
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Beberapa waktu sudah berlalu, Rain masih berusaha keluar dari kegundahan hatinya. Rain tak pulang kerumah, dan juga sering tak masuk kuliah.
Ia benar-benar sedang tak ingin bertemu siapapun. Rain kembali mengingat pertemuan terakhirnya dengan Mera. Bagaimana wajah Daddy nya saat memperkenalkan Mera pada dirinya. Dan tentang apa yang wanita itu katakan pada Rain..
Rain merasa terluka sekaligus merasa bersalah.
Mau seperti apapun ia berjuang, hati Mera tak akan pernah menjadi miliknya, karena yang di cintai Mera adalah Daddy nya. Pria yang juga sangat Rain sayangi.
Rain tak tahu harus bagaimana untuk menyudahi perasaan yang semakin hari semakin menyiksa dirinya. Karena begitu mencintai Mera, Rain merasakan sakit yang teramat sangat.
Seandainya saja hati Mera bisa berubah, maka Rain rela melakukan apapun; tapi sekarang, Mera sudah tak bisa menjadi tujuan bagi Rain.
Mera telah menjadi tujuan dan mimpi pria lain, Daddy nya. Meskipun begitu menginginkan Mera, bukan berarti Rain juga harus merusak kebahagiaan Daddy nya.
"Mera.. Mera... apa yang harus ku lakukan dengan perasaan ini? hem.. ini sangat menyakitkan sekaligus sulit untuk ku. Bagaimana bisa kau melakukan ini." Rain kembali menghabiskan isi gelasnya.
Karena kegundahan hatinya yang tak kunjung menghilang, Rain merasa terpenjara, karena itulah Rain pergi untuk menghibur diri. Dan di sinilah ia berada, di salah satu kedai minuman ternama di pulau Arandelle.
Rain tidak berniat bicara pada Viloen ataupun para sahabatnya meskipun orang-orang itu akan dengan senang hati mendengarkan dirinya.
Rain hanya ingin memikirkan semuanya sendiri. Menata hatinya, adalah pekerjaan tersulit yang pernah Rain lakukan.
"Sialaaaaan... Sialaaaaannn.. perasaaaan siiiaaalaaaannn..." Gumam Rain tak karuan. Ia bercerita, menangis, bahkan tertawa seorang diri. Rain tak peduli jika orang lain menganggap dirinya tak waras, yang Rain tahu, ia hanyalah seorang pria yang sedang patah hati..
Setelah menghabiskan sebotol penuh, Rain pun memutuskan untuk menyudahi pelampiasan dari kegundahannya tersebut.
Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. Rain berniat kembali ke studio miliknya. Dengan tubuh yang sempoyongan, Rain berjalan keluar.
Namun belum lagi ia benar-benar meninggalkan kedai, sesuatu dalam perutnya sudah bergejolak minta di bebaskan. Dengan sedikit berlari, Rain menuju ke pojokan kedai untuk memuntahkan isi perutnya.
"Ah... benar-benar sial."
Setelah merasa sedikit lebih baik, Rain merogoh pelan kantong celana untuk mengambil kunci mobilnya. Senyum samar muncul saat Rain bisa menemukan benda kecil tersebut.
Tak butuh waktu lama, kini Rain sudah berada di dalam mobil dan siap melaju meskipun dengan kepala yang terasa berat, ditambah lagi penglihatannya kini mulai berkunang-kunang.
__ADS_1
Saat mesin dihidupkan, Rain menginjak pedal gas mobilnya berniat meninggalkan kedai secepat mungkin, tapi apa daya, bukannya melaju ke depan, mobil Rain justru bergerak sebaliknya.
Dalam hitungan detik mobil Rain sudah menghantam mobil milik pengunjung lain yang terparkir tepat di belakang mobil Rain..
"Ah.. sial!" Rain keluar dengan terhuyung. Saat ini Rain tak bisa memikirkan apapun, kepalanya benar-benar terasa sakit. Tak lama waktu berselang, pemilik mobil yang menjadi sasarannya pun keluar dari dalam kedai.
"Wow.. wow.. man. Ada apa ini?" Jhon sedikit terkejut saat melihat bemper depan mobilnya sudah penyok dihantam, semetara pemuda didepannya terlihat aneh.
Rain sendiripun berusaha menyadarkan dirinya, dan ingin bertanggung jawab atas perbuatannya, tapi apa daya ia tak bisa mengatasi rasa mabuknya yang terlalu besar.
"Kau yang melakukan ini anak muda?" Jhon bertanya sekali lagi pada Rain. "Ah, tentu saja. Siapa lagi kalau bukan kau." Jhon bicara pada dirinya sendiri.
"Maafkan aku tuan.. aku.." belum lagi Rain menyelesaikan kata-katanya, tubuh pria itu sudah ambruk tepat di depan Jhon.
"Oh.. ****! Dasar anak muda." Jhon menggerutu saat tahu bahwa kini ia mendapat pekerjaan tambahan.
Sama-sama dalam kondisi yang sedikit tak stabil, Jhon hanya bisa membawa pemuda mabuk itu kembali kerumahnya..
"Papa..?" Seir menyongsong secepat mungkin saat melihat Jhon yang tengah membawa seseorang di punggungnya.
Seorang pria yang sedang tak sadarkan diri. Ya Tuhan.. perasaan Seir berubah tak nyaman. "Ada apa ini papa?" Seir sedikit cemas. Kalau-kalau papa nya sudah membuat kekacauan diluar sana.
"Papa pergi ke kedai minuman lagi?" Seir mengerutkan kening tak suka saat mencium bau alkohol yang cukup kuat berasal dari papanya.
"Ya. Tapi papa tidak mabuk. Papa hanya minum tiga sloki, jangan khawatir, tapi pemuda inilah yang sepertinya terlalu mabuk." Jhon memperhatikan Rain secara keseluruhan.
"Papa minum bersama pria ini?" Seir tak percaya dengan gagasan yang keluar dari mulutnya. Bagaimana bisa papanya yang sudah cukup berumur menjerumuskan seorang pria muda pada hal-hal yang merusak kesehatan.. Ya tuhan.
"Oh.. tentu tidak sayang. Mau bagaimana pun sepertinya pria ini masih dibawah umur." syukurlah jika papa nya tau akan hal itu..
"Sungguh? papa tidak sedang mengelak bukan?"
"Sungguh sweetheart. Papa berani bersumpah padamu. Pria ini yang mabuk.. dan.."
"Ahh...ada-ada saja." Seir menatap cemas pada Jhon dan pria yang sedang tak sadarkan diri diatas sofa mereka.
"Jika diperhatikan, pemuda ini bukan berasal dari keluarga tak punya bukan?" Jhon memperhatikan Rain dengan seksama, begitu juga dengan Seir, hanya saja ia tak mengerti kenapa mereka harus tau pria itu berasal dari keluarga seperti apa.
"Apa maksud papa?"
"Pria ini menabrakkan mobilnya ke mobil papa, kemudian seperti ini." cerita Jhon secara singkat. Seir langsung menghampiri papanya dengan raut wajah cemas. "Papa terluka? di bagian mana? katakan dimana yang sakit?"
__ADS_1
"Tenanglah sayangku, papa baik-baik saja. Hanya sedikit mabuk, tapi tak masalah.'' Seir menghela nafas lega. "Putriku yang cantik jangan khawatir." Jhon mendekati Seir lalu memeluk singkat putrinya.
"Bukan seperti ini kesepakatan kita papa?" Seir melipat tangan di dada, kini nada suaranya jauh lebih serius dari sebelum mereka membahas tentang hal apa yang papanya lakukan.
"Setelah kita pindah ke sini papa bahkan tak pernah absen untuk pergi ke kedai itu. Bukankah kita pindah kesini untuk memulai kehidupan yang baru papa, tapi kenapa.."
Seir tak berniat memerahi papanya, hanya saja.. kesabarannya tak sepanjang itu untuk selalu mentoleransi perbuatan sang ayah.
Bukankah mereka sudah berjanji untuk memulai hidup yang lebih baik? tapi kenapa setiap hari yang dilihatnya hanyalah pria mabuk yang sedang sempoyongan, bahkan meracau tak jelas?
"Papa tau sayang. Papa salah, maafkan papa." Ujar Jhon yang menyadari perasaan kecewa putrinya.
"Sekarang papa masuk dan istirahat saja, biar aku yang mengurus pemuda ini." pinta Seir, namun Jhon tak bergeming. "Papa.." Sier mengulang kata-katanya. "Baiklah sayang, papa akan mendengarkan mu."
Melihat Jhon yang sudah berjalan menaiki tangga, perasaan Seir menjadi sedikit lebih baik. " Selamat malam papa. aku mencintaimu."
"Selamat malam juga putriku tersayang.." Jhon melambai dengan senyum lebar, meskipun langkahnya sedikit gontai.
Kini tinggallah Sier dengan seorang pria mabuk di depannya; Sejak tadi Seir sudah memperhatikan wajah Rain, dan ingatan Seir tak akan salah tentang pemuda itu. Pemuda yang sudah dengan sengaja mengirimkan dirinya menuju ke gudang penyimpanan.
"Ku kira pulau ini terlalu besar untuk melihat mu lagi, tapi lihatlah.. sepertinya karma terlalu cepat datang padamu." Seir tersenyum sinis.
Dasar pria sialan.
Sebelumnya kau membuat ku pergi ke gudang penyimpanan, tapi sekarang lihatlah. Kau bahkan datang ke rumahku dengan kondisi seperti ini.
"Keluarga mu benar-benar kasihan memiliki putra seperti mu." Seir meringis.. "Arrrgghhh... sepertinya aku juga.." Sial.
Melihat Rain yang benar-benar tak sadarkan diri, Seir memutar otak agar menemukan cara untuk memindahkan Rain dari atas sofa mereka.
Seir sudah berjanji untuk mengurus pria mabuk itu. Bagaimanapun, Seir masih memiliki hati. Tidak seperti seseorang.
"Hei.. bangunlah! Kau sungguh-sungguh akan melakukan ini padaku?" Seir menarik tangan Rain, tapi pria itu tak bergeming.
"Sepertinya pulau ini benar-benar tak menyukai ku."
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1