
Setelah meyakinkan Jingga dengan keterangan visum, akhirnya Jingga percaya kepada Kevin. Dan kini mereka telah kembali ke ibu kota.
Sebenarnya saat mereka di Lombok kemarin, Kevin belumlah bertemu dengan pelayan yang dicarinya itu. Ia akan menemui kembali orang tersebut keesokan harinya. Namun dikarenakan Jingga hilang, maka Kevin memilih untuk mencari Jingga.
Kevin menyalahkan dirinya sendiri, jika saja ia tidak mengikuti keinginannya ke Lombok tentu saja semua ini tidak akan terjadi. Jingga tidak akan mengalami kejadian buruk ini.
Dan akhirnya, Kevin memilih tidak lagi mau mencari tahu tentang wanita itu lagi. Apapun yang terjadi, itu sudah kehendak Tuhan dan Kevin berusaha menerimanya.
Kini, Kevin sudah berada di kediamannya. Mami Sita dan Papi Tommy menyambut kedatangan mereka dengan bahagia. Mereka berpikir jika Kevin dan Jingga kembali melanjutkan bulan madu mereka di Lombok. Kevin pun memilih untuk tidak memberitahu mereka apa yang terjadi di Lombok.
" Wah... Wah... Kalian sepertinya sangat menikmati bulan madu kalian ya " ucap Mami Sita sambil memeluk menantu kesayangannya.
Jingga balas memeluk Mami Sita dengan erat, bahkan ia hampir saja menitikkan air mata.
" Kamu kenapa sayang ? " tanya Mami Sita sambil menatap Jingga dengan lekat. Sepertinya ia mencium ada gelagat aneh dari Jingga.
" Jingga kangen sama Mami " jawab Jingga sambil mencari kenyamanan dengan kembali memeluk ibu mertuanya itu.
" Oalah... Mami juga kangen. Bagaimana ? Sudah ada tanda-tanda cucu Mami disini ? " tanya Mami Sita dengan semangat mengusap perut Jingga.
" Ck... Mami ini lucu, memangnya bisa langsung ada " cebik Kevin.
" Ya, kalau belum ada berarti kamu kurang usaha. Harusnya itu kamu sat set sat set dong supaya cepat isi ! " oceh Mami Sita menimpali ucapan Kevin.
" Sudah... Sudah... Mami biarkan dulu Jingga dan Kevin istirahat. Mereka pasti lelah " Papi Tommy menyudahi.
Kevin dan Jingga kemudian segera masuk ke kamar mereka setelah sebelumnya memberikan buah tangan yang mereka bawa untuk Mami Sita dan Papi Tommy.
Jingga duduk di tepi ranjang. Ia menatap dengan pandangan kosong. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
Seolah paham apa yang dirisaukan oleh sang istri, Kevin mendekati Jingga lalu merangkul Jingga.
" Mas... " lirih Jingga, kini ia tidak bisa menahan air matanya lagi.
" Jingga, sayang... Jangan sedih lagi ! Lupakan yang sudah terjadi. Jangan mengingatnya lagi jika hanya membuatmu sedih " ucap Satria sambil mengelus punggung Jingga.
" Tapi Mas... "
__ADS_1
" Jingga... Tidak terjadi apapun pada kamu. Satria melakukan itu untuk memisahkan kita. Membuat kamu kembali kepadanya. Dia tidak melakukan apapun. Kamu lihat sendiri kan hasil visum dokter... " sela Kevin.
" Tapi, Mas... Bagaimana jika pemeriksaan dokter itu salah. Bagaimana jika Kak Satria memang melakukannya pada Jingga ? "
" Sstt... Tidak terjadi apapun. Aku yakin itu ! Lagipula jika memang Satria melakukan hal buruk kepadamu. Bagiku kamu tetap Jingga yang sama, Jingga yang suci " tegas Kevin sambil menatap Jingga.
Kevin menghapus air mata yang membasahi pipi Jingga.
" Jangan sedih, kumohon ! Aku akan selalu disisimu apapun yang terjadi ! " tambah Kevin lagi lalu mengecup kening Jingga.
Satu bulan sudah berlalu, Jingga kini sudah mulai dapat melupakan hal buruk yang menimpanya. Kini ia sedang berbelanja bersama dengan Mami Sita.
Berulang kali Jingga memijat pelipisnya saat menunggu Mami Sita membayar di kasir.
" Kamu kenapa sayang ? " tanya Mami Sita saat melihat Jingga memijat pelipisnya.
" Pusing sedikit, Mi... " jawab Jingga.
Mami Sita meletakkan telapak tangannya pada dahi Jingga.
" Jingga baik-baik saja, Mi... Istirahat sebentar juga baikan " sahut Jingga menolak ide sang ibu mertua.
" Ya sudah kalau begitu, kita istirahat sambil makan dulu. Mungkin setelah itu, kamu merasa lebih baik " timpal Mami Sita.
Jingga pun menuruti ucapan ibu mertuanya. Mereka berdua kini berada di sebuah food court.
" Kamu mau makan apa, sayang ? " tanya Mami Sita.
" Apa saja, Mi... Terserah Mami saja ! " jawab Jingga sambil menyandarkan punggungnya pada kursi.
Mami Sita segera memesan makanan dan setelah menunggu beberapa saat, akhirnya makanan yang dipesan pun datang.
Jingga langsung melahap makanan yang berada
di atas meja. Namun baru beberapa suap, ia merasakan mual, perutnya serasa diaduk dan selanjutnya Jingga segera berlari menuju toilet.
Setelah puas mengeluarkan isi dalam perutnya, Jingga keluar dari toilet dengan lesu. Mami Sita menyambut Jingga dengan khawatir. Terlebih saat melihat wajah Jingga yang pucat
__ADS_1
" Kita ke dokter ya ! " ucap Mami Sita.
" Tidak usah, Mi... Ini paling masuk angin, soalnya tadi pagi Jingga lupa sarapan " tolak Jingga.
" Sudah, biar tenang kita ke dokter saja. Mami tidak mau terjadi apa-apa sama kamu, sayang ! Lagipula, Mami juga mau memastikan satu hal " sahut Mami Sita.
Mau tidak mau, jika ibu suri sudah memerintah maka segala titahnya adalah wajib untuk dituruti.
Jingga dan Mami Sita kini berada di dalam ruangan dokter obgyn. Jingga tak tahu maksud dari sang ibu mertua membawanya ke dokter kandungan. Tapi, kemudian ia sadar jika ternyata ibu mertuanya itu curiga dengan kondisi dirinya.
Ya, beberapa hari ini Jingga memang sering merasa pusing dan mual. Akan tetapi, Jingga tak curiga karena ia berpikir jika itu hal wajar sebab Jingga memang memiliki riwayat penyakit maag.
Namun, hal itu tidak berlaku untuk Mami Sita. Ia curiga jika menantunya itu kini tengah berbadan dua. Dan hal itu kini terbukti karena berdasarkan pemeriksaan dokter, ternyata saat ini Jingga memang tengah hamil dan usia kandungannya adalah 5 minggu.
" Terima kasih ya sayang... Akhirnya, keinginan Mami terkabul juga. Mami harus segera memberi tahu Kevin dan Papi tentang berita bahagia ini. Pasti mereka sangat senang mendengarnya " ucap Mami Sita begitu antusias.
Jika Mami Sita begitu antusias mendengar berita kehamilan Jingga, lain halnya dengan Jingga. Ia justru sedikit terkejut dengan diagnosa dokter. Sungguh, jika boleh memilih, sebenarnya Jingga tak ingin hamil untuk saat ini.
Kevin segera pulang ke rumah saat mengetahui kabar menggembirakan yang diberitahukan oleh sang ibu.
Dengan langkah cepat, ia berjalan menuju ke kamarnya. Rasanya ia tak sabar untuk menemui Jingga dan menanyakan langsung kepada istrinya itu.
" Lho, Mas... Baru jam segini kok sudah pulang ? " tanya Jingga yang merasa heran karena Kevin kini sudah berada di kamar.
Kevin dengan segera mendekati Jingga lalu memeluk dan menciumi Jingga.
" Mas, ada apa ini ? " tanya Jingga yang merasa heran dengan sikap Kevin.
" Terima kasih sayang... Terima kasih... Kamu sudah mengandung anakku ! " ucap Kevin sambil mendekap erat sang istri.
Perasaan hangat menyelimuti hati Jingga. Ia tak menyangka jika Kevin begitu bahagia mendengar kabar kehamilannya. Tapi, wajahnya kemudian berubah sendu.
" Kamu bahagia juga kan ? " tanya Kevin yang sukses membuat Jingga menatap sang suami yang kini tengah menatapnya juga.
" Jingga bahagia, Mas. Hanya saja, Jingga takut kalau anak ini... "
" Anak ini anak kita berdua ! Jingga, bukankah aku sudah katakan tidak ada yang terjadi diantara kalian. Percaya padaku ! Anak ini adalah anak kita berdua ! "
__ADS_1