
Seorang pria tampan duduk di sofa ruang tamu di kediaman orang tua Kevin. Ia menunggu dengan tenang untuk bertemu dengan wanita yang begitu berarti untuknya. Namun siapa sangka dibalik sikap tenangnya itu, hatinya begitu bergemuruh. Ia tak pernah menyangka akan menemui wanita yang ia cintai dan kini sudah menjadi milik pria lain.
Tak lama kemudian wanita yang paling ia tunggu datang bersama dengan seorang wanita yang bisa ia tebak merupakan mertua dari Jingga.
" Jingga... " ucap Satria sambil berdiri dari tempatnya duduk.
Jingga sedikit kaget melihat keberadaan kakak tirinya itu. Ia tidak menyangka jika Satria akan datang menemuinya. Lagipula sejak kapan pria itu kembali ? Setelah lama tak memberi kabar, kini pria itu justru berada di hadapan Jingga.
" Kak... " sapa Jingga.
" Dia siapa Jingga ? " tanya Mami Sita mengamati pria yang berdiri di depan mereka dan terlihat seumuran dengan Kevin itu.
" Saya Satria, Nyonya. Saya... "
" Kak Satria ini kakak tiri Jingga, Mi " ucap Jingga memotong ucapan Satria.
" Oh, jadi kamu masih punya kakak ? Mami pikir kamu tidak punya kakak karena Kevin tidak pernah cerita " sahut Mami Sita.
" Saya Sita, mertuanya Jingga " ucap Mami Sita ramah. Ia merasa senang karena bisa mengenal keluarga Jingga.
Mami Sita mempersilakan Satria untuk duduk dan ia pun duduk disamping Jingga.
" Jadi kenapa Nak Satria tidak hadir di acara pernikahan Jingga kemarin ? " tanya Mami Sita penasaran.
" Saya minta maaf, Nyonya... "
" Tante... Panggil saja saya, Tante. Tidak perlu formal toh kita kan sudah menjadi keluarga " sela Mami Sita membuat Satria menggangguk paham.
" Saya sedang berada di luar negri pada saat itu. Dan juga Jingga tidak memberitahu saya rencananya untuk menikah " ucap Satria jujur sambil melirik ke arah Jingga.
__ADS_1
" Oh begitu... Sayang sekali ya. Padahal Tante ingin mengenal keluarga Jingga. Tapi tidak apa, yang penting kita sudah menjadi keluarga sekarang " sahut Mami Sita lagi dengan ramah.
" Maaf, Tante... Saya mau minta ijin untuk membawa Jingga keluar sebentar. Ada yang ingin saya bicarakan dengan Jingga mengenai pernikahannya dan ada banyak hal yang harus kami bicarakan selama kami berpisah " pinta Satria.
Mami Sita sebenarnya merasa aneh dengan permintaan Satria. Jika hanya ingin bicara, di rumah saja pastinya bisa. Akan tetapi Mami Sita tidak berpikiran buruk. Mungkin Satria ingin suasana yang lebih privat karena sudah lama tidak bertemu dengan Jingga.
Mami Sita menatap Jingga lalu tersenyum melihat menantunya itu.
" Tentu saja boleh. Pasti ada banyak hal yang ingin kalian bicarakan. Apalagi kalian sudah lama berpisah " ucap Mami Sita.
Jingga menatap ibu mertuanya itu.
" Pergilah ! Tapi kamu harus meminta ijin kepada Kevin dulu " seru Mama Sita sambil menepuk tangan Jingga.
Jingga mengangguk lalu meminta ijin untuk bersiap lebih dulu. Jingga juga menghubungi Kevin untuk meminta ijin agar bisa pergi bersama Satria.
" Iya, kenapa Jingga ? " tanya Kevin saat menjawab panggilan dari Jingga.
" Kakak ? " Kevin balik bertanya, ia mengernyit heran karena selama ini Jingga tak pernah menceritakan bahwa dirinya memiliki seorang kakak.
" Iya, Kak Satria. Dia anaknya Mama Siska, selama ini dia berada di luar negri dan baru kembali " jawab Jingga.
" Dia kakak tirimu ? Untuk apa dia menemuimu ? " tanya Kevin lagi, sedikit curiga karena khawatir jika kakak tiri Jingga itu berniat jahat seperti ibunya.
" Jangan khawatir Mas... Kak Satria tidak seperti Mama Siska. Kak Satria selalu membela Jingga. Kak Satria hanya ingin berbicara saja, karena kami sudah lama tidak bertemu dan sekarang Jingga menikah tanpa mengabarinya " jelas Jingga.
" Ya sudah, kamu pergi saja. Hati-hati ya ! " seru Kevin.
" Iya, terima kasih Mas " sahut Jingga lalu menutup panggilan.
__ADS_1
Akhirnya disinilah Jingga dan Satria berada. Di sebuah tempat makan yang sering mereka datangi bersama. Sebuah tempat yang memiliki banyak kenangan bagi mereka berdua. Terakhir mereka ke tempat ini adalah saat perpisahan karena Satria akan pergi ke luar negri.
" Kamu masih ingat tempat ini, Jingga ? " tanya Satria sambil memperhatikan wajah Jingga yang semakin cantik setelah lama tidak bertemu.
Jingga hanya mengangguk sambil memandangi pepohonan yang mengelilingi cafe dengan konsep alam tersebut.
" Terakhir kali kita berada disini, aku berjanji akan membawamu pergi. Aku bekerja keras untuk bekal kehidupan kita nanti. Bahkan aku rela terpisah jauh darimu untuk menciptakan kehidupan yang layak untuk kita. Tapi kenapa kamu melupakannya ? Bahkan kamu malah memilih menikah dengan laki-laki itu. Kenapa Jingga ? " tanya Satria sambil menatapi Jingga yang tak berani untuk menatapnya.
" Lalu Jingga bisa apa ? Satu-satunya orang yang bisa membuat Jingga merasa aman saat itu hanyalah Kevin. Apa kakak tahu apa yang sudah Mama Siska lakukan pada Jingga ? Beruntung Kevin disana dan menolong Jingga. Jika tidak ada Kevin, entah bagaimana nasib Jingga saat ini. Mungkin Jingga sudah jadi istri simpanan laki-laki yang membeli Jingga dari Mama Siska " jawab Jingga.
" Aku tahu, yang Mama lakukan itu salah. Lalu kenapa kamu tidak memberitahuku. Kamu malah memilih untuk menikah dengannya "
" Bagaimana cara Jingga memberitahu Kak Satria ? Apa kakak lupa, kakak yang memutus komunikasi diantara kita. Jingga terus menunggu kepastian yang entah kapan berakhir. Dan sekarang Kak Satria datang bertanya kenapa ? " sahut Jingga.
" Aku minta maaf, Jingga... Maaf karena membuatmu menunggu tanpa kepastian. Tapi aku melakukan ini untuk kebaikan kita. Agar aku lebih fokus membangun karir dan secepatnya aku bisa membawamu bersamaku " balas Satria.
Jingga menggeleng lemah,
" Kita sudah tidak mungkin lagi bersama, Kak. Lupakan Jingga ! Kita tak diciptakan untuk bersama " ucap Jingga yang tentunya membuat Satria tak bisa menerima begitu saja.
Satria menggenggam tangan Jingga dengan erat.
" Tidak, Jingga... Aku mencintai kamu dan aku tahu betul kamu pun mencintaiku. Tinggalkan dia, Jingga ! Kita bangun kehidupan kita berdua. Aku tahu pasti ada alasannya sehingga kamu menerima pernikahan ini " ucap Satria menatap lekat ke dalam mata Jingga, mencari kebenaran atas sikap Jingga.
" Hubungan kita sudah berakhir, Kak ! Semenjak kakak memutuskan komunikasi, sejak saat itu tidak ada lagi yang bisa kita perjuangkan. Jingga sudah menyerah dengan hubungan kita. Lagi pula Mama Siska tidak akan pernah menyetujui hubungan kita, Kak ! " sahut Jingga.
Satria menggeleng lalu menghela nafasnya.
" Jangan katakan hubungan kita berakhir. Aku masih berjuang untuk kita. Kita masih bisa berjuang bersama... "
__ADS_1
" Tapi Jingga sudah menyerah Kak ! Kakak pikir Jingga tidak berjuang selama ini ? Selama 3 tahun ini, Jingga berjuang dengan cara Jingga sendiri. Berjuang mempertahankan perasaan Jingga untuk Kak Satria. Berjuang dengan meyakini jika kakak akan segera kembali menjemput Jingga walau tiada kepastian yang Jingga dapat. Tapi Jingga tetap berharap Kak Satria kembali. Bahkan saat Mama Siska menjual Jingga... Jingga berharap Kak Satria yang menyelamatkan Jingga... " Jingga mulai mengeluarkan air matanya.
" Sekarang, lupakan Jingga ! Lupakan perasaan kita dulu. Biarkan Jingga berbakti kepada suami Jingga. Kakak tidak perlu lagi mengkhawatirkan Jingga. Sudah ada yang bertanggung jawab atas diri Jingga " ucap Jingga sambil menyeka air mata yang terlanjur luruh di pipinya.