
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Pesta kecil yang dibuat oleh Mera adalah pesta yang di khususkan untuk para sahabat dan juga orang-orang terdekatnya saja.
Tujuan Mera mengadakan acara ini tidak lain karena ia juga ingin memperkenalkan Travis sebagai kekasih sekaligus calon suaminya secara resmi.
Selama ini Mera hanya di perkenalkan di kalangan Travis saja, tapi orang-orang terdekat Mera belum mengenal siapa pria yang sudah ia kencani selama satu tahun terakhir..
Mungkin semua orang di pulau Arandelle sangat mengenal siapa sosok Travis De Lune, hanya saja, mereka tidak tahu jika sosok yang begitu luar biasa itu adalah kekasihnya.
Mera tersenyum lembut saat membayangkan bagaimana kehidupan mereka setelah menikah nanti. Travis adalah sosok yang begitu hangat dan sangat mengerti Mera.
Mera akan bahagia jika bisa di cintai oleh sosok seperti Travis seumur hidupnya.
Karena itulah, pesta kecil ini Mera siapkan demi orang-orang yang selama ini telah berjasa dalam hidupnya. Mera ingin orang-orang juga merasa kebahagiaannya.
Sebagai tuan rumah, Mera sudah bersiap-siap untuk menyambut para tamu undangan. Mera sudah mengenakan gaun berwarna cerah yang menonjolkan bentuk tubuhnya dan juga sudah menguncir cantik rambut panjang bergelombang miliknya.
Pukul lima sore, tamu pertama yang datang adalah para tetangga Mera yang tinggal berdekatan dengan toko bunga miliknya..
"Selamat datang para nyonya." Sambut Mera, "Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk memenuhi undanganku."
"Selamat juga untuk mu sayang. Pesta ini sungguh indah." nyonya Berto tersenyum hangat sambil menepuk pelan punggung tangan Mera.
Para nyonya di sekitar sudah mengenal Mera cukup lama, dan bagi Mereka Mera sudah seperti putri mereka sendiri. Karena itulah mereka secara tulus ingin datang ke pesta sederhana yang Mera adakan.
"Terimakasih nyonya. Silahkan nikmati pesta dan hidangannya, aku senang sekali karena kalian bisa datang, sungguh." Mera benar-benar merasa terharu. Rasanya saat ini ia sudah dipenuhi oleh rasa bahagia yang mulai meluap.
Sementara Mera menyambut dan mengurus para tamu undangannya, saat itu juga keluarga De Lune tiba.
Travis datang dengan membawa sebuket bunga. Sementara Rain dan Viloen datang dengan mobil yang berbeda.
Mera tersenyum hangat menyongsong kekasih hatinya. Tanpa memperhatikan bagaimana Rain.
"Aku tahu jika kekasih ku sangat mahir merangkai bunga, bahkan jauh lebih cantik dari yang ku siapkan saat ini, tapi aku tetap ingin memberikannya padamu." Travis mencium pipi Mera lalu memeluknya mesra.
"Terimakasih Trav. Bunga ini sangat cantik, sungguh. Aku benar-benar menyukainya."
Tak ingin melihat pemandangan yang bisa membangkitkan rasa kesal dihatinya, Rain langsung menghindari Mera, meninggalkan Viloen dan juga Daddy nya yang masih bercengkrama dengan si pemilik pesta.
Di sana juga ada beberapa orang yang cukup dekat dengan keluarga De Lune. Seperti keluarga Aston dan juga keluarga Lumiere beserta putri mereka yang baru saja kembali dari luar pulau.
"Viloen. Terimakasih sudah datang." ucap Mera seraya mencari-cari sosok Rain yang sudah menghilang. Meskipun tahu jika kedatangan Rain adalah karena terpaksa tapi pada akhirnya pria itu tetap hadir. Mera bersyukur untuk itu.
"Terimakasih juga karena telah berbaik hati untuk mengundang kami nona Mera." Viloen tersenyum lalu mencium punggung tangan Mera yang terulur. Sebisa mungkin Viloen berpura-pura tak tau hubungan Mera dengan adiknya.
Viloen sudah berjanji pada Rain, jika mereka akan sama-sama merahasiakan hal tersebut demi kebaikan Daddy yang mereka cintai.
Viloen juga bisa melihat bagaimana adiknya hanya memalingkan wajah sambil menunjuk perasaan tak senang. Tapi Viloen tak bisa berkomentar akan hal itu.
Dari kejauhan, Rain bisa melihat Bruro yang sedang melambaikan tangannya padanya. Rain pun memilih untuk menghampiri salah satu sahabatnya itu.
"Hei, Rain.. kemari lah cepat." Bruro menarik Rain dan membawanya ke meja milik Bruro. Di sana hanya ada mereka berdua.
__ADS_1
"Rain, kau harus menceritakan ini padaku. Apa yang ku lihat ini benar-benar nyata?" Rain tahu apa yang saat ini dimaksudkan oleh sahabatnya itu.
"Kami semua tahu dengan pasti bagaimana selama ini kau mengejar-ngejar wanita yang ada di sana sobat.. dan bagaimana kau yang selama ini tergila-gila dan.." Bruro tak melanjutkan kata-katanya.
"Tapi sekarang, semua ini benar-benar terasa konyol." Semua hal yang baru saja dilihatnya benar-benar mengejutkan Bruro.
Mera yang seharusnya menjadi kekasih Rain justru berbalik dengan menunjukkan kemesraan dihadapan semua orang bersama dengan seorang Travis De Lune, ayah dari sahabat dekatnya.
"Apa uncle tidak tahu tentang kau dan.." Bruro berhati-hati dengan volume suaranya.
"Diam lah. Aku tidak ingin membahasnya lagi." Rain memicingkan matanya, kesal. Semua tentang Mera hanya akan membangkitkan kemarahan dalam hati Rain. Bahkan saat ini.
"Aku sungguh minta maaf Rain, hanya saja.. tunggu, apa Verrel juga tahu tentang ini?" tanya Bruro lagi. Rain menggeleng samar. "Sudah ku duga."
Jamuan pesta itu sudah di mulai, semua orang turut berbahagia atas kabar baik yang Mera umumkan. Tapi bagi sebagian orang yang mengetahui kebenaran di balik cerita yang bagaikan dongeng itu, menganggap bahwa hal itu sungguh sesuatu yang disayangkan.
"Tidak apa-apa sobat. Kami akan selalu ada untuk mu."
Sementara Travis dan Mera berdansa di tengah taman yang di kelilingi bunga dan juga kehangatan tawa dari tamu undangan, Rain, Viloen dan Bruro justru mengasingkan diri ke tempat yang cukup jauh dari kerumunan.
"Kak, apa kau juga tau tentang hal ini?" Bruro tak bisa menahan rasa penasarannya "Hem. Rain baru saja menceritakannya kenyataannya beberapa waktu lalu." aku Viloen.
"Sialan. Kami justru benar-benar baru tahu sekarang."
"Verrel juga pasti akan sangat terkejut jika tahu tentang ini Rain. Kau tau sendiri bagaimana selama ini Verrel mendukung hubungan mu dengan Mera. Tapi sekarang.. ya Tuhan. Ini benar-benar kacau."
"Memikirkannya saja sudah membuat perutku terasa mual. Kalau jadi kau, mungkin aku sudah mengamuk untuk melampiaskan kemarahan ku."
Bruro benar-benar tak menyangka jika pesta ini akan sangat mengejutkan dirinya.
"Hai, aku Layla." Seorang gadis menghampiri ketiganya. Tapi lebih tepatnya, gadis itu berdiri di depan Rain.
"Atau dansa di sana tidak akan di mulai." gadis itu menunjuk pada pasangan yang tidak lain adalah Mera dan juga Daddy Rain.
Semua mata kini menatap pada gadis yang sedang meminta Rain untuk menjadi pasangan berdansa nya tersebut.
"Bagaimana kalau aku saja." Bruro menawarkan diri. Bruro tahu jika Rain sangat membenci tipe-tipe gadis seperti Layla.
"Tidak. Biar aku saja." Rain menyambut tangan Layla dan menuntun gadis itu ke tengah taman. Sementara Travis hanya tersenyum melihat putranya yang mau berpartisipasi untuk memeriahkan pesta.
Musik pun dimulai, dan masing-masing pasangan langsung berdansa dengan begitu mempesona.
"Aku belum pernah melihat mu sebelumnya. Aku baru kembali beberapa hari yang lalu setelah tinggal cukup lama di kota A. Bagaimana dengan mu?" Rain diam.
Laki-laki itu selalu saja bersikap dingin terhadap wanita lain, . Ia tidak menghiraukan Layla sedikitpun.
"Terimakasih juga karena mau menerima ajakanku untuk,.."
"Aku tidak melakukannya untuk mu. Jadi diam lah." Kesal Rain yang ingin buru-buru menyelesaikan dansa pertamanya.
...❄️...
"Kau yakin ini pesta tertutup Rell, kelihatannya banyak sekali tamu yang datang. Memangnya ini pesta siapa..?" tanya Seir yang memasuki gerbang taman tempat pesta sedang diadakan.
"Pesta ini diadakan oleh Mera. Kau mungkin ingat tentang gadis yang kita temui di.." ingin menjelaskan secara detail pun, sesungguh Verrel menyangsikan jika Seir akan benar-benar mengingatnya.
"Nanti kau juga akan tau, kita akan segera bertemu dengannya." Verrel tersenyum.
__ADS_1
"Apa gadis ini juga termasuk Temanmu..?" dalam hatinya Seir sudah berpikir bahwa kali ini ia harus meladeni nona kaya lainnya. Sungguh melelahkan.
"Begitulah. Lebih tepatnya, wanita ini spesial karena merupakan kekasih dan cinta pertama Rain, Mera." ujar Verrel membeberkan kebenarannya.
Selama ini hanya sahabat-sahabat Rain sajalah yang mengetahui bagaimana tergila-gilanya Rain pada Mera. Rain bahkan rela melakukan apapun untuk wanita itu.
"Mera..? Jadi maksud mu mengajakku ke sini, karena kedekatan ku dengan Rain, dan kau ingin aku tau bahwa Rain memiliki orang lain di hatinya, begitu?" Seir bertanya untuk memastikan, dan juga ia merasa tidak asing dengan nama itu.
"Hmmm..Seir, aku tak benar-benar bermaksud seperti itu, hanya saja aku begitu peduli padamu, dan aku tak ingin kau terluka."
"Kau akan tau jika melihat mereka dengan mata kepalamu, bukan? jadi ayo. Akan ku tunjukkan siapa Mera. Nah, itu dia di.." Verrel menghentikan langkahnya sejenak karena terpaku pada pemandangan yang ada di depannya.
Verrel bingung karena melihat Mera yang seharusnya menjadi pasangan Rain justru terlihat berdansa dengan begitu mesra bersama Travis, ayah dari sahabatnya sendiri.
Keduanya benar-benar seperti sepasang kekasih sungguhan. Tidak.. tidak.. mungkin ini hanya perasaanku saja. Verrel mengusir pikiran itu jauh-jauh dari kepalanya.
Melihat Verrel yang mematung membuat Seir juga menghentikan langkahnya lalu menyentuh pelan pundak Verrel, "Ada apa?" tanya Seir.
"Tidak. Tidak apa-apa." Verrel tersenyum menutupi rasa tak nyaman dalam hatinya.
"Angel, kau datang juga?" Bruro tersenyum bahagia melihat kehadiran Seir di pesta itu. "Aku senang bisa melihat mu lagi."
Ah.. lupakan.."Tunggu, Verrel kau harus mendengar ini, ada berita yang sangat menggemparkan." Bruro mengecilkan volume suaranya.
"Apa..?"
Sementara keduanya berbicara mata Seir kini tertuju pada Rain yang baru saja melepaskan pelukannya dari gadis yang menjadi pasangan berdansa nya..
"Apa gadis itu yang bernama Mera?" tanya Seir saat melihat sosok Rain. Cih... dasar playboy!
"Mera adalah calon ibu tiri Rain." kata Bruro membuat Verrel sama terkejutnya seperti Bruro beberapa saat yang lalu.
"Apa...?"
"Apa..?"
Verrel dan Seir sama-sama terkejut.
"Sungguh, mereka baru saja mengumumkan pernikahan mereka beberapa saat lalu. Maksud ku, Mera dan Uncle Travis. Kau juga berpikir bahwa ini gila bukan..? aku pun begitu.." ujar Bruro.
"Dan yang lebih buruknya lagi, Uncle tidak tahu jika sebelumnya Rain dan Mera pernah memiliki hubungan."
"Kau serius?"
"Sungguh. Aku tidak bohong. Kak Viloen juga baru mengetahui semuanya. Ini benar-benar gila. Aku sendiri tidak menyangka bahwa hal seperti ini akan terjadi pada Rain."
"Kau lihat, Mera seakan melupakan bagaimana perjuangan Rain sebelumnya untuk mendapatkan wanita itu.."
Verrel dan Bruro sama-sama memandang serius pada Mera dan Travis yang saat ini sedang menunjukkan kemesraan mereka.
Bahkan keduanya berciuman dengan mesra di hadapan banyak orang. Ya Tuhan, Rain yang malang.
Sementara Seir, pandangannya tak teralih sedikitpun dari sosok yang saat ini juga tengah menatap dirinya.. Rain.
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...