SPELL

SPELL
SPELL 20


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


...De Lune Mension...


"Rain, dari mana saja kamu?" Travis sudah menunggu putra bungsunya itu sejak satu jam lalu. Rain tidak pulang untuk makan malam, dan baru kembali pukul sebelas.


Melihat Daddy nya ada di sana, Rain sedikit terkejut. "Dad? Aku makan malam diluar bersama teman." katanya.


"Diluar?" ulang Travis. Hal seperti ini memang bukan kali pertama, sejak Travis memperkenalkan Mera, Rain sering menghindari acara makan malam keluarga mereka.


Tapi Travis tak bisa menyalahkan putranya, Rain sudah dewasa dan tak bisa lagi dikendalikan seperti anak remaja. Dan Travis sangat menyadari bagaimana perubahan sikap putranya sekarang.


"Iya. Apa ada masalah?" Rain tak tahu jika Daddy nya akan menunggu kepulangannya malam ini. Karena itulah Rain juga tak mengatakan apa-apa tentang ia yang melewatkan makan malam.


"Tidak Son. Tidak ada." ujar Travis tersenyum samar. Mungkin sudah waktunya jika Rain menentukan sendiri apa yang harus dan tak harus dilakukannya.


"Baiklah. Aku akan naik ke kamarku Dad. Selamat malam."


"Kau punya waktu, ada yang ingin Daddy bicarakan dengan mu Rain." pinta Travis sebelum Rain berbalik. Malam ini Travis ingin membicarakan tentang rencana nya bersama Mera. Travis tak ingin menunda lebih lama lagi.


Rain mengehentikan langkahnya, tapi tetap berdiri di atas tangga. Ia tak berniat menghampiri Daddy nya. Jika dulu, mungkin Rain akan bersikap manja pada Travis, tapi sekarang.. Rain sedang tak bisa.


"Rain, Daddy ingin mempublikasikan hubungan Daddy dan Mera secara resmi, dan Daddy.."


"Aku sudah mendengarnya Dad." Rain sempat melupakan hal ini. Pikirannya sempat teralihkan sesaat karena Seir. Tapi kini, ia kembali mendengar sesuatu yang mengingatkan dirinya dengan rasa sakitnya.


"Dari Kak Viloen." tambah Rain. Setelah itu Rain tidak mengatakan apa-apa lagi.


Travis menatap putranya sejenak, ia ingin melihat bagaimana reaksi Rain, tapi nyatanya Rain tak bereaksi seperti yang Travis khawatirkan. "Bagaimana menurutmu Son?"


"Itu terserah Daddy. Lagi pula aku tak mempunyai hak untuk terlibat dalam keputusan Daddy bukan? jadi,.. selamat."


Setelah mengatakan itu, Rain langsung pergi dan meninggalkan Travis seorang diri.


Tak ada lagi yang perlu mereka bicarakan. Daddy nya sudah memutuskan, dan sebagai anak, Rain hanya berkewajiban untuk menerimanya bukan?


persetan dengan pernikahan itu!


...❄️...


Di ujung tangga, Viloen sudah menunggu adiknya. Sejak Rain tiba, Viloen sudah memperhatikan keduanya yang sedang bicara di ruang tamu.


Viloen sangat mencemaskan Rain. Ia takut jika adiknya itu kembali berulah saat mendengarkan rencana ayah mereka. Tapi syukurlah, Rain terlihat lebih tenang meskipun terkesan menjaga jarak.


"Rain, kau sudah bicara dengan Daddy?" Viloen menatap cemas pada adiknya. Rain hanya memalingkan wajah karena tak ingin membahas hal yang sama untuk kedua kalinya.

__ADS_1


"Apa yang mau kakak dengar dari ku?" Rain terlalu lelah memikirkan hal itu. Cukuplah selama ini ia menyimpan semua rasa sakitnya seorang diri. Rain tak ingin selalu dikaitkan dengan apapun yang berhubungan dengan Mera.


"Baguslah kalau semuanya bisa diselesaikan dengan baik Rain. Kakak ingin hubungan kita kembali seperti sebelumnya." Viloen hanya mengharapkan hal itu. Ia merindukan canda tawa dan kehangatan seperti biasanya dalam keluarga mereka.


Viloen tak ingin Rain mengasingkan diri hanya karena belum bisa menerima orang baru masuk dalam keluarga mereka.


Rain tersenyum sinis saat mendengar kata-kata Viloen. Sangat tak mungkin baginya untuk kembali seperti dulu, terlebih lagi jika nantinya ia akan selalu melihat Mera di depan matanya.


"Apa menurut kakak itu bisa terjadi?"


Konyol jika berpikir Rain bisa merelakan semuanya begitu saja...


"Apa maksudmu Rain?"


"Tidak ada. Aku harap Dad bahagia dengan wanita itu. Dan aku bisa secepatnya pergi dari rumah ini."


"Rain.."


"Aku lelah kak. Aku ingin beristirahat."


...❄️...


Tepat pada malam perayaan dibalai kota, Travis membawa Mera dan memperkenalkan Mera sebagai kekasihnya seperti yang sudah ia rencanakan sebelumnya.


Dalam waktu yang bersamaan juga, Travis mengumumkan rencana pernikahan mereka yang akan digelar dalam waktu dekat.


Melihat bagaimana bahagianya Mera berada di depan sana bersama Daddy nya membuat Rain merasa tak nyaman.


Rain ingin agar Mera melihat pada dirinya. Melihat mata Rain yang terluka, dan memeluk dirinya penuh penyesalan.


"Rain, kau datang juga. Aku senang melihatmu." Yukkie menggandeng mesra tangan Rain, dan membawa Rain berjalan untuk menghampiri Travis dan Mera.


Meskipun merasa risih dengan sikap Yukkie yang terlalu dekat dengan dirinya, tapi Rain mengijinkan hal itu untuk menunjukkan pada Mera, bahwa wanita itu akan menyesal karena tak memilih Rain sebagai kekasih.


"Uncle, selamat untuk rencana pernikahan kalian." Yukkie memberi selamat, lalu tersenyum senang saat menatap wajah serius Rain yang tak menolak kedekatan diantara mereka.


Melihat Rain yang berdiri didepan bersama dengan putri dari salah satu kenalannya membuat Travis sedikit terusik. "Terimakasih nak.." Travis menanggapi dengan ramah.


Sedangkan Mera sejak tadi hanya menatap asing pada Rain. Mera tak tahu jika Rain adalah pria yang memiliki banyak kekasih.


Dan hal itu sedikit mengejutkan dirinya. Tapi meskipun Mera memberikan tatapan intens pada Rain, pria itu tak terganggu sedikit pun. Rain hanya diam dengan wajah tanpa ekspresi yang sesekali menyesap wine dari gelasnya.


Apa dia sudah boleh meminum itu?


"Perkenalkan, aku Yukkie. Calon istri masa depan Rain." Yukkie juga memperkenalkan dirinya pada Mera. "Ayahku adalah walikota." Gadis itu selalu senang mempertegas statusnya. Terutama pada orang-orang baru seperti Mera.


"Calon istri masa depan?" Mera tersenyum canggung. Tapi ia tetap menyambut hangat tangan Yukkie.


"Ah, atau lebih tepatnya memang pengantin masa depan Rain. Benarkan Uncle?" Rain hanya mendengus mendengar hal itu. Yukkie memang terlalu percaya diri setiap kali membicarakan hubungan diantara mereka.

__ADS_1


"Itu terserah kalian saja." Travis menanggapi dengan santai. Selama hal itu tak keluar dari mulut putranya sendiri, Travis tak akan menganggapnya serius.


"Kau yakin itu kekasih Rain?" Mera berbisik di sisi Travis. Ia sedikit terganggu karena melihat sikap tak nyaman yang Rain tunjukkan saat Yukkie merapatkan tubuh mereka.


"Apa maksudmu sayang? lagi pula itu urusan anak muda. Aku yakin Rain tahu mana yang terbaik untuk dirinya." Travis balas berbisik.


Itu memang bukan urusannya. Seharusnya ia tak ikut campur, meskipun dulu mereka pernah akrab, bukan berarti sekarang ia bisa ikut campur dalam urusan Rain.


"Kau benar."


...❄️...


...De Lune Exas...


Di halaman kampus, Bruro melihat Seir dari kejauhan. Sudah cukup lama Bruro mencari Seir, tapi waktu mereka untuk bertemu selalu saja tak tepat.


Dan sekarang, gadis pujaan hatinya ada di sana, di depan matanya. Tak ingin menyia-nyiakan waktu yang berharga, Bruro berlari menghampiri Seir yang saat itu sedang bersama dengan para gadis dari klub musik.


"Seir.. hai.. malaikat ku." sapa Bruro yang selalu tersenyum manis setiap kali melihat Seir.


"Aku merindukan mu. Apa kau merindukanku?" Seir tak menanggapi pria Casanova seperti Bruro. Cukup banyak rumor tentang pria itu, dan Seir tak ingin terlibat.


Melihat sikap dingin Seir, semakin membuat hati Bruro berdegup cepat. Ia tak pernah bertemu gadis seperti Seir sebelumnya, dan sekarang Bruro yakin bahwa ia benar-benar telah jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Apa kau punya rencana malam ini?" Bruro masih gigih pada perjuangan cintanya. Ia tak ingin menyerah untuk mendapatkan hati Seir.


"Untuk apa kau bertanya, aku sibuk." Seir masih bersikap acuh. Pria seperti Bruro adalah jenis spesies lama yang membuat peradaban dunia para gadis menjadi tak aman. Seir harus menghindar sejauh mungkin.


"Apa kau punya pacar?"


"Tidak. Seir tak punya kekasih." gadis disebelah Seir menggantikan dirinya menjawab pertanyaan dari Bruro.


Mendengar hal itu membuat senyum Bruro semakin mengembang. Ini adalah kesempatan yang baik untuk dirinya. "Bagus. Sampai bertemu besok Seir." ujar Bruro sebelum pergi dari pandangan Seir.


"Apa maksudnya itu Seir?" tanya beberapa gadis yang berada di sekitar Seir.


"Tidak hanya Verrel, tapi Bruro juga? kau benar-benar sesuatu gadis penyihir." tawa memenuhi lorong yang Seir lewati.


Meskipun itu adalah pujian, tapi Seir merasa sesuatu yang buruk akan terjadi pada dirinya.


"Ku mohon jangan libatkan aku dengan mereka. Aku dan mereka, kami adalah jenis yang berbeda.." Seir berdecak tak suka.


"Ya.. ya..nona malaikat..." tawa sekali lagi memenuhi lorong..


"Ahh.. terserah kalian saja."


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2