Seir memang mengharapkan agar pria itu segera sadar dan cepat-cepat pergi dari sana..


Akhirnya..


"Kau..?" Rain menautkan kedua alisnya saat memperhatikan siapa gadis yang ada di ruangan itu. "Kau sudah sadar, baguslah." Seir bersuara datar. "Kau bekerja dirumah ini?" Rain tak menanggapi ucapan Seir tapi justru melemparkan pertanyaan yang membuat Seir sedikit terkejut.


"Aku..?"


"Dimana tuanmu, pemilik rumah ini?" Rain kembali bertanya. Dan Seir baru mengerti apa yang Rain maksudkan.


Pria itu tidak hanya telah mengirim dirinya ke gudang penyimpanan, tapi juga sudah menganggap dirinya sebagai pembantu. Bagus. Dasar pria menyebalkan.


"Ada apa kau mencari pemilik rumah ini?"


"Apa urusannya denganmu? katakan dimana pemiliknya, kami harus bicara." Rain hanya ingin meminta maaf sekaligus bertanggung jawab atas perbuatannya semalam.


"Bisa tolong pertemukan aku dengan majikan mu?" pinta Rain lagi. "Pemiliknya sudah pergi sejak tadi. Tapi tenang saja, ada pesan untuk mu." Rain menautkan kedua alisnya, "Benarkah?"


Seir melepas sapu dan juga serbet dari tangannya, lalu mengangguk pada Rain. "Sebaiknya sadarkan dirimu dulu." Seperti permintaan Papa nya, Seir akan membuat pria itu bertanggung jawab.


"Tidak usah. Dimana pesan atau apapun yang tuan mu berikan." Pinta Rain tak sabaran.


Selain karena kepalanya yang masih terasa pening, Rain juga ingin segera pulang untuk membersihkan dirinya.


"Baiklah. Ada baiknya kau memang tak merepotkan aku." Seir melewati Rain untuk mengambil kunci mobil Papa nya. Sementara Rain mengikuti dibelakang Seir.


"Ini. Kunci mobil yang kau tabrak semalam. Perbaiki. Hanya itu pesan untuk mu." ujar Seir tak ingin berbasa-basi pada Rain.


"Aku akan membawa mobil yang rusak. Aku juga akan meninggalkan nomor ku disini. Aku akan datang lagi untuk mengantarkan mobil tuanmu dalam keadaan seperti sebelumnya." Janji Rain.


"Terserah kau saja." Seir tak peduli dengan apa yang ingin Rain lakukan. Setelah pria itu meninggalkan nomornya, Seir mengantarkan Rain menuju ke depan pintu.


"Jangan khawatir, aku akan bertanggung jawab." Rain meyakinkan Seir. "Aku akan minta maaf secara langsung pada tuanmu."


"Kau tidak perlu melakukan itu. Pemilik rumah mengatakan kau cukup memperbaiki mobil itu. Itu saja." Seir tidak ingin berurusan lebih lama dengan pria yang ada di depannya ini. Pria menyebalkan minim sopan santun.


"Baiklah kalau begitu. Terimakasih." Rain pun pergi meninggalkan rumah itu dengan membawa serta mobil milik Jhon yang rusak.


Jika saja Rain tidak dalam kondisi mabuk, Seir sangat ingin membalas perbuatan pria itu pada dirinya tapi sayangnya Seir tidak picik seperti pria itu..


"Pemuda yang aneh."


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2