
" Hwaah kamu ? " pekik suster Diana saat melihat Satria berdiri di hadapannya.
Seolah sadar jika suster yang ada di depannya saat ini adalah perawat wanita yang waktu itu menariknya di depan rumah sakit, Satria malah tidak lagi dapat berkata-kata.
" Ada yang bisa saya bantu ? " tanya suster Diana bersikap profesional meskipun jauh di dalam hatinya ia malas berbicara dengan pria sombong ini.
" Maaf... Maafkan atas sikap saya tempo hari. Saat itu saya sedang banyak pikiran " ucap Satria.
" Hem, sudahlah tidak perlu dibahas lagi. Kalau tidak ada lagi yang ingin ditanyakan, saya permisi dulu " sahut suster Diana lalu berjalan meninggalkan Satria.
" Tunggu ! " seru Satria sambil menahan tangan suster Diana.
Suster Diana melihat ke arah tangannya yang ditahan oleh Satria. Menyadari hal itu, Satria segera melepaskan tangannya.
" Maaf... Maafkan saya ! " ucap Satria.
" Jadi sebenarnya anda ada keperluan apa ? " tanya suster Diana.
" Saya hanya ingin tahu keadaan Jingga " jawab Satria.
Suster Diana menautkan kedua alisnya,
" Ibu Jingga Argajaya ? " tanya suster Diana memastikan.
" Iya, tadi saya lihat anda keluar dari ruang rawatnya. Boleh saya tahu bagaimana kondisinya sekarang ? " tanya Satria penasaran.
Suster Diana kembali mengernyitkan keningnya.
" Kondisinya sudah stabil dan dalam beberapa hari ke depan sudah boleh pulang " jawab suster Diana.
" Benarkah itu ? Syukurlah... " ucap Satria sambil menghembus nafasnya.
" Kalau anda ingin melihatnya, silakan masuk ke dalam ruang perawatannya " sahut suster Diana.
" Bolehkah saya meminta tolong pada anda, suster ? " tanya Satria.
Kembali suster Diana menautkan alisnya.
" Saya akan memberikan sesuatu untuk Jingga tapi saya tidak bisa memberikannya langsung. Jadi saya meminta bantuan anda untuk memberikannya kepada Jingga " ucap Satria dengan penuh harapan agar suster itu mau membantunya.
" Mengapa bukan anda sendiri yang memberikannya ? " tanya suster Diana heran.
Satria menunduk lalu tersenyum kecut.
" Saya terlalu malu untuk bertemu dengannya karena apa yang menimpanya saat ini sayalah yang secara tidak langsung menjadi penyebabnya " lirih Satria.
Suster Diana menghela nafasnya. Entah mengapa ia merasa iba kepada pria di hadapannya ini.
__ADS_1
" Baiklah, saya akan membantu. Tapi bukan berarti anda bisa memaksakan kehendak anda... "
" Terima kasih... Saya sangat menghargai bantuan suster. Nanti siang saya akan kembali lagi " ucap Satria dengan mata berbinar. Ia segera meninggalkan suster Diana, namun tak lama ia kembali lagi.
" Ada apa lagi ? " tanya suster Diana saat melihat Satria kembali.
" Saya akan menunggu anda di cafetaria saat jam makan siang " jawab Satria sambil tersenyum.
" Hem " jawab suster Diana singkat, kemudian mereka pun berpisah.
Sesuai janji yang sudah dibuatnya, Satria sudah duduk di cafetaria menunggu kedatangan suster Diana sejak jam 12 siang. Dengan membawa buket bunga seolah sedang menanti kedatangan kekasih hatinya. Setengah jam kemudian suster Diana muncul.
" Maaf, saya harus memeriksa pasien lebih dulu " ucap suster Diana merasa tak enak karena yakin jika pria yang duduk di depannya ini sudah menunggu lama.
" Tidak apa, saya saja yang datang terlalu awal " sahut Satria sambil mengembangkan senyumnya.
Sesaat suster Diana terpaku melihat senyum di wajah tampan Satria, namun segera ia menepiskan perasaannya.
" Tolong anda berikan ini kepada Jingga " ucap Satria sambil memberikan satu buket bunga mawar putih yang disukai Jingga serta sebuah kartu ucapan.
" Baiklah, tapi bagaimana jika nanti Bu Jingga menolaknya ? " tanya suster Diana.
" Anda boleh membuangnya " jawab Satria sambil menghela nafasnya.
" Maaf, kalau saya boleh tahu siapa nama anda ? Saya harus mengatakan apa jika Bu Jingga bertanya ? " tanya suster Diana lagi.
" Anda tahu nama saya ? " tanya suster Diana heran.
Satria mengangguk lalu menunjuk name tag yang tersemat di pakaian putih milik suster Diana.
Suster Diana mengangguk-angguk kepalanya.
" Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu Tuan Satria " pamit suster Diana sambil membawa buket bunga dan kartu yang Satria berikan untuk Jingga.
" Terima kasih, saya akan membalas kebaikan anda " sahut Satria mempersilakan suster Diana untuk pergi.
Mereka pun berpisah, namun Satria justru melangkahkan kakinya menuju kamar rawat Jingga. Ia memperhatikan dari kejauhan.
Dan tak lama kemudian suster Diana masuk ke dalam ruangan Jingga dengan membawa buket bunga yang tadi dibawa oleh Satria.
" Selamat siang, Bu Jingga, Pak Kevin... " sapa suster Diana saat memasuki ruangan.
" Selamat siang " jawab Jingga dan Kevin melihat ke arah suster Diana yang masuk sambil membawa satu buket bunga mawar putih.
" Mohon maaf, bu Jingga tadi saya diminta seseorang untuk memberikan ini kepada anda " ucap suster Diana lalu berjalan menghampiri Jingga sambil memberikan bunga dan kartu ucapan.
Jingga terlihat sangat menyukai bunga itu.
__ADS_1
" Kalau begitu, saya permisi " pamit suster Diana.
" Tunggu, sus... Ini siapa yang memberikannya ? " tanya Jingga penasaran.
" Dari seorang pria bernama Satria " jawab suster Diana jujur.
Deg ...
Bunga yang ada dalam genggaman Jingga terlepas dari genggaman tangan Jingga. Jingga lalu menatap Kevin. Seolah paham dengan sikap sang istri, Kevin segera memeluk Jingga.
" Tenang, sayang ! Aku ada disini " ucap Kevin menenangkan Jingga.
" Anda tidak apa-apa ? " tanya suster Diana khawatir.
" Tidak apa-apa, suster. Terima kasih, tapi saya minta tolong agar tidak ada yang menemui istri saya dahulu " jawab Kevin.
" Baiklah, saya permisi " pamit suster Diana kendati ia begitu penasaran mengapa Jingga sampai bersikap seperti tadi.
Suster Diana keluar dari ruangan Jingga lalu berjalan menuju ruangan perawat.
" Haawwh... " ucapnya kaget saat melihat Satria tiba-tiba ada di depannya.
" Astaga, apa anda ini hantu ? Tiba-tiba saja ada " gerundel suster Diana sambil mengelus dadanya.
" Maaf... Bagaimana sikap Jingga ? " tanya Satria penuh rasa ingin tahu.
" Bu Jingga sepertinya terkejut dan takut saat mendengar nama anda " jawab suster Diana.
Satria menghembus kasar nafasnya lalu mengusap wajahnya.
" Sebenarnya apa yang terjadi diantara kalian ? " tanya suster Diana kepo.
Satria bergeming, ia tak tahu harus menjelaskan apa dan untuk apa menjelaskan kepada wanita di depannya ini.
" Ck... Sudahlah. Ada urusan apa diantara kalian itu bukan urusan saya " gumam suster Diana kemudian berjalan menjauhi Satria.
" Tunggu ! " Satria menahan laju suster Diana.
" Saya akan menjelaskan semuanya kepada, tapi tolong bantu saya menemui Jingga " ucap Satria.
" Maaf, tapi saya tidak ada waktu untuk ikut campur urusan orang lain " tukas suster Diana.
" Saya mohon, tolonglah saya ! Saya hanya ingin meminta maaf kepada Jingga " sahut Satria lagi.
Suster Diana menghela nafasnya lalu menganggukkan kepalanya.
" Baiklah, tapi anda harus menceritakan ada masalah apa diantara kalian " timpal suster Diana.
__ADS_1
Mereka berdua pun pergi ke taman. Akhirnya Satria menceritakan semuanya kepada suster Diana. Entah karena apa, namun ia merasa suster Diana adalah orang yang dapat dipercaya.