SPELL

SPELL
SPELL 43


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


"Bae, kapan kamu selesai mengerjakan semua itu?" Rain bergelayut manja seraya meletakkan dagunya di atas bahu Seir. Hal yang sudah Rain lakukan berulang-ulang sejak beberapa waktu lalu.


"Tidak akan cepat selesai kalau kamu menganggu ku terus Rain." Seir mulai berucap ketus.


Meskipun begitu sesekali Rain tetap menyuapi Seir dengan camilan dan juga minuman yang ia beli dari kantin sebelumnya.


Saat tidak menjumpai Seir di dalam kelas dan juga di ruang musik, Rain bisa menebak jika lagi-lagi kekasihnya akan menghabiskan waktu di dalam perpustakaan.


Dan benar saja, saat Rain datang; ada puluhan buku yang menumpuk di atas meja bersamaan dengan kertas-kertas yang berisikan partitur dan lainnya.


Sepertinya Rain harus mulai terbiasa dengan semua pemandangan itu. Kekasihnya memang selalu bersemangat.


"Apa aku begitu?"


"Kau pikir tidak?" Mata Seir membulat sempurna dengan mimik yang Rain anggap sangat menggemaskan. Uuhhh.. Seir nya sungguh cantik. Dada Rain kembali berdegup cepat.


Ia selalu tak tahan dengan serangan yang begitu menggemaskan..


"Aku tidak begitu. Sejak tadi aku hanya menatap mu hingga mata ku terasa lelah. Bukankah aku sudah bersikap sangat manis nona?" mata keduanya kini tengah beradu.


Dalam hatinya Seir merasa gemas dengan tingkah Rain. Ingin sekali rasanya Seir menghentikan semua pekerjaannya dan hanya menghabiskan waktu untuk bermain dengan Rain.


Tapi mau bagaimana lagi, selama ia menjalani hukuman, ada beberapa tugas yang harus segera Seir selesaikan sebelum waktu yang di tetapkan. Atau ia harus mengulang kelas yang sama pada semester berikutnya.


Tentu saja Seir tidak mau melakukan itu. Ia ingin kuliahnya selesai tepat waktu. Ini juga berat bagi Seir.


Bayangkan saja; Seir tidak bisa bermain bersama kekasihnya yang sangat menggoda.


Rain nya yang selalu bertingkah manis dan juga luar biasa memusingkan. Argh.. Seir harus segera menyelesaikan semua tugas-tugas itu. Secepatnya.


"Ya.. ya.. kekasihku memang sudah bersikap sangat manis, saking manisnya aku sampai terharu, terimakasih karena mau mendengarkan aku Rain." turut Seir. Rain mulai tersenyum.


Untuk sejenak Seir mulai berpikir; bagaimana caranya agar Rain tidak terus merengek tapi juga agar Rain tetap ada di sisinya.


Karena jujur saja, Seir suka melihat Rain dengan semua tingkah nya yang begitu menggemaskan bagi Seir.


"Bagaimana kalau kau membantuku menyelesaikan beberapa soal yang ada di sana." Seir melirik pada kertas tugas miliknya, begitu juga dengan Rain.


Rain menghela nafas panjang untuk sesaat, "Jadi.." suaranya menjeda. Otak Rain masih saja memikirkan bagaimana caranya agar bisa membuat Seir segera meninggalkan semua kertas yang sejak tadi telah menyita perhatian kekasihnya itu.


Siapa dosen yang sudah memberikan tugas sebanyak ini pada mahasiswi semester awal? benar-benar menyebalkan!


Haruskah aku minta pada kak Viloen untuk memberikan peringatan pada mereka?


"Jadi..?" ulang Seir..


"Kau minta aku mengerjakan semua tugasmu Bae?" ucap Rain kembali menatap Seir setengah hati.


Jujur saja, Rain tak sabar ingin mengajak Seir meninggalkan perpustakaan itu sekarang..


Rain bosan melihat Seir diantara semua buku-buku yang menumpuk..


Kasihan sekali kekasihnya. Bukannya menikmati waktu yang menyenangkan saat kembali ke kampus, tapi justru di hadapkan dengan semua tugas-tugas ini!

__ADS_1


Kalau begini terus, kapan kami punya waktu untuk bermesraan? 😓


"Kau tidak mau?" Seir kembali menghadap pada laptopnya. "Baeeeee... "


"Jadi kau mau?"


"Hanya tugas inikan?" Yes. Seir bersorak dalam hati. Rain mengambil kertas soal yang Seir maksud.


Itu adalah tugas dari mata kuliah yang berbeda dengan milik Rain. Ia belum pernah mempelajarinya sama sekali. "Yupz. Hanya itu. Setelah selesai kau bisa mengirimkan semuanya ke email yang ada di sana." ujar Seir.


Sebenarnya bisa saja Seir mengerjakan semua tugasnya kalau Rain mau memberikan waktu pada Seir untuk bertempur dengan semua tugas-tugas nya.


Tapi kekasihnya itu justru terlalu sibuk untuk mengganggu dan mengalihkan fokus Seir dengan tingkahnya yang terlalu manis.


Jadi, tidak masalah bukan jika Seir mengalihkan perhatian Rain dari dirinya dengan memberi pria itu pekerjaan lain yang tentunya lebih bermanfaat..


"Setelah semua ini selesai kau janji kalau kita akan segera pergi?" Rain memastikan niat Seir. "Hem. Hanya jika tugas itu selesai." katanya sambil tersenyum.


Ini adalah sebuah tantangan bagi Rain. Jika ingin segera membawa Seir pergi, maka tangan dan otaknya harus segera bekerjasama.


"Baiklah. Akan ku kerjakan semua ini sekarang." Rain terlihat sungguh-sungguh dengan perkataannya.


"Kau yakin?"


"Jangan meragukan aku Bae. Aku bisa mengerjakan ini meskipun aku harus bekerja keras." Tidak ada yang tidak bisa Rain lakukan jika ia mau berusaha.


Kelebihan Rain bukan hanya terletak pada wajahnya yang tampan, tapi juga pada otaknya yang bisa di katakan cemerlang..


"Baiklah. Itu baru Kekasih ku." Seir tersenyum bangga melihat Rain yang mulai sibuk dengan buku-buku.


Lihatlah, betapa tampannya Rain yang sedang fokus pada semua buku-buku itu? untuk seukuran pria yang sering bermain-main, Rain terlihat luar biasa.


...❄️...


"Bae, aku ingin mengundang mu untuk pergi bersamaku. Kau mau?" Rain menggenggam tangan Seir saat keduanya melewati lantai tiga setelah seharian berkutat dengan buku.


"Pergi, kapan?" Sebenarnya Rain tak ingin mengatakan hal ini pada Seir. Karena Rain sendiri pun tak berniat untuk hadir jika saat itu tiba.


Namun setelah di pikir kembali, ini adalah momen bahagia bagi Daddy nya. Tentu saja ia tak bisa bersikap kekanak-kanakan dan terus menghindar dari sesuatu yang harus ia hadapi.


"Minggu depan, tepat di hari Sabtu. Hari itu adalah hari pernikahan Daddy, kau bisa?" ujar Rain dengan berhati-hati. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk Seir.


Bagaimana pun juga, Rain sudah menceritakan semuanya pada Seir, tentang masalalu nya dengan Mera dan tentang apa yang ia rasakan saat ini.


Alasan Rain mengajak Seir untuk pergi bersamanya tidak lain, karena Rain berpikir; Mungkin saja saat itu ia akan membutuhkan Seir untuk berada di sisinya.


Rain ingin memberikan restu dengan penuh percaya diri serta berlapang dada. Ia sudah melepaskan semuanya, meskipun masih terasa sulit, tapi tak apa-apa karena saat ini ia telah memiliki Seir di hatinya.


Melepaskan Mera untuk bahagia bersama Daddy nya tidak akan sesulit melepaskan Seir untuk pria lain, setidaknya itulah perbandingan yang dapat menenangkan hati Rain.


"Sepertinya aku juga tidak ada kegiatan lain di akhir pekan, jadi aku mungkin bisa." turut Seir.


Tak ada salahnya juga ia datang memenuhi undangan tersebut. Meskipun Seir tidak terlalu menyukai pesta, tapi mungkin saja kali ini akan terasa berbeda karena pasangannya adalah Rain.


"Baiklah. Terimakasih Bae. Aku akan menjemputmu hari itu." Rain merasa lega. Pikirannya sudah jauh lebih baik sejak ia bertemu dengan Seir.


Rain bisa kembali menata hati dan juga perasaannya.. tapi kali ini, ia tak akan kehilangan cintanya.


"Ya. Tentu." Seir juga tersenyum.

__ADS_1


"Hei, bukankah itu gadis yang waktu itu di beritakan?" suara bisik-bisik terdengar saat keduanya melewati kerumunan.


Rain ingin berbalik dan memerahi orang-orang tersebut, tapi di tahan oleh Seir. "Aku tidak apa-apa. Jangan pedulikan mereka." ujar Seir.


"O, ya Rain, kau mau makan malam bersama ku? aku ingin mentraktir mu sebagai ucapan terimakasih atas bantuan mu tadi."


"Sepertinya aku tak bisa makan malam bersama mu Bae, maafkan aku." Rain kembali berwajah masam. Ia teringat akan janjinya pada Viloen.


"Daddy meminta aku dan kak Viloen untuk makan malam bersama hari ini. Mungkin saja ingin membicarakan tentang pernikahan mereka." lanjutnya.


Jika di minta untuk memilih, tentu saja Rain akan memilih pergi bersama Seir tanpa ragu sedikitpun. Tapi sekarang, ia tak boleh melakukan hal itu. Ia harus menepati janjinya.


"Baiklah, mungkin lain kali." dari kejauhan Seir melihat Verrel yang sedang melambaikan tangan. Seir pun membalasnya sambil tersenyum.


"Ada Verrel." ujar Seir pada Rain. Pria itu langsung mencari sosok yang dimaksudkan oleh kekasihnya.


Seperti tak kasat mata, Verrel justru sudah berdiri tepat di depan mata mereka. Hah.. pengganggu lainnya. Hati Rain mulai kesal. Tak bisakah ia hanya berdua saja dengan Seir?


"Ell, kalian masih di sini?" Verrel tersenyum, dan tidak lupa menyapa Rain dengan tatapannya.


"Hai Rell.. kami baru saja selesai dari perpus. Bagaimana dengan mu?" Rain tak menghiraukan Seir yang terlihat ingin melepaskan tangannya dari genggaman Rain.


"Hem. Aku juga baru selesai mata kuliah terakhir hari ini. Kalian mau pulang?"


"Kamu mau,"


"Rain, kau pulang saja duluan. Aku akan pergi dengan Verrel." sela Seir. Verrel yang mendengar itu hanya memberikan respon biasa, sedang dalam hatinya ia merasa sangat senang.


Akhir-akhir ini ia tak punya waktu bermain bersama Seir karena Rain selalu melayangkan tatapan cemburu.


"Tapi Bae.."


"Mungkin saja uncle dan kak Viloen sudah menunggu mu." ujar Seir lagi.


"Rain?" Sapa Viloen yang baru saja muncul dari dalam lift.


"Kak,"


"Selamat sore pak," Seir masih menyapa Viloen dengan sopan. Meskipun ia kekasih Rain, tapi Seir tak ingin mengabaikan sopan santun nya saat berada di kampus.


"Kalau begitu kami pergi sekarang. Sampai besok Rain."


Dengan berat hati, Rain membiarkan Seir untuk pergi bersama Verrel. "Hem.. baiklah. Sampai besok Bae."


"Jangan melihat nona Deep seperti itu Rain." tegur Viloen. "Kau harusnya sadar jika melihat wajahmu saat ini. Orang-orang akan mengira kalau kalian sedang bertengkar."


"Kakak tidak tahu, sepanjang hari ini mataku memang hanya tertuju pada Seir. Tapi bahkan lima menit saja kami tidak punya waktu untuk bermesraan." gerutu Rain.


"Semua ini karena dosen-dosen itu memberikan tugas yang berlebihan. Sepertinya kakak harus membuat rapat dan memperingati para dosen untuk memberikan tugas sewajarnya saja pada anak baru.." lanjut Rain dengan tatapan marah.


"Kenapa sekarang kau marah pada kakak?"


"Aku tidak marah. Aku hanya kesal."


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2