SPELL

SPELL
SPELL 22


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Seir sedikit kesulitan mencari nafas, tubuhnya menegang, dan perasaannya sedikit kacau. Saat Rain menyentuh pelan tangannya, Rain langsung menutup jarak di antara mereka.


Ciuman Rain tak menuntut, justru sebaliknya sangat lembut dan berhati-hati. Tak ada kesan memaksa dalam setiap sentuhannya.


Bibir Rain terasa lembut dan hangat. Ciuman mereka pun tak berlebihan meskipun sedikit menggebu-gebu, seperti yang Rain katakan sebelumnya, jika itu adalah ciuman pertamanya, tidak. Itu ciuman pertama mereka berdua..


Ada sesuatu yang terus bergejolak dalam dada Seir, hingga membuat semburat rona kemerahan menjalar disekitar pipi dan lehernya yang putih mulus.


Tak ada seorangpun yang pernah menyentuh atau berada sedekat ini dengan dirinya. Seir tak berpengalaman, dan ini adalah yang pertama baginya, tapi ia tak merasa menyesal karena melakukannya dengan Rain.


Justru rasa superior memenuhi diri Seir. Pria itulah yang menciumnya. Rain menariknya menjauh dari kerumunan, membawa dirinya keruangan pribadi pria itu.


Mengatakan sesuatu yang sedikit sulit untuk dicerna, hingga seperti Rain kehilangan kendali atau semacamnya, dan mereka berakhir dengan ciuman yang sedikit bergairah.


Dengan kata lain, Rain lah yang menginginkan dirinya. Dan Seir merasa sedikit bangga akan hal itu. Jika nanti Rain berpikir sebaliknya, maka dengan lantang Seir akan mengatakan, Kau lah yang mencium ku, brengs3k!


"Uh..Rain.." Seir sedikit terengah.. nafasnya sedikit sulit di stabilkan, namun saat mata mereka bertemu, Seir tahu jika Rain pun merasakan hal yang sama dengan dirinya.


Seir benar-benar harus mengatur nafasnya, atau ia akan kehilangan kendali. Hanya karena ciuman dengan Rain, bahkan kaki Seir terasa tak bertenaga. Bagaimana ini? pria gila.


"Aku masih tidak setuju untuk menjadi kekasih mu- sekarang." Seir berusaha menjaga suaranya agar tetap stabil dan juga masuk akal dalam situasi mereka saat ini.


Tak ada keharusan bagi Seir untuk menuruti kata-kata Rain hanya karena pria itu sudah menciumnya. Lebih tepatnya, mereka berciuman.


Jika Rain berpikir seperti itu, maka salahnya karena menganggap Seir adalah gadis penurut. Ia tak semudah itu.


"Aku masih belum kalah." Rain mengangkat alisnya, "Taruhan itu." Seir mengingatkan.


Untuk sepersekian detik Rain menatap dalam mata Seir, dan gadis itu tak berkedip sedikitpun meskipun nafasnya terlihat memburu.


Rain menghela nafasnya kemudian tertawa kecil. Gerakan selanjutnya begitu mulus, saat Rain mendorong pelan tubuh Seir hingga tubuh keduanya terhimpit di antara rak buku, kemudian Rain memeluk Seir dengan perasaan yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata.


Ada segelintir perasaan yang asing saat tubuh keduanya bersentuhan dengan lembut. Seakan Rain hanya sedang mengistirahatkan dirinya saat memeluk Seir. Dan ketegangan diantara mereka benar-benar mencair sepenuhnya.


Dude! Rasanya, mereka seperti sepasang kekasih yang sedang bersembunyi dari keramaian hanya untuk diam-diam bermesraan dalam waktu yang singkat.


"Kau benar-benar sesuatu Seir." Rain kembali menegakkan tubuhnya, meskipun jarak diantara mereka masih terbilang dekat, tapi Seir tak merasa risih seperti yang seharusnya ia rasakan jika ada seorang pria yang melakukan hal yang sama pada dirinya seperti yang Rain lakukan.

__ADS_1


Kali ini Seir justru bersikap berani. Seperti perlakuan Rain bukanlah apa-apa baginya, meskipun pada kenyataannya kaki Seir terasa lemas setengah mati.


"Baiklah." Bibir Rain langsung membentuk garis lengkungan yang khas. "Akan ku buktikan padamu, jika aku juga tak berniat mengalah."


"Begitu pun aku." Seir tak meragukan Rain, tapi ia juga tak meragukan dirinya. Jika pria itu ingin menang, maka buktikan bahwa ia memang pantas. Seir tak akan terhasut hanya oleh segelintir perasaan asing seperti ini.


Meskipun merasa canggung berdiri berhadap-hadapan setelah apa yang mereka lakukan ditempat tertutup tanpa seorang pun yang mengetahuinya, tapi Seir tak ingin mengakui bahwa ia terpengaruh sepenuhnya.


Seir tak ingin mengakui bahwa Rain membuat dirinya begitu tak berdaya. Seir harus kembali pada realita. Ia tak bisa bersikap bodoh hanya karena satu ciuman. Seir harus bersikap waspada, dan tak melupakan bahwa Rain hanya ingin memanfaatkan dirinya. Tidak lebih.


Sebelumnya Rain juga mengatakan hal itu dengan jelas. Seir dipilih hanya karena pria itu yakin bahwa ia tak akan tersentuh dengan rayuan atau sikap sok romantis pria itu di depan banyak orang.


Rain sudah mengatakannya sendiri. Dan Seir harus tetap berada pada tingkat tertinggi kesadarannya. Rain berbahaya dan juga sangat berpotensi mengacaukan hidupnya.


Kembali pada realitas. Pikirkan lah Seir, apa yang seharusnya kau lakukan saat ini! Rain dan taruhan itu, semuanya hanya sebuah permainan. Jangan tertipu.


Baiklah.


Bukankah sudah seharusnya mereka memainkan permainan yang sesungguhnya? Seir tak akan kalah.


Permainan rayu merayu seperti ini, meskipun ia tak pernah melakukannya, Seir yakin Rain tak akan melampaui dirinya. Seir bisa membuktikan hal itu.


"Bisa aku pergi sekarang?" Seir ingin mendorong Rain, tapi juga tak ingin menjauh dari kehangatan yang diberikan Rain saat tak ada jarak diantara mereka, yang benar saja!


Seharusnya itu sebuah pertanyaan, tapi rasanya lebih kepada sebuah tuduhan dibandingkan sebuah pertanyaan yang bernada sopan dari seseorang.


"Kau ingin aku melakukan itu?"


Rain tersenyum samar, "Tidak. Tidak sama sekali." katanya, kemudian menarik tangan Seir dan mendudukkan Seir di atas salah satu sofa yang nyaman.


"Aku harus hadir di mata kuliah profesor Huston." Seir bersikeras, tapi Rain masih menahan tangannya. Rain tak akan membiarkan Seir terjebak dalam kekacauan yang dibuat oleh salah satu sahabatnya itu, "Kuliah dari sini saja."


Rain menghidupkan layar yang berukuran cukup besar tidak jauh dari tempat Seir duduk saat ini. Tepatnya, di depan mereka. Rain terlihat serius saat memilih dan menekan beberapa tombol, sementara Seir hanya diam mengamati.


"Mata kuliah apa?"


Untuk sesaat Seir mencoba mencerna apa yang sedang Rain lakukan, tapi tatapan Rain berubah mendesak saat Seir tak menjawab. "Sejarah Seni." sahut Seir.


Rain hanya mengangguk dan kemudian memilih salah satu tombol di remote yang ada di depan mereka, dan setelahnya muncullah gambar ruangan kelas Seir berserta seisi kelas.


Rain memilih tayangan yang berfokus pada profesor dan juga papan tulis yang ada di depan kelas. Untuk sesaat Seir sedikit terpukau dengan fasilitas yang dimiliki kampus mereka.


Terutama pada keluarga kaya raya yang menyiapkan semua yang ada di ruangan itu, sehingga putra mereka tak harus masuk ke dalam kelas seperti mahasiswa lainnya.

__ADS_1


Seir merasa seperti sedang menonton film dibandingkan kuliah.


"Aku akan mengatakan pada profesor Huston bahwa kau mengikuti kelasnya bersamaku." ujar Rain terlihat lebih santai dibandingkan sebelumnya.


"Tapi kau kan tidak mengambil kelas itu. Untuk apa.."


"Ku rasa aku tak perlu mengatakan padamu jika aku pemilik kampus ini." sejujurnya, Rain termasuk tipe yang tak suka dibantah, tapi jika itu Seir, maka dengan senang hati ia akan meladeni gadis itu.


"Ku rasa itu milik ayah mu. Dan mungkin akan diberikan pada kakak mu." lihat kan? Seir tak akan mau mengalah pada dirinya.


"Sepertinya aku harus sedikit berusaha untuk membuka matamu, ya?"


Ssssttt... "Diamlah. Aku sedang mengikuti kelas."


...❄️...


"Kalian benar-benar kacau! bagaimana bisa kau dan Rain melakukan hal seperti ini padaku? Kalian adalah sahabat ku." Bruro menggeram frustasi di ruangan persembunyian mereka.


Ia tak habis pikir dengan apa yang dilakukan kedua sahabatnya itu. Mereka merusak semua kerja keras yang sudah Bruro lakukan sejak pagi.


"Aku harus mengatakan sesuatu padamu Bruro." Verrel menatap serius pada sahabatnya meskipun pria itu masih terlihat begitu kesal.


"Kau masih ingat cerita tentang sahabat masa kecilku bukan? sahabat yang juga merupakan cinta pertama ku?" Bruro tak bergeming.


Ia tak tau mengapa di situasi sekarang Verrel justru membicarakan dirinya? bukankah sebagai manusia dan sebagai seorang sahabat yang perlu Verrel lakukan adalah meminta maaf?


"Gadis itu adalah Seir. Karena itulah aku tak bisa merestui mu." ucap Verrel dengan tatapan intens.


"What..?"


"Ia. Kau ingat saat aku mengatakan gadis yang ingin ku perkenalan? itu adalah Seir Estelle. Sahabat masa kecilku, dan juga gadis yang ku sukai." jelas Verrel. Ia tak berniat menutup perasaannya.


Terutama pada pria yang jelas-jelas sedang mengincar pujaan hatinya.


"Maafkan aku kawan, seharusnya aku mengatakan semuanya lebih cepat."


"Benarkah itu? aku sungguh tidak tahu kawan.. maafkan aku." Bruro nampak sedih dengan kenyataan yang didengarnya. Terlebih lagi, karena ia yakin bahwa ia jatuh cinta pada sosok yang sama dengan yang sahabatnya cintai.


"Bukan salah mu kawan. Dan sekarang, sepertinya aku harus meluruskan sesuatu dengan seseorang.." ucap Verrel mengingat apa yang dilihatnya hari ini..


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2