
Kini Jingga sedang berada di sebuah restoran cepat saji. Ia bersama dengan Aluna, Haziq dan Anik. Jingga sudah bisa menebak jika Aluna tentunya akan membicarakan masalah Haziq. Dan dugaan Jingga tidak meleset karena Aluna memang akan membicarakan masalah Haziq.
Haziq dan Anik tengah berada di area bermain saat Jingga dan Aluna berbincang.
" Saya rasa Mba Jingga sudah bisa menebak apa yang akan saya bicarakan " ucap Aluna membuka pembicaraan serius diantara mereka.
Jingga menghela nafas, ia tahu lambat laun akan menghadapi Aluna. Apalagi Kevin sudah memberi tahu Damar keadaan yang sebenarnya.
" Luna, saya tahu pastinya berat bagi kalian untuk berpisah dengan Haziq. Tapi tolong, lihatlah dari sisi kami. Haziq berhak mengetahui siapa orang tua kandungnya " ucap Jingga sambil meraih tangan Aluna.
" Saya tahu itu, Mba. Tapi apa Mba Jingga dan Mas Kevin tahu konsekuensinya jika Haziq mengetahui semuanya. Apa Haziq bisa menerima begitu saja ? " cecar Aluna.
" Kami mengerti pastinya akan sulit bagi anak sekecil Haziq untuk memahami ini semua. Tapi tolong berikan kami kesempatan untuk merawat Haziq. Kamu tidak tahu betapa kami sangat mendambakan seorang anak hadir dalam keluarga kami. Dan Haziq adalah harta paling berharga bagi kami " ucap Jingga.
" Tapi Haziq itu bukan akan kandung Mba Jingga, Haziq hanyalah seorang anak tak berdosa yang lahir karena sebuah kesalahan "
" Haziq memang bukan anak kandungku, tapi Haziq anak kandung Mas Kevin meskipun lahir dari suatu kesalahan. Selama ini Mas Kevin selalu berusaha mencari Mba Karina namun tidak pernah mendapatkan jejaknya. Bahkan Mas Kevin selalu mengharapkan Mba Karina meminta pertanggungjawaban kepadanya namun itu tidak pernah terwujud " jelas Jingga.
" Mba Jingga dan Mas Kevin bisa memiliki anak lagi. Jadi tolong biarkan Haziq tetap bersama kami " mohon Aluna.
Jingga menarik nafas dalam-dalam lalu menghembusnya perlahan. Tatapan matanya berubah sendu, mengisyaratkan ada kesedihan mendalam.
" Kamu tahu, Aluna... Dulu aku sempat tinggal bersama dengan Mba Karina. Saat itu rumah tanggaku dengan Mas Kevin sedang mengalami masalah. Saat aku tidak memiliki tempat tujuan, aku bertemu dengan Mba Karina dan ia bersedia menampungku meskipun dia tidak mengenalku " beber Jingga mengenang masa-masa saat ia bertemu dengan Karina dahulu.
" Saat itu, aku tengah hamil sekitar 5 minggu. Dan Mba Karina juga hamil dengan usia kandungannya 22 minggu. Ia bercerita tentang masa lalunya, dan apa kamu tahu dia tidak ingin merusak kebahagiaan pria yang telah menanamkan benih dalam rahimnya. Dia mencoba memperbaiki diri dengan cara merawat bayi yang ada dalam kandungannya sendiri. Siapa yang tahu jika ternyata kami mengandung janin dari pria yang sama " ucap Jingga tersenyum miris.
" Jadi Mba Jingga sempat bertemu Karina sebelum dia meninggal ? " tanya Aluna.
" Ya, bahkan saat itu dia memintaku berjanji untuk merawat anaknya nanti jika sesuatu terjadi kepadanya. Aku pikir itu hanyalah ucapan spontan tetapi siapa sangka itu mungkin pertanda yang diberikan oleh Tuhan melalui ucapan Mba Karina. Kami berpisah dan aku mengalami kecelakaan hingga membuat kami harus kehilangan anak kami. Sampai sekarang aku bahkan diprediksi akan kesulitan mengandung akibat kecelakaan itu " jawab Jingga dengan air mata yang mulai menggenangi pelupuk matanya.
__ADS_1
" Aku memohon kemurahan hatimu dan juga Damar. Kami tahu, kalian sudah begitu berjasa merawat dan membesarkan Haziq. Tapi tolong, beri kami kesempatan untuk merawat Haziq juga. Kami berjanji tidak akan pernah memisahkan kalian karena kalian juga adalah orangtuanya " ucap Jingga lagi penuh harap.
Aluna menghela nafasnya, lalu menatap Jingga lamat-lamat. Kini ia merasa iba melihat Jingga dan Damar. Aluna merasa sangat egois jika tetap mempertahankan Haziq berada disisinya, sementara ada orang tua kandungnya yang begitu mengharapkannya. Sebagai seorang ibu, ia tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang anak. Sebagaimana yang dirasakannya saat ini, ketika Haziq harus ia lepaskan agar bisa bersama dengan orang tua kandungnya.
Jingga mengalihkan pandangannya ke arah Anik dan Haziq yang masih asyik bermain seluncur sambil tertawa bersama. Kemudian Aluna menghembus nafasnya perlahan dan kembali menatap Jingga.
" Baiklah, Mba... Walaupun terasa berat, tetapi rasanya tidak adil jika Luna tetap mempertahankan Haziq bersama kami. Luna mengijinkan kalian membawa Haziq, tapi tolong berikan kami waktu untuk menjelaskan kepada Haziq dan Anik. Dan tolong jangan larang kami untuk bertemu " pinta Aluna.
Mendengar hal itu, Jingga merasa sangat terkejut sekaligus sangat bahagia.
" Benarkah itu Luna ? Aku tidak salah mendengar kan ? " tanya Jingga memastikan.
" Yang Mba Jingga dengar itu benar adanya. Jadi Mba dan Mas Kevin bisa tenang " jawab Aluna.
" Terima kasih Luna ! Terima kasih banyak ! " ucap Jingga dengan air mata haru menetes di pipinya kemudian memeluk Aluna.
" Mama sama Miss Jingga kenapa pelukan ? " tanya Haziq yang sudah berada di depan mereka bersama dengan Anik.
Aluna dan Jingga melerai pelukan mereka lalu melihat dua bocah tersebut.
" Tidak apa-apa sayang. Miss Jingga dan Mama Luna hanya sedang merasa sangat bahagia " jawab Jingga.
" Bahagia kok nangis sih Miss ? " heran Anik.
" Ini karena sangat bahagia, karena itu Miss Jingga sampai nangis. Iya kan Ma ? " tebak Haziq.
" Iya, sayang " jawab Aluna sambil mengelus pucuk kepala Haziq.
" Sayang... Haziq bisa panggil Miss Jingga, bunda Jingga dan Om Kevin, ayah Kevin " ungkap Aluna.
__ADS_1
" Kenapa cuma Kak Haziq aja, Ma ? Anik juga mau panggil bunda dan ayah sama Miss Jingga dan Om Kevin " protes Anik.
" Tentu saja, Anik juga boleh panggil bunda dan ayah kepada Miss Jingga dan Om Kevin. Bunda Jingga senang sekali kalau kalian berdua memanggil kami dengan sebutan itu " sahut Jingga sambil mengelus pipi Anik.
" Baiklah Bunda " jawab Anik dan Haziq bersamaan.
Air mata kembali mengalir di pipi Jingga saat mendengar Anik dan Haziq memanggilnya bunda. Apalagi ketika Haziq menyeka air mata di pipinya, rasanya seperti mimpi karena tak pernah membayangkan akan mendapat perlakuan manis seperti itu.
" Bunda jangan nangis ! Seharusnya kan bunda bahagia " ucap Haziq kemudian.
Jingga segera memeluk Haziq dengan haru.
" Bunda gak nangis kok. Bunda bahagia, sangat bahagia " ucap Jingga sambil menghapus air matanya lalu menatap wajah Haziq yang memang fotokopian Kevin kecil.
" Haziq mau kan menginap di rumah Bunda Jingga ? " tanya Jingga penuh harap.
Haziq menatap Aluna, melihat jika ibunya itu terlihat menganggukkan kepala.
" Boleh, bunda tapi gak sekarang ya " tolak Haziq.
Jingga sedikit kecewa mendengar hal itu.
" Kenapa sayang ? " tanya Jingga penasaran.
" Nanti aja akhir minggu, soalnya kan harus sekolah " jawab Haziq apa adanya.
" Oh iya ya... Bunda sampai lupa saking bahagianya " jawab Jingga sambil tertawa kecil.
Melihat kedekatan Jingga dan Haziq membuat Aluna bahagia sekaligus sedih bersamaan. Bahagia dikarenakan Haziq terlihat nyaman berinteraksi dengan Jingga. Dan sedih karena itu berarti dia akan segera berpisah dengan Haziq.
__ADS_1