
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Seir mendengarkan semua cerita yang Rain sampaikan dengan seksama. Kini barulah Seir menyadari semua perlakuan Verrel pada dirinya selama ini bukan semata-mata karena mereka adalah sahabat sejak kecil. Tapi karena Verrel mencintai Seir sebagai seorang wanita.
Seir bahkan tak menyadari semua itu. Bagaimana perlakuan manis Verrel selama ini pada dirinya, perhatian pria itu, bahkan sikap posesif yang ditunjukkan Verrel secara terang-terangan adalah karena cinta.
Seir pikir jika Verrel hanya menganggap dirinya sebagai sahabat, sama seperti apa yang ia rasakan terhadap Verrel, tapi ternyata Seir keliru.
Seir merasa bodoh dan juga merasa bersalah karena selama ini tak bisa menyadarinya. Bahkan sekarang, saat Verrel tak lagi menunjukkan dirinya, dan menghilang entah kemana, Seir bahkan tak memikirkan semua itu.
Seir benar-benar merasa bodoh dan juga egois karena hanya mementingkan diri dan juga perasaannya tanpa tahu bahwa ia telah melukai perasaan sahabat satu-satunya yang ia miliki.
Seandainya saja Seir bisa bertemu dengan Verrel..
...❄️...
"Nak Seir..? ada apa?" nyonya Rofthen sedikit terkejut saat melihat Seir yang berdiri di depan pintu rumah mereka pada jam seperti ini.
Seir mengunjungi kediaman keluarga Rofthen tepat setelah ia pulang dari studio milik Rain. "Aunty.. apa Verrel ada dirumah?"
Untuk sesaat terlihat keraguan di wajah Nyonya Rofthen, tapi kemudian wanita itu tersenyum lembut pada Seir. "Verrel ada di kamarnya Seir, naik saja. Akan aunty ambilkan camilan untuk kalian berdua."
Seir bernafas lega. Syukurlah jika Verrel ada dirumah. Setidaknya Verrel tidak bersembunyi ditempat yang tak bisa Seir temukan.
"Terimakasih aunty." Dengan perasaan yang sedikit berdebar diliputi rasa bersalah, Seir menapaki anak tangga satu per satu hingga sampai di depan pintu kamar Verrel.
Tangannya yang sedikit gemetar mengetuk pelan pintu kamar yang tertutup rapat itu. "Verrel, ini aku.. Ella. Kau ada di dalam? aku ingin bicara padamu."
Seir menunggu dengan perasaan cemas. Ia takut jika Verrel benar-benar tak ingin menemui dirinya karena ia telah menjalin hubungan dengan Rain.
"Rell, aku ingin.." belum lagi Seir menyelesaikan kalimatnya, pintu kamar itu terbuka dan terlihat gelap, benar-benar minim akan cahaya.
"Masuk lah Ell.." suara Verrel terdengar datar. Seperti pria itu terpaksa menerima kehadiran dirinya. Saat Seir membuka pintu kamar itu lebih lebar barulah terlihat ada cahaya yang masuk kedalam ruangan.
Apakah selama ini Verrel terus mengurung dirinya seperti ini? hati Seir mulai gelisah.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja? kau tidak sakit kan..?" Suara Seir sedikit ragu saat menanyakan hal tersebut pada Verrel.
Padahal biasanya ia tak pernah merasa canggung untuk bicara pada Verrel, tapi sekarang.. ia merasa sedikit takut.
Seir takut jika apa yang ia katakan akan melukai perasaan Verrel. Seir tak ingin melakukan hal itu. Terlebih lagi setelah ia tahu bagaimana perasaan Verrel untuk dirinya.
Berbeda dengan Seir yang merasa canggung, Verrel justru terlihat duduk dengan nyaman diatas sofa miliknya, sementara Seir masih berdiri dan tak bergerak sedikit pun, "Duduk saja dimana pun kamu mau Ell.. " kata Verrel.
"Rell, sebenarnya aku datang untuk.."
"Aku tau." Sela Verrel. "Tentang kau dan Rain. Tidak perlu kau katakan lagi Ell. Rain sudah mengatakan semuanya padaku." Verrel terdengar acuh, tapi Seir tak benar-benar bisa melihat ekspresi wajah Verrel. Apakah sahabatnya itu benar baik-baik saja seperti pikirannya.
Karena Verrel bersembunyi dalam kegelapan, Seir hanya bisa melihat tubuh Verrel tanpa bisa melihat bagaimana ekspresi wajah sahabatnya itu.
"Rell, aku juga sudah mendengarnya dari Rain, tentang kita. Maksud ku tentang.."
"Kau tidak perlu mengatakannya lagi Ell. Biarlah semua itu untuk ku sendiri saja. Meskipun kini kau sudah mengetahui semuanya. Tapi tak akan merubah apapun bukan?"
Seir tak tahu apakah suara renyah yang ia dengar barusan karena Verrel tersenyum ataukah karena pria itu hanya ingin menyembunyikan perasaannya. Seir benar-benar ingin tau.
"Karena bagiku, kau tetaplah orang yang sangat berarti." lanjut Verrel.
"Aku tau aku tak bisa sepenuhnya bahagia untuk mu dan Rain, setidaknya untuk saat ini.. tapi, aku merasa sedikit lebih baik karena mengetahui jika Rain bisa membuat mu bahagia."
Seir tersenyum. Ia juga merasa sedikit bersyukur karena cahaya dikamar itu tak sepenuhnya terang. Setidaknya Seir bisa menyembunyikan air matanya yang jatuh.
Hati Seir menjadi terenyuh saat mendengarkan Verrel. Bagaimana bisa ia tak menyadari ketulusan Verrel pada dirinya? tapi meskipun ia tahu, apakah semuanya akan berubah?
Rain juga sama berartinya bagi Seir. Bahkan Seir yakin, bahwa saat ini ia benar-benar menyukai Rain. Meskipun sadar, perasaannya telah melukai sahabat satu-satunya yang ia miliki.
"Hemm.. kamu benar Rell. Aku memang menyukai Rain, dan untuk saat ini, aku merasa bahagia dengan hubungan kami. Yah.. meskipun kau sendiri pasti tau, bahwa peringatan mu saat itu benar-benar terjadi." Seir sedikit mentertawakan dirinya.
"Aku tak bercanda dengan hal itu Ell.. " sela Verrel seakan melihat semua yang Seir alami setelah menjadi kekasih seorang Rain.
"Hemm.. kau benar. Hari ini saja hampir kacau karena Yukkie mengamuk didepan kami. Dan hampir saja Rain.."
Seir mengehentikan kata-katanya. Ia mencoba untuk menahan air matanya, tapi ternyata ia tak bisa. Ia merasa bersalah pada Verrel. Seir benar-benar tak ingin menyakiti Verrel seperti saat ini..
"Rell... " Seir berjalan lebih dekat pada Verrel hingga ia bisa melihat cahaya dari pantulan mata pria itu. "Maafkan aku.. aku sungguh minta maaf karena.."
__ADS_1
"Sssttttt... " Verrel menghampiri Seir dan memeluknya erat. "Tidak Ell.. jangan minta maaf padaku, ku mohon. Kau tidak melakukan apapun. Karena perasaan ini adalah masalah ku. Tolong jangan minta maaf." pinta Verrel.
Kini hati Verrel terasa lebih baik. Ia bisa memeluk Seir dan menghirup aroma Seir yang sangat ia rindukan.
Seir begitu hangat dan juga.. selalu membuat Verrel berdebar. Meskipun kini ia harus sadar, bahwa Seir mencintai pria lain, yaitu sahabatnya sendiri.
"Aku benar-benar bodoh karena tak menyadarinya Rell. Aku minta maaf.." Seir terisak sambil memeluk Verrel.
Bagi Seir, Verrel adalah sahabat sekaligus keluarganya. Verrel sama berartinya bagi Seir. Ia tak ingin hubungan persahabatan mereka berakhir begitu saja hanya karena ini.
Seir benar-benar ingin mempertahankan hubungan persahabatan mereka. Seir ingin memperbaiki semuanya.
Sama seperti dirinya, Seir juga tak ingin keberadaannya merusak hubungan pertemanan antara Rain dan Verrel. Seir ingin semuanya baik-baik saja. Apakah dirinya memang egois?
Dari luar kamar putranya, nyonya Rofthen mendengarkan semuanya dalam diam. Ia sengaja tak ingin mengganggu keduanya. Karena sudah cukup selama ini putranya itu bersembunyi tanpa mengatakan apapun.
Setidaknya, Verrel sudah mau menyelesaikan masalah diantara mereka dengan baik. Dan syukurlah jika semuanya berakhir seperti ini.
Nyonya Rofthen tersenyum, lalu kembali turun ke bawah. Ia akan mengantarkan camilannya nanti. Ah, putranya yang malang.
Bagaimanapun, nyonya Rofthen sangat tahu bagaimana putranya itu begitu menyukai putri dari sahabat suaminya, Seir.
Nyonya Rofthen sendiri berharap jika keduanya memang bisa bersama. Tapi ternyata, tak semua realita sesuai dengan ekspektasi. Tapi setidaknya, putranya telah belajar sesuatu.
Menunda tak akan merubah masa depan, hanya akan memperlama apa yang harusnya sudah terjadi.
...❄️...
"Terimakasih Rell. Terimakasih karena mau mendengarkan aku. Dan terimakasih juga sudah mengantar ku pulang." Ucap Seir saat tiba di depan rumahnya.
"Hemm.. terimakasih juga karena mau menemui ku lebih dulu Ell.." Verrel tersenyum. Meskipun kecewa dan hatinya terluka karena cintanya tak terbalas, tapi setidaknya ia masih bisa memiliki Seir sebagai seorang sahabat.
"Hem, Baiklah. Sampai bertemu besok di kampus. Aku menunggumu. Aku tak ingin kau mengurung diri lagi." pinta Seir, "Tapi jika kau masih butuh waktu, tolong kirimkan pesan padamu, aku akan datang padamu."
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1