
" Bukan kakak ? Maksud kamu bagaimana Jingga, bukankah dia itu kakak tiri kamu ? " tanya Kevin meminta penjelasan dari Jingga.
Jingga menghela nafasnya. Batin dan pikirannya berperang antara mengatakan yang sejujurnya atau menyembunyikan kenyataan yang ada.
" Mas... Sebenarnya, Kak Satria itu orang yang paling berharga untuk Jingga " jawab Jingga sambil menghembus nafasnya dengan berat.
Kevin mengangkat sebelah alisnya lalu menatap Jingga dengan lekat.
" Jingga... Tolong kamu jelaskan maksudnya apa ? "
" Sejak Papa menikah dengan Mama Siska, Jingga selalu dijaga oleh Kak Satria. Meskipun kami bukan saudara kandung, tapi Kak Satria selalu memperlakukan Jingga dengan baik. Menjaga dan menyayangi Jingga. Sampai kemudian entah bagaimana rasa itu berubah menjadi rasa cinta diantara kami " jawab Jingga mencoba menjelaskan kepada Kevin.
Kevin menghela nafasnya. Ia sudah mengira ada sesuatu diantara Jingga dan Satria, hanya saja Kevin tidak pernah mengira jika hubungan diantara keduanya adalah hubungan sepasang kekasih.
Kevin mengurut pangkal hidungnya, ia sendiri tak tahu perasaan apa yang menghampirinya saat ini. Belum satu minggu mereka menikah bahkan merasakan indahnya malam pertama saja belum mereka lakukan. Kini ada masalah di depan mata yang jika dibiarkan akan semakin pelik.
" Jadi dia kembali untuk membawamu pergi ? " selidik Kevin.
Jingga tak menjawab pertanyaan dari Kevin, ia hanya menghembus nafasnya dengan kasar sembari menatap ke arah langit.
" Kamu akan kembali kepadanya ? " tanya Kevin lagi, kini ia sudah berdiri di samping Jingga dan menatapi wanita yang baru beberapa hari ini menjadi istrinya.
Jingga menutup matanya lalu terlihat menarik nafas dalam-dalam. Ia kemudian membuka mata lalu menatap ke arah Kevin.
" Kalau Jingga kembali pada Kak Satria, apa Mas Kevin rela ? " tanya Jingga menatap Kevin penuh rasa ingin tahu.
" Jika itu jalan yang terbaik untukmu, untuk kita. Aku akan jadi orang egois jika terus menahanmu disampingku padahal aku tahu kebahagiaanmu bukan bersamaku. Jingga, aku tidak ingin kita berdua terikat karena keterpaksaan... "
" Bagaimana jika Jingga memutuskan untuk tetap bersama dengan Mas Kevin ? Apa Mas Kevin keberatan ? " tanya Jingga menyela ucapan yang terlontar dari mulut Kevin.
Kevin menatapi Jingga seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.
__ADS_1
" Maksudmu ? Kamu ingin terus bersamaku, dalam ikatan pernikahan ini ? " tanya Kevin heran.
" Kita sudah menikah dan sekarang Jingga sudah menjadi istri Mas Kevin. Jingga akan terus bertahan di sisi Mas Kevin. Lagipula, bukankah Jingga pernah mengatakan jika orang yang berarti di hati Jingga sudah pergi dan kini sudah tak ada artinya lagi... " jawab Jingga.
" Kamu yakin dengan ucapanmu itu ? " Kevin kembali bertanya kepada Jingga. Ia butuh kepastian, toh jika saja Jingga mengatakan ingin kembali kepada Satria maka Kevin tidak akan mencegahnya.
" Ya, Jingga yakin Mas " jawab Jingga.
" Jingga... Jangan terlalu memaksakan dirimu. Kamu tahu betul alasan mengapa kita bisa menikah seperti ini " sahut Kevin membuang pandangannya ke sembarang arah.
" Jingga tahu itu, Mas ! Tapi apa salah kalau Jingga ingin berbakti kepada suami Jingga ? Terlepas dari apa yang mendasari pernikahan kita. Bagi Jingga pernikahan itu suci dan sebisa mungkin Jingga bertahan di dalam hubungan ini. Sampai nanti waktu yang menjawab apakah kita memang berjodoh atau tidak " timpal Jingga yang membuat Kevin merasa bahagia juga bingung.
Di satu sisi, ia bahagia karena memiliki istri setia seperti Jingga. Namun di sisi lain, ia bingung untuk menentukan sikap jika nanti ia bertemu dengan wanita yang selama ini ia cari. Akankah ia rela kehilangan Jingga ?
Kevin tidak ingin egois. Jingga memiliki hak untuk mendapatkan kebahagiaannya sendiri. Sedangkan jika bersamanya, akan selalu ada bayang-bayang wanita itu dalam hidup mereka.
" Mas Kevin tidak perlu khawatir jika Mas sudah menemukannya, Jingga akan mengalah " ucap Jingga seolah memahami kebimbangan yang dirasakan oleh Kevin.
Jingga beranjak masuk ke kamar, namun kemudian Kevin menahan laju langkah kaki Jingga. Kevin memeluk raga Jingga, melingkarkan tangannya di perut Jingga.
" Mas... " ucap Jingga terdengar lirih.
Kevin mengeratkan pelukannya.
" Jingga... Jika yang kau katakan tadi benar adanya. Maukah kita menjalani biduk pernikahan kita dengan sebenar-benarnya. Kita bisa memulainya dari awal, kita anggap mimpi saja semua yang telah berlalu. Kita mulai bangun pernikahan kita. Apa kamu siap menjalani pernikahan sebenarnya denganku ? " tanya Kevin.
" Maksud Mas Kevin ? "
" Kita lupakan orang-orang di masa lalu kita dan kita mulai hubungan baru diantara kita " jawab Kevin.
" Mas yakin mau mencobanya ? " tanya Jingga lagi.
__ADS_1
" Ya, jika kamupun mau mencobanya " jawab Kevin lalu membalik badan Jingga hingga menghadap ke arahnya.
Keduanya saling bertatapan dan entah ada dorongan dari mana membuat Kevin berani mengecup bibir Jingga untuk pertama kalinya. Jingga pun tak menolak saat merasakan bibir Kevin mencium bibirnya dengan lembut.
Kevin mengakhiri sesi ciuman pertama mereka lantas tersenyum saat melihat Jingga masih menutup matanya.
Kevin membelai pipi Jingga dengan lembut, lalu menggandeng tangan Jingga.
" Ayo kita turun, sayang ! Mami pasti ribut kalau menantu kesayangannya ini belum turun juga. Nanti dikiranya lagi buat cucu lagi " ucap Kevin sambil terkekeh.
Jingga langsung membuka matanya, ia merasakan panas pada wajahnya. Dan sudah barang tentu wajahnya terlihat merah merona saat ini.
" Mas, ih... " protes Jingga sambil melepaskan tangannya dari Kevin.
" Gak usah malu, sayang... Mulai saat ini, aku akan panggil kamu dengan kata sayang. Ini sebagai pertanda jika kita berdua menerima dan akan menjalani pernikahan ini dengan sungguh-sungguh " ucap Kevin yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Jingga.
Mereka berdua keluar dari kamar mereka bersama-sama dan segera menuju ke ruang keluarga dimana Mami Sita sudah menunggu mereka.
" Ya ampun, kalian ini pengantin baru gak tahu waktu ya ! " ucap Mami Sita sambil melihat ke arah Kevin dan Jingga.
" Memangnya ada apa, Mi ? " tanya Kevin heran melihat sikap sang ibu.
" Kalian ini kan baru saja pulang, bisa-bisanya mandi barengan begini " jawab Mami Sita sambil geleng-geleng kepala.
Jingga akan membuka suara, namun Kevin melarangnya dengan memberikan kode gelengan kepala.
" Wajar dong, Mi... Namanya juga pengantin baru. Iya kan, sayang " ucap Kevin sambil mengerlingkan sebelah matanya ke arah Jingga.
" Ck, pengantin baru sih pengantin baru... Tapi kamu malah tinggalin istri kamu buat kerja, padahal kalian ini baru saja menikah. Seharusnya kalian itu pergi bulan madu " oceh Mami Sita yang merasa kesal dengan sikap sang anak.
Bagaimana tidak kesal, jika Kevin justru memilih untuk masuk kantor setelah pernikahannya dengan Jingga.
__ADS_1
" Santai Mi... Kevin lagi cari destinasi buat bulan madu kami " sahut Kevin.
" Tidak perlu cari lagi. Karena Mami dan Papi sudah buat rencana untuk bulan madu kalian. Dan lusa kalian berangkat ke Paris ! "