Story Of Kevin Argajaya

Story Of Kevin Argajaya
Kebersamaan


__ADS_3

Aluna menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong. Bahkan ketika Kevin datang dan duduk di tepi ranjang, ia tidak menyadarinya.


Sampai akhirnya Damar mengecup pipi Aluna, barulah Aluna melihat ke arah sang suami yang tengah menatapnya. Aluna langsung menghambur ke pelukan Damar.


" Hei, ada apa ini ? " tanya Damar heran sambil membelai rambut sang istri.


Aluna tak mengatakan apapun. Ia sibuk mengeratkan pelukannya sambil menghirup aroma tubuh Damar yang selalu membuatnya merasa nyaman.


" Kamu kenapa sayang ? " tanya Damar lagi. Kini Damar mengangkat dagu sang istri agar dapat melihat wajahnya.


" Tadi, Luna pergi ke sekolah. Bicara sama Mba Jingga " jawab Aluna.


Damar menautkan kedua alisnya, sebelum bertanya lebih lanjut.


" Kami sudah banyak bicara tadi... " ucap Aluna yang justru membuat Damar curiga.


" Lalu... "


" Akhirnya aku mengijinkan Haziq agar dekat dengan mereka. Tolong katakan jika apa yang kulakukan itu benar, Mas ! " pinta Aluna lirih.


Damar menghela nafasnya kemudian memeluk Aluna dengan erat.


" Yang kamu lakukan sudah benar sayang... Aku tahu itu pasti berat... "


" Tapi Luna menyesal Mas ! Luna menyesal mengijinkan mereka bersama Haziq. Luna takut Haziq melupakan kita... " sela Aluna dengan mata yang sudah berembun.


" Tidak sayang... Jangan berpikiran seperti itu. Haziq anak yang baik, Mas yakin dia tidak akan melupakan kita. Kamu tidak perlu menyesal memberi ijin mereka untuk bersama Haziq, karena walau bagaimanapun juga mereka lebih berhak atas Haziq dan Haziq juga berhak mendapatkan kasih sayang orang tua kandungnya " imbuh Damar.


" Lalu bagaimana kita mengatakan yang sebenarnya kepada Haziq ? Luna tidak sanggup menceritakannya " sela Aluna bingung.


" Itu kita pikirkan nanti saja. Yang penting saat ini kita memberikan limpahan kasih sayang selama Haziq masih bersama dengan kita " timpal Damar


Aluna mengangguk lemah, saat menyetujui ucapan Kevin.

__ADS_1


" Jangan sedih sayang, yakinlah bahwa ini adalah jalan yang paling baik untuk kita semua " ucap Damar sambil mengelus pipi Aluna.


Disaat Aluna merasa sedih, di tempat lain tepatnya di kediaman Kevin, Jingga menunggu sang suami di depan rumah.


Hingga kemudian mobil sang suami berhenti di depan rumah dan Kevin keluar dari dalam mobil. Jingga dengan segera menghampiri Kevin dan memeluk sang suami dengan begitu gembira.


" Wah... Wah... Ada apa ini ? Kamu terlihat sangat senang " ucap Kevin menatap Jingga yang terlihat sangat bersemangat.


Jingga menggandeng lengan sang suami lalu mereka berdua berjalan bersama menuju ke dalam rumah.


Jingga tersenyum sumringah, ia akan segera memberikan kabar baik bagi suaminya itu.


Mereka berdua duduk di sofa. Jingga segera membawakan secangkir teh hangat untuk Kevin.


" Terima kasih, sayang. Sebenarnya ada apa ini ? Kamu terlihat sangat bahagia " ucap Kevin sambil menyesap minuman yang telah dibuatkan oleh sang istri.


" Tadi Aluna datang ke sekolah, Mas " jawab Jingga.


Kevin terkejut mendengar jawaban dari Jingga.


" Ya, pada awalnya seperti itu. Tapi setelah aku menjelaskan semua, Aluna bisa memahaminya.dan diluar dugaan ternyata ia mengijinkan kita untuk dekat dengan Haziq. Bukankah ini kabar baik, Mas ? Kita hanya perlu bersabar menunggu Haziq mengetahui yang sebenarnya " jelas Jingga begitu gembira.


" Benarkah ? Aluna mengijinkan kita ? Syukurlah " ucap Kevin merasa lega. Ia kemudian memeluk sang istri.


" Bahkan tadi Haziq sudah memanggilku dengan sebutan bunda, Mas " terang Jingga dengan bangga.


" Oh ya ? Aku juga ingin merasakan dipanggil ayah oleh Haziq " harap Kevin.


" Tenang saja Mas. Tadi Aluna sudah meminta Haziq untuk memanggil Mas Kevin dengan sebutan ayah. Apa kamu tahu Mas ? Kita juga memiliki anak yang lain. Karena Anik juga memanggilku bunda dan akan memanggilmu ayah " jelas Jingga dengan haru.


" Aku sangat bersyukur karena ternyata Haziq berada dalam pengasuhan orang yang tepat " Kevin bersuara.


" Lalu kapan kita bisa membawa Haziq tinggal bersama kita ? " tanya Kevin antusias.

__ADS_1


" Itu dia masalahnya, Mas. Kita harus bersabar karena tentunya butuh waktu bagi Luna dan Damar untuk menjelaskan ini semua kepada Haziq. Tidak hanya Haziq saja, tapi juga Anik " jawab Jingga.


" Hem aku bisa mengerti itu. Tentunya akan sangat sulit dan berat bagi mereka untuk menjelaskan ini semua kepada kedua anak itu. Sejak bayi sudah bersama, dibesarkan dengan kasih sayang yang sama. Tentunya akan sulit bagi mereka untuk berpisah " sahut Kevin.


" Itu betul, Mas. Kita harus memberikan waktu. Tapi Mas tenang saja, karena Luna sudah memberikan kesempatan kepada kita untuk bersama Haziq. Luna mengijinkan Haziq untuk tinggal di rumah kita setiap akhir minggu. Dan Anik pastinya akan ikut juga. Waah, rumah kita pasti ramai kalau banyak anak-anak ya, Mas... " ucap Jingga merasa sangat bahagia.


" Ya, tidak lama lagi rumah kita akan diisi dengan tawa anak-anak. Kamu bahagia ? " tanya Kevin sambil menatap Jingga.


" Tentu saja bahagia, Mas. Sejak dulu kita mengharapkan kehadiran anak dalam keluarga kita dan itu akan segera terwujud " jawab Jingga dengan senyum mengembang.


" Walaupun Haziq bukan anak kandungmu ? " tanya Kevin lagi.


" Ya, anak Mas Kevin juga anak Jingga bukan ? Meskipun tidak lahir dari rahim Jingga, tapi Jingga berjanji akan menyayanginya selayaknya anak kandung Jingga sendiri " jawab Jingga dengan yakin.


Jawaban dari Jingga tentu saja membuat Kevin merasa bahagia. Ia tahu jika istrinya itu sangat menginginkan anak dan ia juga yakin jika Jingga akan menjadi ibu yang baik bagi Haziq dan mungkin anak-anak mereka nanti.


Waktu berlalu, setiap akhir pekan Haziq dan Anik menghabiskan waktu di kediaman Kevin dan Jingga. Bagi kedua bocah itu, rumah Kevin dan Jingga adalah rumah kedua mereka karena baik Kevin maupun Jingga sangat menyayangi mereka. Walaupun begitu, Haziq belum mengetahui hal yang sebenarnya.


Sampai suatu hari, saat itu akhir pekan. Seperti biasanya Haziq akan bermalam di rumah Kevin. Kali ini, Anik tidak ikut bersama dengan Haziq dikarenakan ia ikut bersama kedua orang tua Damar untuk berlibur ke kota kembang.


Kini, Haziq tengah berada di dalam kamarnya yang telah Jingga dan Kevin sediakan untuknya. Kevin juga berada di dalam kamar bersama dengan Haziq. Mereka tengah bermain PS bersama. Suara sorak bersahutan antara Kevin dan Haziq saat mereka tengah beradu laga memainkan sebuah game sepak bola di layar televisi yang berada di kamar tersebut.


" Yes ! Aku menang, ayah kalah... Ayah kalah..." ledek Haziq kepada Kevin saat ia bisa mengalahkan Kevin.


" Ish, ini tuh ayah mainnya gak fokus aja " Kevin mencoba mencari alasan.


" Idih udah tahu kalah masih aja ngeles " sahut Haziq.


" Sudah, sudah... Kok malah bertengkar sih " Tiba-tiba Jingga melongok dari balik pintu.


" Ini nih bunda... Masa ayah gak mau ngaku kalah sih, padahal udah jelas-jelas skornya itu 4-1 " jawab Haziq tak ingin disalahkan.


Jingga tersenyum melihat kebersamaan ayah dan anak itu.

__ADS_1


" Sudah, sekarang kita makan saja dulu ya ! Pasti kalian sudah lapar " seru Jingga sambil menuntun tangan Haziq lalu membawanya menuju ruang makan.


__ADS_2