
Jingga keluar dari mobil travel yang ditumpanginya. Awalnya ia berencana untuk naik bus, namun di tengah jalan ia memutuskan untuk menggunakan mobil travel. Dan kini disinilah Jingga berada. Di sebuah kota yang bahkan ia tidak tahu harus kemana dan melakukan apa.
Jingga menghela nafasnya sambil menarik koper besar miliknya. Ia terus berjalan tak tentu arah. Sesekali ia menyeka keringat yang membasahi wajahnya dan juga mengelus perutnya.
Akhirnya Jingga tiba di sebuah taman. Ia memilih untuk duduk sambil berteduh di bawah pohon rindang, sejenak ia mengistirahatkan dirinya karena lelah sejak tadi melangkah.
" Sayang, kita harus kemana sekarang ? " Jingga berbicara sambil mengelus perutnya.
" Maafkan mama ya ! Maaf sudah membuatmu lelah... Kita akan berjuang bersama, mama tidak akan menyerah " ucap Jingga lagi.
Pandangan Jingga beredar ke sekeliling taman. Ia merasa lapar dan mencari penjual makanan disana. Akhirnya, ia menemukan pedagang bakso di ujung taman. Jingga pun dengan segera menghampiri penjual bakso tersebut.
" Pak, baksonya 1 ya " seru Jingga kemudian duduk di kursi panjang.
" Pakai mi, neng ? " tanya si penjual.
" Baksonya saja Pak " jawab Jingga.
Sang penjual segera membuatkan pesanan yang diminta oleh Jingga. Tak lama kemudian, seorang wanita muda yang tengah hamil datang memesan bakso dan ia duduk di samping Jingga karena tidak ada tempat kosong yang tersisa selain disana.
" Disini kosong ya Mba ? Saya ikut duduk disini boleh ? " tanyanya dengan ramah.
" Iya, silakan " jawab Jingga sambil menggeser posisinya.
" Terima kasih ya, Mba. Untung masih ada tempat disini " sahutnya.
Jingga hanya tersenyum tipis sambil melihat wanita cantik tersebut.
Pesanan Jingga dan wanita itu pun datang, tidak disangka keduanya ternyata memesan menu yang sama.
" Wah, Mbanya cuma pesan basonya saja ? Sama ya... Saya juga suka basonya saja " ucap wanita itu.
" Iya, saya tidak terlalu suka pakai mi " jawab Jingga.
" Kalau saya sih sebetulnya suka pakai mi. Hanya saja semenjak hamil, kalau makan mi bawaannya mual dan mau muntah " sahutnya.
" Berapa usia kehamilan Mba ? " tanya Jingga saat melihat ke arah perut wanita itu yang terlihat sedikit menonjol.
" Masuk minggu ke 22 " jawabnya sambil mengusap perutnya.
Jingga pun ikut mengusap perutnya. Dan itu mengundang perhatian wanita yang duduk di sampingnya.
" Mbanya lagi hamil juga ? " tanya wanita itu.
__ADS_1
" Iya, baru masuk 5 minggu " jawab Jingga.
" Wah, kalau hamil muda begitu pasti masih ngidam " ucap wanita itu lagi.
Jingga tersenyum tipis.
" Ah, kenalkan saya Karina " ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya.
Jingga membalas uluran tangan wanita itu,
" Saya Jingga, mba " sahut Jingga.
" Suami kamu mana ? Kamu bawa koper itu sendiri ? " tanya Karina sambil menunjuk koper yang dibawa oleh Jingga.
Jingga tidak menjawab pertanyaan dari Karina. Ia bergeming hingga air mata lolos dari sudut matanya. Dan Karina memperhatikan hal itu. Karina segera memberikan tisu kepada Jingga.
" Kamu sedang ada masalah ? " selidik Karina. Ia teringat dirinya sendiri saat dulu dinyatakan hamil dan diceraikan oleh suaminya.
Jingga lagi-lagi menjawab dengan lelehan air mata. Hingga akhirnya Karina mengusap punggung Jingga.
" Sudah... Sekarang kamu makan dulu ! Kasihan anak yang ada di perut kamu " seru Karina lagi.
Mereka berdua menghabiskan bakso yang mereka pesan. Lalu setelahnya, mereka berdua duduk di kursi taman.
Jingga menjawab dengan anggukan kepala.
" Kamu tidak diusir suami kamu kan ? " tanya Karina.
" Tidak, Mba... Saya hanya butuh menenangkan diri " jawab Jingga.
" Terus kamu mau kemana sekarang ? Kamu punya saudara atau kerabat di kota ini ? " tanya Karina lagi.
Jingga menggeleng lemah.
" Saya tidak tahu mau kemana " jawab Jingga jujur.
Karina menghela nafasnya, ia menatapi Jingga dengan tatapan iba. Dulu ia masih beruntung, setidaknya ia memiliki harta yang bisa ia gunakan untuk membiayai hidupnya kendati ia tidak tahu siapa ayah dari bayinya.
" Kalau kamu tidak punya tempat tujuan, kamu bisa tinggal dulu di rumahku " ajak Karina.
Jingga terkesiap mendengar penawaran Karina.
" Tidak perlu, Mba... Saya tidak mau merepotkan Mba " tolak Jingga.
__ADS_1
" Tidak apa, Ji... Lagi pula di rumah cuma ada aku sendiri " sahut Karina.
" Memangnya suami Mba Karina kemana ? " tanya Jingga heran.
Karina hanya tersenyum simpul.
" Ceritanya panjang, nanti aku ceritakan kalau kita sudah ada di rumah " jawab Karina.
" Ayo, kita pulang ! " ajak Karina.
Jingga masih bergeming, ia bingung harus menerima atau menolak tawaran Karina.
" Kenapa Ji ? Kamu takut jika aku bermaksud buruk ? " selidik Karina.
" Eh, bukan begitu Mba... Justru seharusnya saya yang bertanya seperti itu. Apa Mba Karina tidak takut jika saya punya maksud tidak baik " sanggah Jingga.
Karina terkekeh sendiri.
" Aku tahu kamu orang baik, Jingga. Aku bisa melihat itu meskipun kita baru bertemu. Aku akan sangat senang jika kamu mau tinggal bersamaku. Aku sudah sejak lama menginginkan memiliki saudara. Dan saat melihatmu, rasanya aku ingin menjadikanmu saudaraku " papar Karina.
Jingga tergugu mendengar pemaparan Karina. Ia merasa terharu karena di tengah kesulitannya saat ini, Tuhan memberikan jalan keluar atas permasalahan yang menimpanya.
" Baiklah, terima kasih banyak Mba... " ucap Jingga sambil memeluk Karina.
Mereka berdua akhirnya menuju ke rumah Karina. Jingga menatapi sebuah rumah bertingkat dengan desain minimalis di hadapannya. Sementara Karina sudah masuk ke dalam rumah dan memanggil Jingga dari balik pintu. Jingga pun segera masuk ke dalam rumah mengikuti Karina.
Tanpa keduanya ketahui, sedari tadi ada seseorang yang mengikuti keduanya mulai dari taman hingga sampai ke rumah Karina. Setelah memastikan keduanya masuk ke dalam rumah, ia mengambil foto dan kemudian mengirimkannya kepada seseorang.
" Nona Jingga tiba dalam keadaan baik Tuan " lapornya.
" Bagus, kau terus awasi Jingga. Aku akan segera menyusul dalam beberapa hari ke depan " sahut Satria kemudian menutup panggilannya.
Satria memperhatikan foto Jingga yang dikirimkan oleh orang suruhannya itu.
Tunggu aku datang, Jingga. Kita akan kembali bersama lagi
Sementara itu, Karina sedang menunjukkan kamar untuk Jingga. Entah apa yangbdirasakan Karina terhadap Jingga. Murni karena rasa iba atau ada hal lainnya yang Karina sendiri tak tahu.
" Kamu bisa tinggal disini selama kamu mau, tidak perlu cemas " ucap Karina sambil mengajak Jingga masuk ke dalam kamar.
" Maaf, Jingga jadi merepotkan Mba Karin " ucap Jingga terdengar lirih.
" Tidak apa, Jingga. Bukankah sudah kukatakan jika aku senang karena aku memiliki teman. Aku harap nanti kamu tidak akan melupakanku dan kamu akan merawat anakku dengan baik " sahut Karina sambil mengelus perutnya.
__ADS_1
" Jingga tentu saja tidak akan melupakan kebaikan Mba Karina. Mba Karina juga tidak perlu khawatir, nanti Jingga pasti akan merawat dan menyayangi anak Mba Karina " ucap Jingga tulus.