Story Of Kevin Argajaya

Story Of Kevin Argajaya
Kecelakaan Jingga


__ADS_3

Saat Satria keluar dari mobil, disaat itu pula seseorang keluar dari mobil yang berada di depannya.


Mas Kevin...


Batin Jingga dalam hati, saat melihat pria yang kini berada di hadapan Satria.


" Heh, apa maumu hah ? " bentak Satria kesal kepada Kevin.


" Yang aku mau adalah membawa istriku pulang. Kenapa ? Kau keberatan ? " tantang Kevin.


" Jingga tidak akan kembali bersamamu " ucap Satria.


" Benarkah ? Itu keinginanmu atau keinginan Jingga sendiri ? " balas Kevin memandang remeh kepada Satria.


" Tentu saja keinginan Jingga. Dan kami akan merawat anak kami bersama, kau tunggu saja perceraianmu "


" Brengsek ! Itu bukan anakmu... Bayi yang ada dalam kandungan Jingga adalah anakku ! Hentikan permainan licikmu itu Satria " teriak Kevin lalu tanpa aba-aba memukul Satria.


Melihat hal itu membuat Jingga keluar dari dalam mobil. Ia menghampiri Kevin dan Satria yang tengah adu kekuatan dengan saling memukul.


" Berhenti " pekik Jingga membuat baik Kevin maupun Satria menghentikan perkelahian mereka.


" Jingga....Ayo kita pulang, sayang ! Kasihan anak kita... Aku rindu sama kamu " ucap Kevin.


Jingga menggeleng lemah,


" Lupain Jingga, Mas ! Jingga tidak pantas jadi istri Mas Kevin " sahut Jingga.


" Apa yang kau bicarakan ini ? Kamu yang paling pantas mendampingiku. Apalagi ada anak kita dalam kandunganmu " tukas Kevin.


" Itu anakku, bukan anakmu " sahut Satria.


" Itu sudah jelas anakku ! Aku tahu saat itu kau tidak melakukan apapun pada Jingga. Kau hanya pura-pura tidur dengannya, bersandiwara lalu membuat foto agar Jingga percaya seolah telah terjadi sesuatu diantara kalian berdua " jelas Kevin membuat Jingga semakin bingung dan pusing.


" Oh ya ? Kau hanya berasumsi. Kau tidak ada disana saat itu " sanggah Satria.

__ADS_1


" Aku sudah memeriksa Jingga dan melakukan pemeriksaan. Bahkan dokter menyatakan tidak ada jejak kekerasan seksual pada Jingga " bener Kevin yang membuat Satria terdiam dan Jingga menatap Kevin dengan intens.


" Jingga... Ini hanyalah rencana Satria untuk memisahkan kita. Kau jangan termakan ucapannya... "


" Tidak, Jingga. Kau tidak usah mempercayainya. Kau lihat sendiri kan apa yangvsudah kita lakukan dalam foto itu. Lagipula bisa saja hasil pemeriksaan itu palsu " potong Satria kembali meyakinkan Jingga yang sepertinya lebih percaya kepada ucapan Kevin.


" Dasar brengsek ! Aku bukan orang yang suka memanipulasi seperti dirimu " ucap Kevin yang langsung menarik kerah baju Satria lalu mereka mulai saling menyerang kembali.


" Berhenti ! Kalian berdua berhenti ! " teriak Jingga berseru kepada Kevin dan Satria yang sedang terlibat adu jotos.


Melihat keduanya yang tak memgindahkan ucapannya membuat Jingga berlari meninggalkan mereka. Dan itu membuat Kevin dan Satria menghentikan kehiatannya lalu berlari mengejar Jingga.


" Jingga, tunggu ! Hati-hati...! Ingat kamu sedang mengandung " pekik Kevin mencoba untuk mengejar Jingga.


" Iya, Jingga ! Berhenti, jangan lari lagi ! " teriak Satria yang berlari di belakang Kevin.


Namun, Jingga tak mempedulikan teriakan keduanya. Ia terus berlari menyebrangi jalan hingga kemudian sebuah mobil yang melaju cukup kencang menabrak tubuhnya dan membuat Jingga tergeletak bersimbah darah.


" Jingga... " pekik Kevin dan Satria bersamaan.


" Jingga... Kamu harus baik-baik saja ! Ya Tuhan... Kumohon selamatkan istri dan anakku " ucap Kevin sambil mengangkat tubuh Jingga.


Pengendara mobil yang menabrak Jingga, membawa Jingga dan Kevin menuju rumah sakit terdekat. Sementara Satria mengikuti mereka secara terpisah.


Astaga, Jingga... Kenapa jadi begini ? Aku tidak ingin terjadi apapun kepadamu. Ya Tuhan, selamatkanlah Jingga !


Batin Satria sambil terus merapalkan doa.


Kini Jingga dalam penanganan dokter. Kevin berada di luar ruang tindakan menunggu dengan cemas. Sementara Satria, baru saja tiba saat dokter yang menangani Jingga keluar ruangan.


" Keluarga Nyonya Jingga ? " tanya dokter.


Dengan segera Kevin mendekati dokter tersebut.


" Saya suaminya, dok. Bagaimana keadaan istri saya ? " tanya Kevin begitu khawatir dengan keadaan sang istri.

__ADS_1


" Kami harus segera melakukan tindakan operasi mengingat bagian perut terkena benturan yang cukup keras sehingga mengalami pendarahan dan juga... "


Dokter tersebut menjeda ucapannya lalu menatap wajah Kevin yang nampak sangat kacau dan begitu khawatir.


" Mohon maaf, janin dalam kandungan pasien tidak dapat kami selamatkan " ucap dokter tersebut yang tentunya langsung membuat Kevin terpukul. Bahkan ia sampai mundur satu langkah dan meraup kasar wajahnya memdengar penjelasan dokter.


" Tolong selamatkan istri saya, dok ! Bagaimana pun caranya, tolong selamatkan istri saya ! Saya sudah kehilangan anak saya dan saya tidak ingin kehilangan istri saya juga " mohon Kevin sambil meraih tangan dokter tersebut.


" Baiklah, kami akan berusaha semaksimal mungkin " sahut dokter tersebut, kemudian kembali ke dalam ruangan untuk menyiapkan operasi.


Tubuh Kevin luruh di lantai. Kini ia menangis sambil memeluk kedua kakinya. Tak lama kemudian Mami Sita datang lalu menghampiri dan memeluk Kevin.


" Sabar, Kev... Kita berdoa saja, semoga dokter bisa melakukan yang terbaik dan menyelamatkan Jingga " ucap Mami Sita sambil mengusap-usap punggung Kevin.


" Kevin sudah kehilangan anak Kevin, Mi... Kevin tidak mau kehilangan Jingga juga " lirih Kevin.


" Tidak akan terjadi apapun kepada Jingga. Kamu harus yakin kalau Jingga akan baik-baik saja " ucap Mami Sita menenangkan Kevin.


Dari kejauhan Satria melihat bagaimana kesedihan Kevin. Ya, sepertinya Kevin memang sangat mencintai Jingga. Satria jadinmerasa sangat bersalah. Andai saja sejak awal ia dengan lapang dada menerima semuanya, tentu hal ini tidak akan pernah terjadi. Satria pun merasa sangat sedih atas apa yang menimpa Jingga.


Satria kini melangkahkan kakinya mendekati Kevin dan Mami Sita. Ia berdiri di depan keduanya, membuat Mami Sita seketika mendongak dan menatap tajam kepada Satria.


" Sudah puas sekarang ? Saya tidak pernah menyangka ternyata kamu orang licik, Satria " ungkap Mami Sita mengeluarkan kekesalan di hatinya.


" Maaf Tante... Saya tidak tahu akan seperti ini jadinya " ucap Satria penuh penyesalan.


" Apa kamu harus melihat Jingga mati lebih dulu baru menyadari kesalahanmu ? Sekarang kamu lihat kan, akibat keegoisan kamu justru Jingga jadi korban " cecar Mami Sita.


" Saya tidak egois ! Saya mencintai Jingga dan Jingga pun mencintai saya... " ucap Satria membela diri.


" Hah, bahkan kamu masih bisa membela diri. Kalian mungkin pernah saling mencintai, tapi kamu lupa jika saat ini Jingga sudah menikah dan itu berarti sudah tidak ada lagi cinta untukmu... " tukas Mami Sita.


" Tidak, saya yakin Jingga masih mencintai saya ! Dia hanya bingung meyakini hatinya sendiri " timpal Satria masih bersikeras.


Mami Sita tersenyum miring.

__ADS_1


" Jika dia masih mencintaimu, dia tidak mungkin menerima Kevin sebagai suaminya. Bahkan kini Jingga sudah hamil anak Kevin. Bukankah itu berarti Jingga sudah menyerahkan jiwa dan raganya kepada Kevin ? Jangan berdalih kamu sangat mencintai Jingga padahal kenyataannya kamu malah meyakiti Jingga. Apa kamu sadar apa yang kamu lakukan itu menyakiti Jingga ? Memaksanya mempercayai jika telah terjadi sesuatu diantara kalian, bahkan membuatnya bimbang dengan bayi yang ada dalam kandungannya hanya untuk membuatnya kembali kepadamu. Yang kamu lakukan itu bukan cinta, tapi obsesi. Karena orang yang tulus mencintai tidak akan memaksakan cintanya hanya untuk memiliki "


__ADS_2