Story Of Kevin Argajaya

Story Of Kevin Argajaya
Pertemuan


__ADS_3

Kevin masih memeluk Jingga, ia berusaha untuk menenangkan istrinya. Kevin paham, butuh banyak waktu bagi Jingga untuk menerima ini semua.


" Jingga mau pulang, Mas ! " ucap Jingga lirih.


" Ya, beberapa hari lagi kita akan pulang " sahut Kevin.


Jingga menggeleng,


" Jingga mau pulang sekarang, Mas ! Jingga takut Kak Satria berbuat macam-macam lagi " sebut Jingga


" Tidak, sayang... Percaya sama Masmu ini. Satria tidak akan pernah mengganggu kita lagi " ucap Kevin yakin.


" Tidak perlu takut, sayang... Aku akan selalu bersamamu " tambah Kevin lagi sambil menatap Jingga.


Jingga memeluk Kevin dengan erat.


" Kalau begitu jangan tinggalkan Jingga sendiri, Mas ! " ucap Jingga.


" Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Dan kamu juga jangan pernah meninggalkanku lagi ! " sahut Kevin.


Akhirnya, 2 hari kemudian Jingga diperbolehkan untuk pulang. Tak pernah terlewat satu hari pun bagi Satria untuk tidak datang ke rumah sakit, meski hanya melihat dari kejauhan. Seperti halnya saat melihat Jingga keluar dari rumah sakit. Melihat Jingga sehat dan sudah bisa tersenyum saja, Satria sudah merasa bahagia.


Seharusnya, Satria menyadarinya sejak awal. Jika mencintai tidak selalu harus memiliki. Karena sesuatu yang dilandasi dengan obsesi ingin memiliki hanya berakhir menjadi rasa benci. Kini Satria berusaha untuk ikhlas. Ikhlas saat Jingga memilih untuk bersama dengan Kevin. Satria hanya berharap agar Jingga selalu bahagia.


" Anda tidak ingin menemuinya ? Saya rasa Bu Jingga sudah memaafkan anda karena saya melihat Bu Jingga membaca kartu-kartu yang anda kirimkan bahkan menyimpannya " ucap suster Diana yang saat ini berdiri di samping Satria.


" Aku akan menemuinya nanti. Terima kasih karena anda sudah mau membantu saya. Sekarang saya sudah lebih tenang " sahut Satria sambil tersenyum.


Suster Diana menatap Satria yang tengah tersenyum itu. Entah mengapa jantungnya berdetak kencang.


Astaga, aku tidak mungkin jatuh cinta padanya kan ?


Suster Diana, memalingkan wajahnya dari Satria.


" Diana... " ucap Satria.


" Hah ? " Suster Diana menoleh kembali saat Satria memanggil namanya.


" Maaf, saya boleh memanggil anda, Diana saja kan ? " tanya Satria ragu.


" Ah, iya. Tentu saja boleh ! " jawab suster Diana sambil tersenyum.

__ADS_1


" Saya akan segera pergi dari kota ini. Sebelum pergi saya ingin mengajak anda makan malam sebagai ucapan terima kasih saya atas bantuan yang anda berikan " ucap Satria.


" Baiklah, sepertinya anda harus membelikan saya banyak makanan karena saya ini sangat suka makan apalagi makan makanan gratisan " seloroh suster Diana sambil tertawa.


Sejenak Satria memperhatikan suster Diana yang sedang tertawa kemudian tersenyum tipis.


" Kalau begitu, nanti saya jemput anda setelah pulang bekerja " ucap Satria lagi yang diikuti anggukkan dari suster Diana.


" Sampai bertemu nanti " sahut suster Diana kemudian masuk ke dalam rumah sakit sambil memegangi dadadnya yang berdetak tak karua.


Kevin dan Jingga sudah berada di dalam mobil. Sepanjang jalan Kevin tak lepas menggenggam tangan Jingga.


" Aku tadi melihat Satria di rumah sakit... " ucap Kevin sambil menatap sang istri.


Jingga menghela nafasnya lalu menghembusnya perlahan.


" Kamu masih belum bisa memaafkannya ? " tanya Kevin lagi.


" Jingga sudah memaafkan Kak Satria... Hanya saja, Jingga belum bisa menemuinya. Jingga tahu apa yang menimpa anak kita itu sudah kehendak Tuhan, hanya saja jika melihat Kak Satria itu hanya akan mengingatkan Jingga atas apa yang sudah terjadi " tutur Jingga panjang lebar.


Kevin mengelus tangan Jingga dengan lembut lalu mengecup pucuk kepala Jingga.


5 tahun kemudian


Jingga memilih untuk mengajar di tamanq kanak-kanak yang dimiliki oleh Mami Sita. Berharap jika ia dikelilingi oleh anak-anak, ia akan segera diberikan momongan.


Setelah kecelakaan yang membuatnya kehilangan bayi dalam kandungannya, sampai saat ini Jingga dan Kevin belum dikaruniai anak.


Segala cara telah dilakukan, hanya saja mungkin Tuhan belum mengijinkan mereka untuk memiliki anak. Walaupun begitu, Kevin tak pernah mempermasalahkannya. Ia yakin jika Tuhan sudah mengatur segala sesuatunya. Mereka hanya perlu berusaha dan berdoa saja.


Kini Kevin mengantarkan Jingga menuju ke sekolah. Hari ini merupakan hari pertama ajaran baru dan Jingga sangat bersemangat menyambut murid-murid barunya.


Ponsel milik Jingga berdering, rupanya itu adalah panggilan video dari Diana. Jingga dengan segera mengangkat panggilan tersebut.


" Halo, cantik " sapa Jingga saat melihat Airin di depan layar ponsel.


" Halo, buna " sahut bocah cantik berusia 3 tahun itu.


" Buna mau kemana ? " tanya Airin saat melihat Jingga sudah rapi dan berada di dalam mobil.


" Bunda Jingga mau ngajar di sekolah. Airin mau sekolah sama bunda ? " jawab Jingga diakhiri dengan pertanyaan untuk Airin.

__ADS_1


" Mau... Ailin mau cekolah cama buna " ucap Airin sambil mengangguk-angguk kepalanya.


" Ok, nanti kalau Airin ada disini, Airin boleh ikut sekolah sama bunda Jingga " sahut Jingga kemudian.


" Yeay... Ailin mau cekolah. Aciik... Mama, Ailin mau cekolah cama buna Jingga " pekik bocah cantik itu begitu gembira.


Melihat hal itu, Jingga tersenyum senang. Seandainya saja dulu ia tidak mengalami keguguran, mungkin anaknya saat ini sudah sekolah bersamanya.


" Jingga... " panggil Diana dari sebrang sana menatap Jingga yang terlihat sedang melamun.


" Iya, Kak ? " sahut Jingga lalu menatap layar ponselnya dimana kini Diana sudah berada di depan layar ponselnya.


" Kami akan pindah ke kotamu, bulan depan. Mas Satria akan bekerja di kantor pusat " jelas Diana.


" Benarkah ? Wah, jadi bisa ketemu sama Airin sering-sering dong " sahut Jingga tak kuasa untuk menahan rasa senangnya karena akhirnya bisa dekat dengan keponakannya yang menggemaskan itu.


" Iya, Airin juga senang sekali karena bisa sering bertemu sama aunty kesayangannya " jawab Diana sambil terkekeh.


" Waw, kamu mulai ngajar lagi ? " tanya Diana saat melihat penampilan Jingga.


" Iya, Kak... Hari ini hari pertama sekolah anak-anak. Tidak sabar melihat mereka datang ke sekolah " jawab Jingga antusias.


" Baiklah kalau begitu, aku matikan ya telponnya. Nanti siang aku hubungi kamu lagi. Airin bilang good bye dulu sama bunda Jingga " ucap Diana lalu memangku Airin agar wajahnya ikut terlihat.


" Bye, buna cantik " ucap Airin sambil melambaikan tangannya dan memberikan kiss bye lalu setelahnya panggilan video pun berakhir.


" Kapan kita bisa punya anak ya, Mas ? " tanya Jingga berubah menjadi melankolis setelah panggilan berakhir.


" Sabar ya, sayang ! Anggap saja, Tuhan memberikan waktu kepada kita untuk pacaran dulu " jawab Kevin lalu mengelus pipi Jingga dengan sebelah tangannya.


" Mas... Apa Mas sudah melupakan wanita yang pernah tidur dengan Mas dulu ? Mungkin saja kan kalau kalian memiliki anak " ucap Jingga sambil melipat bibirnya.


" Kita tidak perlu membahasnya lagi, sayang... Aku tidak pernah mempermasalahkan kehadiran anak dalam hidup kita. Yang penting kita selalu bersama.


Jingga tak meneruskan pembicaraan mereka itu. Hingga akhirnya, mereka tiba di depan sekolah. Setelah pamit kepada Kevin, Jingga segera keluar dari mobil, lalu maauk ke dalam.lingkungan sekolah. Ia akan menyambut kedatangan para murid barunya.


Kevin sudah melajukan kendaraannya menjauh dari sekolah, sampai kemudian ia menangkap tas sang istri tertinggal di dlaam mobil. Kevin segera memutar balik kendaraannya kembali ke sekolah untuk mengantarkan tas Jingga.


Kevin berjalan menuju ruang kelas dengan tergesa. Bahkan karena terburu-buru ia tidak menyadari jika ada dua bocah yang berjalan bersamaan ke arahnya. Dan akhirnya, salah satu bocah itu terjatuh karena tertabrak oleh Kevin.


" Aawww "

__ADS_1


__ADS_2