
Kevin dan Jingga sudah berada di dalam kamar mereka. Setelah membersihkan diri, kini mereka berbaring di atas tempat tidur. Jingga berbaring di atas lengan Kevin sambil memeluk raga suaminya itu.
" Mas... Kalau misalkan Mas Kevin berhasil menemukan wanita itu dan ternyata dia memiliki seorang anak hasil kejadian malam itu, apa yang akan Mas Kevin lakukan ? " tanya Jingga sambil menatap wajah Kevin.
" Sudah sayang, kita tidak perlu membahas hal ini lagi ok " tukas Kevin.
" Tapi Mas... Apa Mas Kevin tidak ingin bersama dengan anak Mas Kevin sendiri ? "
" Jingga, sayang... Cukup ! Aku tahu, kamu menginginkan anak dalam kehidupan rumah tangga kita. Kamu tahu sendiri, bagaimana caranya aku menemukan wanita itu, tapi wanita itu seolah menghilang. Lagi pula belum tentu juga ia mengandung anakku " sahut Kevin sambim membelai rambut Jingga.
" Tapi Mas, mungkin saja kalau dia mengandung anak Mas Kevin. Mungkin saat ini, anak itu sudah sebesar Haziq dan wajahnya pasti tak jauh beda dengan Mas Kevin, seperti halnya Haziq " tukas Jingga.
" Sudah sayang... Aku tahu kamu meengatakan hal ini karena berpikir Haziq mirip denganku kan ?" tebak Kevin.
" Memangnya Mas tidak merasa aneh, mengapa Haziq bisa begitu mirip dengan Mas Kevin ? Padahal Anik sendiri mirip dengan Damar dan Aluna " ucap Jingga merasa aneh.
" Mungkin dulu, Damar atau Luna kagum sama suamimu ini makanya anak laki-lakinya mirip sama Mas " sahut Kevin asal.
" Ish, Mas ini malah bercanda sih " dumel Jingga.
" Sudah, sudah... Kita tidak perlu membahas hal ini lagi ya. Sebaiknya kita fokus saja dengan program kehamilanmu agar kita segera diberi anak " ucap Kevin sambil mengusap wajah Jingga dengan lembut.
Jingga akhirnya mengangguk, menuruti ucapan sang suami kendati ia masih begitu berharap jika Kevin memang memiliki anak meskipun itu anak dari wanita lain karena Jingga merasa tak bisa memberikan anak kepada Kevin.
Kevin sebenarnya juga merasakan hal berbeda saat bersama Haziq. Seperti ada ikatan kuat diantara mereka. Namun, Kevin menepikan semua rasa itu karena ia menghormati Damar dan Aluna. Akan tetapi, Kevin pun berniat untuk menyelidiki hal ini.
" Mas... Akhir minggu ini, bisa antar Jingga ke Bandung ? Sudah lama Jingga tidak mengunjungi makam Mba Karina " ucap Jingga.
" Boleh, nanti kita berangkat jumat sore. Sekalian healing disana " jawab Kevin menyambut baik permintaan sang istri.
Jingga sudah menceritakan kepada Kevin tentang Karina. Setelah pemulihan pasca kecelakaan yang menimpanya, Jingga dan Kevin datang mengunjungi Karina ke rumahnya. Sayangnya, kedatangan mereka terlambat karena ternyata Karina sudah meninggal dunia.
Jingga sempat bertanya kepada tetangga di sekitar tempat tinggal Karina mengenai anak yang dikandung oleh Karina. Mereka mengatakan jika anak Karina itu laki-laki dan dibawa oleh kerabatnya. Jingga dan Kevin hanya diberitahu tempat Karina dimakamkan saja.
Jumat sore, Jingga dan Kevin berangkat ke Bandung. Mereka akan tinggal di vila milik keluarga di daerah Bandung Utara.
__ADS_1
Keesokan harinya, mereka menuju ke makam Karina. Hari sudah cukup siang, namun tak terasa panas dikarenakan cuaca di kota kembang itu sedikit mendung. Jingga membawa satu buket bunga mawar putih yang akan diletakkannya di atas pusara Karina.
Mereka akhirnya sampai di depan pusara Karina. Jingga berjongkok lalu meletakkan bunga di atas pusara dan menyiramkan air kemudian berdoa.
Setelah mendoakan Karina, Jingga mengusap nisan lalu seolah berbicara dengan Karina.
" Mba Karina, maaf Jingga baru bisa datang lagi... Maaf Jingga belum bisa penuhi janji Jingga untuk merawat anak Mba Karina. Sampai saat ini, Jingga belum bisa bertemu dengan kerabat Mba Karina yang membawa anak Mba Karina. Tapi jangan khawatir, nanti kalau Jingga menukan mereka, Jingga akan penuhi janji Jingga. Jingga akan merawat dan menyayanginya. Jingga yakin, anak Mba Karina itu anak yang baik. Mba ... semoga Jingga segera bertemu anak Mba Karina dan semoga Jingga dan Mas Kevin juga secepatnya dikaruniai anak... " ucap Jingga sambil meneteskan air matanya.
Melihat itu, Kevin segera merangkul dan mengusap punggung Jingga. Jingga menghapus air matanya, kemudian bangkit berdiri.
" Kita pulang ya, sayang " seru Kevin.
Jingga mengangguk lalu menatap pusara Karina.
" Mba... Jingga pulang dulu, ya. Nanti Jingga datang lagi. Semoga ketika nanti Jingga kembali, Jingga sudah bisa membawa kabar gembira. Menemukan anak Mba Karina dan mempunyai anak " ucap Jingga kemudian berjalan meninggalkan pemakaman.
Saat mereka berjalan menuju tempat parkir mereka bertemu dengan Damar, Aluna serta Anik dan Haziq.
" Miss Jingga... Om Kevin... " panggil Anik dan Haziq saat mereka melihat pasangan suami istri itu.
" Lho....Anik dan Haziq ada disini juga ? Kalian mau ziarah ? " tanya Jingga sambil memeluk kedua bocah lucu itu.
" Iya, kita mau ziarah ke makam temannya Mama, Papa " jawab Anik.
" Oh ya ? " tanya Jingga.
" Miss sama Om habis ziarah juga ? " tanya Anik.
" Iya, Miss Jingga sama Om Kevin habis ziarah ke makam temannya Miss Jingga " jawab Kevin sambil mengelus puncak kepala Haziq.
" Iya, Mama bilang kami harus mendoakan Mama yang sudah meninggal " ucap Haziq yang juga diangguki oleh Anik.
" Lho Mba Jingga, Mas Kevin ada disini juga ? " tanya Aluna yang kini berada diantara mereka bersama dengan Damar
" Iya, kami baru ziarah ke makam kerabat Jingga " jawab Kevin.
__ADS_1
" Kalau begitu kami masuk dulu ya, Mba, Mas " ucap Aluna berpamitan pada keduanya lalu menggandeng tangan Anik dan Haziq.
" Iya, silakan ! Kami pamit duluan ya " sahut Jingga.
Mereka pun berpisah, Jingga masih menatap kepergian mereka yang berjalan menjauh.
" Ma... Nanti kita doain Mama Karina ya ? " tanya Haziq kepada Aluna.
" Iya, kita semua doakan Mama Karin ya ! Haziq harus jadi anak yang sholeh yang selalu doain Mama " jawab Aluna.
" Anik juga ? " tanya Anik sambil menatap Aluna.
" Iya, Anik juga... Anik harus jadi anak sholehah yang selalu doain Mama dan Papa " jawab Damar.
Kevin dan Jingga masih bisa mendengar percakapan diantara mereka.
Mama Karin ? Apa maksud Aluna itu Mba Karina ya ?
Batin Jingga dalam hati.
" Sayang... Ayo kita pulang ! " ajak Kevin karena Jingga justru diam.
" Mas, tunggu sebentar. Kita susul Damar dan Aluna dulu " seru Jingga.
" Memangnya ada apa ? " tanya Kevin heran.
" Jingga mau memastikan sesuatu. Ayo Mas ! " jawab Jingga lalu mengajak Kevin untuk menyusul mereka.
Damar, Aluna, Haziq dan Anik kini telah berada di depan pusara Karina. Mereka menaburkan bungan dan menyiramkan air ke atas pusara Karina. Aluna merasa heran karena ada sebuah buket bunga mawar di atas pusara Karina.
Namun ia tidak ambil pusing, mungkin ada temannya yang mengunjungi makam Karina juga. Kemudian mereka berdoa untuk Karina.
Sementara itu, tak jauh dari sana Jingga dan Kevin memperhatikan mereka.
Jadi benar, mereka mengenal Mba Karina. Apa anaknya Mba Karina itu Haziq ?
__ADS_1