
Mendengar ucapan Mami Sita membuat Satria seolah tertampar. Ya, apa yang diutarakan Mami Sita itu benar adanya. Berulang kali Jingga memintanya untuk melupakan semua yang pernah terjadi diantara mereka namun ia bersikeras bahwa Jingga hanyalah bahagia jika bersamanya.
Namun nyatanya, saat ini dirinyalah yang secara tidak langsung membuat Jingga dalam keadaan seperti ini.
Maafkan aku Jingga... Maaf, karena keegoisanku kamu terluka seperti ini
Satria tergugu. Ia terduduk lemah, menyesal pun sepertinya sudah terlambat.
Mami Sita menepuk pundak Satria lalu ikut duduk di samping Satria.
" Tante tahu sebenarnya kamu orang baik. Tante juga yakin kamu sangat mencintai Jingga. Tapi percayalah, mengikhlaskan itu akan jauh lebih baik meskipun terasa begitu berat " ucap Mami Sita menenangkan Satria.
Air mata kini lolos dari sudut mata Satria.
" Maaf... Maafkan Satria Tante... Gara-gara Satria, Jingga harus mengalami kecelakaan..." sesal Satria.
" Sudah... Mungkin ini sudah kehendak Tuhan. Yang terpenting kamu sudah menyadari kesalahanmu " ucap Mami Sita lalu meninggalkan Satria dan menuju ke arah sang anak yang juga terlihat begitu kalut.
Setelah 2 jam menunggu di depan ruang operasi, akhirnya dokter keluar. Ia menyatakan Jingga berhasil dioperasi dan sekarang sedang dalam tahap observasi setelah operasi.
Setengah jam kemudian, Jingga dipindahkan ke ruang perawatan. Jingga sudah mulai membuka mata namun belum sepenuhnya sadar. Kevin senantiasa berada di samping Jingga, menciumi punggung tangan sang istri dengan penuh kasih.
" Mas... " lirih Jingga membuat Kevin segera mengusap pucuk kepala sang istri.
" Kamu sudah sadar sayang, syukurlah ! " ucap Kevin sambil terus mengusap kepala Jingga.
" Mas, anakku ? Dia baik-baik saja kan ? " tanya Jingga sambil memegang perutnya.
" Sabar Jingga....Tuhan lebih sayang kepada anak kita " jawab Kevin sambil merengkuh tubuh Jingga.
" Tidak... Jangan pergi, Nak ! Jangan tinggalkan Mama ! " ucap Jingga sambil memegangi perutnya, tangisnya pecah saat mengingat penyebab ini semua adalah dirinya.
" Sabar Jingga... Sabar....Tuhan lebih sayang kepada anak kita " sahut Kevin yang juga ikut meneteskan air matanya.
" Maafkan Mama tidak bisa menjagamu, Nak ! Mama bukan ibu yang baik... " Kembali Jingga terisak.
Rasanya menyakitkan harus kehilangan sebelum sempat dipertemukan dengan anak dalam kandungannya.
" Kamu kuat, sayang ! Kamu ibu yang hebat ! " ucap Kevin berusaha memberi sugesti positif kepada sang istri kendati hatinyapun terasa begitu sakit setelah kehilangan calon anaknya juga dengan kondisi Jingga yang terpukul.
" Maafkan Jingga, Mas ! Maafkan Mama, Nak ! " lirih Jingga dengan air mata yang terus berderai.
__ADS_1
Kevin semakin mengeratkan pelukannya kepada Jingga. Ia bisa memahami kesedihan sang istri karena ia pun turut merasakannya.
Satria yang melihat dari balik pintu, tertunduk lesu. Ia tak pernah mengira akan berakhir seperti ini. Mungkin setelah ini, Jingga tidak ingin bertemu lagi dengannya.
Maafkan aku, Jingga... Maaf karena akulah penyebab semua masalah ini !
" Kamu tidak ingin menemui Jingga ? " tanya Mami Sita yang sudah berada di belakang Satria.
Satria menggeleng lemah. Ia sebenarnya ingin melakukannya, tapi ia terlalu malu dan takut untuk menemui Jingga.
" Baiklah kalau begitu... Tante masuk dulu " ucap Mami Sita lalu masuk ke dalam kamar rawat Jingga.
Mami Sita masuk kemudian segera menghampiri Kevin dan Jingga. Mami Sita memeluk Jingga dengan erat dan penuh kasih sayang. Dari balik pintu Satia bisa melihat bahwa Kevin dan Tante Sita memang menyayangi Jingga. Dan ia merasa jika mereka memang pantas bersama dengan Jingga.
Satria tersenyum getir, pahit kenyataan yang ada harus ia rasakan. Alih-alih membuat Jingga kembali kepadanya, jutru ia membuat Jingga semakin jauh darinya. Dan itu semua karena ambisi dan keegoisannya.
Satria akhirnya menjauh, ia meninggalkan kamar tempat Jingga dirawat. Sepertinya, ia juga sudah harus mulai melupakan perasaannya. Perasaan yang telah lama tumbuh dan berkembang.
Satria terus berjalan hingga keluar dari area rumah sakit. Pikirannya seolah buntu, hatinya mati rasa, ia bahkan tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Mungkin jalan yang terbaik adalah membuat dirinya sendiri mati.
Kaki Satria melangkah menyebrangi jalan, namun ia merasakan tubuhnya ditarik ke sisi jalan.
" Hei, kau cari mati ya ! Kalau mau mati jangan disini ! " bentak seorang wanita berpakaian putih.
" Lepaskan tanganku ! " seru Satria.
" Ck... Oke. Memangnya siapa yang mau pegang tangan kamu. Ini juga terpaksa, kalau saya tidak pegang pasti kamu sudah ada di ruang IGD sekarang atau malah sudah ada di alam baka " sembur wanita muda tersebut yang nampaknya adalah seorang perawat.
Wanita itu pun berjalan masuk ke dalam area rumah sakit.
" Dasar ! Bukannya bilang terima kasih, malahan sewot. Sudah untung, aku tolong ! " gerutu perawat tersebut. Ia bahkan sempat menoleh melihat ke arah Satria yang masih berdiri di tepi jalan.
" Lain kali, aku tidak akan menolong orang seperti itu. Biar saja mereka dengan urusannya sendiri " tambah perawat itu, kemudian segera masuk karena sudah masuk jam tugasnya bekerja shift siang.
Hari berganti hari, dan Jingga sudah mulai bisa menerima kenyataan menyakitkan itu meskipun jauh di lubuk hatinya ia merasa begitu bersalah karena tidak mempercayai Kevin. Seandainya saja ia percaya kepada ucapan suaminya, mungkin hal ini bisa dicegah. Tapi apalah daya, ini sudah suratan takdir dan Jingga berusaha untuk menerimanya.
Seorang perawat masuk ke dalam kamar Jingga. Ia memeriksa kondisi Jingga.
" Sudah stabil, dalam beberapa hari ke depan ibu sepertinya sudah bisa pulang " ucap perawat yang bernama Diana tersebut.
" Terima kasih, suster ! " sahut Jingga.
__ADS_1
" Ada yang bisa saya bantu lagi, bu ? " tanya Suster Diana ramah.
Jingga menggeleng.
" Baiklah, kalau begitu saya keluar ya bu. Kalau ada yang ibu perlukan, ibu bisa memanggil kami dengan menekan tombol " jelas Suster Diana.
" Terima kasih, suster " ucap Jingga kembali.
" Sama-sama, Bu " sahut suster Diana kemudian keluar dari kamar Jingga.
Kevin yang baru keluar dari kamar mandi segera menghampiri Jingga.
" Tadi ada siapa sayang ? " tanya Kevin.
" Suster Diana habis periksa " jawab Jingga.
" Lalu bagaimana ? " tanya Kevin lagi.
" Katanya sudah stabil terus dalam beberapa hari ini sudah boleh pulang " jawab Jingga apa adanya.
" Syukurlah... " ucap Kevin sambil memeluk Jingga.
" Aku tidak sabar untuk tidur di kamar kita sendiri sambil peluk kamu " tambah Kevin lalu mencium kening Jingga.
Jingga menatap Kevin seolah bertanya.
" Kamu tahu, selama kamu tidak ada. Aku tidak bisa tidur nyenyak. Selalu memikirkan keadaan kamu dan anak kita. Tapi aku bersyukur, sekarang aku sudah bisa bersamamu lagi " jelas Kevin.
Penjelasan Kevin justru membuat Jingga meneteskan air mata.
" Hei, kamu kenapa sayang ? " tanya Kevin saat menyadari Jingga yang justru menangis.
" Maaf... Maafkan Jingga karena tidak percaya pada Mas Kevin " jawab Jingga lirih.
Kevin menyeka air mata di wajah Jingga.
" Sudah, tidak ada yang perlu dimaafkan. Yang penting kamu tidak meninggalkanku lagi ! " seru Kevin sambil memeluk Jingga kembali.
Sementara itu diluar kamar Jingga, Satria mengamati dari jauh. Dan begitu melihat perawat keluar dari kamar Jingga, ia langsung menghadang perawat itu.
" Suster bagaimana keadaan pasien bernama Jingga ? " tanya Satria yang kini berdiri di depan suster Diana.
__ADS_1
" Hwaah... Kamu ? "