Story Of Kevin Argajaya

Story Of Kevin Argajaya
Sangat Menyayangi


__ADS_3

Anik membuka pintu kamar Haziq dan melihat sang ibu tertidur bersama Haziq.


" Ih, mama kenapa tidur sama Kak Haziq gak ajakin Anik... " rengek Anik sambil naik ke atas tempat tidur Haziq.


Awalnya Damar berniat untuk membangunkan Aluna, namun siapa sangka jika ternyata putri kesayangannya itu sudah keluar dari kamar dan mengekori Damar hingga akhirnya Anik menerobos masuk ke kamar Haziq.


Aluna membuka kelopak matanya, lalu mengerjap-ngerjapkan matanya. Mengumpulkan kesadarannya yang belum kembali seperti semula.


" Mama kenapa tidur disini gak ajakin Anik sih " celetuk Anik lalu merangsek naik ke atas kasur lalu masuk ke dalam pelukan sang ibu.


" Anik juga mau tidur sama mama. Kak Haziq curang ih... " dumel Anik melirik Haziq yang baru saja membuka kelopak matanya.


" Maafin mama ya ! Mama lupa gak ajak Anik tidur disini. Mama janji nanti kita tidur sama-sama... Anik, Kak Haziq, Mama... "


" Sama Papa juga " serobot Damar yang sudah duduk di sisi ranjang.


" Yeay... Nanti malam kita tidur sama-sama ya ! " sorak Anik gembira lantas memeluk Damar dan Aluna.


Melihat hal itu, Haziq pun ikut memeluk adik serta orang tuanya itu. Aluna merasa haru hingga tak kuasa ia meneteskan air matanya dan hal itu tak luput dari perhatian Anik.


" Lho Mama kenapa nangis ? " tanya Anik yang membuat baik Damar maupun Haziq menatap ke arah Aluna yang kini sibuk menghapus air matanya.


" Mama gak apa-apa kok sayang... Cuma terharu aja, mungkin nanti kita gak bisa seperti ini lagi " jawab Aluna lirih.


" Kenapa gak bisa Ma ? Kita semua kan ada disini. Mama lupa ya ? " celetuk Anik polos.


Aluna tersenyum paksa.


" Iya... Mama lupa. Maafin Mama ya sayang ! " sahut Aluna sambil mengelus kepala Anik.


" Maksud Mama pasti karena nanti ada adik bayi, jadi Mama bakalan sibuk gak bisa jagain kita. Gitu kan Ma ? " tebak Haziq yang justru membuat Aluna kembali meneteskan air matanya.


Melihat sang ibu yang meneteskan air mata. Dengan serempak Anik dan Haziq menyeka air mata yang membasahi wajah sang ibu.

__ADS_1


" Mama gak usah mikirin itu, kita ngerti kok Ma. Kita berdua tahu kan adik bayi masih kecil, masih butuh kasih sayang Mama yang lebih banyak. Nanti kita berdua bakalan bantuin Mama jagain adik bayi " ucap Haziq menatap Aluna.


" Iya, Kak Haziq betul Ma. Nanti Anik sama Kak Haziq akan jadi kakak yang baik buat adik bayi " tambah Anik.


Mendengar itu, Aluna segera memeluk Anik dan Haziq dengan erat. Air mata kembali menggenangi matanya. Melihat pemandangan di hadapannya tentu saja membuat Damar ikut terharu dan juga sedih sekaligus.


Ya Tuhan... Bagaimana jika mereka tahu yang sebenarnya ? Aku sungguh tak kuasa melihat mereka berpisah.


Damar mengelus punggung sang istri dengan lembut. Mencoba menguatkan Aluna agar bisa menghadapi ini semua.


" Sudah, sekarang kalian mandi terus sarapan ! Kalian kan harus pergi ke sekolah " seru Damar yang membuat kedua bocah itu melepaskan pelukannya.


" Siap Papa " jawab keduanya serempak.


Damar memeluk Aluna saat kedua bocah itu membubarkan diri untuk mandi.


" Sudah sayang... Mas paham kamu pasti sedih. Tapi bukankah seharusnya kita melakukan yang terbaik bagi Haziq selama dia masih bersama kita ? Kita harus memberikan kenangan yang indah agar dia selalu mengingat kita dan mengetahui jika kita semua sangat menyayanginya " ucap Damar menenangkan Aluna.


" Iya Mas... Luna akan berusaha walaupun itu sangat berat " lirih Aluna sambil menenggelamkan wajahnya di pelukan Damar.


Setelah itu, Aluna pergi ke kamar Anik dan juga menyiapkan seragam Anik. Hal yang selalu dilakukannya kendati memiliki asisten rumah tangga. Aluna selalu menyiapkan keperluan untuk anak-anak dan suaminya oleh dirinya sendiri.


Setelah selesai, Aluna dan Damar kembali ke kamar mereka untuk membersihkan diri.


...****************...


Kini Anik dan Haziq telah berada di depan sekolah mereka. Keduanya hari ini diantar oleh kedua orang tua mereka.


" Dah Mama, Dah Papa... " ucap Anik dan Haziq sambil mencium tangan Damar dan juga Aluna.


" Belajar yang baik ya sayang ! " sahut Damar sambil mengusap kepala Anik dan juga Haziq bergantian sebelum mereka keluar dari dalam mobil.


" Dah, sayang... Nanti siang Mama jemput ya ! " ucap Aluna sambil mencium pipi Anik dan juga Haziq.

__ADS_1


" Yeah... Asyik ! Nanti Mama jemput " sorak Anik sambil memeluk Aluna


" Eh, Anik hati-hati ! Nanti adik bayinya sakit " sungut Haziq yang khawatir karena melihat Anik memeluk erat perut sang ibu.


" Ah iya... Maafin Kakak Anik ya adik bayi " ucap Anik sambil melepaskan pelukannya dari Aluna kemudian mencium perut Aluna.


" Nah, adik bayi... Kak Anik sama Kak Haziq sekolah dulu ya. Biar pinter terus bisa ajarin adik bayi nanti " tambah Anik lagi sambil mengelus perut sang ibu kemudian keluar dari dalam mobil.


Haziq pun tak ketinggalan memeluk dan mencium perut sang ibu.


" Adik bayi, Kak Haziq pergi dulu ya ! Nanti siang kita ketemu lagi. Bye... " ucap Haziq lalu turun mengikuti Anik yang sudah menunggu di luar mobil.


Kedua bocah lucu itu segera memasuki kawasan sekolah sambil saling bergandengan tangan. Melihat hal itu, kembali air mata Aluna mengalir. Ia bahkan keluar dari dalam mobil dan mengikuti langkah Anik dan Haziq menuju ke kelas mereka.


Dari kejauhan Aluna melihat kedua anaknya disambut oleh Jingga dengan memeluk keduanya. Jingga nampak sangat menyayangi mereka berdua.


" Ayo, sayang kita pulang ! " seru Damar yang dengan setia mengikuti langkah sang istri.


" Mas... Apa mereka masih bisa tertawa riang seperti itu kalau mereka berpisah ? " tanya Aluna.


Damar menghela nafas panjang.


" Tidak ada yang menyukai perpisahan sayang ! Pastinya akan sangat berat tidak hanya untuk kita tapi juga bagi mereka. Seharusnya kita meyakinkan mereka bahwa tidak akan ada yang berubah meskipun kita berpisah. Kita akan selalu menganggap bahwa Haziq adalah bagian dari kita dan akan selalu menyayanginya " jawab Damar lantas membawa Aluna kembali ke dalam mobil.


Damar mengantarkan Aluna kembali ke rumah, sebelum akhirnya ia pergi ke kantor.


Siang hari, seperti yang telah Aluna katakan kepada kedua anaknya bahwa ia akan menjemput mereka pulang. Aluna tidak hanya berniat menjemput Anik dan Haziq. Tetapi ia juga berniat untuk bicara dengan Jingga.


Aluna sengaja menunggu di depan kelas kedua anaknya. Satu per satu siswa keluar dari kelas hingga kemudian Anik dan Haziq keluar. Mereka sangat bahagia melihat Aluna datang menjemput mereka. Kedua bocah itu bahkan sampai berlari menuju Aluna dan menghambur ke pelukan Aluna.


Jingga yang melihat hal itu tersenyum. Ia sangat tahu jika Anik dan Haziq begitu menyayangi kedua orang tuanya.


Apa nanti Haziq juga akan menyayangiku dan Mas Kevin seperti dia menyayangi Aluna dan Damar ?

__ADS_1


Lamunan Jingga buyar setelah mendengar sebuah suara di dekatnya.


" Mba Jingga, bisa kita bicara ? "


__ADS_2