Story Of Kevin Argajaya

Story Of Kevin Argajaya
Paris... Here we come


__ADS_3

Satria mengajak Jingga menuju halaman saat seluruh keluarga masih berkumpul di ruang makan. Dan hal itu tak luput dari perhatian Kevin. Kevin pun mengikuti Jingga dan Satria tanpa mereka ketahui.


" Lepas Kak ! Nanti ada yang lihat " seru Jingga saat Satria menarik tangannya.


" Jingga, apa maksudnya pergi bulan madu ? " tanya Satria tak terima.


" Karena kami sudah menikah, jadi sudah sepantasnya kami juga pergi berbulan madu seperti pasangan pengantian yang lain " jawab Jingga.


" Tidak bisa, aku tidak mengijinkannya ! " larang Satria.


Jingga menatap sengit ke arah Satria.


" Apa alasan Kak Satria tidak mengijinkan Jingga pergi ? Ingat kak, Jingga sudah menikah jadi tidak perlu meminta ijin dari Kakak " cetus Jingga kemudian.


" Karena aku mencintaimu dan hanya aku yang bisa memilikimu " sahut Satria mencekal tangan Jingga.


" Jingga bukan milik Kakak lagi ! Jadi tolong biarkan Jingga menjalani kehidupan saat ini dengan tenang dan bahagia " mohon Jingga.


Satria memegangi kedua lengan Jingga sambil menghadap ke arah Jingga.


" Jingga, kamu hanya bisa bahagia bersamaku " ucap Satria menatap lekat ke dalam mata Jingga.


Hampir saja Jingga luluh, seandainya saja Kevin tidak segera datang.


" Jingga sayang... Ah ternyata kamu disini " ucap Kevin berpura-pura, padahal sejak tadi Kevin memperhatikan interaksi diantara keduanya.


Jingga segera melepaskan tangan Satria, lalu berjalan ke arah Kevin. Kevin dengan segera menyambut Jingga dengan melingkarkan tangannya di pinggang Jingga.


" Tadi Kak Satria tanya soal bulan madu kita " ucap Jingga.


" Oh ya ? Jadi bagaimana menurutmu mengenai rencana bulan madu kami ? " tanya Kevin. Ia ingin tahu jawaban apa yang diberikan oleh Satria.


" Apa tidak sebaiknya kalian menundanya dulu ? " Satria mengeluarkan pikirannya.


" Kenapa kami harus menundanya ? " tanya Kevin santai.


" Ini terlalu cepat " jawab Satria singkat.


Kevin menaikkan sebelah alisnya, lantas ia tersenyum tipis.

__ADS_1


" Bukankah lebih cepat kami pergi akan lebih baik ? Kami tidak ingin menunda memiliki anak. Orang tua pun sangat mendukung kami untuk segera memiliki anak. Bahkan bulan madu ini, direncanakan oleh mereka " jelas Kevin.


" Aku mengerti itu... Tapi bisakah kau memberi kami waktu bersama. Kami baru saja bertemu setelah lama berpisah " sahut Satria memohon pada Kevin.


Kevin beradu pandang dengan Jingga.


" Kamu mau menunda keberangkatan kita, sayang ? " tanya Kevin.


" Kita berangkat saja, Mas ! Toh nanti Jingga dan Kak Satria bisa bertemu setelah kita pulang. Lagi pula kita berdua tidak pergi bertahun lamanya. Kita hanya pergi selama 14 hari dan setelahnya bisa bertemu kembali " jawab Jingga dan itu membuat Satria sepertinya tersindir.


" Baiklah, sayang " ucap Kevin sambil mengecup pucuk kepala Jingga dengan lembut.


Satria menatap tak suka kedekatan antara Jingga dan Kevin. Dalam hatinya Satria merutuk. Ia ingin sekali memisahkan Kevin dan Jingga.


" Ya sudah, kalau begitu kita siapkan apa yang harus kita bawa untuk besok ! " seru Kevin pada Jingga.


" Kak Satria masih mau disini ? " tanya Jingga sambil menatap ke arah Satria.


" Karena kalian akan bersiap, sebaiknya aku pulang saja " jawab Satria dengan terpaksa.


" Ya, itu ide bagus karena aku dan Jingga tidak bisa menemanimu lebih lama " sahut Kevin.


Entah mengapa Kevin merasa ada yang janggal dengan ucapan dari Satria itu. Tapi ia tidak terlalu memikirkannya. Ia hanya berharap jika Satria menerima dengan lapang bahwa status Jingga saat ini adalah istrinya.


Sementara itu, di dalam mobil Satria tengah menghubungi seseorang.


" Siapkan tiket untuk penerbanganku ke Paris, besok ! Aku tak peduli bagaimana caranya kau harus mendapatkan tiket untukku ! " seru Satria lalu segera mematikan panggilannya.


Aku tidak akan membuat kalian bisa menikmati bulan madu kalian !


Batin Satria sambil mengepalkan tangannya.


Keesokan harinya, Jingga dan Kevin telah bersiap menuju Paris. Mereka baru saja sampai di bandara dengan diantar oleh Mami Sita, Papi Tommy, dan juga Ryan.


Jingga memeluk Mami Sita dengan erat sebelum berpisah.


" Kalian senang-senang ya disana. Pulangnya bawa oleh-oleh cucu buat Mami dan Papi ! " seru Mami Sita.


" Doain aja, Mi ! " sahut Jingga.

__ADS_1


" Kevin, inget lho ! Kamu harus serang terus Jingga biar cepet-cepet isi ! " Kali ini Mami Sita memberi titah langsung kepada Kevin.


" Astaga Mami... Omongannya itu " gerutu Kevin sambil geleng-geleng kepala.


" Sikat terus Kak ! Biar gak ada kesempatan kakaknya Jingga itu bawa Jingga pergi dari Kak Kevin ! " bisik Ryan sambil terkekeh.


Dasar bocah tengik !!


" Kevin... Kamu jaga istri kamu baik-baik ! Semoga kalian bisa menikmati momen yang tak terlupakan ini. Ingat jangan main kasar ! " ucap Papi Bima yang membuat Kevin mendelik kesal.


Mereka berdua akhirnya segera menuju pintu gerbang keberangkatan. Sementara itu, sepasang mata mengikuti kemana arah Kevin dan Jingga melangkah.


Satria menatap kepergian Jingga dan Kevin sambil menyeringai.


Tunggu aku, Jingga ! Aku akan membawamu kembali bersamaku !


Satria akhirnya bisa mendapatkan tiket menuju Paris setelah asisten kepercayaannya berhasil mendapatkan tiket. Dan Satria akan menuju ke Paris dengan penerbangan berikutnya. Ia tidak khawatir akan kehilangan jejak Jingga dan Kevin karena Satria sudah meminta orang suruhannya untuk menunggu dan mengikuti Kevin dan Jingga setelah mereka tiba di bandara Charles de Gaulle Paris.


Setelah penerbangan yang cukup lama dengan dua kali transit, kini Kevin dan Jingga telah menjejakkan kaki mereka di negara yang terkenal dengan Menara Eiffel itu.


Mereka kini telah dijemput oleh pihak hotel yang sudah menyediakan akomodasi antar jemput bagi tamu mereka. Kevin meraih tangan Jingga dan menggenggamnya dengan erat.


" Kita istirahat saja dulu di hotel. Kamu pasti lelah setelah perjalanan tadi. Besok kita baru keliling Paris " ucap Kevin yang hanya dijawab dengan anggukan kepala dari Jingga karena masih merasakan jet lag.


Keesokan harinya, seperti yang telah direncanakan. Kevin dan Jingga mulai menjelajahi tempat-tempat romantis yang ada di Paris. Dan mereka memulainya dengan berlayar di Sungai Seine.


Setelah puas berlayar di sungai Seine, kini keduanya sudah berada di Menara Eifell. Mereka berkeliling taman yang penuh bunga warna warni yang ada di sekitar Menara Eifell dikarenakan saat ini di Paris tengah memasuki musim semi sehingga banyak yang menikmati pemandangan bunga-bunga cantik bermekaran di taman.


Waktu telah merangkak menuju malam dan suasana di Menara Eifell begitu gemerlap dan indah dengan beraneka lampu warna-warni yang menghiasi menara. Jingga nampak begitu takjub dengan pemandangan yang begitu memanjakan matanya.


Mereka berdua kemudian berganti pakaian. Jingga mengenakan gaun berwarna hitam dan Kevin memakai stelan jas berwarna senada dengan Jingga. Dan kini mereka tengah berada di dalam restoran yang berada di Menara untuk makan malam romantis ditemani indahnya lampu yang gemerlapan menambah syahdu suasana yang begitu romantis.


Pelayan mengantarkan satu bucket bunga mawar merah yang dipesan oleh Kevin. Kemudian Kevin berlutut di hadapan Jingga.


" Jingga, bersediakah kamu menghabiskan seluruh waktumu, hidupmu, jiwa dan ragamu untuk menemaniku selamanya ? " tanya Kevin sambil menggenggam jemari tangan Jingga.


Jingga meraih bucket bunga yang diberikan oleh Kevin.


" Aku bersedia, Mas... Aku akan selalu ada disisimu, berbakti kepadamu. Dan aku siap menjadi istrimu sepenuhnya " jawab Jingga lalu mencium pipi Kevin malu-mau.

__ADS_1


__ADS_2