SPELL

SPELL
SPELL-11


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Satu minggu sudah berlalu, dan Seir belum juga menyelesaikan tugas kolaborasi yang diberikan pada mata kuliah wajibnya.


Bukan karena Seir tidak tahu siapa partnernya. Ia sudah bertanya tentang siapa si pria populer yang selalu dibicarakan akhir-akhir ini.


Hanya saja, pria itu tak mengikuti semua kelas yang seharusnya dihadirinya sebagai seorang mahasiswa. Aarrrgghhh... rasanya Seir benar-benar sial karena pria itu.


"Bagaimana tugas mu? apakah lancar?" Febby bertanya. Gadis itu duduk di sebelah Seir. Dengan atau tanpa alasan, mereka cukup akrab.


Seir masih bisa mentoleransi keberadaan Febby dalam lingkaran pertemanannya yang hanya berisikan dirinya dan Verrel, dan sekarang bertambah satu lagi.


"Aku berusaha mengerjakan semuanya sendiri, dan berharap pria menyebalkan yang tak pernah menunjukkan batang hidungnya itu mau menerimanya dan tidak berulah." Keluh Seir.


"Kabarnya Rain sudah absen sejak tiga minggu lalu. Tak ada alasan, dan para dosen pun sepertinya tak mempermasalahkan hal itu. Pengaruh orang dalam memang luar biasa." Febby kembali memberikan informasi yang tidak Seir tanyakan.


...Unknown number. "Bisa temui aku di perpus. Aku partner mu."...


Seir membaca pesan teks yang diterimanya. "Oh God. Syukurlah." ujarnya bernafas lega. "Ada apa?" Febby terlihat penasaran dengan binar kelegaan di wajah Seir.


"Aku harus pergi sekarang. Menyelesaikan masalah yang tertunda." gadis itu melangkah membawa semua barang-barangnya keluar dari kelas.


Setelah menaiki lift hingga tiba dilantai enam, Seir berdiri di depan perpustakaan yang sangat luas. Tempat dimana ia akan melihat si pria populer.


Seir masuk ke dalamnya dan mengirimkan pesan balasan. Alasannya jelas. Meskipun Seir tahu siapa nama partner nya, tapi ia tak tahu bagaimana rupa pria itu.


...To: Unknown number. "Aku di perpus. Kau dimana?"...


Seir masuk ke dalam melewati rak-rak buku yang menjulang tinggi. Banyak orang didalam sana, tapi suasananya benar-benar hening. Bahkan suara membalik buku pun tak terdengar.


...Unknown number. "Di baris ketiga VIP room."...


Cih. Ternyata inilah keuntungan menjadi pria populer yang memiliki orang dalam. Setahu Seir ruang VIP di ruang perpustakaan tidak pernah dibuka untuk umum, ruangan itu hanya boleh dimasuki oleh pemilik De Lune Exas.


Setelah melaporkan dirinya pada penjaga yang menunggu di depan pintu tersebut dengan menunjukkan pesan yang diterimanya, Seir pun dipersilahkan masuk ke dalam untuk menemukan pria yang bernama RAIN tersebut.


Benar saja. Tidak ada siapa-siapa di ruangan itu selain pria berjaket kulit hitam dengan kepala yang bertudung. Jenis pria misterius yang aneh.

__ADS_1


"Kau yang bernama RAIN?" Seir bersuara tak terlalu kentara mengingat mereka berada di dalam perpustakaan meskipun sebenarnya di sana tidak ada siapapun selain mereka berdua.


Pria itu berbalik dan menatap Seir. Keduanya sama-sama terkejut saat mendapati sosok masing-masing.


"Kau..?" "Kau..?" Keduanya sama-sama bersuara. "Hah.. dunia ini benar-benar sempit." Seir berdecak tak percaya.


Sejak awal ia memang sudah memiliki firasat jika pria yang dulu mengirimnya ke ruang penyimpanan akan menyusahkan dirinya dikemudian hari. Dan terimakasih hal itu sekarang menjadi kenyataan.


Padahal dengan segala keberuntungan yang dimilikinya, Seir sangat berharap jika mereka tak akan bertemu lagi semenjak pria itu meninggalkan rumahnya. Nasib sial apalagi ini.


"Mana bagian yang sudah kau kerjakan?" Rain mengulurkan tangannya. Tapi Seir justru mengalihkan pandangan dan mengambil sesuatu dari dalam tas nya.


Sebuah flashdisk berukuran kecil dengan bentuk biola. "Aku sudah mengerjakan beberapa bagian, kau bisa mengeceknya. Aku juga sudah membuat beberapa demo untuk bagian mu. Berikan pendapat dan jika kau tak suka, kau bisa membuat demo milikmu sendiri." ujar Seir.


"Hubungi aku jika kau sudah menyelesaikan bagian mu. Setidaknya kita harus berlatih sekali sebelum benar-benar berkolaborasi." gadis itu bicara hanya pada bagian-bagian yang penting saja. Ia tak berniat berbasa-basi pada si pria populer yang selama ini sudah membuat tugasnya tertunda.


"Kalau begitu aku pergi."


Seir berlalu bahkan sebelum Rain mengatakan apapun tentang apa yang diperintahkan gadis itu. Benar-benar sosok yang to the poin.


...❄️...


Diruangan itu sudah ada Yukkie dan juga gadis lain yang selalu membuntutinya.


"Hei.. Sobat. Senang melihatmu lagi." Bruro menghampiri Rain yang terlihat cuek. Sedangkan Verrel hanya tersenyum samar melihat kehadiran Rain yang selama beberapa minggu terakhir menghilang tanpa kabar. Dan syukurlah sahabatnya itu memutuskan untuk datang ke kampus.


"Rain, kamu pergi kemana saja. Aku benar-benar merindukan mu." Yukkie langsung bergelayutan manja memegang tangan Rain yang terlihat tak peduli.


"Kenapa ruangan ini penuh sekali. Rasanya aku tak pernah memberikan ijin untuk kalian membawa tamu lain selain orang-orang tertentu." Suara Rain terdengar dingin.


Tak ingin disalahkan Bruro langsung menjawab dengan tegas.. "Mereka datang sendiri sobat. Mereka menerobos." ujarnya. Kesepakatan diantara ketiganya adalah ruangan itu yang selalu menjadi ruang yang bersifat sangat privasi..


"Rain, kenapa bicara begitu. Aku tak bermaksud apa-apa berada ditempat ini bersama teman-teman mu. Aku hanya memberikan undangan pesta ulang tahunku yang akan diadakan lusa. Kau akan datangkan?" Yukkie tersenyum. Meletakkan undangan di depan Rain.


"Daddy ku juga mengundang uncle dan calon tunangannya. Kau harus datang dan menjadi pasangan ku. Sampai bertemu nanti di pesta Rain." Yukkie berlenggak-lenggok penuh percaya diri. Seolah-olah Rain akan menatap dirinya yang menggoda.


Tapi Rain hanya berpaling, dan menatap tajam pada undangan yang diletakkan didepannya. Jadi begini lah akhirnya, Daddy nya akan memperkenalkan Mera secara resmi sebagai seorang tunangan. Gila.


"Apa itu benar Rain, uncle akan menikah? dengan siapa?" Bruro memberikan pandangan yang haus akan kebenaran dari apa yang didengarnya barusan.


"Apa kau dan kak Viloen sudah bertemu dengannya? pasti seorang wanita yang cantik." Bruro mempertahankan senyum yang mengambang di wajahnya.

__ADS_1


Tanpa aba-aba sebuah buku mendarat di kepala Bruro membuat pemuda itu mengaduh, "Kau tidak lihat bagaimana wajah Rain. Kau benar-benar tak peka." Verrel mengomeli sahabatnya.


Diantara tiga sekawan, memang Verrel lah orang yang sangat memahami Rain. Keduanya sudah berteman sejak dikelas sembilan, sedangkan Bruro baru bergabung dengan keduanya dikelas sebelas.


Sedikit banyak Verrel yang lebih mengetahui tentang Rain dan juga hal-hal yang bersifat pribadi dari pria itu. Kecuali tentang Mera, baik Verrel maupun Bruro sudah tahu jika Rain memiliki wanita impian.


"Kau akan datang?" Verrel duduk di ujung meja dengan kaki terjuntai. "Entahlah.. " Rain tak ingin melihat kemesraan diantara Daddy nya dan juga Mera. Rain belum bisa menerimanya.


"Baiklah. Kalau kau datang, aku ingin memperkenalkan kalian pada seseorang." ujar Verrel tersenyum hangat pada kedua sahabatnya.


"Waw.. ada apa ini, seorang Verrel ingin memperkenalkan seorang gadis pada kami? apa kau bertemu dengan gadis baru dan sudah melupakan cinta pertamamu?" Goda Bruro, tapi Verrel hanya tersenyum.


"Bicara tentang gadis baru, rasanya aku juga sudah bertemu dengan belahan jiwa ku." Bruro juga menceritakan hal-hal kebetulan yang luar biasa yang terjadi pada dirinya.


"Aku bertemu seorang gadis yang memiliki wajah malaikat. Tapi sayangnya, tak seramah malaikat. Tipe gadis yang sulit untuk ditaklukkan." Bruro mengingat bagaimana Seir yang tak mempan terhadap rayuan-rayuannya meskipun ia sudah mencoba selama seminggu penuh.


"Sepertinya kau harus mengasah kemampuan mu itu kawan." Varrel tertawa kecil turut prihatin dengan kegagalan sahabatnya dalam memikat seorang gadis.


"Jangan mengejek ku. Jika kalian bertemu dengannya, aku yakin kalian juga tak akan bisa mendapatkan perhatian dari angel ku itu." kesal Bruro menanggapi cibiran Verrel.


"Ku harap kau pernah membaca bagaimana rupa malaikat yang sebenarnya." Verrel meninggalkan tempatnya lalu mengembalikan buku yang sejak tadi ia pegang.


"Bagaimana kalau kita pergi keluar pulau? aku ingin membeli sesuatu." Verrel kembali bersuara pada kedua sahabatnya. "Aku akan senang jika kalian mau ikut bersama ku."


Tanpa banyak pertimbangan, Rain pun menyetujui permintaan Verrel, "Ayo kita pergi". Benar-benar tak seperti Rain yang biasanya.


"Ini akan menjadi saat yang menyenangkan untuk melupakan kegundahan kawan. Bagaimana kalau kita juga menyewa tempat." Bruro mengajukan saran agar ketiganya bisa bersenang-senang.


"Terserah kalian saja."


"Apa kau berniat menjerumuskan temanmu pada pergaulan mu itu?" sindir Verrel. "Hei, aku tak seburuk itu kawan."


"Aku tidak mengatakan begitu, kau saja yang menyadari nya."


"Sialan."


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2