Story Of Kevin Argajaya

Story Of Kevin Argajaya
Menemui Jingga


__ADS_3

Sudah 2 minggu ini, Jingga tinggal bersama Karina. Keduanya sudah semakin dekat dan merasa cocok satu sama lain. Jingga merasa kagum dengan ketegaran Karina karena mau mengandung tanpa kehadiran suami di sisinya.


Lantas Jingga pun bertanya pada dirinya sendiri, akankah dia sanggup membesarkan bayi dalam kandungannya itu seorang diri ? Ataukah dia harus kembali bersama dengan ayah dari bayinya.


Mas Kevin atau Kak Satria, yang mana ayahmu yang sebenarnya nak ?


Mama sebenarnya percaya kalau kamu adalah anak Papa Kevin. Tapi, bagaimana jika Om Satria adalah ayahmu ? Mama harus bagaimana ?


Jingga bertanya-tanya dalam hatinya sambil mengusap perut. Air mata lolos dari kedua sudut matanya.


" Jingga... Ji... " suara Karina dari balik pintu membuyarkan pikiran Jingga.


Dengan berlekas Jingga menuju ke arah pintu lalu membukanya. Tak lupa ia pun menyeka air matanya terlebih dahulu sebelum membukakan pintu.


" Iya, ada apa kak ? " tanya Jingga saat pintu sudah terbuka.


" Em... Itu, ada yang mencarimu diluar " jawab Karina.


Dahi Jingga mengernyit heran karena selama ini dia tidak memberitahukan kepada siapapun mengenai keberadaannya.


" Siapa Mba ? " tanya Jingga penasaran.


Karina mengangkat bahunya.


" Tadi katanya suami kamu " jawab Karina apa adanya.


Mas Kevin ? Apa itu Mas Kevin ?


" Sudah, sebaiknya kamu temui dia dulu ! " seru Karina membuyarkan pikiran Jingga.


Jingga mengangguk kemudian berjalan di belakang Karina. Namun saat akan sampai di muara pintu, Jingga menahan langkahnya karena melihat Satrialah pria yang dimaksud oleh Karina.


Jingga menahan langkah Karina dengan memegang tangan wanita hamil tersebut.

__ADS_1


" Mba... Tolong bilang kalau Jingga belum mau bertemu dengannya. Jingga belum siap " ucap Jingga sambil berbisik agar Satria tidak menyadari kehadirannya.


" Tapi, Ji... "


" Tolong, Mba... Jingga mohon ! " pinta Jingga memelas. Kini Jingga justru bersembunyi di balik pintu agar Satria tidak melihatnya.


Karina menggaruk kepalanya lalu mengangguk pelan. Karina berjalan keluar rumah menemui Satria yang duduk di teras rumah.


" Maaf, Mas... Tapi Jingganya belum mau bertemu dengan Mas " ucap Karina jujur.


" Tolong, Mba... Saya mohon ! Saya sangat ingin bertemu dengan Jingga " mohon Satria.


" Iya, iya... saya paham. Hanya saja, saya juga harus menghormati keinginan Jingga. Tolong Mas mengerti. Jingga saat ini sedang ingin menenangkan dirinya, Mas harus bersabar ! " sahut Karina.


" Baiklah, jika itu maunya Jingga. Tolong berikan ini kepada Jingga. Ini makanan kesukaan Jingga. Saya harap anda bisa membujuk Jingga untuk menemui saya. Karena saya menginginkan kami bersama membesarkan anak kami " tukas Satria.


" Baiklah, saya akan berbicara kembali dengan Jingga " ucap Karina seolah mendukung Satria.


" Kalau begitu saya permisi. Mohon maaf jika saya akan datang setiap hari untuk menemui Jingga " ucap Satria kemudian berlalu.


" Suami kamu tadi memberikan ini. Dia pasti sayang sekali sama kamu. Sampai-sampai dia bilang kalau dia akan datang untuk menemui kamu setiap hari " ucap Karina.


Jingga tak merespon apa yang dikatakan oleh Karina. Ia hanya memandang makanan yang dibawa oleh Karina dengan tatapan tak minat.


" Jingga... Aku tidak tahu ada masalah apa antara kamu dan suami kamu. Tapi seharusnya kamu bersyukur memiliki suami yang perhatian seperti itu. Dia bisa menemukan kamu disini, padahal kamu tidak memberitahu siapapun. Itu membuktikan jika dia sangat mencintai kamu karena dia mencari dan bisa menemukan kamu " beber Karina.


" Dia itu bukan... " Jingga menghentikan ucapannya.


" Jingga... Seharusnya kamu merasa bahagia, karena dicintai seperti itu. Sedangkan aku... Aku bahkan tidak bisa menghargai pria yang tulus mencintaiku dan membuatku menyesalinya seumur hidup " lirih Karina.


" Maksud Mba ? " tanya Jingga merasa ada yang aneh dengan kalimat yang diucapkan oleh Karina.


" Jingga... Aku tidak sebaik yang kamu pikirkan. Justru aku ini perempuan hina yang tidak pernah puas, hingga akhirnya Tuhan memberikan teguran kepadaku " jawab Karina sambil menatap Jingga yang masih belum paham dengan ucapan Karina.

__ADS_1


" Sudahlah... Nanti aku akan menceritakannya. Sekarang aku harus pergi kerja dulu " ucap Karina sambil tersenyum.


" Mba, apa di tempat Mba Karina ada lowongan pekerjaan ? Jingga juga mau bekerja " sebut Jingga.


" Hei... Untuk apa kamu bekerja ? Lagipula sepertinya suami kamu itu lebih dari cukup untuk membiayai hidupmu " sahut Karina sambil menepuk tangan Jingga.


" Tapi Jingga malu sudah merepotkan Mba Karina selama disini " sanggah Jingga.


" Aku malah senang direpotkan kamu. Aku jadi merasa punya keluarga. Sudah tidak usah dipikirkan. Nanti aku bakalan tagih semua pengeluaran kamu selama disini sama suamimu itu " gurau Karina sambil terkekeh diikuti dengan senyuman yang terbit di wajah Jingga.


Karina akhirnya berlalu meninggalkan Jingga. Dia kini bekerja di sebuah salon & spa terkenal yang ada di sebuah pusat perbelanjaan.


Selepas Karina pergi, Jingga menatap makanan kesukaannya yang tadi dibawa oleh Satria.


" Kenapa Kak ? Kenapa jadi begini ? Jingga harus apa sekarang ? Mengakui Kak Satria sebagai ayah dari anak dalam kandungan Jingga tapi kenapa Jingga merasa jika Mas Kevinlah ayah anak ini. Ya Tuhan... Aku harus bagaimana ? " lirih Jingga sambil meneteskan air matanya kembali.


Keesokan harinya, seperti yang telah dikatakan kepada Karina. Satria kembali datang untuk menemui Jingga, namun Jingga kembali menolak. Begitu setiap hari, hingga akhirnya setelah satu minggu Jingga pun bersedia bertemu dengan Satria.


Satria menatap Jingga dengan penuh kerinduan.


" Jingga, maafkan aku ! Aku melakukannya karena sangat mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu lagi. Anak kita baik-baik saja kan disana ? " tanya Satria sambil mencoba menyentuh perut Jingga.


Jingga melangkah mundur saat Satria akan menyentuh perutnya lalu menepisnya. Satria kembali menarik tangannya.


" Jingga ijinkan aku membayar kesalahanku ini. Tapi kumohon, kembalilah kepadaku. Bukankah anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik jika berada bersama orang tuanya " bujuk Satria.


" Jingga, aku tahu yang aku lakukan salah.Tapi aku melakukannya karena sangat mencintaimu. Aku akan bertanggung jawab kepadamu dan anak kita " ucap Satria tulus.


" Ini anak Mas Kevin " sahut Jingga menyanggah ucapan Satria.


Satria tersenyum mengejek.


" Jingga jangan terlalu naif... Jika dia yakin itu anaknya, pasti saat ini dia sudah bisa menemukan kamu. Tapi nyatanya aku yang menemukanmu lebih dulu dan itu berarti aku lebih peduli kepadamu dibandingkan dia " ucap Satria mencoba mempengaruhi Jingga.

__ADS_1


Jingga bergeming. Ia tak tahu harus berkata apa. Semuanya terasa membingungkan. Ia ingin meyakini semua ucapan Kevin bahwa tidak ada yang terjadi antara dirinya dan Satria. Meyakini jika anak di dalam kandungannya adalah milik Kevin. Namun, apa yang dikatakan oleh Satria ada benarnya. Sampai saat ini bahkan Kevin belum menemukannya atau mungkin tidak mencarinya sama sekali.


" Jingga ikutlah bersamaku ! Aku akan merawat kalian dengan baik sampai nanti kau yakin untuk hidup denganku " seru Satria lagi.


__ADS_2