
# Mohon maaf ya readerku tercintah, baru bisa up sekarang. Sebetulnya kemarin malam author udah mau up tapi mendadak naskah yang udah dibuat hilang. Jadinya harus ketik ulang lagi π₯
Ini part akhir cerita ini. Terima kasih sudah membersamai author sampai akhir cerita ini ππ»ππ» ππ Dukung terus karyaΒ² author ya bestie π
Well, happy reading all !
...****************...
Damar dan Aluna pulang ke rumah tanpa Haziq. Walaupun terasa berat namun mereka berusaha untuk ikhlas. Sekarang hanya satu yang jadi ganjalan bagi mereka yaitu bagaimana cara untuk memberitahukan keadaan yang sebenarnya kepada Anik.
Sementara itu, di kediaman Kevin. Keluarga yang baru saja bersatu kembali dengan anak kandungnya itu kini tengah berkumpul di kamar sang anak.
Haziq tengah berbaring diantara Kevin dan Jingga sambil berbincang santai. Sungguh suatu kebahagiaan yang tak terkira bagi Kevin karena kini ia bisa bersama dengan anak kandungnya.
" Oma Sita dan Opa Tommy pasti senang sekali karena kita bisa berkumpul seperti ini. Nanti minggu depan kita ke rumah oma dan opa ya " seru Jingga sambil memiringkan badannya ke arah Haziq. Tangan Jingga sesekali mengusap kepala Haziq dengan lembut.
" Iya, bunda " jawab Haziq singkat.
Kevin menatap ke arah sang anak. Ia tahu meskipun raganya di sisinya, namun pikiran Haziq tidak disana.
" Haziq sayang... Jika ada yang Haziq pikirkan, Haziq ceritakan saja, jangan sungkan. Ayah tahu tentunya berat buat Haziq harus berpisah dengan Anik, Mama Luna dan Papa Damar. Tapi percayalah, Haziq akan selalu ada di hati mereka. Kami tidak akan melarang Haziq jika ingin bertemu mereka. Sampai kapanpun mereka tetaplah keluarga Haziq. Orang tua juga adik-adik Haziq " ucap Kevin sambil mengusap kepala Haziq.
Haziq lantas memeluk Kevin dengan erat yang dibalas dengan pelukan pula oleh Kevin. Melihat hal itu Jingga tersenyum lebar. Ia merasa bahagia karena kini keluarga mereka telah utuh dengan kehadiran seorang anak yang telah lama mereka dambakan.
Terima kasih Tuhan. Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan bagi kami
Beberapa waktu berlalu. Anik sudah bisa menerima kenyataan jika Haziq tak lagi tinggal bersamanya. Awalnya Anik terus merengek kepada Aluna dan Damar agar membawa kembali Haziq ke rumah mereka. Bahkan Anik juga meminta kepada Jingga agar mengembalikan Haziq.
Bahkan Anik sempat mogok bicara kepada Damar dan Aluna hanya karena ingin agar Haziq kembali tinggal bersama mereka.
Beruntung, setelah diberikan penjelasan terus menerus, Anik akhirnya mengerti dan bisa menerima. Walaupun mereka tinggal terpisah, tetapi ada ikatan yang tak akan pernah bisa diputuskan. Karena walaupun tidak lahir dari orang tua yang sama akan tetapi mereka meminum asi yang sama.
Saat ini, Anik tengah berada di rumah Jingga. Seperti biasanya, apabila week end tiba Haziq menginap di rumah Mama Luna dan Papa Damar atau Anik yang menginap di rumah Ayah Kevin dan Bunda Jingga.
" Bunda mau ngapain ? " tanya Anik saat melihat Jingga tengah menyiapkan bahan-bahan kue di dapur.
__ADS_1
" Bunda mau buat cup cake, Anik mau bantuin Bunda ? " tanya Jingga sambil melirik Anik yang sedari tadi berdiri di sampingnya.
" Mau, Anik mau bantuin Bunda " jawab Anik sangat antusias.
Mereka berdua pun asyik membuat adonan kue. Sementara Haziq tengah membantu Kevin mengotak-atik motornya.
" Bunda, nanti Anik mau bawa kuenya buat Mama sama Papa ya ! Biar Mama, Papa sama adik bayi bisa makan kue buatan Anik " pinta Anik sambil bergelayut manja kepada Jingga.
" Iya, boleh... Nanti kita bungkus buat Mama dan Papa " sahut Jingga sambil mengusap rambut Anik.
" Yeay... ! Terima kasih Bunda. Anik sayang sama Bunda " ucap Anik lalu memeluk Jingga.
Jingga berjongkok lalu balas memeluk Anik sambil mengusap punggungnya dengan lembut.
Saat Jingga berdiri, ia merasakan pusing sampai ia berpegangan pada meja makan dan memijit pelipisnya.
" Loh, Bunda kenapa ? Bunda sakit ? " tanya Anik khawatir melihat Jingga yang terlihat pucat.
" Bunda gak apa-apa kok sayang. Sekarang kita kocok dulu telurnya ya " jawab Jingga sambil tersenyum.
" Hoek... Hoek... "
" Bunda... Bunda kenapa ? Ayah... Ayah tolongin Bunda ! " teriak Anik sambil berlari ke arah luar rumah.
" Loh Anik, kenapa sayang ? " tanya Kevin saat melihat Anik yang terlihat panik.
" Ayah, tolongin Bunda. Bunda muntah-muntah " jawab Anik dengan nafas tersengal.
Kevin segera meninggalkan motornya lalu berlari ke arah dapur diikuti oleh Anik dan Haziq. Sampai di dapur, Kevin melihat Jingga sedang berkumur.
" Kamu baik-baik saja kan sayang ? " tanya Kevin khawatir. Ia kemudian memapah Jingga agar duduk di kursi makan.
" Aku baik-baik saja, Mas. Mungkin maag aku kambuh lagi Mas " jawab Jingga lalu menyodorkan segelas air putih hangat untuk Jingga.
" Pasti belum sarapan nih, kebiasaan " omel Kevin sambil mengusap punggung sang istri.
__ADS_1
" Sudah, nanti buat kuenya minta Bi Asih saja yang lanjutkan " seru Kevin yang kemudian diikuti anggukan oleh Jingga.
Tak lama ponsel milik Kevin berbunyi dan Damar yang menelpon. Ia mengatakan jika saat ini, Aluna berada di rumah sakit dan akan melahirkan.
Mendengar hal itu, Kevin membawa Jingga, Anik dan Haziq pergi ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, Aluna baru saja dibawa ke ruang perawatan bersama seorang bayi tampan yang diberi nama Azver Gaisan Narendra.
Anik dan Haziq sangat antusias melihat bayi Azver yang lucu itu. Begitu pula dengan Jingga dan Kevina.
Ya Tuhan, semoga Engkau menganugrahkan juga kepadaku keturunan.
harap Jingga saat menatap bayi Azfer.
" Bunda... Di perut bunda juga ada adik bayi juga " celetuk Anik membuat semua yang berada di ruang rawat menatap ke arah Jingga.
" Masa sih ? Anik tahu dari mana ? " tukas Jingga.
" Soalnya, Mama waktu dulu ada adik bayi di perutnya juga muntah-muntah kayak Bunda " jawab Anik dengan polosnya.
Jingga melongo mendengar ucapan yang keluar dari mulut Anik.
" Coba diperiksa dulu, Mba ! Siapa tahu Mba Jingga memang hamil " seru Aluna sambil menatap Jingga.
" Tapi itu tidak... " Jingga segera menghentikan ucapannya saat melihat Kevin menatapnya.
" Tidak ada salahnya kalau kita periksa dulu " ucap Kevin.
" Tapi, Mas... "
" Sudah, kita periksa saja dulu " sahut Kevin lagi.
Akhirnya Kevin dan Jingga pergi ke dokter kandungan untuk mengecek kemungkinan bahwa Jingga hamil. Dan setelah diperiksa, ternyata Jingha memang benar hamil dan usia kandungannya adalah 6 minggu.
Jingga dan Kevin merasa sangat bahagia. Setelah penantian yang lama akhirnya mereka diberikan kebahagiaan. Awalnya menemukan Haziq lalu kebahagiaan mereka bertambah lagi dengan kehadiran calon anggota baru di keluarga mereka.
Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak. Sejatinya manusia hanya bisa berusaha, berdoa, bersabar serta ikhlas. Sejatinya itulah kunci dalam menjalani kehidupan.
__ADS_1
...TAMAT...