
" Mas... Kamu kenapa ? Perasaan dari tadi diem terus. Lagi mikirin apa sih ? " selidik Aluna bertanya kepada Damar yang baru saja selesai membersihkan diri.
" Gak apa-apa kok sayang. Kamu sama anak kita apa kabar, baik-baik aja kan anak papa ? " ucap Damar sambil mengusap perut Aluna.
" Baik kok Papa, gak usah khawatir " sahut Aluna sambil tersenyum.
" Syukurlah. Sehat terus ya anak papa ! "ucap Damar lalu menundukkan tubuhnya kemudian mencium perut Aluna.
" Mas... Kamu baik-baik aja kan ? " tanya Aluna lagi sambil meraih wajah Damar.
" Hem, aku baik-baik saja... " jawab Damar singkat lalu mengecup kening Aluna.
Aluna masih memerhatikan wajah sang suami dengan seksama dan jujur ia tak percaya dengan ucapan Damar tapi ia tidak akan membahasnya saat ini. Aluna akan membiarkan Damar tenang lebih dulu sampai Damar sendiri yang memulai untuk berbicara.
Dan kini mereka berdua tengah berbaring, Damar menjadikan lengannya sebagai sandaran untuk menopang kepala Aluna.
" Luna sayang... Ada yang Mas mau bicarakan " ucap Damar dengan raut wajah serius.
" Masalah apa sih Mas ? Serius amat " tukas Aluna.
Damar menghela nafasnya, lalu memiringkan tubuhnya menghadap Aluna.
" Ini tentang Haziq... " ucap Damar sambil menatap wajah Aluna yang sedikit terkejut dengan ucapan Damar.
" Memangnya Haziq kenapa Mas ? " tanya Aluna mengernyit heran.
" Tadi siang... Ayah kandung Haziq menemui Mas di kantor " jawab Damar sambil membuang kasar nafasnya.
" Sepertinya dia menginginkan Haziq untuk tinggal bersamanya " tambah Damar lagi.
Deg !
Rasanya ada yang berdenyut nyeri di dada Aluna.
" Bagaimana mungkin bisa dia datang ? Darimana dia tahu kalau kita yang merawat Haziq selama ini ? Memangnya dia punya bukti apa untuk membuktikan bahwa dia itu ayah kandung Haziq ? " cecar Aluna sedikit tak terima mendengar kenyataan ada seseorang yang akan mengambil Haziq dari sisinya.
" Dia membawa bukti hasil tes DNA dan hasilnya positif jika Haziq adalah anak kandungnya " ucap Damar.
Aluna menyandarkan pungungnya pada headboard ranjang.
__ADS_1
" Bisa saja itu direkayasa, bisa saja kalau dia membohongi kita. Luna gak percaya, Mas " seru Aluna.
" Tapi itu semua benar sayang, tidak ada rekayasa sama sekali. Lagi pula mereka memang memiliki kemiripan " sahut Damar.
" Memangnya siapa ayah kandungnya Haziq ? Mas Damar kenal ? " tanya Aluna penasaran.
" Ya, tentu saja aku mengenalnya. Bahkan kamupun mengenalnya " jawab Damar.
Aluna mengernyitkan keningnya.
" Siapa Mas ? Siapa yang Mas maksud ayahnya Haziq ? Apa itu... " Aluna menggantungkan ucapannya sambil menatap wajah Damar.
Damar mengangguk untuk membenarkan tebakan Aluna.
" Iya... Pak Kevin memanglah ayah kandung Haziq " jawab Damar sambil menghembus nafasnya.
Aluna memejamkan matanya, ia ingin tak mempercayai ucapan sang suami.
" Engga... Gak mungkin Haziq anak Pak Kevin. Lagipula bagaimana mungkin Pak Kevin mengenal Karina ? " Aluna tak percaya.
Damar menceritakan bagaimana Kevin bertemu dengan Karina sebagaimana yang tadi diceritakan oleh Kevin. Hingga kemudian, semesta seakan memberikan jalan kepada Kevin untuk bertemu dengan Haziq dengan jalan yang tak pernah disangka. Menjadi murid dari istri ayah kandungnya sendiri.
" Luna, sayang... Awalnya Mas juga tak percaya, hanya saja semua mengarah kepada Pak Kevin. Semua hal, hasil tes DNA bahkan cerita masa lalu Pak Kevin bersama Karina yang tak pernah terduga sama sekali " ucap Damar.
Aluna meneteskan air matanya di pelukan Damar.
Damar mengelus kepala sang istri dengan lembut. Ia tahu betul bagaimana perasaan Aluna yang sudah sangat menyayangi Haziq. Sejak lahir, Alunalah yang menjaga dan merawat Haziq. Bahkan Aluna yang menyusui Haziq dikarenakan Haziq sudah kehilangan sang ibu sejak dilahirkan. Haziq ia besarkan dengan penuh kasih sayang tanpa dibedakan dengan Anik, anak kandung mereka.
" Luna gak mau pisah sama Haziq, Mas... Luna mau Haziq tetap bersama kita. Tolong, jangan biarkan mereka mengambil Haziq, Mas ! " lirih Aluna memohon kepada Damar.
" Luna... Mereka lebih berhak bersama Haziq dibandingkan kita ! Pak Kevin ayah kandungnya " tukas Damar berusaha menjelaskan kepada sang istri.
" Tapi Luna juga berhak, Mas ! Di dalam tubuh Haziq mengalir air susu Luna. Ada darah Luna dalam diri Haziq. Pak Kevin gak bisa ambil Haziq dari kita, Mas " sahut Aluna sambil terisak.
Damar dengan segera memeluk Aluna. Ia yakin Aluna sangat berat untuk menyerahkan Haziq.
" Sayang... Kita cari jalan terbaiknya ya ! Walau bagaimanapun Haziq berhak bersama orang tua kandungnya " ucap Damar sambil mengusap punggung Aluna.
" Enggak Mas ! Tempat Haziq itu disini, bersama kita. Mas kenapa sih ? Mas kayaknya gak keberatan berpisah dengan Haziq " tuduh Aluna sambil mendorong tubuh Damar.
__ADS_1
" Bukan begitu sayang... Mas cuma merasa iba dengan Pak Kevin yang harus berpisah dengan anak kandungnya, bahkan ia sama sekali tidak mengetahui keberadaan anaknya selama ini. Bukankah itu tidak adil baginya ? Selain itu, rasa-rasanya kita juga egois jika membiarkannya terus berpisah dengan anak kandungnya " sanggah Damar.
" Lalu kita harus bagaimana sekarang ? Luna gak mau pisah sama Haziq. Luna gak bisa... Luna gak siap, Mas " ucap Aluna.
" Nanti kita pikirkan lagi jalan tengahnya. Sekarang kamu jangan banyak pikiran ya. Ingat ada anak kita disini ! " sahut Damar dengan sabar. Ia juga meletakkan tangannya di atas perut Aluna untuk sekedar mengingatkan Aluna bahwa ada kehidupan lain yang harus ia jaga pula.
Damar merapikan bantal sebelum Aluna kembali merebahkan dirinya. Setelah Aluna berbaring, Damar memeluk istrinya itu. Sesekali ia mengecup bahu Aluna dan mengusap punggung sang istri yang kini berbaring membelakanginya.
Aluna tebangun di malam hari, entah mengapa ia merasa begitu pilu. Aluna melepaskan tangan Damar yang melingkari perutnya. Ia kemudian turun dari ranjang. Dilihatnya Damar yang begitu lelap bahkan sampai tidak merasakan jika ia telah turun dari ranjang dan berjalan meninggalkan kamar.
Pintu kamar yang ditempati oleh Haziq dibuka oleh Aluna. Ia bisa melihat bocah tampan itu tengah tertidur dengan lelap. Aluna berjalan mendekat kemudian duduk di tepi ranjang Haziq. Dilihatnya wajah polos dan tak berdosa milik Haziq. Aluna mengelus pucuk kepala Haziq dengan lembut dan penuh kasih sayang. Hingga tak terasa air mata pun lolos dari kedua matanya.
" Mama harus bagaimana untuk mempertahankanmu ? Apa mama salah jika menginginkanmu hanya bersama kami ? Apa mama salah memisahkanmu dari orang tuamu ? " gumam Aluna dengan berlinang air mata.
Haziq mengerjap saat merasakan sentuhan di kepalanya. Ia melihat sang ibu yang tengah menangis sambil mengusap kepalanya.
" Mama ? Mama kenapa nangis ? " tanya Haziq sambil menatap Aluna penuh kekhawatiran.
" Maaf... Mama bangunin kamu ya ? " tanya Aluna sembari menyeka air matanya.
Haziq menggelengkan kepala.
" Mama kenapa ? " tanya Haziq lagi, kedua tangannya menyentuh wajah Aluna.
Aluna segera meraih tangan Haziq lalu menciuminya.
" Mama gak apa-apa kok... Tadi mama mimpi kalau Haziq tinggalin mama " jawab Aluna sambil menatap wajah Haziq.
" Haziq gak akan tinggalin Mama kok. Itu kan cuma mimpi. Mama pasti gak baca doa sebelum tidur, makanya mimpi buruk " sahut Haziq.
Aluna tersenyum tipis.
" Hm... Kayaknya begitu, mama pasti lupa baca doa " ucap Aluna sambil merapikan rambut Haziq.
" Mama boleh tidur temenin Haziq disini ? " tanya Aluna penuh harap.
" Boleh Ma... Udah lama Haziq gak tidur sama mama. Sini ma, sini tidur sama Haziq " jawab bocah tampan itu lalu menggeser posisinya agar sang ibu bisa berbaring di sampingnya.
Aluna berbaring sambil memeluk Haziq, sementara itu di balik pintu Damar memerhatikan interaksi antara Aluna dan Haziq. Sungguh hatinya begitu pilu melihat pemandangan di hadapannya.
__ADS_1
Damar hanya berharap agar semua berjalan dengan baik dan Aluna mau melepaskan Haziq.