SPELL

SPELL
SPELL-15


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Perut Seir terasa mual saat tatapannya tak sengaja terpaut pada sosok yang tak asing.


Tak jauh dari meja yang mereka tempati, ada Rain dan juga beberapa orang yang tak pernah Seir lihat sebelumnya. Mungkin keluarga pemuda itu, tapi entahlah. Demi Tuhan Seir tak ingin peduli.


Yang ia pedulikan saat ini adalah bagaimana jika Rain juga mengarahkan perhatian padanya. Sebenarnya hal seperti itu tak akan jadi masalah jika tak ada orang lain di sana, tapi sekarang, ada Verrel dan juga uncle Rofhten. Verrel sendiri adalah sahabat Seir, sekaligus sahabat Rain.


Apa yang harus ia katakan jika Rain melihat mereka sedang duduk dan makan dimeja yang sama? bukankah itu namanya bunuh diri? Sudah pasti akan membuat banyak pertanyaan tentang dirinya dan juga Verrel.


Ini memang bukan kali pertama mereka bertemu seperti ini. Sebelumnya Seir juga pernah berpapasan dengan Rain bersama dengan wanita yang saat ini duduk di hadapan Rain, tapi saat itu mereka masih orang asing.


Berbeda dengan sekarang..


Ah.. masa bodoh saja. Toh belum tentu juga Rain akan melihat ke arahku. Lagi pula restoran ini cukup ramai. Rain tak akan repot-repot meneliti semua pengunjung yang ada, bukan?


Lagipula apa urusannya dengan ku? kenapa aku yang harus repot-repot memikirkan semuanya seperti ini?


"Ella, kau baik-baik saja?" Verrel menyentuh pelan tangan Seir. Memperhatikan raut wajah gadis itu yang berubah tak nyaman.


"Aku baik-baik saja." Seir tersenyum samar. "Sungguh." katanya lagi meyakinkan Verrel. "Maaf, sepertinya aku harus ke toilet sebentar." Entah apa yang ada dipikirannya, saat ini Seir hanya ingin melarikan diri sejenak.


Meskipun tak tahu mengapa ia harus menghindari Rain, tapi Seir pikir inilah yang terbaik bagi mereka. Tak bertemu satu sama lain, dan Seir juga tak harus menjelaskan apapun pada Rain.


"Mau ku temani?" Verrel menawarkan diri, sementara itu Jhon dan juga Rofhten hanya saling bertukar pandang berkomunikasi melalui isyarat saat melihat putra putri mereka yang semakin hari terlihat semakin dekat.


"Tidak usah. Kau di sini saja temani papa dan Uncle. Jangan sampai mereka mengosongkan botol anggur itu."


Seir tersenyum samar pada ketiganya. Verrel juga tersenyum, sama halnya dengan papa Seir dan ayah Verrel yang sudah mengangguk pelan atas peringatan Seir. "Baiklah."


Setelah berpamitan, Seir langsung menuju ke toilet. Ia menyembunyikan dirinya cukup lama di sana. Seir sungguh tak tahu kenapa ia harus berlaku konyol hanya karena tak ingin kebenaran dirinya diketahui oleh Rain.


Setelah kolaborasi mereka selesai, Seir sungguh berharap hubungan nya dengan Rain juga akan selesai. Tapi nyatanya, tak semudah itu. Ahh... aku benar-benar sial.


"Apa yang ku lakukan? kenapa juga aku harus bersembunyi? aku tidak melakukan kesalahan apapun bukan?" Seir bergumam sambil menatap dirinya yang terpantul di cermin.


"Aku juga tidak berbohong. Pria aneh itu saja yang seenaknya menganggap aku sebagai pembantu. Sialan. Bukankah seharusnya aku yang marah?" sekali lagi Seir menunjukkan wajah kesalnya.


"Benar. Seharusnya aku tidak bersembunyi. Kalaupun aku ketahuan, apa masalahnya? aku tidak berbohong tentang apapun. Toh aku juga tidak merugikan siapapun. Tapi kenapa aku merasa seperti seorang penjahat!"


"Tidak.. Tidak.. Tidak boleh begini! Aku harus keluar. Jika pria aneh itu melihat ku? apa masalahnya.. jika dia melihat Verrel, apa masalahnya? aku yang lebih dulu menjadi sahabat Verrel, Rain hanya nomor sekian! kenapa aku harus cemas!"


Setelah meyakinkan dirinya, Seir pun bertekad untuk keluar dengan penuh percaya diri.


Dan andaikan bertemu dengan Rain pun, biar saja pria itu yang merasa malu karena selama ini telah berasumsi seenaknya tentang dirinya.

__ADS_1


"Oh ****..! Damn!!" Seir mengelus dada karena hampir saja bertabrakan dengan.. "Kau..?" Rain memperlihatkan ekspresi yang sama seperti Seir. Keduanya sama-sama terkejut karena bertemu ditempat seperti ini. Toilet.


Panik sialan! Tenanglah tenang! ini hanya Rain. Huh..


"Kamu ada disini juga?" Rain memperhatikan Seir dari ujung rambut sampai dengan ujung kaki. Jelas jika gadis itu terlihat berbeda dari sebelumnya,


"Waw.. aku tidak percaya bisa melihat mu seperti ini." Rain tersenyum samar. Antara pujian atau ejekan, Seir tak tahu pria itu melakukan yang mana.


"Aku.."


"Rain kau..?" suara lain menginterupsi keduanya. Mera juga berada di sana, di antara Seir dan Rain. Wanita itu ternyata menyusul Rain keluar..


Wajah Mera terlihat canggung saat melihat Rain yang begitu dekat dengan Seir, "Apa aku sudah mengganggu kalian?" tanyanya dengan tatapan yang mengusik ketenangan seorang Rain.


"Tidak.. tidak apa-apa.. kami hanya.."


"Kekasihku." sela Rain membuat Seir sedikit terkejut. Seir bungkam seketika dan juga tak berniat menjelaskan siapa dirinya.


Karena kini Seir tahu, ternyata wanita yang menatap mereka dengan tatapan penuh tanya adalah kekasih Rain. Ah, atau mantan kekasihnya? Tidak.


Bisa saja salah satu gadis yang tergila-gila pada pria gila disebelahnya. Bisa jadi. Tapi bukankah tadi Rain bilang kekasih, benar. Kekasih. Dasar gila.


Lalu bagaimana dengan gadis yang satunya? ya Tuhan, ini sungguh membuat pusing kepala. Apa jangan-jangan Rain seorang playboy? Tapi apa urusan ku memangnya..!


Seir tersenyum. Tak ingin terlibat lebih jauh dengan keduanya, Seir buru-buru mengulurkan tangannya, "Seir." katanya sambil tersenyum.


"Senang berkenalan dengan mu Seir. Aku Mera. Aku adalah.."


"Sepertinya aku dan kekasih ku harus pergi ada yang ingin kami bicarakan." Rain menghentikan Mera untuk melanjutkan kata-katanya. Sedangkan Seir merasa bersyukur jika keduanya segera pergi. Dengan begitu Seir bisa kembali ke mejanya dengan tenang..


Seir tersenyum.. "Baiklah kalau begitu.." Belum lagi Seir menyelesaikan kata-katanya, tangan Rain sudah melingkar di pinggang Seir dan membawanya meninggalkan Mera yang masih mematung menatap pada keduanya.


"Rain.. apa yang.."


"Diamlah." bisik Rain saat keduanya melewati pintu untuk keluar dari bagian toilet.


Setelah Seir dan Rain berada ditempat yang sepi, barulah gadis itu menyadari apa yang Rain katakan sebelumnya. Bukan wanita sebelumnya yang Rain maksud dengan kekasih, tapi dirinya.


Ya Tuhan, masalah apalagi ini? sejak awal bertemu pria itu, Seir sudah memiliki firasat jika Rain akan menjadi sumber kekacauan bagi dirinya.


"Rain apa maksudnya tadi? aku kira wanita itu.."


"Aku tak ingin menjelaskan nya. Dan maaf untuk yang tadi. Maaf karena berbohong tentang hubungan kita." Rain terlihat menyesal, tapi ada raut kesedihan dalam sorot mata pria itu. Apa ini?


"Untuk alasan apapun, kau tetap tidak boleh berbohong seperti tadi Rain." Seir berdecak sambil mengangkat tinggi rambutnya.


Tiba-tiba saja ia merasa gerah. Situasi tadi terlalu tiba-tiba bagi Seir yang tak tau harus menyikapinya seperti apa.


Tiba-tiba saja ia menjadi kekasih seseorang bahkan tanpa persetujuan dirinya..

__ADS_1


"Aku tahu. Aku juga tidak ingin berbohong Seir. Karena itu," Rain menghampiri Seir hingga membuat mata Seir membulat. Pria itu terlalu dekat.. "Kau jadi pacarku saja. Dengan begitu aku tidak berbohong tentang hubungan kita. Bagaimana?"


Untuk sesaat kepala Seir terasa pening. Ia tak bisa mencerna apa yang barusan Rain katakan pada dirinya. Selain itu, tiba-tiba saja ia menjadi mual karena menyadari betapa egois dan juga tak tau malunya Rain saat ini.


Apa karena sadar bahwa wajahnya seperti sebuah mahakarya seorang seniman dunia, karena itulah ia jadi arogan seperti ini?


"Kau sepertinya tidak mengerti.." Seir menarik dalam nafasnya lalu menghembuskannya dengan cepat. Bahkan ia tak berniat menutupi ekspresi wajahnya yang memandang rendah sikap Rain.


Sebelumnya pria itu sudah berbohong. Dan sekarang ia meminta Seir untuk menjadi kekasihnya. Apa-apaan semua omong kosong ini!


"Kau benar-benar sudah gila. Sebaiknya kau segera kembali ke meja mu. Aku akan menganggap perkataan mu tadi seperti mendengar angin lalu." ujar Seir tak tahan dengan sikap Rain yang menurutnya terlalu kekanak-kanakan.


Tapi belum sempat Seir menjauh, tangannya sudah lebih dulu ditahan oleh Rain. "Aku tidak bohong Seir. Anggap saja ini sebagai taruhan kita." Rain menatap Seir tanpa berkedip.


"Sebentar lagi akan diadakan perlombaan seni musik untuk merayakan ulang tahun kampus. Aku menantang mu Seir, jika dalam lomba itu kau kalah, maka kau harus menjadi kekasihku." Rain terlihat serius dengan kata-katanya.


Pria ini memang sudah gila!


"Lalu bagaimana jika aku yang menang?" sorot mata Seir sama arogannya dengan Rain.


"Kalau kau yang menang, maka aku akan menuruti tiga permintaan mu. Apapun itu. Bagaimana?"


Damn!


Untuk kesejahteraan dan keamanan hidupnya, Seir akan menolak tantangan Rain. Jujur saja sekarang maupun seterusnya, Seir benar-benar tak ingin terlibat hubungan apapun dengan Rain.


Dengan kata lain, sama saja dengan ia harus mengaku kalah bahkan sebelum mereka bertanding, dan hal itu akan melukai harga diri Seir. Karena jika menyangkut seni, Seir tak ingin melepaskan kesempatan yang dimilikinya.


Lagi pula, belum tentu Rain yang akan memenangkan tantangan itu bukan? bisa saja justru dirinya lah yang akan menang.. bagaimanapun Seir masih memiliki kemungkinan.


"Baiklah. Aku terima tantangan mu. Dan bersiaplah untuk kalah. Karena aku tak berniat untuk menjadi kekasih siapapun, termasuk dirimu." Peringat Seir dengan tatapan yang sama. Seir pintar dan juga mahir memainkan alat musik. Tak akan semudah itu mengalahkan dirinya..


Rain tersenyum sambil memegang erat tangan Seir. lalu mengecupnya lembut. "Senang mendengarnya." ujar Rain. Setidaknya kali ini Rain tidak terlibat dengan salah satu dari fans gilanya.


Mungkin inilah yang membuat Rain merasa nyaman berada di sekitar Seir, karena wanita itu tak memiliki perasaan apapun pada dirinya.


"Aku menunggu bagaimana kau akan mengalahkan aku.."


"Yah, nantikan saja kekalahan mu, Rain. Sampai saat itu tiba, aku harap kau menjaga sikapmu."


Rain tersenyum. "Aku tak sabar untuk menjadikan mu kekasih ku, Seir."


"Jangan bermimpi!"


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2