Story Of Kevin Argajaya

Story Of Kevin Argajaya
Mendengar Kebenaran


__ADS_3

Haziq tengah asyik menonton televisi sambil berbaring di atas tempat tidur. Hingga tak lama kemudian, Kevin membuka pintu kamar.


" Haziq belum tidur ? " tanya Kevin sambil berjalan mendekat ke arah Haziq.


Haziq menggelengkan kepala.


" Mau ayah Kevin temani ? " tanya Kevin lagi, kini ia duduk di sisi ranjang sambil mengelus kepala Haziq.


" Memangnya ayah Kevin mau temenin Haziq ? " Bocah tampan itu balik bertanya yang tentu saja membuat Kevin merasa gemas.


" Mau... Ayah ingin sekali menemani Haziq " jawab Kevin menatap penuh rindu kepada Haziq.


" Ok, kalau begitu ayah boleh temenin Haziq disini. Tapi kan kasihan bunda Jingga tidur sendirian " ucap Haziq.


" Siapa bilang bunda tidur sendirian ? Bunda juga mau tidur disini bareng-bareng sama kalian. Boleh kan ? " sahut Jingga yang kini telah masuk ke dalam kamar.


" Yeay !! Haziq bisa tidur sama ayah dan bunda sekarang " pekik Haziq begitu gembira.


Tidak hanya Haziq yang merasa gembira. Kevindan Jingga juga merasakan kegembiraan yang sama. Bahkan mungkin jauh lebih besar dari apa yang dirasakan Haziq. Bertahun-tahun mengharapakan kehadiran anak dalam keluarga mereka dan akhirnya terobati dengan kehadiran Haziq di tengah mereka. PR besar yang harus mereka kerjakan adalah mengatakan yang sebenarnya kepada Haziq.


Setelah melewatkan malam dengan tidur bersama-sama. Di pagi hari yang sangat cerah secerah hati Jingga. Jingga tengah asyik menyiapkan sarapan untuk Kevin dan Haziq. Sementara itu, kedua orang yang sangat disayanginya tengah berkeliling joging bersama.


Kevin benar-benar meluangkan waktu agar bisa bersama dengan anak kandungnya yang sudah terpisah sejak bayi.


" Pagi bunda... " ucap Kevin dan Haziq serempak saat melihat Jingga merapikan hidangan untuk sarapan di meja makan.


" Pagi, sayang-sayangnya bunda " sahut Jingga sambil tersenyum.


" Mau sarapan dulu atau mandi dulu ? " tanya Jingga lagi.


" Mandi dulu deh, soalnya gerah nih bunda " jawab Haziq sambil mengusap keringatnya.


" Ya sudah, bunda siapkan air hangatnya dulu... "


" Biar aku saja, sayang. Kamu siapkan saja sarapan untuk kita ! " seru Kevin sambil mencium pipi Jingga.


" Ih, Mas... Malu sama Haziq " tegur Jingga.

__ADS_1


" Gak apa-apa bunda. Itu berarti ayah sayang sama bunda. Papa Damar juga suka begitu sama mama Luna " tukas Haziq dengan polosnya.


" Ya, sudah... Ayo Haziq, kita mandi dulu ! " ajak Kevin sambil melangkahkan kakinya menuju kamar yang ditempati oleh Haziq.


Jingga tersenyum melihat kebersamaan keduanya. Ia selalu berdoa agar kebahagiaan mereka ini tak pernah hilang. Ia juga berharap agar Haziq bisa segera tinggal bersama dengan mereka dan benar-benar menganggap mereka sebagai orang tuanya.


Setelah membersihkan diri, mereka pun segera sarapan bersama. Dan setelahnya mereka memilih untuk berkumpul di gazebo yang ada di belakang rumah sambil berbincang santai.


" Nah Haziq sayang, kalau Haziq tinggal disini terus, Haziq mau ? " tanya Jingga.


Bocah tampan itu tak menjawab pertanyaan Jingga. Ia asyik memberi makan ikan yang ada di dalam kolam.


" Haziq kan harus tinggal sama Mama dan Papa, karena mereka orang tua Haziq " jawab Haziq pada akhirnya membuka suara.


" Em, kalau kami ini orang tua Haziq berarti Haziq mau tinggal disini kan ? " tanya Kevin kemudian.


" Kalau Ayah sama bunda memang orang tua Haziq, memang seharusnya Haziq tinggal dengan orang tua Haziq kan ? " jawab Haziq yang tentunya membuat Kevin dan Jingga saling menatap dan tersenyum tipis.


" Kalau memang seperti itu, apa Haziq sanggup meninggalkan Mama Luna dan Papa Damar ? " selidik Jingga.


Haziq terdiam, lalu kemudian mulai bicara.


Sedikit tercubit hati Kevin saat mendengar Haziq yang dirasanya sangat menyayangi keluarga Damar dan Luna.


Apa nanti kau akan menyayangi kami sebagaimana kau menyayangi mereka ?


Jingga menyentuh lengan Kevin dan mengelus pelan punggungnya. Membuat Kevin merasa lebih tenang terlebih saat melihat senyuman teduh di wajah Jingga yang selalu bisa menenangkan dirinya.


Mereka kembali asyik berbincang, sesekali mereka tertawa bersama saat mendengar cerita lucu yang diceritakan oleh Kevin.


Saat mereka tengah asyik tertawa, Aluna dan Damar datang untuk menjemput Haziq. Sungguh mereka merindukan Haziq dan juga Anik. Di rumah terasa begitu sepi saat kedua anak mereka itu tidak ada. Oleh karena itu, mereka berinisiatif untuk menjemput Haziq pulang.


Melihat kebersamaan Kevin, Jingga dan Haziq yang tertawa lepas bersama membuat Jingga sedikit sedih. Namun ia mencoba untuk berlapang dada, karena ia tahu jika Haziq memang sudah sepantasnya berada bersama orang tua kandungnya.


Air mata Aluna luruh di pipinya, namun dengan segera diusapnya. Damar yang melihat hal itu, menggenggam tangan sang istri dengan erat. Mencoba menguatkan istrinya itu. Damar bahkan menggandeng pinggang Aluna agar sang istri bisa berdiri dengan tegak.


" Kamu bisa, sayang ! Jangan sedih, ini memang sudah jalannya seperti ini. Sampai kapanpun Haziq tetaplah anak kita " bisik Damar memberikan asupan positif agar sang istri tidak larut dalam kesedihan.

__ADS_1


Dari dalam gazebo, Haziq melihat sosok Damar dan Aluna yang berdiri di depan pintu.


" Mama... Papa... " pekik Haziq lalu dengan segera beringsut turun dari gazebo lalu berlari menuju Aluna dan Damar meninggalkan Kevin dan Jingga disana.


Aluna menurunkan tubuhnya lalu membuka tangannya dan memeluk Haziq dengan erat saat Haziq menuju ke arahnya.


" Mama... Haziq kangen " ucap Haziq saat memeluk Aluna.


" Hem... Mama juga kangen banget sama Haziq " sahut Aluna sembari menciumi wajah Haziq.


" Haziq gak kangen sama Papa ? " tanya Damar sambil ikut mensejajarkan diri dengan Aluna dan Haziq.


Haziq melepaskan pelukannya dari Aluna kemudian beralih memeluk Damar.


" Haziq juga kangen sama Papa " ucap Haziq sambil menciumi wajah Damar.


Damar menggendong Haziq kemudian berdiri saat menyadari kehadiran Kevin dan Jingga di dekat mereka.


" Maaf, kami datang tidak memberi kabar lebih dulu " ucap Damar merasa sungkan.


" Tidak apa, kami bisa mengerti. Kalian pasti merindukan Haziq " sahut Kevin.


" Ya, kami merindukan anak-anak kami. Rumah terasa sepi tanpa kehadiran mereka " ucap Damar sambil menatap Haziq yang masih betah berada dalam gendongannya.


" Kalau begitu, akan aku rapikan barang-barang Haziq " ucap Jingga.


" Biar aku bantu, Mba " sahut Aluna mengikuti langkah Jingga yang bergerak menuju ke kamar Haziq.


Aluna masuk bersama Jingga ke kamar yang ditempati oleh Haziq saat bocah itu menginap disana.


Aluna mengamati kamar luas yang memang didesain khusus untuk anak laki-laki.


" Maaf ya, kalau menurutmu kamar ini kurang nyaman untuk Haziq. Kami hanya berusaha melakukan yang terbaik yang kami mampu untuk membahagiakan dan membuat Haziq merasa nyaman " ucap Jingga yang mengetahui jika Aluna sejak tadi menyisir keadaan sekeliling kamar.


" Ini sangat nyaman Mba. Haziq pasti betah tinggal disini " sahut Aluna sambil duduk di tepi ranjang.


" Semoga saja begitu, Luna. Kami hanya takut Haziq tidak merasa nyaman... " ucap Jingga dengan tatapan sendu.

__ADS_1


" Haziq pasti betah, Mba... Aku lihat tadi dia begitu menikmati kebersamaan dengan kalian berdua. Haziq pastinya akan merasa nyaman, apalagi Mas Kevin itu ayah kandung Haziq. Dan kalian berdua adalah orang tuanya " tukas Jingga.


" Maksud Mama apa ? Ayah Kevin ayah kandung Haziq ? Jadi Haziq ini bukan anak Mama dan Papa ? " tanya Haziq yang tiba-tiba berada di dalam kamar.


__ADS_2