
Jingga menatapi isi dari kotak yang diberikan Satria. Kotak itu berisi foto-foto Satria yang tengah tidur bersama dengannya. Bahkan ada juga foto Satria yang memeluk dan menciumnya.
Jingga melempar kotak itu hingga foto-fotonya berhamburan di lantai. Kini air mata bahkan lolos dari sudut matanya.
Jingga menatap nanar foto-fotonya bersama dengan Satria tempo hari dan Jingga merasa jijik dengan dirinya sendiri. Kini pandangan Jingga jatuh pada selembar kertas diantara foto-foto yang bertebaran di lantai. Jingga meraih lalu membacanya.
Jingga, kamu pasti sudah melihat foto-foto kita. Ini adalah bukti jika aku telah menghabiskan malam panjang bersamamu.
Oh iya, aku dengar kamu hamil ?
Sepertinya aku adalah ayah dari anak yang kau kandung itu.
Terima kasih karena sudah mengandung benihku. Aku tahu saat ini kau bimbang, tapi kembalilah kepadaku.
Aku akan menunggumu untuk kembali padaku dan kita akan membesarkan anak kita bersama.
Aku yang selalu mencintaimu,
Satria
Jingga meremas kertas yang baru saja dibacanya kemudian melemparkannya ke sembarang arah.
" Kenapa, kak ? Kenapa kakak melakukan ini kepada Jingga... Hiks... Hiks... " gumam Jingga yang kini sudah terduduk di lantai sambil memeluk kedua lututnya. Air mata terus menerus mengalir membasahi wajahnya.
" Mas Kevin... Maafkan Jingga ! Jingga tidak pantas dicintai " lirih Jingga dengan terus terisak.
Jingga masih dalam posisi memeluk lututnya sambil menangis. Entah sudah berapa lama ia dalam posisi seperti itu. Hingga akhirnya Jingga bangkit karena merasakan pada perutnya.
" Maafkan, Mama nak. Mama tidak yakin siapa ayahmu. Tapi kau tenang saja, Mama akan selalu menyayangimu tak peduli siapa ayahmu yang sebenarnya. Sekarang kita harus pergi, nak ! " seru Jingga pada dirinya sendiri.
Jingga merobek semua foto yang berserakan di lantai, kemudian membuangnya ke dalam tempat sampah.
Setelah itu, Jingga bangkit dan membereskan pakaiannya ke dalam koper. Ia berencana untuk meninggalkan kediaman Argajaya saat Mami Sita tengah tidur siang. Ia harus pergi, karena ia tidak bisa membiarkan Kevin bertanggung jawab atas bayi yang dikandungnya. Bayi yang kemungkinan besar adalah milik Satria.
Jingga menatap foto pernikahannya dengan Kevin yang terpajang di dinding kamarnya. Air mata kembali meleleh di pipinya.
Sebelum pergi, Jingga menuliskan surat untuk Kevin dan ia menyimpannya di atas meja riasnya agar Kevin nanti bisa dengan mudah melihatnya.
Teruntuk Mas Kevin.
Mas, saat Mas membaca surat ini bisa dipastikan jika Jingga telah pergi.
__ADS_1
Maafkan Jingga Mas... Mas tidak perlu bertanggung jawab atas bayi yang ada dalam kandungan Jingga jika itu bukan anak Mas Kevin.
Terima kasih sudah mau mencintai Jingga dan menerima Jingga apa adanya. Jingga akan selalu mengenang dan mencintai Mas Kevin.
Jingga
Setelah menyimpan surat, Jingga segera membuka pintu kamar. Ia melihat keadaan rumah dalam keadaab sepi lantas Jingga segera keluar dari kamar dengan membawa koper dan memakai kaca mata hitam untuk menyembunyikan matanya yang sembab.
Sebelum keluar rumah, Jingga sempatkan melihat Mami Sita di dalam kamarnya.
" Mami... Terima kasih sudah menerima Jingga sebagai menantu Mami. Terima kasih sudah menyayangi Jingga selama ini. Jingga tidak akan melupakan Mami dan Papi... " ucap Jingga kemudian mencium pipi dan tangan Mami Sita.
Jingga keluar dari rumah dengan menarik koper besar. Di luar sudah ada taksi online yang menunggunya.
" Nyonya Jingga mau pergi kemana ? " tanya penjaga rumah saat melihat Jingga memasukkan koper ke dalam mobil.
" Saya mau susulin Mas Kevin, Pak. Nanti kalau Mami tanya bilang saja begitu " bohong Jingga.
" Iya, Nyonya. Hati-hati di jalan " ucap penjaga tersebut.
" Terima kasih, Pak. Saya pamit " sahut Jingga kemudian segera masuk ke dalam taksi online.
Terima kasih semuanya, aku tidak akan melupakan kalian. Kalian akan selalu ada di dalam hatiku.
Jingga menghapus air matanya, kemudian ia menghadap ke depan. Seperti hidupnya saat ini, ia harus berjalan maju meskipun ia tidak tahu apa yang akan ia hadapi nanti.
Satria segera mengangkat panggilan saat melihat nomor yang tertera pada layar ponselnya.
" Bagaimana ? " tanya Satria tak sabar.
" Sepertinya Nona Jingga sudah meninggalkan kediaman Argajaya, Tuan " jawabnya.
" Bagus ! Kau ikuti terus Jingga, jangan sampai kehilangan jejaknya ! " Satria memberikan perintahnya.
" Baik, Tuan ! " sahutnya kemudian mematikan panggilan.
Satria tersenyum penuh kemenangan, ia melihat jalanan kota yang padat dari tempatnya berdiri saat ini.
" Kamu akan kembali kepadaku, Jingga ! " gumam Satria sambil tersenyum tipis.
Satria memang sudah memprediksi hal ini akan terjadi setelah ia memberikan hadiah untuk Jingga. Namun, ia tidak menyangka akan secepat ini Jingga meninggalkan Kevin.
__ADS_1
Satria juga meminta orang suruhannya untuk mengawasi kediaman Argajaya. Juga mengikuti Jingga kemanapun Jingga pergi.
Jingga kini telah berada di terminal bus. Ia akan pergi ke kota lain untuk menjauh dari Kevin. Jingga tidak berpikir untuk menemui Satria. Meskipun Satria adalah ayah dari bayi yang ada dalam kandungannya, namun Jingga tidak ingin bertemu Satria setelah apa yang dilakukan pria itu.
Jingga mengganti nomor ponselnya agar Kevin tidak dapat melacak keberadaannya. Dan kini, Jingga sudah berada di dalam bus untuk membawanya pergi dari kota ini.
Jingga mengelus lembut perutnya sambil terus menyeka air mata yang jatuh di pipinya.
Maafkan Mama, sayang... Mama tidak bisa membawamu kepada ayahmu. Mama belum bisa memaafkan perbuatannya.
Kamu yang kuat ya ! Kita berdua pasti bisa melalui semua bersama-sama.
Batin Jingga.
Sementara itu, Kevin masih sibuk melakukan investigasi atas masalah yang dihadapi perusahaannya di kantor cabang mereka di Bali. Beruntung, Kevin memiliki pegawai yang loyal dan berdedikasi sehingga permasalahan yang ada dapat diselesaikan tanpa memakan waktu yang lama.
Kevin mencoba menghubungi Jingga karena sudah seharian ini, ia tidak berkomunikasi dengan istrinya itu. Akan tetapi, ponsel Jingga tidak dapat ia hubungi. Berkali-kali ia mencobanya namun hasilnya tetap tidak dapat dihubungi.
Ada rasa khawatir menyelinap dalam benak Kevin. Ia takut jika Satria melakukan hal buruk kepada Jingga. Namun rasa itu segera ditepisnya karena merasa Jingga berada dalam lingkungan kuasanya dan Satria tidak akan mungkin berani berbuat macam-macam.
" Ada apa Kak ? " tanya Ryan saat melihat Kevin menatapi ponselnya.
" Jingga tidak bisa dihubungi " jawab Kevin jujur.
" Ya ampun, Kak... Aku pikir ada apa ternyata ada yang rindu " sahut Ryan sambil terkekeh melihat kakak sepupu sekaligus atasannya itu bucin.
" Kau menertawaiku ? " tanya Kevin sinis.
" Aku tidak menyangka ternyata kakak sebucin itu kepada Jingga. Padahal dulu, sok sokan jaim " jawab Ryan semakin terkekeh.
" Ish... Bisa diam tidak ! " sembur Kevin kesal sendiri karena Ryan selalu bisa menggodanya.
" Ok... Ok... Maaf Kak " ucap Ryan menghentikan kekehannya.
" Jingga kemana sih ? " gerutu Kevin lagi sambil berusaha menghubungi Jingga.
" Mungkin sudah tidur, Kak. Coba kakak lihat sekarang jam berapa " seru Ryan sambil menunjuk ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan waktu pukul 11 malam.
Kevin melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur, lalu mendesau.
" Kalau begitu, besok aku akan pulang lebih dulu ! Kau selesaikan pekerjaan disini ! " seru Kevin yang tidak bisa ditolak oleh Ryan.
__ADS_1