
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Rain duduk di balkon kecil yang ada di luar studio miliknya. Ditemani sekaleng minuman bersoda, Rain terus mengarahkan perhatiannya ke jalan raya.
Pandangannya bahkan tak pernah berpaling dari sana. Sesekali Rain juga memeriksa ponselnya yang terasa begitu hening. Tidak ada pesan ataupun panggilan yang tertera pada benda pipih tersebut.
Saat ini Rain sedang menunggu Seir. Mereka sudah membuat janji untuk latihan bersama sebelum menampilkan tugas kolaborasi untuk mata kuliah musik klasik.
Beberapa waktu lalu, Seir sudah mengirimkan pesan jika akan datang ke studio dalam tiga puluh menit, tapi sudah hampir satu jam lamanya Rain belum juga melihat tanda-tanda kemunculan gadis itu.
Meskipun tahu nantinya Seir akan tiba juga, tetap saja Rain ingin memastikan apakah Seir kesusahan untuk mencari studio miliknya atau justru...
"Yang benar saja. Aku sedang menunggu apa?" Rain bergumam kecil pada dirinya. Ia merasa bodoh karena bertingkah seperti sekarang.
Rain ingat, bahwa sebelumnya ia juga selalu melakukan hal seperti ini, dan akhirnya justru berakhir dengan kekecewaan yang teramat sangat.
Seharusnya Rain tetap mengingat semua itu dan tak melupakannya begitu saja. Ia harus membangun pertahanan hatinya dengan benar. Jika tidak, ia akan kembali terluka.
Tapi itu ceritanya dulu. Kisahnya bersama cinta pertamanya yang sebentar lagi akan berganti status menjadi mommy nya.
Mom...? Menyebalkan! Rasanya Rain masih belum bisa menerima gagasan tersebut..
Melihat wanita yang dulu dicintainya selalu ada disekitar memanglah pemandangan yang indah, bahkan Rain sangat menantikan hal itu. Tapi tidak jika wanita itu akan selalu bermesraan dengan Daddy nya.
Yang ada perutnya akan terasa mual, perasaan bencinya akan kembali bergejolak dan mungkin saja Rain kembali kehilangan kontrol.
Lihatlah. Bahkan saat ini pun ingatan tentang Mera kembali menyeruak memenuhi dirinya.
Tentu saja Rain masih belum bisa melupakan apa yang wanita itu lakukan pada dirinya. Mera sudah melukai hatinya. Menghancurkan cintanya, dan juga merusak mimpi Rain pada wanita itu.
Meskipun rasa sakit yang Rain rasakan kini sudah tak kentara, tapi sesekali dadanya masih terasa sesak saat mengingat Mera.
Melupakan tak semudah itu kawan. Itulah yang selalu Rain katakan pada dirinya. Ia harus selalu berusaha untuk mengembalikan kedamaian hatinya. Mungkin salah satunya dengan membalas apa yang wanita itu lakukan.
Bukankah rasa sakit akan hilang jika sudah terbalaskan? Cih. Rain tersenyum masam.
...Massage mode On...
Seir: Kau di studio? aku hampir sampai.
Rain: Aku melihat mu. Naiklah.
Seir menutup ponselnya dan mendongak untuk melihat Rain yang saat itu sedang bersandar di pinggiran balkon sambil menatap kearah dirinya. Rain memberi isyarat agar Seir segera masuk ke dalam.
Studio itu terlihat cukup luas dan juga tertata dengan rapih. Bangunannya memiliki tiga lantai. Lantai dasar digunakan sebagai tempat bersantai dengan sepasang sofa dan juga pantry.
__ADS_1
Ada juga beberapa ruangan dengan pintu yang tertutup rapat, entah digunakan sebagai apa.. Seir tak terlalu berminat untuk mengetahuinya.
Ia melirik sekilas, mengamati sekitar kemudian beralih untuk mencari jalan yang tepat.
Dengan tangga yang memutar, Seir kembali naik ke lantai dua. Ada tulisan De Lune Studio di sana, dan dari kaca yang transparan, Seir bisa melihat Rain yang belum berpindah dari tempatnya semula.
"Studio yang bagus." gumam Seir seraya melepaskan tas yang ia bawa dan mulai melihat-lihat beberapa alat musik yang tersedia di dalam studio tersebut.
Sepertinya, predikat orang terpopuler memiliki banyak keuntungan. Dan Seir yakin, bahwa studio yang mereka gunakan saat ini adalah salah satu fasilitas yang kampus berikan.
"Aku kira kau tersesat." Rain meletakkan kaleng minumannya yang tinggal sedikit kemudian menghampiri Seir.
Sepertinya Rain baru saja selesai mandi. Bau sabun dan juga Collonge segar menguar saat pria itu berjalan mendekat.
"Kau mahir memainkan apa?" Rain yang masih belum tau jenis alat musik apa yang bisa Seir mainkan hanya bisa bertanya untuk memastikannya sendiri.
Di studio miliknya tak banyak jenis alat musik. Hanya ada sebuah piano klasik, violin milik Rain yang dulu pernah ia mainkan saat di bangku sekolah menengah.
Sebuah gitar yang bisa dimainkan dengan dua cara, kemudian ada bas, dan juga satu set drum listrik yang kadang-kadang dimainkan oleh sahabatnya Bruro. Jadi Rain tak tahu mana diantara benda-benda tersebut yang bisa Seir gunakan.
"Kau ingin aku memainkan apa?" Seir menanggapi pertanyaan Rain dengan santai, "Aku bisa memainkan ini, itu dan juga yang ada di sana." Seir menunjuk pada Violin, gitar, dan juga piano.
"Aku juga bisa sedikit memainkan Celo. Ah.. dan juga bisa memainkan benda itu." Seir menunjuk pada bas yang terpajang di sebelah gitar milik Rain.
Mendengar kata-kata Seir yang penuh percaya diri membuat Rain tersenyum samar lalu mengambil gitar listrik miliknya "Aku tidak meminta mu untuk pamer keahlian." ujar Rain yang merasa sedikit gemas melihat tingkah Seir.
"Oh.. aku hanya menjawab pertanyaan mu. Itu saja. Dan maaf jika itu terkesan sombong. Tapi itulah kebenarannya."
"Bagaimana kabar tuanmu, apa dia puas dengan mobilnya?"
Rain belum sempat meminta maaf secara langsung pada pemilik mobil setelah hari itu. Saat tersadar dari mabuknya Rain hanya bertemu dengan Seir dan setelahnya ia benar-benar tak mengingat kejadian malam itu.
Karena waktu Rain sepenuhnya dihabiskan untuk menangani perasaannya yang sedang kacau.
"Aku akan mampir untuk meminta maaf. Bisa kau tanyakan pada tuanmu kapan aku bisa berkunjung?"
Seir belum mengatakan yang sebenarnya pada Rain, dan Seir juga tak mengatakan apapun pada papanya perihal Rain yang menyangka jika dirinya adalah asisten rumah tangga dirumahnya sendiri.
Terlalu merepotkan untuk menjelaskan semuanya.. biarlah Rain berpikir sesuka hatinya.
"Kabar tuanku baik. Dan yah, kau sudah bekerja keras untuk mengembalikan mobil itu seperti semula. Terimakasih untuk itu. Tapi sepertinya kau tak perlu datang. Tuan ku juga tak mempermasalahkan hal itu lagi."
Seir sungguh tak ingin Rain datang lagi kerumahnya. Lagi pula, setelah ini mereka tak akan memiliki hubungan apapun lagi.
Sudah cukup ia memiliki satu sahabat yang menjadi idola, dan Seir tak ingin menambah daftar orang-orang yang akan menyusahkan dirinya dikemudian hari. Meskipun itu hanya instingnya, tapi lebih baik berjaga-jaga.
"Kau yakin? tapi sepertinya itu tak sopan." Rain sedikit mengernyit. "Sungguh. Lagi pula, tuanku jarang ada dirumah. Beliau sibuk dengan pekerjaannya." ujar Seir meyakinkan Rain.
"Bagaimana jika kita mulai saja. Kau akan memainkan apa?" Seir melihat-lihat alat musik mana yang ia pilih untuk kolaborasi mereka nanti.
__ADS_1
"Aku akan memainkan gitar. Kau..?"
"Piano saja."
...❄️...
Setelah hampir satu jam berlatih untuk menyesuaikan tempo dan juga membagi part masing-masing, keduanya merasa cukup dengan latihan kolaborasi yang mereka lakukan.
"Mau minum sesuatu?" Rain meletakkan gitarnya, beranjak untuk turun ke lantai dasar. "Apa saja. Terimakasih."
...Massage mode On...
Verrel: Sudah selesai? mau ku jemput?
Seir : Sebentar lagi. Aku bisa pulang sendiri. Tunggu saja dirumah.
Verrel: Baiklah. See you Ell..
Sambil menunggu Rain kembali, Seir memainkan satu instrumen yang dulu sering ia mainkan saat keluarga kecilnya berkumpul untuk menghabiskan akhir pekan yang penuh kehangatan.
Setiap alunan nada yang Seir mainkan, mengingatkan dirinya betapa hangatnya senyuman orang-orang yang ia cintai saat menatap bangga pada dirinya. Seir rindu mommy nya..
"Waw.. itu sangat menyentuh. Permainan mu bagus." Rain bersuara setelah Seir selesai memainkan melodi terakhirnya. "Minumlah."
"Terimakasih." Seir tersenyum canggung saat Rain tak berkata apa-apa lagi. Pria itu hanya menatap dirinya tanpa bersuara.
"Sepertinya aku harus segera pulang." Seir mengambil tasnya dan juga minuman yang Rain letakan di atas meja.
"Bagaimana kalau ku antar saja? lagi pula sudah hampir gelap."
"Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri." tolak Seir. "Kau yakin?"
"Hem. Terimakasih untuk minumannya."
Rain tak bisa berbuat apa-apa. Seir sudah menolak tawarannya, karena itu Rain hanya memperhatikan Seir dari atas balkon studionya.
"Kau yakin bisa pulang sendiri?" teriak Rain sedikit lebih nyaring saat Seir mulai menutup pagar studio miliknya.
"Hem. Aku yakin." Sahut Seir yang langsung berjalan menjauh.
Seir tak ingin mengambil resiko dengan menerima tawaran Rain. Apalagi saat ini Verrel sedang menunggu dirinya. Tak akan.
Lagipula, setelah ini mereka hanya akan menjadi orang asing. Seir tak ingin memulai apapun diantara mereka.
Orang Populer. Sungguh istilah yang akan membawa Seir pada masalah..
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...