
Sebuah mobil Ferarri mewah terparkir di depan gedung Bagaskara. Tak lama turunlah pria tampan dan gagah dengan setelan jas mewah terlihat sedang mengamati Gedung tinggi itu.
Perlahan ia berjalan ke dalam gedung dan itu membuatnya menjadi pusat perhatian karyawan di sana. Sesekali ia tersenyum ramah pada karyawan yang terang-terangan mencari perhatiaan pria itu. Seperti yang harapkan, teriakan histeris dari karyawan karena senyumannya.
" Ternyata dia begitu sukses sekarang. " Gumamnya mengedarkan pandangannya ke seluruh gedung yang terlihat begitu mewah.
Pria itu kembali berjalan dan kini menuju resepsionis kantor.
" Hai, dimana ruangan bos mu? " Tanyanya sedikit menggoda resepsionis itu yang kini tersipu malu. Tidak ada jawaban dari sang resepsionis yang sibuk mengagumi wajah tampan di depannya.
" Ehem! "
" Ah, ma-maafkan saya tuan. " Ucapnya malu karena tertangkap basah memandangi pria di depannya dengan kekaguman.
" No problem, aku menyukainya. " Ucapnya dengan senyum jahil menggoda resepsionis yang kini tersenyum malu.
" Ah ya, apa tuan tadi menanyakan ruangan tuan Adit?. " Tanyanya berpikir jika pria di depannya ini adalah teman Adit karena terlihat seumuran dengan bosnya.
" Right, Where his room, beauty? "
" Tuan Adit berada di lantai delapan tuan. " Jawabnya gugup tidak berani menatap pria di depannya yang terus menggodanya.
" Thank you baby. "
Pria itu meninggalkan resepsionis yang kini berteriak histeris kerena kelakuannya.
Setelah beberapa menit, pria itu sampai di lantai delapan. Terlihat tulisan besar Presdir Bagaskara. " Sudah lama aku tidak ke sini, ternyata tidak ada perubahan. "
" Tuan Johan, anda di sini? Anda ingin bertemu dengan tuan Adit?, " Tanya Dika begitu melihat Johan berdiri di depan pintu ruangan Adit.
" Ya, Apa bos mu ada? "
" Tuan Adit berada di ruangannya tuan. "
Johan mengangguk. " Baiklah, terima kasih Dika, kalau begitu Aku masuk sekarang. "
Dika mempersilahkan Johan memasuki ruangan Adit. Setelah itu ia pergi entah kemana.
Johan perlahan membuka pintu ruangan Adit, karena ia ingin memberi kejutan pada sahabatnya itu.
__ADS_1
" A.... Ups sorry, aku tidak tahu." Johan terpaku di tempatnya begitu melihat pemandangan yang ada di depannya. Pemandangan seorang gadis yang menindih tubuh Adit. Johan berniat ingin menutup pintu namun tertahan karena suara Adit.
Adit terlihat merapikan kemejanya yang sedikit berantakan. Ia kini tengah bersama Key yang juga merapikan bajunya. Hal itu justru membuat Johan berpikir yang tidak-tidak pada keduanya.
" Aku akan kembali nanti saja. " Ucap Johan merasa tidak enak.
" Tidak perlu, dia hanya mengantar berkas padaku. Kau cepat keluar!. " Usir Adit begitu saja pada Key.
" Dasar pria licik. " Umpat Key sebelum ia keluar dari ruangan Adit dan melewati Johan begitu saja.
Sementara Johan hanya menatap kepergian Key yang terlihat begitu marah. " Tunangan mu? " Tanya Johan berjalan ke arah sofa. " Cantik, ternyata kau pintar memilih wanita. " Godanya pada Adit yang kini tengah membereskan mejanya yang berantakan.
" Hentikan itu, menggelikan. " Ucap Adit
" Ada apa kau ke sini? " Tanya Adit, karena sudah lama Johan tidak pernah datang ke kantornya setelah ia diangkat menjadi CEO.
" Aku merindukanmu. " Guraunya menggoda Adit yang melihatnya dengan tatapan jijik.
" Ck, berhenti bercanda. " Ucap Adit tidak bisa diajak bercanda.
" Pantas saja tunangan mu terlihat begitu kesal tadi. Kau sungguh membosankan. " Sindir Johan dan dihadiahi timpukan di wajahnya oleh Adit.
" Huh... aku tidak bisa. Aku sangat sibuk, akhir-akhir ini. Ya, kau tau bukan, perusahaan ku hampir saja gulung tikar karena masalah skandalku yang viral kemarin. Dan sekarang aku harus lembur untuk membereskan kekacauan itu. " Ucap Adit terlihat begitu lelah dengan menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.
" Ah ya, karena kau di sini, Aku ingin meminta bantuan mu. Kau tau, aku sudah menemukan pelaku yang mengambil fotoku, dan ternyata orang itu adalah orang yang selama ini berada di dekatku. Fragas, asisten papa, dialah pelakunya. Aku masih tidak percaya dia melakukan semua itu padaku. " Dengan nada kecewa Adit menceritakan kejahatan yang di lakukan asisten papanya pada Johan.
Mata Johan membola begitu mendengar cerita Adit. " Om Fragas? astaga aku masih tidak percaya ini. "
" Entahlah, aku tidak tau ada apa dibalik semua perbuatannya ini."
Johan mengangguk mengerti. " Lalu siapa yang menyebarkan berita itu, apakah juga om Fragas. " Tanya Johan.
Adit menggeleng tidak tahu. " Bukan, buka dia.. Ada pelaku lain yang menyebarkan berita skandalku hingga viral, dan aku masih belum mengetahuinya sampai sekarang, karena om Fragas tetap tutup mulut soal itu. Bukankan ini sangat aneh, satu perbuatan dilakukan oleh orang yang berbeda, itu artinya ada dalang di balik semua ini, dan aku tidak tahu siapa itu. "
" Kau benar, pasti ada dalang dibalik semua ini. Jika mendengar dari ceritamu, sepertinya kau adalah sasaran utama mereka. Mungkinkah karena kau menjabat sebagai CEO, dan mereka mengingikanmu jatuh. " Johan berusaha menebak penyebab masalah yang terjadi pada Adit.
" Entahlah, aku juga tidak tau pasti. " Ucap Adit menghendikkan bahunya lemah. " Maka dari aku ingin meminta bantuan mu untuk mencari siapa dalang dari semua ini. " Ucap Adit.
" Cukup sulit, tapi akan ku usahakan. Tenanglah, semua akan selesai. "
__ADS_1
" Terima kasih. " Ucap Adit tanpa sadar. Ya karena ia termasuk orang yang jarang sekali mengucapkan kata keramat itu.
" Woah,,, Aku tidak menyangka CEO Bagaskara mengucapkan kata keramat itu padaku. " Johan dengan gaya terkejutnya menyindir Adit yang memutar bila matanya malas dengan tingkah berlebihan Johan.
Johan terus tertawa sembari memegang perutnya yang mulai terasa kram. Ia tidak tahan melihat ekspresi Adit yang menurutnya begitu lucu. Jarang sekali ia bisa menaklukan Adit seperti ini, dan sekarang Adit hanya bisa diam tak berkutik saat ia mengejek pria dingin itu.
" Hahaha,,, baiklah aku berhenti. Tapi aku tidak bisa kau sungguh lucu, hahaha.... " Ucap Johan masih menertawakan Adit yang terlihat mulai kesal, hingga sebuah bantal kembali melayang ke wajah Johan dengan cukup keras.
" woho, tenang brother. Baiklah aku sungguh berhenti kali ini. " Johan menghentikan tawanya, karena melihat tatapan mengerikan Adit padanya.
Kali Johan menatap Adit serius, membuat Adit mengernyitkan dahinya bingung. Baru saja Johan menertawakannya dan sekarang temannya itu menatap dirinya tajam terlihat begitu serius.
" Apa kompensasi untuk ku saat aku berhasil menemukan dalangnya? " Tanya Johan.
" Kau ingin apa? "
" Sepertinya tunanganmu tidak masalah untukku. " Seringai Johan menatap Adit yang menatapnya terkejut.
" Bukankah kalian bertunangan karena keadaan? Aku tau kalian tidak menginginkan ini, terlihat sekali bagaimana tunanganmu terlihat begitu marah padamu tadi. Aku benar bukan?. "
Bugh!
Lagi dan lagi Adit kembali melempari wajah Johan dengan bantal yang masih tersisa di sofa.
" Hahaha,,,, kenapa kau kaget begitu, kau tau Aku hanya bercanda. Tapi jika itu benar aku tidak masalah, tunanganmu termasuk tipe gadis yang aku cari. "
Tak berhenti di situ Johan terus saja menggoda Adit dan membuatnya kesal.
*
*
*
*
*
TBC
__ADS_1
Happy Reading😘