
...❄️...
...❄️...
...❄️...
...Gadis pindahan baru yang berasal dari luar pulau Arandelle pertama kali menginjakkan kakinya di De Lune Exas....
Seir Estelle, merasa sedikit berdebar saat memasuki gerbang kampus yang terlihat megah.
Waw.. luar biasa karena bisa melihat bangunan semegah ini di sebuah pulau. Seir bersuara kagum dalam hati.
Meskipun tak berharap banyak dari tempat itu, Seir hanya ingin menyelesaikan pendidikannya lalu memulai kembali kehidupan yang baru bersama sang papa. Namun melihat pemandangan ini, sepertinya tak ada ruginya bagi Seir.
Setelah kepergian ibunya, Seir hanya bisa bersabar menghadapi perubahan sikap papanya. Seir sangat tahu jika mereka masih begitu merasa kehilangan dan sedang terpuruk karena kepergian ibu Seir yang tiba-tiba.
Tapi kehidupan mereka harus tetap berlanjut bukan? Karena itulah, Seir dan papanya membuat kesepakatan untuk meninggalkan tempat yang penuh dengan kenangan demi menjalani kehidupan yang jauh lebih baik di Arandelle.
Alasan mengapa papanya memilih sebuah pulau terpencil, dibandingkan kota lain atau negara lain, juga membuat Seir sedikit tercengang, tapi tak begitu ingin mempertanyakan keputusan papanya.
"Permisi. Boleh aku bertanya? maaf kalau aku menganggu mu. Aku hanya ingin bertanya sesuatu?" Seir bicara dengan sopan pada pemuda yang tengah asik memetik senar gitar dengan melodi yang tak dapat Seir temukan judulnya.
Tapi pria itu mengabaikan keberadaan Seir begitu saja. Dasar tidak sopan!
"Aku hanya ingin bertanya dimana ruang adminitrasi. Bisa tolong katakan padaku, aku baru disini." Seir masih menunggu. Ia berusaha tetap tenang, meskipun sadar bahwa pria didepannya benar-benar sedang mengabaikan dirinya.
"Apa mereka menggunakan bahasa yang berbeda? jangan-jangan dia tidak tahu apa yang ku katakan?''
Seir kebingungan sendiri. Apakah ia harus tetap berjalan dan memutari kampus untuk mencari orang lain yang lebih bisa memanusiakan seseorang sekaligus mengerti kata-katanya.. ataukah..
"Halo, apa kau mendengar ku?" kali ini Seir menggunakan bahasa Francis. Sebelumnya, Seir berjumpa beberapa orang yang menggunakan bahasa itu, jadi ia berpikir mungkin saja penduduk di sini menggunakan bahasa tersebut.
"Ya Tuhan, atau jangan-jangan orang ini tuli.."
Merasa terusik dengan keberadaan orang dibelakangnya, Rain pun menghentikan petikan gitarnya lalu berbalik untuk melihat pada si pengganggu.
Cih. Rain mendengus, tapi setelahnya ia tersenyum.. "Kau bilang siapa tadi dirimu?" Seir mengulurkan tangannya untuk bersikap sopan. Meskipun ditempat asalnya, hal-hal seperti ini sudah tidak terlalu diperlukan dalam pembicaraan antar teman sebaya.
"Seir Estelle. Ini adalah hari pertama ku. Jadi.."
"Ya.. Ya..baiklah." Rain menyela. Ia tak perlu tau siapa si pengganggu tersebut. Yang ia perlu tahu adalah, bagaimana membuat si pengganggu itu pergi secepatnya. Saat ini juga.. menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
"Kau lihat jalan itu?" Rain mengarahkan telunjuknya dan Seir mengangguk tanda ia mengerti jalan mana yang Rain maksudkan,
"Ikuti saja jalan itu. Setelah empat ratus meter kau harus berbelok ke kiri, kemudian di belokan selanjutnya masuklah ke jalur sebelah kanan. Di depannya nanti kau akan melihat tangga yang menuju ke lantai dasar."
"Ini bukan lantai dasarnya?" Seir sedikit kebingungan. "Tentu saja tidak. Sekedar informasi, gerbang dan juga tempat ini berada di lantai tiga." ujar Rain.
Karena memang begitulah mereka membangun gedung De Lune Exas. "Baiklah, kita kembali pada ruang administrasi." Rain kembali pada pertanyaan Seir sebelumnya.
"Setelah kau tiba di lantai dasar, kau perlu berjalan sekitar seratus meter lagi, lalu sekali lagi berbelok ke kanan, nah di sanalah ruangan yang kau cari." Rain tersenyum samar.
Merasa faham dengan penjelasan Rain, Seir pun yakin bisa menemukan tempat yang dicarinya. "Baiklah kalau begitu, terimakasih untuk bantuanmu."
"Tidak masalah. Semoga hari pertama mu berkesan." Rain hanya tersenyum saat melihat sosok Seir yang dengan polosnya percaya pada apa yang Rain katakan.
Pasti akan menyenangkan jika bisa melihat langsung bagaimana ekspresi gadis itu saat tahu apa yang akan ditemuinya di sana. Tapi Rain terlalu malas untuk..
"Rain..?" suara yang cukup familiar menyeruak dalam pendengaran Rain. Dengan langkah sigap, Rain ingin segera melarikan diri. Satu lagi pengganggu yang akan merusak paginya. Benar-benar sial.
"Rain tunggu aku. Aku mencarimu sejak tadi." Yukkie menggandeng tangan Rain sambil memeluknya mesra. "Ada apa?" suara Rain terdengar ketus. Rain memang selalu bersikap dingin pada Yukkie, apalagi di saat seperti ini, saat gadis itu menggoda dirinya.
Berbeda dengan Rain, Yukkie justru merasa semakin jatuh cinta setiap kali Rain bersikap dingin pada dirinya. Bagi Yukkie, sikap Rain yang seperti ini justru membuat hatinya berdebar.
Semakin sulit di dapatkan, maka semakin besar juga taruhannya. Itulah yang Yukkie pikirkan tentang Rain. Meskipun Rain tak pernah bergeming, tapi bagi Yukkie, Rain adalah cintanya. Sumber kebahagiaannya..
Tapi dalam sekali gerakan, Rain menarik lepas tangannya hingga membuat Yukkie sedikit terhuyung. "Jangan ganggu aku. Aku tak suka." peringat Rain, dingin.
"Aku mendengar kabar jika uncle akan menikah lagi, apa itu benar?" suara Yukkie agak lantang hingga menghentikan Rain yang hendak pergi meninggalkan dirinya.
"Kau sudah bertemu dengan calon ibu barumu? bagaimana dia, apa dia..?" Sialan. Siapa yang menyebarkan berita seperti ini..
"Aku rasa itu bukan urusan mu." Rain mendesis di depan Yukkie. "Aku hanya ingin berbagi cerita padamu Rain, karena kita..''
"Apa..? ada apa dengan kita?" Rain selalu tak suka jika Yukkie mengait-ngaitkan dirinya dengan gadis itu. Rain juga tak suka dengan rumor yang beredar tentang dirinya yang adalah calon tunangan Yukkie, berita yang bahkan tak tau dari mana asalnya.
"Tolong jangan dekati aku. Aku sibuk!" Rain berlalu begitu saja. Sementara Yukkie masih mematung di tempatnya.
Rain yang saat ini masih patah hati, sedang tak ingin di ganggu oleh siapapun. Termasuk Yukkie. Gadis yang selalu mengejarnya sejak di awal perkuliahan.
Tapi bagi Yukkie yang sudah terbiasa dengan cara bicara Rain justru semakin merasa terobsesi untuk bisa memiliki pria itu. Rain adalah pria miliknya. Jika ia tak bisa mendapatkan Rain, maka gadis manapun juga tak akan bisa..
...ANOTHER PLACE...
__ADS_1
"Apa anda mencari sesuatu nona? apa ada yang bisa saya bantu?" wanita paruh baya menawarkan diri pada Seir.
"Aku mencari ruang adminstrasi. Seseorang mengatakan padaku jika.." wanita di depan Seir tersenyum. Tapi entah kenapa Seir merasa jika senyum itu seperti menjelaskan sesuatu pada dirinya.
Apakah kali ini Seir melakukan kesalahan?
"Ruangan itu tidak ada di sini nona, melainkan ada dilantai lima gedung ini." Jelas si wanita paruh baya. "Di sini hanya ada tempat istirahat para pekerja, dan juga ruang kebersihan."
Ruang apa? Jadi aku ditipu? "Oh ****!"
"Maaf, maksudnya..?"
"Ya. Sepertinya anda tersesat.."
Mendengar penjelasan itu Seir hanya bisa mengepalkan tangannya mencoba untuk tetap tersenyum.
Bisa-bisanya ia percaya begitu saja pada pria yang sejak awal memang tak berniat untuk membantu dirinya. Sialan. Awas saja kalau kalau kita bertemu lagi...
"Sebaiknya nona menggunakan lift yang ada di sana. Anda akan langsung menemukan tempat yang anda cari saat anda keluar dari lift nanti." Saran si petugas wanita pada Seir.
Tak ingin berlama-lama ditempat itu, Seir pun mengikuti saran si petugas kebersihan, "Baiklah kalau begitu, terimakasih untuk bantuan anda." katanya, ramah.
Dengan langkah cepat Seir berjalan menuju ke arah lift, dalam hatinya ia berjanji tak akan melupakan hari ini.
Ah . sialan.. bisa-bisanya.
Seir pun baru menyadari maksud dibalik kata-kata Rain tadi pada dirinya, "Semoga hari pertama mu berkesan." Sialan. Apakah yang dimaksud berkesan adalah dengan tersesat diruang kebersihan..? dasar pria tak sopan!
Seir bahkan hampir tak bisa berkata-kata saat menyadari semua kebodohannya.
Pria seperti itu sering ia temui diluar sana. Pria bodoh yang hanya tau mengusili orang lain. Pria arogan dan tak memiliki hati.
"Aku yakin hanya wajahnya saja yang baik. Tapi otak dan moralnya pasti sangat mengecewakan. Kasian keluarganya."
Dalam perjalanan Seir bahkan tak berhenti mendumel. Ia benar-benar kesal.
Jika bertemu lagi, maka Seir akan memastikan pria itu mendapatkan tonjokan pada wajahnya. Sialan.
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...