Stuck With New Employe

Stuck With New Employe
Bab. 17


__ADS_3

" Apa maksud papa menyuruhku menikahi gadis itu?! Itu tidak akan terjadi, tidak akan pernah! " Ucap Adit penuh penekanan pada setiap perkataanya.


" Memangnya kenapa? yang papa lihat pada gadis itu, dia gadis yang baik, dia juga cantik, dan terlihat begitu menyayangi mamanya, sepertinya dia juga gadis yang mandiri. Tidak ada masalah bukan jika kamu menikahinya. " Ujar Feri tenang seolah tidak takut dengan tatapan penuh intimidasi dari putranya.


Setelah perdebatan panjang di kantor Adit tadi, mereka memutuskan pulang ke kediaman masing-masing. Keputusan sepihak yang diambil oleh Feri yang mengatakan bahwa Adit akan memikirkannya terlebih dahulu, tentu menuai protes dari Adit. Feri mengatakan hal itu tanpa persetujuan Adit, yang tentunya membuat Adit kesal dan marah karena keputusan sepihak yang dilakukan papanya.


Namun Adit tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menahan rasa kesal dan marahnya pada sang papa. Adit tidak pulang ke apartemennya dan memilih pulang ke rumah megahnya, karena ia masih harus mempertanyakan maksud dari keputusan sepihak yang papanya buat. Dan kini mereka tengah berada di ruang tamu dalam suasana yang sedikit menegangkan.


" Apa maksud ucapan papa?! papa tidak mengenal gadis itu! dan satu lagi, papa tidak berhak mencampuri hidupku! " Tegas Adit tidak ingin lagi ditekan oleh papanya.


Feri yang awalnya bersikap santai, dengan sedikit candaan yang dilontarkannya tadi, kini terdiam begitu mendengar ucapan Adit. Emosi yang menguasai Adit saat ini, membuatnya berani mengucapkan kata itu pada sang papa hingga membuat pria paruh baya itu terdiam.


Feri berusaha tersenyum pada putranya yang masih menatapnya nyalang karena emosi. Feri bangun dari duduknya dan menghampiri putranya itu, berniat menjelaskan maksudnya, tetapi terhenti karena kedatangan istrinya yang entah dari mana.


Sarah yang baru saja datang dari mini market, bukan untuk berbelanja, tetapi untuk menenangkan sedikit perasaanya yang tidak tenang karena memikirkan putranya. Ia tidak menemani putranya karena ia takut akan penolakan putranya padanya, maka dari itu Sarah memilih menyaksikan konferensi itu di kediamannya saja dan membiarkan suaminya yang menemani putranya seorang diri.


Sarah yang melihat keberadaan Adit di rumahnya sedikit terkejut, karena sudah lama putranya itu tidak pulang ke rumah mereka semenjak Adit mulai membantu papanya di perusahaan, dan lebih memilih untuk tinggal di apartemen dengan alasan ingin mandiri.


Sarah yang terkejut, sempat diam sejenak di pintu menatap lekat pada Adit yang juga menatapnya. Begitu tersadar dari rasa terkejutnya, ia langsung berlari menghampiri Adit dan memeluknya erat. Isak tangis mulai terdengar dari mama Adit yang masih memeluk Adit, yang hanya diam saja tanpa ada niatan membalas pelukan mamanya itu.


Tidak di pungkiri Sarah begitu merindukan putranya itu, karena beberapa hari ini ia tidak bertemu dengan putranya, semenjak ia mengunjungi Adit pada saat Adit dalam kondisi tidak baik-baik saja waktu itu, dan ucapan Adit yang sungguh menyakiti hatinya. Mulai saat itu ia tidak berani lagi untuk menemui sang putra meskipun sangat ingin.


" Putraku, i-ini benar kamu kan sayang? mama sangat merindukanmu. Apa kamu baik-baik saja? mereka tidak berbuat sesuatu padamu kan? Apa konferensinya berjalan lancar? mama sangat senang melihat mu di sini. " Cecarnya khawatir, dan sesekali memeluk Adit, mengelus lembut wajah Adit yang tanpa ekspresi itu. Rasa haru karena bahagia membuncah saat melihat kedatangan Adit.


Lama pelukan itu terasa dan tidak ada respon apapun dari Adit, hingga membuat Sarah melepaskan pelukannya. Sarah menatap pada sang putra yang kini berekspresi datar membuatnya sedikit takut.

__ADS_1


" Maaf, mama hanya khawatir padamu " Ucap mama Adit pelan.


Helaan napas panjang keluar dari bibir Adit sembari menatap mamanya yang menunduk.


" Maaf, Adit tidak bermaksud membuat mama seperti ini. Aku hanya terbawa suasana. " Ujar Adit merasa bersalah karena membuat mamanya sampai takut dengan sikapnya, dengan mengusap wajahnya kasar.


Sementara Feri hanya menyaksikan interaksi putra dan istrinya itu tanpa berniat ingin bergabung. Ia tidak ingin menggangu moment langka di depannya, dengan keberadaan dirinya.


" Apa ada masalah? " Tanya mama Adit mengerti dengan keadaan putranya yang sedang tidak baik-baik saja terlihat jelas dari wajahnya yang memerah seperti tengah menahan emosi.


Mendengar itu, Feri mengambil alih bicara putranya, dan menyuruh istrinya untuk duduk, karena dia yang akan menjelaskan semuanya. " Mama sebaiknya duduk dulu, papa yang akan menjelaskan semuanya! " Suruh papa Adit pada sang istri.


Sarah langsung melihat pada suaminya dengan tatapan bingung. Tapi Dia tetap menuruti perintah sang suami yang menyuruhnya untuk duduk, dan ia duduk di samping suaminya yang memang duduk di sofa paling panjang.


" Papa tau kamu masih marah pada papa, tapi biarkan papa yang menjelaskan semuanya. " Pinta papa Adit begitu Adit duduk berhadapan dengannya.


Feri mulai menjelaskan semuanya pada istrinya yang sudah sangat penasaran itu. " Papa minta maaf. Apa yang papa lakukan memang keterlaluan, dan kau benar, papa tidak berhak mencampuri kehidupanmu setelah apa yang papa lakukan selama ini padamu." Feri menatap Adit dengan rasa bersalah yang begitu besar yang dilakukan dirinya dan istrinya pada putra semata wayangnya itu, putra semata wayang yang selama ini ia sia-siakan.


Suasana mendadak hening. Mama Adit hanya diam mendengarkan, karena kini ia juga mengingat segala kesalahannya pada putranya itu.


" Sudahlah pa, tidak perlu membahas masa lalu lagi. " Ucap Adit menghentikan pembahasan papanya tentang masa lalu yang menyakitinya itu.


Feri hanya tersenyum dan mengangguk kecil mendengar ucapan Adit. Dia mengerti jika putranya itu tidak ingin membahas dan mengingat hal menyakitkan itu kembali.


" Papa melakukan kesalahan lagi? " Kini mama Adit lah yang bersuara menanyakan maksud ucapan suaminya.

__ADS_1


" Kenapa pa? apa belum cukup kita menyakiti putra kita selama ini. Apa papa kembali memaksakan kehendak papa lagi pada Adit? bukankah mama bilang untuk tidak melakukan itu lagi pa!Kenapa papa begitu egois pa! " Tangis mama Adit luruh ketika suaminya tidak berubah dan tetap bersikap egois pada putranya.


" Mama tenanglah dulu, biarkan papa menjelaskan semuanya, setelah itu mama bebas menilai papa apapun. " Tuan Feri mencoba menenangkan istrinya yang masih menangis dengan mengusap lembut tangan istrinya itu.


Dan berhasil, mama Adit mulai tenang dari tangisnya. " Jelaskan! mama harap papa tidak mengecewakan mama. "


Feri hanya mengangguk sebagai jawaban, kemudian mulai menjelaskan apa yang terjadi antara dirinya dengan sang putra.


Sementara Adit hanya diam melihat mama dan papanya. Bahkan saat mamanya menangis Adit tidak beranjak dari duduknya meski hanya untuk menghampiri mamanya, yang Adit lakukan hanya diam dan melihatnya.


Suasana berubah menjadi serius ketika Feri mulai menjelaskan apa yang terjadi. Berbagai ekspresi di keluarkan Sarah begitu mendengar penjelasan dari suaminya. Sarah tidak menyangka jika putranya akan mengalami masalah serumit ini.


TBC


*


*


*


Happy Reading😘 ... Semoga suka😊


Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya ya🙏😊


Lope you all❤️

__ADS_1


__ADS_2