
...❄️...
...❄️...
...❄️...
...DE LUNE EXAS...
Seir meletakkan tas di salah satu kursi kosong yang ada di baris ke tiga dari depan kelasnya. Saat ini ia harus mengikuti mata kuliah wajib di hari jum'at.
Di saat anak-anak dari jurusan lain sudah menyiapkan rencana untuk menghabiskan akhir pekan mereka, Seir justru harus mengikuti mata kuliah yang di wajibkan oleh jurusannya.
Inilah akibatnya jika pindah kuliah di pertengahan semester, mau tak mau harus menyusul ketertinggalan dari materi yang sudah dibahas. Itupun jika ingin lulus di mata kuliah tersebut.
"Hai.. kau anak baru itu?" Gadis di belakang Seir mengulurkan tangan. Gadis dengan senyuman ramah dan terlihat bersahabat.
Rambutnya hitam panjang, dengan setelan yang cukup modis untuk gadis seusianya. "Aku Febby. Kau?" Seir menyambut uluran tangan gadis itu disertai sedikit senyuman samar.
"Seir Estelle. Kau bisa memanggilku Seir." ujarnya, lalu kembali memperhatikan catatan di bukunya. Untuk diketahui, Seir memiliki sifat introvert akut.
Seir tak terlalu nyaman berhubungan dengan orang-orang yang menurutnya tak cocok dengan dirinya. Bukan dalam segi status sosial. Tapi begitulah Seir.
"Apa rencana akhir pekan mu? apa kau akan pergi keluar pulau?" Seir mengernyit, pasalnya ia belum memikirkan tentang harus melakukan apa untuk akhir pekan ini.
Apalagi untuk keluar dari pulau? apa para penghuni pulau diperbolehkan seenaknya keluar masuk begitu saja, jelas-jelas biayanya cukup mahal.
Apa mereka tak memikirkan hal itu? karena jika ya, well.. semua orang yang tinggal di sini berasal dari golongan atas.
"Entahlah. Ku rasa aku akan mengejar semua pelajaran yang tertinggal." Sahut Seir tak terlalu peduli.
"Itu membosankan." gadis itu menyentak tubuhnya kembali ke belakang. Yah mengingat kegemaran mereka berbeda, tentu saja yang dilakukan Seir tidak akan pernah menarik di mata mereka.
"Apa kau sudah dengar beritanya? minggu depan adalah hari ulang tahun si gadis populer, dan anak-anak lain sudah heboh membicarakan tentang undangannya." Ujarnya lagi.
Dan percayalah, Seir bahkan tak berminat untuk ikut dalam pembicaraan itu. Dia tak mengenal siapapun di sini. Hello..
"Namanya Yukkie. Meskipun ku akui gadis itu sangat cantik, tapi aku benci dengan sikapnya yang arogan dan sombong, sangat menyebalkan." too much information. Ah.. Seir benci ini.
"Jangan sedih jika kita tidak diundang. Itu hal yang wajar. Apalagi kau adalah anak baru di sini. Setiap tahun memang begitu, hanya orang-orang tertentu yang bisa datang ke pestanya."
"Itu tidak masalah." Seir menjawab seadanya. Karena bisa dibilang, Seir sendiri pun tak suka pada keramaian. Jadi, syukurlah jika dirinya tak diundang. Itu sungguh anugerah.
"Yah.. ada baiknya kita memang tidak berharap sesuatu yang mustahil terjadi bukan?" Febby berucap seraya mendengus sinis. Meskipun tak tau apa maksudnya, Seir bisa merasakan jika sebenarnya gadis dibelakangnya hanya sedang iri.
Bagaimana tidak, jika orang lain diundang ke pesta yang terbilang waw, sedang diri sendiri menjadi penonton pun tidak. Seir bisa memahami itu, hanya saja.. hei.. ini tidak ada hubungan dengan dirinya. Dan tolong jangan libatkan aku, ku mohon.
Saat dosen yang mengajar tiba, maka percakapan keduanya juga berakhir sampai di sana. Seir menarik nafas lega. Cukup sampai di sini basa-basi yang membosankan.
"Baiklah anak-anak, untuk tugas akhir nanti akan di adakan pertunjukan kolaborasi. Pasangan kalian akan di tentukan berdasarkan absen, dan tugasnya akan dibagikan melalui email masing-masing. Praktek akan dilakukan dua Minggu lagi. Kalian mengerti?"
"Yes Sir.."
__ADS_1
Setelah dosen meninggalkan kelas, suasana di ruangan itu kembali ricuh. Anak-anak dihebohkan dengan pembahasan tentang partner masing-masing yang sudah ditentukan berdasarkan absen kelas.
Sedangkan Seir yang tidak mengenal siapapun hanya bisa menunggu seseorang datang padanya. Yah, atau mungkin dia akan bertanya siapa partnernya jika tak merepotkan.
Aku harap partner ku bukanlah orang yang menyebalkan. Itu saja cukup. Doa Seir..
"Wah.. kau beruntung sekali Seir." Febby kembali berdecak dengan senyum yang merekah diwajahnya.."Maksud mu?"
"Kau berpasangan dengan pria terpopuler di kampus ini.. sungguh sebuah keberuntungan." Febby terlihat bersemangat, seakan-akan pria yang di maksud adalah partner untuk dirinya.
Ya Tuhan, apalagi sekarang.. Seir yang mendengar hal itu hanya bisa menggeleng pasrah.
Tadi tentang gadis populer yang sombong, dan arogan, sekarang, ada lagi si pria populer yang nantinya akan menjadi partner kolaborasinya.
Aku mohon jangan beri aku masalah. Firasat Seir mengatakan jika ia benar-benar tak boleh terlibat dalam hal apapun yang menyangkut orang-orang populer tersebut.
"Tapi tenang saja. Meskipun pasangan mu adalah si pria populer, aku tidak akan iri. Karena bagi ku dari tiga serangkai, aku menyukai si pria hangat. Verrel jauh lebih baik, dan juga tampan." oceh gadis di depannya.
Verrel?
Seakan mengerti arti raut wajah Seir, Febby kembali bersuara, "Hmm.. Verrel Demos Rofhten. Dia adalah pria incaran ku." jelasnya. Oh God. Jadi yang dimaksud oleh gadis ini adalah Verrel sahabatku?
Kepala Seir bertambah pusing.. ternyata bukan hanya pria populer yang akan memberikan masalah pada dirinya, tapi Verrel juga. Dan apa-apaan tiga serangkai? yang benar saja. Kampus ini benar-benar sesuatu.
Apalagi yang belum ia ketahui? bisa-bisa Seir benar-benar akan melakukan hal konyol dan membuat dirinya terjerumus dalam masalah.
"Baiklah. Senang mendengarnya." ujar Seir tak berminat.
^^^"Kau sudah selesai? aku akan datang ke kelasmu."^^^
Setelah membaca pesan yang Verrel kirimkan, Seir buru-buru menyimpan ponselnya. Seir tak ingin Verrel menemui dirinya di sini. Itu akan membuat gosip lain tentang mereka.
Apalagi menurut informasi yang terlalu banyak didengarnya, Verrel termasuk pria populer di kampus mereka. Benar-benar masalah..
"Sepertinya aku harus segera pulang." Seir meninggalkan Febby yang masih terlihat antusias saat membahas tentang pria-pria populer di kampus mereka. Terutama membahas tentang Verrel..
"Apa? sekarang, tapi.. baiklah, sampai bertemu lagi Seir.." gadis itu melambaikan tangan, sementara Seir semakin mempercepat langkahnya..
"Aww.." Seir terhuyung saat tubuhnya tak sengaja bertabrakan dengan seorang pria.
"Hei.. kau tak apa-apa?" tangan pria itu menyentuh tangan Seir agar bisa berdiri tegak. Tapi ia tak memperhatikan seseorang yang ia tabrak.
"Maafkan aku, tadi aku sedikit terburu-buru." Seir meremas pelan pundaknya yang terasa berdenyut. Tapi pemuda di depannya tak bergeming..
"Waw.. apakah ini nyata? aku baru saja bertemu dengan seorang malaikat." gumamnya. Pria itu terlihat seperti seorang mahasiswa.
Ah.. mungkin anak dari jurusan yang berbeda. Pria itu masih terpaku pada Seir dengan senyuman yang membuat bulu bergidik.
Ditambah lagi Seir tak mengerti apa yang pria itu maksudkan. "Apa kau baru saja turun dari langit...?" pria itu mengusap wajahnya lalu tersenyum memandang pada Seir. "Aku Bruro" Pria itu mengulurkan tangannya.
Ya Tuhan. Apalagi ini..
__ADS_1
Pria itu tampan dan manis, hanya saja, terlihat seperti pria penggoda. Jenis yang menyusahkan.
"Boleh tau siapa namamu? Hei.. apa kau baru disini, aku tak pernah melihat mu sebelumnya, bagaimana kalau kita makan siang bersama?"
Benarkan? sangat menyusahkan.
"Ah.. maafkan aku. Tapi aku harus pergi sekarang." Seir mengabaikan Bruro yang masih terpaku dengan tangan terulur..
"Sampai bertemu lagi angel!" seru Bruro dengan suara yang cukup nyaring. Tidak hanya Seir yang dibuat terkejut. Tapi orang-orang disekitar memandang pada mereka dengan wajah yang bertanya-tanya..
Ah.. benar-benar! Seir tak suka menjadi pusat perhatian seperti ini.
...❄️...
"Kau menunggu lama?" Seir menghampiri Verrel yang menunggu di dalam mobilnya. "Tidak juga. Bagaimana kuliah mu hari ini? semuanya lancar?"
"Hem. Semuanya lancar-lancar saja." Kecuali berpartner dengan pria populer dan juga seorang gadis yang ternyata adalah fans berat dari sahabatnya itu.
"Baguslah kalau begitu.. aku ingin mengajak mu makan siang bersama. Ada kafe yang menarik tidak jauh dari rumah mu. Kau mau kan?" Seir mengangguk setuju. Setelahnya, Verrel menghidupkan mobil dan membawa mereka melesat melewati parkiran kampus.
Kurang dari dua puluh menit, mereka pun tiba di kafe yang Verrel maksudkan. Kafenya memang menarik dan terlihat nyaman.
"Ayo?" Verrel berjalan lebih dulu dan Seir mengikuti di belakangnya. Mereka menaiki tangga, saat Verrel membuka pintu ada pengunjung lain yang bergegas keluar dari dalamnya, dan tanpa sengaja menabrak bahu Seir yang masih berada di pertengahan tangga.
Seir terkejut karena tubuhnya yang tiba-tiba saja limbung. Namun tangannya langsung ditangkap hingga membuat tubuhnya kembali stabil.
Dada Seir naik turun karena merasa marah atas apa yang terjadi pada dirinya. "Maaf, aku tak sengaja." Pria itu bersuara tanpa perasaan menyesal sedikit pun.
"Rain, tunggu aku..kau tidak bisa.."
Verrel buru-buru menangkap tangan Seir dan menariknya. "Kau tidak apa-apa?" Seir mengangguk. "Mera..?" Verrel mengalihkan perhatian pada wanita yang berteriak pada seorang pria yang sebelumnya menabrak Seir.
"Verrel." Wajah wanita itu terlihat terkejut. Pria dibawah Seir berlalu begitu saja meninggalkan mereka.
"Rain..?"
"Senang bertemu dengan mu Verrel, dan kau juga." wanita itu tersenyum pada Seir. "Ada apa dengan mereka." Seir benar-benar merasa sial hari ini. Jika tidak beruntung bisa saja kakinya patah saat terjatuh dari tangga.
"Hei... kau yakin tak ada yang terluka?" Verrel memperhatikan Seir lebih teliti.."Hem. Tak apa Sungguh.. Meskipun tadi aku sedikit terkejut."
Seir mengalihkan pandangan pada orang-orang yang baru saja menghilang di balik pintu mobil masing-masing. Sepertinya pertengkaran diantara kekasih.
Hampir saja...
"Sebaiknya kita masuk." Verrel tersenyum lega, dan membawa Seir masuk ke dalam kafe. Kali ini tangan Verrel tak melepaskan tangan Seir sedikitpun. Seperti penjagaan atas apa yang baru saja terjadi pada gadis itu..
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1