
" Ha... Haziq... " ucap Aluna saat menyadari kehadiran Haziq disana.
" Jadi Haziq bukan anak Mama ? " tanya Haziq dengan mata yang mulai berembun.
" Haziq, bukan begitu sayang... "
Belum sempat Aluna meraih Haziq, Haziq sudah berlari keluar terlebih dahulu. Aluna segera keluar dari kamar sambil memanggil Haziq.
" Haziq... Haziq... Tunggu, Nak ! " panggil Aluna sambil setengah berlari diikuti oleh Jingga.
" Mas... Mas Damar tolong kejar Haziq, Mas ! " teriak Aluna kepada sang suami yang baru saja masuk bersama Kevin dari bagian belakang rumah.
" Iya, Mas. Tolong kejar Haziq, dia lari keluar " seru Jingga kepada Kevin.
Damar dan Kevin segera berlari keluar untuk mengejar Haziq. Mereka berpencar untuk mencari Haziq. Damar berlari ke arah utara dan Kevin ke arah selatan. Keduanya berlari sambil melihat ke kanan dan ke kiri berharap menemukan keberadaan Haziq.
Hingga setelah setengah jam berkeliling mencari, Damar tak menemukan Haziq dan memilih untuk kembali ke rumah Kevin. Berharap jika Kevin sudah menemukan Haziq.
Sementara Kevin memilih untuk duduk di sisi taman sambil mengatur nafasnya.
Kamu kemana Haziq sayang ? Jangan buat kami khawatir ! Ayah tak ingin kehilanganmu lagi...
Kevin berjalan menyusuri taman tersebut hingga kemudian ia mendengar suara isak tangis dari balik sebuah pohon. Karena penasaran, Kevin mendekati pohon tersebut lantas melihat sang anak yang tengah duduk memeluk lututnya dengan kepala menunduk.
" Haziq... " gumam Kevin lalu bergerak mendekati anaknya itu.
" Haziq... Kita pulang, sayang ! " seru Kevin lagi sambil duduk di samping Haziq.
Bocah tampan itu hanya menggelengkan kepalanya dengan isakan tangis yang masih belum mereda.
Kevin menghela nafasnya dalam-dalam. Ia tidak tahu apa penyebab Haziq sampai pergi dari rumahnya. Tapi sepertinya ia bisa menebak jika sang anak sudah mengetahui sesuatu.
" Haziq sayang, kita pulang yuk ! Mama sama Papa khawatir banget sama Haziq " ucap Kevin lagi.
" Haziq gak mau pulang, Mama, Papa bukan orang tua Haziq " sahut Haziq tanpa mengangkat wajahnya.
" Haziq tahu dari mana ? " selidik Kevin. Ia ingin mencari tahu alasan mengapa Haziq sampai pergi dari rumah.
__ADS_1
Haziq mengangkat wajahnya yang sudah basah dengan air mata.
" Tadi Haziq dengar sendiri Mama Luna bilang kalau Haziq ini anak... " Haziq tak meneruskan ucapannya, ia hanya menatap lekat kepada Kevin.
" Memangnya Haziq denger apa ? " tanya Kevin dengan suara lebih lembut.
" Tadi Mama Luna bilang kalau Ayah Kevin itu... Ayah kandung Haziq. Apa itu benar ? " tanya Haziq penuh rasa ingin tahu.
Kevin tersenyum tipis.
" Kalau ayah bilang Haziq memang anaknya ayah Kevin, apa Haziq percaya ? " tanya Kevin sambil balas menatap wajah bocah tampan itu dengan tatapan teduh dan penuh kerinduan.
Haziq bergeming. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bagi anak sekecil itu, tentunya akan sangat berat memahami apa yang terjadi dalam kehidupannya. Terlebih ia harus mengetahui jika selama ini yang merawatnya ternyata tidak ada hubungan darah dengannya.
Kevin dengan segera meraih Haziq ke dalam dekapannya lalu mengusap pucuk kepala bocah tersebut dengan penuh kasih sayang.
" Haziq... Haziq memang anaknya ayah. Dulu ayah tidak tahu keberadaan Haziq. Dan ayah sangat bersyukur karena Haziq dirawat dan dibesarkan oleh Mama Luna dan Papa Damar. Mereka sangat menyayangi Haziq, mereka bahkan tidak pernah membedakan antara Haziq dan Anik. Benar kan ? " tanya Kevin yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Haziq.
" Ayah Kevin dan bunda Jingga, baru mengetahui jika Haziq adalah anak Ayah. Karena itu, kami ingin agar Haziq lebih dekat dengan kami " tambah Kevin.
Kevin menghela nafasnya lalu kembali mengusap kepala Haziq.
" Haziq, tidak ada orang tua yang sanggup berpisah dengan anak kandungnya. Tapi meskipun Mama Luna dan Papa Damar bukanlah orang tua kandung Haziq, mereka pastinya juga tak akan sanggup berpisah dengan Haziq karena mereka sangat menyayangi Haziq dan mereka juga yang sudah merawat Haziq sejak bayi " jawab Kevin.
" Jadi ayah gak apa-apa kalau Haziq tinggal dengan mama dan papa ? " tanya Haziq.
Kevin membuang nafasnya kemudian tersenyum pada Haziq.
" Haziq, kalau hal itu membuat Haziq bahagia... Ayah rela, nak. Ayah rela Haziq bersama mama Luna dan Papa Damar. Asalkan kami boleh tetap mengunjungimu " jawab Kevin bijak.
" Kita pulang ya ! Kasihan orang-orang di rumah mencari Haziq. Mereka sangat khawatir " seru Kevin.
" Ayo, biar ayah gendong di punggung " tambah Kevin lalu mensejajarkan dirinya dengan Haziq.
Haziq yang semula sempat ragu, kini beranjak. Ia menuruti permintaan Kevin untuk naik ke punggungnya.
" Sudah siap ? Ayo kita meluncur... ! " ucap Kevin kemudian berdiri. Haziq melingkarkan tangannya di leher Kevin.
__ADS_1
" Kamu tenang saja. Ayah ini kuat, ayah akan selalu menjagamu agar tidak jatuh " ucap Kevin menenangkan Haziq.
Mereka berdua akhirnya kembali ke rumah. Baik Damar, Luna, dan Jingga, mereka semua berada di halaman rumah menunggu Kevin. Dan mereka sangat lega saat melihat Kevin menggendong Haziq di punggungnya.
" Haziq sayang... Kamu kemana ? Jangan buat bunda khawatir begini " ucap Aluna sambil memeluk Haziq yang baru saja turun dari punggung Kevin.
" Maafin Haziq ma, pa... " ucap Haziq menundukkan kepala.
" Maafin mama juga, sayang. Karena mendengar ucapan mama tadi, Haziq jadi pergi... Jangan pergi lagi ya ! Mama mohon ! " sahut Aluna sambil menggenggam tangan Haziq dan mengelus pipi bocah tampan itu.
Haziq mengangguk sambil menatap Aluna yang terlihat sangat khawatir.
" Mama jangan khawatir, Haziq baik-baik aja " ucap Haziq.
Mereka semua segera masuk ke dalam rumah dan menuju halaman belakang untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada Haziq.
Haziq sudah bisa menerima keadaan ini, kini sudah waktunya Haziq memilih untuk tinggal bersama siapa .
" Jadi Haziq, setelah mengetahui semuanya,.papa harap Haziq tidak membenci ayah Kevin dan bunda Jingga. Dan juga Jaziq boleh memilih untuk tinggal bersama siapa " ucap Damar.
" Semua terserah kepada Haziq " tambah Kevin sambil menatap anak laki-lakinya itu.
Haziq menatap Aluna dan Damar lalu berganti menatap Kevin dan juga Jingga. Jika saja tidak perlu memilih tentunya akan lebih mudah. Tapi ia memang harus memilih.
Kedua pasangan orang tua itu harap-harap cemas mengetahui keputusan yang akan diambil oleh Haziq.
Aluna bahkan terus menggenggam tangan Damar saking khawatirnya.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Kevin dan Jingga. Mereka pun saling berpegangan tangan.
Haziq menatap ke arah pasangan orang tuanya itu. Ia kemudian berjalan menuju ke arah Aluna dan Damar lalu memeluk mereka berdua.
Air mata menetes di pipi Jingga saat ternyata Haziq lebih memilih kedua orang tua angkatnya dibanding sang suami yang merupakan ayah kandungnya.
Melihat hal itu, Kevin segera menyeka air mata yang membasahi pipi Jingga.
" Jangan sedih, sayang... Mungkin ini jalan terbaik yang Tuhan pilihkan untuk kita " ucap Kevin lalu memeluk Jingga.
__ADS_1