
Ryan akhirnya tiba dan Kevin langsung mengambil paper bag yang dibawa oleh Ryan. Kevin mengantarkannya ke kamar tamu yang ditempati oleh Jingga. Sejak tadi, Kevin meminta Jingga untuk tinggal di dalam kamarnya saja karena Kevin merasa harus mengamankan Jingga atau lebih tepatnya mengamankan dirinya jika terus berdekatan dengan Jingga.
Setelah memberikan paper bag kepada Jingga dan memintanya untuk mengganti pakaian, Kevin menemui Ryan.
" Kakak harus mengganti rugi untuk itu. Michel paling tidak suka jika barang miliknya dipakai oleh orang lain " ucap Ryan sambil duduk di sofa.
" Aku akan menggantinya 10 kali lipat " sahut Kevin.
" Ok, baiklah. Kalau seperti itu, kakak butuh barang apa lagi. Aku akan membawakan barang milik Michel kemari " ucap Ryan antusias.
" Dasar mata duitan " dengus Kevin sambil melihat ponselnya.
Suit... wiw...
Ryan bersiul sambil menatap ke arah tangga. Kevin segera mengikuti arah pandangan Ryan dan ternyata bermuara pada Jingga. Pakaian milik Michel nampak sangat pas di tubuh Jingga, hanya saja pakaian itu sedikit terbuka di bagian atasnya karena model pakaiannya memperlihatkan leher dan pundak Jingga.
" Hei, alihkan pandanganmu. Ingat dia bukan Michel " seru Kevin pada Ryan yang begitu terpesona melihat Jingga.
" Ck... Kalau jealous bilang pak bos ! " seloroh Ryan asal.
" Baiklah, Ryan kau bisa pergi sekarang ! " titah Kevin.
" Kakak tidak pergi denganku ? " tanya Ryan mengernyitkan keningnya.
" Hari ini, aku akan menemani Jingga membeli beberapa pakaian karena ia tidak membawa satu potong pakaian dari rumahnya " jawab Kevin.
" Kau handle saja urusan pekerjaan, kemungkinan aku tidak pergi ke kantor " tambah Kevin lagi.
" Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu " Ryan undur diri.
" Dah, Jingga... Kamu hati-hati ya kalau jalan sama Kak Kevin. Dia itu sudah lama jadi jomblo " bisik Ryan kepada Jingga sambil terkekeh.
" Ryan... " pekik Kevin memelototkan matanya.
" Tuh kan Jingga. Kamu berhati-hati saja ! " ucap Ryan lagi kemudian segera berlalu sebelum kakak sepupunya itu kembali berteriak.
" Have a nice day ya kalian berdua ! " teriak Ryan saat sudah sampai di depan pintu.
__ADS_1
" Dasar bocah... " geram Kevin yang kesal dengan sikap Ryan yang menurutnya berlebihan.
" Jadi kita mau kemana Tuan ? " tanya Jingga yang tentu saja membuat Kevin langsung tersadar dengan keberadaan Jingga disana.
" Ah, iya... Kita akan membeli beberapa pakaian untukmu " jawab Kevin melirik Jingga. Entah mengapa jantungnya berdetak tak karuan saat menatap Jingga.
" Baiklah, kalau begitu mari kita pergi Tuan " ucap Jingga.
" Jingga... Bukankah sudah kukatakan untuk tidak memanggilku Tuan " seru Kevin tak suka.
" Baiklah Mas " sahut Jingga yang justru membuat Kevin tercengang.
" Apa kau bilang ? " tanya Kevin.
" Mas ? Eh, maaf kalau begitu Jingga ganti panggilannya jadi... "
" Tidak perlu. Itu saja, tidak apa " potong Kevin.
" Ayo kita pergi ! " seru Kevin yang langsung diikuti oleh Jingga.
Mereka berdua berbelanja pakaian dan beberapa perlengkapan untuk Jingga. Dan setelahnya mereka makan siang bersama. Ketika makan siang, Kevin memberi tahu kepada Jingga jika kedua orang tuanya kemungkinan akan datang satu minggu ke depan. Dan Jingga harus bersiap-siap dengan rencana mereka sebelumnya.
Kevin mengantarkan Jingga pulang lebih dulu baru kemudian berangkat ke kantor. Jingga kini menunggu di rumah. Ia hanya diam saja di dalam kamar karena Kevin menyuruhnya untuk tinggal di dalam kamar saja.
Tetapi karena bosan, akhirnya Jingga memilih untuk pergi ke dapur. Ia membantu asisten rumah tangga untuk memasak makan malam kendati mereka melarangnya. Bagi Jingga rasanya tidak nyaman hanya diam di kamar tanpa melakukan apapun. Apalagi Kevin sudah sangat baik kepadanya, karena itu ia ingin membalas kebaikan Kevin.
Jingga sudah selesai memasak untuk makan malam dan kini ia tengah membersihkan diri di kamar. Ia akan menunggu Kevin pulang untuk makan malam bersama. Hari ini, Jingga sendiri yang memasak sebagai bentuk ungkapan terima kasihnya atas kebaikan hati Kevin.
Suara mobil berhenti di luar mansion, sepasang suami istri keluar dari dalam taksi. Ya, itu adalah Mami Sita dan Papi Tommy. Mereka sengaja tidak memberitahukan kepada Kevin bahwa mereka pulang lebih cepat. Hal ini mereka lakukan agar Kevin tidak lagi berkelit untuk membawa calon istrinya ke hadapan mereka.
Mereka masuk ke dalam rumah disambut oleh Bi Inah sebagai kepala asisten rumah tangga disana.
" Selamat datang kembali Tuan, Nyonya... " ucap Bi Inah lalu membawakan koper yang dibawa oleh majikannya itu ke dalam rumah.
" Kevin belum pulang Bi ? " tanya Mami Sita.
" Belum, Nyonya. Tadi Tuan Kevin pergi ke kantornya siangan " jawab Bi Inah.
__ADS_1
" Hem... Wangi amat ini Bi. Bibi masak apa ? " tanya Papi Tommy.
" Oh itu, Non Jingga yang masuk Tuan " jawab Bi Inah.
" Jingga ? Jingga siapa Bi ? " tanya Mami Sita curiga.
" Eh, Non Jingga itu... " Bi Inah menghentikan ucapannya saat Jingga menghampirinya.
" Bi, Mas Kevin sudah pulang ? " tanya Jingga.
Tentu saja melihat Jingga membuat Mami Sita dan Papi Tommy terkejut. Apalagi Jingga memanggil Kevin dengan sebutan Mas. Tentunya gadis di hadapan mereka ini memiliki hubungan dengan anak mereka.
" Eh, ini Non... Yang pulang orang tuanya Den Kevin " jawab Bi Inah.
Apa ? Orangtuanya Kevin sudah datang ? Bagaimana ini ?
Batin Jingga.
Mami Sita dan Papi Tommy saling berpandangan kemudian keduanya mengamati Jingga yang terlihat salah tingkah.
" Kemari, Nak ! Siapa namamu ? " tanya Mami Sita memanggil Jingga.
Jingga menghampiri keduanya lalu mencium tangan kedua orang tua dari Kevin itu.
" Saya, Jingga... Tante, Om... " jawab Jingga.
" Kamu ini calonnya Kevin kan ? " tanya Mami Sita lagi.
Jingga mengusap tengkuknya. Ia bingung harus bicara apa. Namun tanpa diduga, Mami Sita langsung memeluknya dengan hangat membuat Jingga merasa terkejut dengan sikap ibu dari Kevin itu.
" Akhirnya... Kevin mau menikah juga. Mami senang melihat kamu disini. Berarti Kevin memang serius membawa calon istrinya kesini " ucap Mami Sita dengan mata berbinar.
Mami Sita membawa Jingga untuk berbincang bersama, bahkan mereka kini makan malam bersama dan sangat menyukai masakan yang dibuat oleh Jingga. Mami Sita dan Papi Tommy nampaknya sudah jatuh cinta kepada Jingga.
Selain cantik, pembawaan Jingga yang sopan dan sederhana membuat kedua orang tua Kevin itu yakin jika Jingga adalah wanita yang tepat untuk Kevin. Dan mereka berdua akan meminta Kevin untuk segera menikah dengan Jingga.
Kevin masuk ke dalam rumah dan mendapati jika kedua orang tuanya tengah berbincang bersama Jingga.
__ADS_1
" Lho Mami... Papi... " ucap Kevin yang terkejut melihat keberadaan orang tuanya bersama dengan Jingga.
" Akhirnya kamu pulang juga. Mami dan Papi senang akhirnya kamu membawa Jingga. Dan kami mau kalian menikah secepatnya ! "