Story Of Kevin Argajaya

Story Of Kevin Argajaya
Kedatangan Satria


__ADS_3

Pria itu terus menatap layar laptopnya dimana terdapat berita pernikahan antara Kevin dan Jingga.


" Tiketnya sudah saya pesankan, Tuan " ucap seorang pria yang merupakan asisten dari pria yang menatap laptop.


" Aku akan segera berangkat. Kau urus perusahaan selama aku pergi ! " titahnya lalu segera menutup laptopnya dan membawanya.


" Baik, Tuan " ucapnya sang asisten mengangguk paham dengan perintah sang pimpinan.


Pria tersebut adalah Satria, kakak tiri dari Jingga. Satria dan Jingga saling mencintai, hanya saja tidak pernah ada kata cinta yang terucap dari mulut mereka. Bagi mereka cukuplah saling memahami dan menyayangi satu sama lain.


Satria pergi meninggalkan rumah sejak 5 tahun yang lalu setelah ayah kandung Jingga meninggal dunia. Ia berniat mencari pekerjaan di negara orang. Hal ini ia lakukan agar dapat mempersunting Jingga. Ia bekerja keras sebagai bekal untuk hidup bersama Jingga. Dan setelah menikahi Jingga, ia akan memboyong Jingga untuk tinggal bersamanya di luar negri.


Sayangnya, semua impiannya kini hancur dalam sekejap mata karena kenyataannya Jingga kini menikah dengan pria lain.


Tangan Satria mengepal keras. Ia menahan rasa yang bergejolak dalam hatinya. Satria menyadari jika ini mungkin kesalahannya. Seharusnya ia memberi kabar kepada Jingga, bukan membiarkan gadis itu menunggu tanpa kepastian.


Satria memang sengaja tidak memberi kabar kepada Jingga karena ia ingin fokus menata karirnya. Hal ini dilakukannya untuk menciptakan masa depan terbaik baginya dan Jingga. Namun sepertinya ia sudah salah strategi. Lalu mengapa Jingga menikah ? Apa yang telah ibunya itu lakukan hingga Jingga bisa menikah tanpa memberitahukannya dulu ?


Satria melakukan panggilan telpon kepada seseorang.


" Jadi sudah kau selidiki, mengapa Jingga bisa menikah dengan pria itu ? " tanya Satria.


Satria mendengarkan penjelasan dari orang yang dihubunginya itu. Dan setelah mendengar informasi yang diberikan oleh orang tersebut, Satria justru merasa geram.


Satria geram dengan kelakuan ibu kandungnya yang sudah membuat Jingga dalam kesulitan hingga akhirnya meninggalkan rumah dan memilih menikah dengan pria lain selain dirinya.


Satria menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Jingga.


Maafkan aku, Jingga... Seharusnya aku membawamu bersamaku ! Seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendiri dulu !


Satria mengingat kembali saat ia memutuskan untuk mencari peruntungannya di luar negri. Saat itu, Jingga bahkan memintanya untuk tidak pergi.

__ADS_1


" Kak... Jangan pergi ! Jangan tinggalkan Jingga sendiri ! " rengek Jingga saat mengetahui jika Satria akan meninggalkan rumah.


" Jingga... Kakak melakukan semua ini demi masa depan kita. Kakak janji, kita akan bersama lagi setelah Kakak kembali nanti " ucap Satria sambil memeluk Jingga, adik tiri juga gadis yang sangat ia cintai.


Jingga menangis dalam pelukan Satria. Gadis itu begitu takut kehilangan orang yang ia cintai. Setelah sebelumnya, ia kehilangan sang ayah. Kini Jingga tak ingin kehilangan lagi yang orang yang ia sayangi.


Satria mengecup pucuk kepala Jingga dengan penuh kasih sayang. Ia tahu ini tak hanya berat untuk Jingga tapi juga untuk dirinya sendiri. Meninggalkan gadis yang dicintai tanpa tahu apa yang akan terjadi ke depannya.


" Dengar Jingga, secepatnya aku akan kembali untukmu. Dan kita tak akan lagi terpisahkan. Kau mau menungguku ? " tanya Satria sambil menatapi gadis yang berurai air mata itu.


Jingga menarik nafasnya lalu menghembusnya perlahan. Sementara Satria hanya bisa menatap Jingga.


" Janji, kakak akan segera kembali ! " seru Jingga mengangkat wajahnya hingga ia bisa melihat wajah Satria yang tersenyum kepadanya.


" Janji ! kakak akan kembali lagi untuk menjemputmu " tegas Satria sambil merapikan helaian rambut milik Jingga yang menutupi wajah cantiknya.


Satria kembali membawa Jingga ke dalam pelukannya. Ia menghirup dalam-dalam wangi tubuh Jingga


" Tunggu aku ! " ucap Satria berbisik lirih di telinga Jingga.


...****************...


Satria kini berada di bandara internasional negara Inggris. Setelah lama meninggalkan kampung halaman, kini ia akan segera pulang. Meskipun dirasa terlambat, setidaknya ia sudah berusaha. Walaupun usahanya mungkin akan sia-sia karena saat pulang nanti status Jingga sudah menikah dan menjadi istri dari pria yang bernama Kevin Argajaya.


Akhirnya Satria menapakkan kakinya di tanah air setelah perjalanan selama kurang lebih 15 jam dari London menuju Jakarta.


Hal yang pertama Satria lakukan adalah menemui sang ibu. Ia menemui sang ibu untuk meminta penjelasannya mengenai Jingga meskipun Satria sudah tahu dari orang suruhannya.


Satria turun dari taksi dan segera menuju ke dalam rumah yang memiliki banyak kenangan antara dirinya dan Jingga.


Hal yang pertama dilakukan oleh Satria adalah menemui sang ibu. Mamanya nampak sedang bersantai duduk di sofa dengan wajah yang dipenuhi oleh masker dan mata tertutup oleh mentimun.

__ADS_1


" Ma... " panggil Satria namun tak diindahkan oleh ibunya itu.


" Ma... " panggil Satria lagi sedikit mengeraskan suaranya namun tetap saja ibunya itu tak bergerak.


Satria menghembus kasar nafasnya. Ia lalu berjalan mendekati sang ibu lantas mengambil mentimun yang menutup matanya serta menarik head set yang ada di telinga sang ibu.


" Astaga, Satria ? " ucap sang ibu heran bercampur kaget saat melihat Satria berada di hadapannya.


Mama Siska langsung memeluk putranya yang baru saja kembali itu.


" Kau sudah pulang Sat ? Mama sangat merindukanmu " ucap sang ibu.


Satria hanya membalas pelukan sang ibu ala kadarnya.


" Jingga mana, Ma ? " tanya Satria berpura-pura tidak tahu apapun.


" Jingga ? Ah, anak itu sudah pergi. Dia memang anak yang tak tahu terima kasih. Dia pergi bersama kekasihnya bahkan menikahpun dia tidak memberi tahu Mama padahal selama ini Mama sudah merawatnya dengan tulus seperti ibunya sendiri. Tapi lihat bagaimana balasan gadis itu sekarang... " adu sang ibu berharap Satria mempercayai ucapannya.


Jika saja wanita di hadapannya ini bukanlah ibu kandungnya, rasanya ingin Satria menutup mulut wanita itu.


" Jadi Jingga sudah menikah ? Mengapa Mama tidak memberitahu Satria ? " pancing Satria lagi.


" Bagaimana mungkin Mama memberitahumu. Mama saja tahu berita pernikahan mereka dari media " jelas sang ibu.


" Jadi Jingga tidak memberitahu Mama ? Aneh... ! Bukankah selama ini Mama dekat dengan Jingga ? Bagaimana mungkin Jingga bisa melupakan Mama ? " tanya Satria menyudutkan sang ibu.


" Sudahlah... Tidak perlu membahas gadis tak tahu terima kasih itu lagi ! Beruntung ada yang mau menikahinya, jika tidak... mungkin dia sudah menjual dirinya " ejek Mama Siska dan hal itu sukses membuat Satria naik pitam.


" Bukannya Mama yang berusaha menjual Jingga ? " tuduh Satria.


Wajah Mama Siska terlihat kaget mendengar ucapan sang anak. Beruntung wajahnya memakai masker sehingga Satria tidak bisa melihat perubahan mimik wajahnya.

__ADS_1


" Kamu bicara apa Satria ? Mana mungkin Mama begitu. Mama sangat menyayangi Jingga " elak Mama Siska.


" Cukup, Ma ! Berhenti bersandiwara ! Satria sudah tahu semuanya... "


__ADS_2