Story Of Kevin Argajaya

Story Of Kevin Argajaya
Permintaan Satria


__ADS_3

Karina tersenyum tipis saat melihat Kevin yang tengah memeluk seorang wanita. Awalnya, Karina berniat untuk menghampiri Kevin. Namun saat melihatnya menggenggam tangan seorang wanita, Karina mengurungkan niatnya.


Sepertinya, mereka memiliki hubungan spesial. Tidak... Aku tidak boleh menghancurkan hubungan mereka berdua. Sudah cukup, aku mengganggu hubungan orang lain. Biarlah, aku membesarkan anak ini sendiri.


Maafkan Mama, Nak... Mama tidak bisa memberitahu ayahmu tentang dirimu. Tapi jangan khawatir, Mama akan memberikan yang terbaik untukmu...


Karina mengusap perutnya yang masih terlihat rata sambil melihat ke arah Kevin. Ia kemudian berjalan menjauhi Kevin.


Kevin sempat menangkap sosok yang mirip dengan wanita yang dicarinya. Namun, ia tak menemukannya saat ia mengedarkan pandangannya melihat sekeliling.


" Ayo, Mas ! " seru Jingga membuat Kevin menyadari ada sang istri disampingnya saat ini.


" Kita ke hotel saja dulu ! Kamu pasti lelah " ucap Kevin lalu keluar dari bandara untuk memanggil taksi dan membawa mereka ke hotel.


Kevin dan Jingga beristirahat di hotel. Barulah setelah senja menyapa, Kevin keluar dari hotel untuk menemui pelayan yang dulu ditemuinya.


" Kamu mau ikut sayang ? " tanya Kevin pada Jingga.


Jingga menggeleng perlahan.


" Aku disini saja " jawab Jingga sambil duduk di tepi ranjang.


" Baiklah, jangan kemana-mana ya ! Aku akan segera kembali " ucap Kevin lalu mengecup kening Jingga.


" Ya, hati-hati. Semoga masalahnya cepat selesai ya Mas " sahut Jingga tulus.


" Doakan saja. Mas pergi dulu ya ! " pamit Kevin.


Kevin pun akhirnya meninggalkan Jingga di dalam kamar hotel. Jingga memilih untuk tiduran sambil menonton Televisi. Hingga ponselnya berdering dan menampilkan nama Satria disana.


" Iya, Kak ? "


" Jingga kami sudah pulang ? " tanya Satria berbasa-basi, padahal ia tahu betul dimana Jingga saat ini.


" Sudah Kak, tapi Jingga belum pulang ke rumah " jawab Jingga apa adanya.


" Oh ya ? Memangnya sekarang kamu ada dimana ? " tanya Satria lagi.


" Jingga lagi di Lombok. Mas Kevin ada urusan mendadak disini " jawab Jingga apa adanya.


" Jadi kamu di Lombok sekarang ? Kebetulan sekali ya, aku juga sedang ada di Lombok " sahut Satria.


" Hah ? Kakak lagi di Lombok juga ? " tanya Jingga heran.


" Iya, liburan... Menenangkan diri karena kamu tinggal pergi " jawab Satria yang membuat Jingga merasa bersalah.


" Maaf Kak " hanya itu yang bisa Jingga katakan.

__ADS_1


" Sudahlah, aku baik-baik saja. Ya, meskipun rasanya sangat sakit tapi aku harus menerima keputusanmu " ucap Satria seolah sudah menerima dengan lapang dada.


" Kamu dimana ? Kita ketemuan bisa ? " tanya Satria.


" Jingga di hotel, Kak. Mas Kevin sedang keluar. Kalau mau ketemu tunggu Mas Kevin pulang dulu ya Kak " jawab Jingga.


" Kamu kasih tahu saja Kevin kalau mau ketemu sama aku. Di dekat hotel tempat kamu menginap saja. Jadi nanti Kevin bisa susul kita, gimana ? " tanya Satria memasang umpan.


" Tapi... "


" Sudah, Kevin pasti tidak akan keberatan. Kamu menginap dimana, biar aku jemput kesana. Sekalian aku minta oleh-oleh Paris dari kalian " sela Satria.


Akhirnya, Jingga memberitahu Satria dimana ia menginap. Satria menyeringai penuh. Kini saatnya ia memisahkan Jingga dan Kevin. Satria begitu yakin jika rencananya akan berhasil.


Sementara itu, Jingga tengah menghubungi Kevin. Terdengar nada sambung, namun Kevin tidak menjawab panggilannya.


" Angkat dong, Mas ! " ucap Jingga sambil sesekali menatap layar ponselnya.


Jingga menghela nafasnya namun tetap berusaha menghubungi Kevin. Hingga pada akhirnya, Kevin mengangkat panggilannya.


" Iya, sayang "


" Mas... Jingga minta ijin keluar boleh ? " tanya Jingga.


" Kamu mau kemana sayang ? " tanya Kevin.


" Satria di Lombok ? " Kevin bergumam sendiri.


" Mas... Jadi Jingga boleh ketemu Kak Satria ? " tanya Jingga lagi.


" Di sekitar hotel saja, ya sayang. Aku akan segera kembali " seru Kevin.


" Baiklah. Terima kasih, Mas " sahut Jingga lalu menutup panggilan.


Jingga mengeluarkan oleh-oleh yang dibelinya dari Paris untuk Satria. Sebuah miniatur menara Eiffel, parfum serta sebuah baret ia berikan untuk pria yang pernah mengisi hatinya itu. Jingga memasukkannya ke dalam paper bag.


Tak lama berselang, sebuah pesan masuk ke ponsel Jingga dan itu berasal dari Satria. Satria memberi tahu jika dirinya kini sudah berada di lobi hotel. Jingga pun segera keluar dari kamarnya menuju lobi.


Satria melebarkan senyuman saat melihat Jingga dari kejauhan. Wanita yang dicintainya itu nampak sangat cantik dengan memakai kaos putih dipadu dengan cardigan berwarna peach serta rok jeans dengan panjang selutut.


Jingga melambaikan tangannya saat melihat Satria. Sebelah tangannya menenteng paper bag berisi oleh-oleh yang sudah disiapkannya tadi.


" Ini untuk Kak Satria dari aku dan Mas Kevin " ucap Jingga sambil menyerahkan paper bag kepada Satria.


" Terima kasih " sahut Satria sambil tersenyum.


Jingga tersenyum melihat Satria yang saat itu tersenyum.

__ADS_1


" Kenapa Jingga ? " tanya Satria melihat Jingga yang sedang melihatnya


" Semoga, kakak segera menemukan kebahagiaan yang kakak impikan " jawab Jingga dengan tulus.


Satria menarik sudut bibirnya.


" Aku akan berusaha mendapatkan kebahagiaanku itu " sahut Satria menimpali ucapan Jingga.


Bahagiaku itu kamu, Jingga.


Satria menegaskan dalam hati sembari menatap lekat Jingga.


Ditatap seperti itu, membuat Jingga merasa salah tingkah hingga kemudian Jingga mencoba mengalihkan perhatian Satria.


" Kita mau kemana Kak ? " tanya Jingga.


" Ah, bagaimana jika kita jalan-jalan ke pantai. Di sekitar sini saja, aku tahu pasti Kevin tidak mengijinkanmu pergi jauh " jawab Satria.


Jingga mengangguk setuju dengan ucapan Satria. Lagi pula sebentar lagi Kevin akan kembali. Mereka pun hanya berkeliling di pantai sekitar hotel saja.


Berjalan berdua di pantai bersama Jingga merupakan hal yang telah lama diimpikan oleh Satria. Dan kini mereka melakukannya, sayangnya dalam kondisi berbeda.


" Jingga, apa kamu ingat ? Dulu... Kita pernah berjanji berjalan di sepanjang pantai bersama-sama. Menghabiskan waktu hingga melihat matahari tenggelam berdua... " ucap Satria mengingat kembali keinginan mereka sebelum berpisah.


" Bukankah kita sedang melakukannya sekarang ? " sela Jingga.


" Hem... Tapi dalam kondisi berbeda. Kita bukan lagi pasangan kekasih " sahut Satria membuat Jingga menghentikan langkahnya.


" Kak... Tolong, jangan membahasnya lagi ! " mohon Jingga.


Satria membalik badannya hingga menghadap Jingga.


" Tapi aku masih berharap kita kembali lagi bersama, Jingga... " ucap Satria sambil menggenggam tangan Jingga bahkan kini Satria sudah berlutut sambil menatap Jingga.


" Jingga, kumohon kembalilah padaku ! Kita bisa meneruskan semua mimpi kita. Aku tak mempersoalkan statusmu yang sudah menikah. Aku akan menerimamu jika kau mau kembali bersamaku ! " harap Satria.


Jingga menatap Satria dengan tatapan dalam. Ia bisa melihat ada cinta yang begitu besar dalam mata Satria. Jingga memejamkan matanya lalu menghembus nafasnya dengan berat. Jingga menarik tangannya dari genggaman tangan Satria.


" Maaf Kak... Jingga tidak bisa ! Jingga tidak akan meninggalkan Mas Kevin " tegas Jingga.


" Tapi kenapa Jingga ? Kenapa kamu tidak bisa meninggalkannya ? " tanya Satria.


" Karena Mas Kevin, suami Jingga. Dan Jingga sudah meyerahkan semua milik Jingga kepada Mas Kevin karena Jingga yakin akan menghabiskan seluruh hidup Jingga bersama dengannya " jawab Jingga yakin.


Tangan Satria mengepal, ia sangat kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh Jingga. Satria kemudian berdiri lalu kembali menatap Jingga lekat-lekat.


" Kalau begitu, bisakah aku meminta satu hal ? "

__ADS_1


__ADS_2