
Seorang bocah tampan membantu bocah cantik yang terjatuh itu untuk bangun.
Sementara Kevin, kini ikut berjongkok untuk membantu gadis kecil itu berdiri.
" Maafkan Om, ya anak manis. Om buru-buru tadi " ucap Kevin kepada gadis kecil yang cantik itu.
" Lain kali Om lihat-lihat dong kalau jalan " gerutunya.
" Kamu gak apa-apa kan, dek ? " tanya bocah laki-laki yang berdiri di sampingnya.
Bocah cantik itu menggeleng pelan.
" Anik gak apa-apa kok, Kak. Anik kan kuat " jawab bocah cantik itu dengan tersenyum manis sambil mengangkat sebelah tangannya.
" Sekali lagi Om minta maaf, ya ! Om buru-buru karena mau antar tas istri Om yang ketinggalan tadi " jelas Kevin sambil memperlihatkan tas milik Jingga yang dibawanya.
" Jadi Om ini suaminya Miss Jingga ? " tanya bocah tampan itu memperhatikan Kevin.
" Wah, ternyata kalian kenal ya sama istri Om " jawab Kevin sambil tersenyum dan memperhatikan bocah tampan di hadapannya.
Bocah tampan itu mengangguk
" Miss Jingga itu guru kami " jawabnya.
" Benarkah ? Om senang bisa bertemu kalian. Siapa nama kalian ? " tanya Kevin.
" Namaku Anik, dan ini kakak kembarku Haziq " jawab Anik memperkenalkan diri.
" Kalian kembar ? " tanya Kevin mengangkat sebelah alisnya.
Keduanya mengangguk.
" Ah, kalian ini benar-benar kompak. Kalau begitu perkenalkan nama Om Kevin " ucap Kevin sambil mengulurkan tangannya.
Anik membalas uluran tangan Kevin lebih dulu, baru setelah itu Haziq yang mengulurkan tangannya.
Deg
Mengapa rasanya aku pernah melihat mata ini ?
Kevin terus memperhatikan Haziq.
" Lho Mas, dari tadi ? Lho Haziq, Anik sudah selesai ke toiletnya ? " tanya Jingga yang sudah ada diantara mereka.
" Belum, Miss. Kalau gitu kita pergi dulu ya Om ! Bye... " ucap Anik lalu menarik tangan Haziq agar segera menjauh.
Kevin dan Jingga menatap dua bocah lucu itu. Keduanya menyunggingkan senyum.
Kalau saja aku bisa punya anak seperti mereka, pasti akan sangat bahagia.
__ADS_1
Gumam Jingga dalam hati.
Seandainya saja anak itu adalah anakku
Batin Kevin menatapi laju Haziq.
" Mereka lucu ya, Mas. Kembar tapi gak identik. Kalau aja Jingga bisa punya anak seperti mereka pasti bahagia rasanya " ucap Jingga lirih.
" Nanti juga kita punya, sayang. Sudah jangan sedih lagi. Ini tasnya " sahut Kevin sambil menyerahkan tas milik Jingga yang tadi tertinggal di mobil.
" Terima kasih, Mas ! Maaf ya, Mas jadi harus balik lagi kesini " ucap Jingga penuh sesal.
" Tidak apa-apa sayang. Kalau tas kamu tidak ketinggalan, aku tidak1 bisa bertemu Anik sama Haziq " sahut Kevin lalu mengecup kening sang istri.
" Aku berangkat dulu ya ! " pamit Kevin lalu meninggalkan Jingga yang juga segera kembali menuju kelasnya.
Kevin baru saja selesai makan siang bersama dengan klien. Saat ia akan meninggalkan restoran, secara tak sengaja Kevin melihat sosok bocah tampan yang ditemuinya tadi pagi di sekolah.
" Haziq... " gumam Kevin sambil menatap ke arah bocah tampan yang tengah berada di sebuah toko sepeda.
Tanpa pikir panjang, Kevin segera menghampiri Haziq dan menyapanya.
" Halo, Haziq. Kamu sedang apa disini ? " tanya Kevin kepada Haziq yang sedang memilih sepeda.
" Eh, Om Kevin. Haziq lagi pilih sepeda sama Papa " jawab Haziq ramah.
" Oh, begitu ya. Kalau Aniknya kemana ? " tanya Kevin yang tidak melihat bocah cantik tersebut bersama Haziq.
" Haziq... " panggil seorang pria membuat Haziq dan Kevin menoleh bersamaan.
" Lho Pak Kevin... " ucap Damar heran.
" Damar... " ucap Kevin berbarengan.
" Rupanya Haziq dan Anik itu anak kamu ya " ucap Kevin sambil tersenyum.
" Iya, betul. Tapi bagaimana Pak Kevin bisa tahu ?" tanya Damar.
" Kebetulan istri saya yang mengajar di kelas Anik dan Haziq. Tadi saya juga bertemu mereka di sekolah. Kamu dan Luna beruntung sekali memiliki anak-anak seperti mereka " jelas Kevin sambil melirik Haziq.
Damar tersenyum mendengar pernyataan dari Kevin.
" Ya, kami memang beruntung memiliki anak-anak seperti mereka " ucap Damar bangga.
" Semoga saya juga bisa mendapatkan putra seperti Haziq " ucap Kevin spontan.
" Jadi anda belum memiliki anak ? " tanya Damar kaget.
Kevin tersenyum getir.
__ADS_1
" Dulu, istri saya pernah mengalami keguguran karena kecelakaan. Dan sejak itu, kami belum dikaruniai momongan " jawab Kevin.
" Om jangan sedih... Om bisa main kok sama Haziq dan Anik " sahut Haziq sambil meraih tangan Kevin.
Kevin tersenyum kepada Haziq lalu menurunkan tubuhnya hingga setinggi bocah itu.
" Haziq mau main sama Om Kevin ? " tanya Kevin menatap Haziq lamat-lamat. Entah mengapa ia merasa seperti ada ikatan dengannya.
Haziq mengangguk lantas memeluk Kevin. Kevin pun membalas pelukan Haziq. Ia merasa sangat bahagia. Damar sendiri merasa heran, karena tak menyangka jika Haziq akan bersikap seperti itu, padahal Haziq termasuk anak yang sulit untuk dekat dengan orang baru.
Mungkin karena Kevin adalah suami dari gurunya, karena itu Haziq tidak sungkan. Setidaknya saat ini, itulah yang ada dalam pikiran Damar.
" Haziq janji ya, kalau Om Kevin ajak main Haziq, Haziq mau ikut sama Om ? " tanya Kevin sambil menatap wajah Haziq.
Haziq melirik ke arah Damar, setelah Damar mengangguk barulah Haziq mengiyakan permintaan dari Kevin.
" Terima kasih, Haziq memang anak baik " ucap Kevin lalu mengusap pucuk kepala Haziq dengan penuh kasih sayang.
" Terima kasih Mar, kamu beruntung memiliki anak sebaik Haziq dan Anik " ucap Kevin kemudian segera berdiri.
" Saya boleh kan ajak Haziq dan Anik main ke rumah saya ? Istri saya pasti sangat senang " pinta Kevin.
" Tentu saja Pak Kevin, kami tidak akan keberatan. Lagipula, istri anda kan guru mereka. Mereka pasti senang bisa main ke rumah anda " ucap Damar.
" Terima kasih... Terima kasih banyak " ucap Kevin.
Mereka akhirnya berpisah. Sebelum berpisah, Kevin membelikan perlengkapan untuk bersepeda berupa helm, pelindung siku dan pelindung lutut untuk Haziq dan juga untuk Anik.
Kevin tidak kembali ke perusahaan. Ia memilih untuk menjemput Jingga di sekolah.
" Kok Mas Kevin sudah pulang ? " tanya Jingga saat melihat Kevin berada di depan ruangannya.
Kevin melangkahkan kakinya ke dalam ruangan milik Jingga.
" Kangen " jawab Kevin lalu merangkul Jingga yang berjalan mendekat padanya.
" Ish, tumben... " tukas Jingga sambil mencubit pinggang Kevin.
" Kenapa tumben ? Biasanya juga kangen cuma jarang diekspos " sahut Kevin berbisik di telinga Jingga membuat Jingga merasakan geli lalu melepaskan diri dari dekapan Kevin.
" Pekerjaan kamu sudah selesai ? " tanya Kevin sambil duduk di atas sofa.
" Sudah Mas. Sebentar ya, Jingga beres-beres dulu " jawab Jingga sambil membereskan mejanya.
" Tadi Mas bertemu Haziq di mal. Ternyata mereka adalah anak dari Damar dan Aluna " ucap Kevin.
" Ya ampun, ternyata dunia ini sempit ya Mas. Siapa sangka kalau mereka berdua anaknya Damar sama Aluna. Padahal pas Jingga pertama kali lihat Haziq tadi, Jingga pikir Haziq itu anak Mas Kevin. Soalnya mirip sama Mas Kevin " sahut Jingga sambil terkekeh.
Ternyata bukan cuma aku yang merasa jika Haziq itu mirip denganku...
__ADS_1
Apakah mungkin jika Haziq itu anakku ?