Story Of Kevin Argajaya

Story Of Kevin Argajaya
Pilihan Haziq


__ADS_3

Aluna, Damar dan Haziq kini mendekati Kevin dan Jingga.


" Maaf, Mas Kevin, Mba Jingga... Kami harus merapikan barang-barang Haziq " ijin Aluna.


" Ya tentu saja. Barang-barang Haziq ada di kamarnya " ucap Jingga sambil tersenyum miris.


" Kalau begitu, kami ke kamar Haziq dulu " ucap Aluna lagi sembari meninggalkan Jingga dan Kevin menuju ke kamar Haziq bersama dengan Damar dan juga Haziq.


Sekilas Haziq menatap Kevin dan juga Jingga sebelum ia berlalu bersama Damar dan Aluna.


" Mas... Apa kita tidak akan pernah bisa memiliki anak dalam keluarga kita ? " tanya Jingga pilu saat menatap Haziq dan kedua orang tua angkatnya.


" Sabar, sayang... ! Mungkin Tuhan sedang menyiapkan yang terbaik untuk kita. Kita harus ikhlas " jawab Kevin sambil mengelus punggung Jingga.


" Yang terpenting saat ini, Haziq sudah mengetahui yang sebenarnya dan tidak menolak keberadaan kita. Bisa seperti ini setiap week end saja, rasa-rasanya sudah cukup memberikan kebahagiaan untuk kita " tambah Kevin lagi.


Jingga memeluk Kevin dengan erat, ia tahu betul sebenarnya Kevin juga sedih, hanya saja Kevin tidak ingin memperlihatkannya.


Sementara itu, di dalam kamar Aluna tengah merapikan pakaian Haziq ke dalam koper. Haziq memperhatikan sang ibu yang begitu antusias merapikan barang-barangnya.


Damar duduk di samping Haziq yang tengah duduk di tepi ranjang sambil melamun.


" Haziq kenapa ? " tanya Damar yang bisa melihat ada hal yang disembunyikan oleh sang anak.


Haziq menggelengkan kepalanya pelan.


" Gak apa-apa kok, Pa " jawab Haziq singkat.


" Kalau ada yang mau Haziq bilang, bilang aja. Papa sama mama gak akan marah " sahut Damar sambil mengusap pucuk kepala Haziq.


Aluna yang mendengar ucapan sang suami, segera menghentikan kegiatannya. Ia lantas berjalan ke arah tempat tidur, kemudian duduk mengapit Haziq.


Aluna menatap Haziq lekat-lekat. Merawat Haziq sejak bayi tentu saja membuat Aluna tahu betul bagaimana sikap Haziq yang memilih diam jika sedang ada masalah.


" Haziq mau tinggal disini sama ayah Kevin dan bunda Jingga ? " tanya Aluna sambil menatap ke dalam mata Haziq yang masih begitu polos.


Haziq menatap Aluna kemudian menundukkan wajahnya.


Aluna dan Damar saling bertatapan dan mereka mengambil kesimpulan jika Haziq kini tengah bingung.

__ADS_1


Aluna mengusap kepala Haziq lalu merangkul Haziq ke dalam pelukannya.


" Haziq... Mama tahu, Haziq pasti bingung dengan semua ini. Tapi Haziq perlu tahu, baik Mama Luna dan Papa Damar maupun Ayah Kevin dan Bunda Jingga, kami semua menyayangi Haziq " ucap Aluna.


" Kalau Haziq mau tinggal bersama Ayah Kevin dan Bunda Jingga disini, Mama mengijinkan sayang " tambah Aluna lagi dengan mata yang berkaca-kaca.


" Beneran Mama Luna gak apa-apa kalau Haziq tinggal sama ayah dan bunda ? " tanya Haziq kini memberanikan diri menatap wajah Aluna.


Meskipun terasa berat, Aluna menganggukkan kepalanya untuk menjawab peryanyaan dari Haziq.


" Mama cuma minta, Haziq jangan pernah melupakan Mama, Papa dan juga Anik. Kami ini masih keluargamu, Nak " ucap Aluna kini tak lagi bisa menahan laju air mata yang mengalir di pipinya.


Haziq mengusap wajah Aluna yang mulai basah dengan air mata.


" Mama jangan nangis ! Haziq masih anak Mama kan ? Haziq sayang sama Mama, sama Papa, sama Anik, oma, opa dan juga kakek " ucap Haziq sambil menangkup wajah Aluna dengan kedua tangan mungilnya.


" Haziq cuma ingin semua orang bahagia. Mama dan Papa sudah punya Anik dan adik bayi tapi ayah dan bunda gak punya siapa-siapa untuk menemani mereka... Haziq sayang sama semuanya " tambah Haziq lirih.


Hati Damar dan Aluna terenyuh mendengar ucapan yang keluar dari mulut Haziq. Damar mengusap kepala Haziq, sementara Aluna meraih tangan Haziq lalu menciuminya.


" Haziq memang anak baik, anak pinter... Mama sama Papa bangga sama Haziq " ucap Aluna penuh haru.


" Mama, papa gak marah kan sama Haziq kalau Haziq tinggal disini ? " tanya Haziq lagi sambil menatap Aluna dan Damar bergantian.


" Mana bisa mama, papa marah sama Haziq... Kalau itu keputusan Haziq, mama dan papa akan mendukung. Dengan satu syarat ! " seru Aluna.


Haziq menautkan kedua alisnya.


" Syarat apa, Ma ? " tanya Haziq.


" Haziq janji gak akan pernah lupain kami ! Haziq juga harus sering-sering mengunjungi kami ! " seru Aluna.


" Haziq janji, Ma ! Haziq akan selalu menyayangi mama dan papa. Tidak akan ada yang bisa mengganti posisi mama dan papa di hati Haziq " sahut Haziq sambil memeluk Aluna.


" Haziq akan selalu menjadi anak mama dan papa. Dan akan selalu menjadi kakak Ankk dan adik bayi " tambah Damar yang kini ikut memeluk Haziq dan Aluna.


Suasana haru biru itu disaksikan oleh Kevin dan Jingga dari balik pintu. Mereka melihat ketiganya saling berpelukan. Sungguh mereka sebenarnya merasa iri dengan kebersamaan Haziq bersama Aluna dan Damar. Tapi keputusan sudah dipilih oleh Haziq dan mereka harus menerimanya dengan lapang dada.


Kevin dan Jingga memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar. Saat mereka masuk, ketiganya sontak menoleh ke arah Kevin dan Jingga.

__ADS_1


" Maaf jika kami mengganggu " ucap Kevin merasa tak enak.


" Tidak apa Mas Kevin " sahut Aluna lalu melepaskan pelukannya dari Haziq


" Rupanya kalian belum selesai merapikan barang-barang Haziq. Apa perlu bantuan ? " tanya Jingga berbasa-basi.


" Sepertinya begitu Mba " jawab Aluna lalu berjalan menuju Jingga.


" Begitu ya ! Jadi apa yang bisa aku bantu ? " tanya Jingga.


" Mba Jingga bisa bantu saya merapikan pakaian Haziq ? " tanya Aluna sambil mengambil koper yang tadi ia isi dengan pakaian dan barang-barang Haziq.


" Ya, tentu saja " jawab Jingga singkat dengan tersenyum paksa.


Jingga mencoba memasukkan beberapa barang Haziq yang tersisa ke dalam koper namun segera dicegah oleh Aluna.


" Bukan ke dalam koper mba ! Tapi, mba Jingga bisa bantu merapikan barang-barang Haziq ke dalam lemari ! " seru Aluna.


" Baiklah " sahut Jingga masih belum menyadari maksud ucapan Aluna.


Jingga membuka koper lalu memasukkan barang-barang milik Haziq yang tadi Aluna rapikan keluar dari koper dan memindahkannya ke lemari. Sampai kemudian Jingga merasa heran sendiri.


" Kenapa dimasukkan ke dalam lemari ? " tanya Jingga heran.


" Ini maksudnya gimana Luna ? " tanya Jingga lagi.


" Mulai saat ini, Haziq tinggal bersama kalian " jawab Aluna sambil melirik ke arah Haziq.


" Benarkah ? Kamu tidak berbohong untuk menyenangkan hati kami saja kan ? " tanya Jingga lagi begitu kaget.


" Ini sudah keputusan Haziq untuk tinggal bersama kalian. Jadi kami mohon agar kalian merawat dan menyayangi Haziq dengan baik ! " jawab Damar sambil merangkul pundak Aluna.


" Ini... Ini serius Mar ? " tanya Kevin tak percaya.


" Serius, yah ! Memangnya ayah sama bunda gak suka ya kalau Haziq tinggal disini ? " ucap Haziq sambil menatap Kevin dan Jingga.


Kevin dengan segera meraih Haziq lalu menggendongnya.


" Suka ! Ayah bahagia karena akhirnya bisa tinggal bersama dengan anak ayah disini " tegas Kevin sambil menciumi pucuk kepala Haziq.

__ADS_1


Jingga pun ikut memeluk Kevin dan Haziq. Bahkan Jingga terlihat meneteskan air mata saking bahagianya.


Melihat hal itu, Aluna dan Damar saling berpandangan dan tersenyum bahagia. Mereka berharap jika kebahagiaan ini tidak akan lekang terhapus waktu.


__ADS_2